
Irene pov
Bolehkah aku serakah sedikit saja?
Mengklaim jika pria yang saat ini berjongkok di depanku, sembari menyentuh pelan kakiku yang terluka?
Sama seperti dia yang mengatakan jika aku adalah miliknya?
“apa masih sakit?”
“sudah tidak lagi sekarang’ jawabku.
Aku tidak ingin membuat Aldian khawatir dengan hal sepele seperti ini. Setelah dia berniat mau memanggil dokter tadi, aku melarangnya karena ini sudah larut malam.
dan digantikan dengan dirinya yang mengganti perban lukaku. Padahal itu baru saja ku ganti tadi sore.
“besok aku akan menemanimu ke dokter”
“tidak ada bantahan Irene” kata Aldian dengan dingin ketika aku ingin menyelanya.
Alhasil aku hanya bisa cemberut dan mengiyakan setiap katanya.
“sekarang istirahatlah, aku akan pergi sebentar” aku tersentak ketika Aldian mengatakan kata pergi lagi. Yang langsung membuat tubuhku refleks memegang pundaknya yang bisa ku jangkau.
Lagi-lagi aku merengek seperti anak kecil yang tak mau di tinggalkan.
“baiklah... sepertinya gadisku sedang tidak ingin tidur sendiri saat ini,”
Kepalaku langsung memanas ketika Aldian berkata dengan nada jahil seperti itu. Aku kesal benar-benar kesal.
Kali ini bukan karena dia ingin pergi, tapi karena dia tahu jelas perasaanku.
Aku merasakan Aldian dengan sengaja menggenggam tanganku yang ada di pundaknya dan membawanya ke depan bibirnya.
Aku bisa merasakan kecupan hangat yang dia lakukan pada tanganku. Yang membuat tubuhku merinding.
Jika ada manusia di dunia ini yang mengatakan jika Aldian adalah lelaki playboy, maka aku pasti akan langsung mengerti dan mempercayai itu. Tapi ketika aku menelusuri jejak hidup Aldian di internet. Tidak ada yang menyebutkan lelaki ini pernah dekat dengan satu wanita pun selain diriku.
Itu cukup aneh dan abnormal bagi kebanyakan lelaki yang hampir sempurna di segala aspek seperti dirinya.
“sabarlah sebentar, aku akan mengganti bajuku dulu” aku menelan ludah kasar ketika dia mengatakan itu. Kepalaku yang tadi panasnya mulai reda, kembali di landa demam rasa malu yang tak tertahankan.
Dengan cepat aku melepaskan tanganku darinya dan memalingkan wajah sembari mengumpat tidak jelas pada Aldian.
“pergi saja sana! aku ingin tidur!” bohongku dan langsung mengambil posisi berbaring, mengambil selimut, kemudian menutupi diriku sepenuhnya.
Aku masih bisa mendengar di luar sana suara tawa kecil Aldian yang meremehkan rasa maluku. Sekali-sekali aku ingin menghancurkan harga dirinya itu, agar tidak menggunakan pesona tubuh dan wajahnya yang mematikan itu padaku. Aku takut akan terkena serangan jantung dadakan!
“arggg! Jantungku yang malang....” gumamku pelan sembari merutuki kesialanku yang selalu terjebak dalam pesona Aldian.
Tapi aku akhirnya bisa lega.... Aldian kembali ke sisiku seperti ini. Menjadi pria hangat dan perhatian lagi. Walaupun aku tidak yakin sampai mana dan sebesar apa rasa yang dia punya untukku. Nyatanya Aldian hanya mengatakan jika aku adalah miliknya.
Itu hanya sebatas ucapan bukan?
Tapi... rasa sakit gigitannya di pundakku masih terasa sampai sekarang walaupun sudah mulai mereda sedikit-demi sedikit.
“aku harap rasa sakitnya tidak memudar”
***
Author pov
“bagus.... kau pikir hanya dirimu saja yang bisa balas dendam? Kali ini aku pasti akan menunjukkan apa itu penderitaan padamu, bajingan"
Seorang pria berhasil mengabadikan momen indah yang sangat ia tunggu-tunggu. Berbekal sebuah kamera dan pertunjukan sadis ilegal yang ada di hadapannya. Pria itu hanya bisa tersenyum senang dengan hal ini, setidaknya hanya untuk membalaskan kematian kakaknya pada Aldian.... dia harus menggunakan berbagai cara, walaupun cara itu akan membahayakan nyawanya nanti.
Senyum licik terukir indah di wajahnya. Peluh keringat dan debaran jantung kesenangan terus menggelitik hati dan juga perutnya, memikirkan kemarahan pewaris perusahaan besar itu kalang kabut. Membuat aroma minyak yang tercium terasa begitu nikmat.
Apa ini yang namanya kebahagiaan balas dendam sebenarnya?
Pria itu tidak tahu, namun...dia sedikit banyak menyukainya.
Tawa yang membahana dari kikikan kecil tanpa suara, mulai keras dan kencang memenuhi keheningan malam yang selalu menyimpan dengan baik kegelapan.
***
“jadi, apa yang di katakan dokter brengsek itu padamu?” tanya Aldian dengan nada malas.
“Aldian! Bisakan bicara baik-baik? Di sini rumah sakit!” tekan Irene pada pria itu.
Irene tak mengerti kenapa Aldian marah pada dokter yang berbaik hati dan kompeten seperti dokter hadi.
“bukankah aku meminta suster saja yang merawatmu, seharusnya aku tahu ini” ujar Aldian mengutarakan isi hatinya.
Namun Irene hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bahkan jika Irene tahu, seharusnya dia tidak pergi ke rumah sakit dan melakukan perawatan rutin saja di apartemen.
Semua orang yang ada di rumah sakit saat ini tahu seberapa malunya Irene. Mengingat Aldian berteriak tidak jelas dan mengganggu proses pengobatan kakinya.
“Dengan berteriak seperti orang bodoh dan menendang pintu ruangan pasien seperti orang gila, seharusnya aku tahu ini akan terjadi” umpat Irene dan dapat di dengan jelas oleh Aldian.
Namun pria itu tak peduli sama sekali, dia tetap marah karena Irene yang membela dokter itu. Pria itu hanya cemburu, karena ada pria lain yang menyentuh miliknya.
“sebaiknya kamu istirahat di apartemen, aku akan mengantarmu” ujar Aldian akhirnya mengalah.
Dia memohon dengan wajahnya pada Irene, yang langsung membuat gadis itu menghembuskan nafas, memaafkan.
“aku mau melihat mama sebentar, kamu bisa pergi duluan untuk bekerja”
“aku akan menemanimu” kata Aldian cepat.
Irene hanya bisa memasang wajah bete-nya, apa mungkin Aldian mau tebar pesona lagi?
Jika seandainya Aldian adalah pria biasa yang punya toko roti di pinggir jalan, serta wajah pas-pasan. Irene akan dengan senang hati mengiyakan.
Tapi sayangnya pria ini terlalu mencolok untuk di jadikan teman jalan. Pasti endingnya gosip akan bertebaran di sekitarnya lagi.
Sekarang saja... Bisa di katakan sudah banyak para betina yang melihat Aldian lapar. Bukan hanya para suster dan pengunjung muda mudi, tapi juga di sertai emak-emak yang berstatus janda.
Bahkan Irene juga sempat menangkap tadi seorang wanita berumur 40 tahun yang suminya baru meninggal, yang awalnya sedih bercucuran air mata. Dan ketika melihat wajah Aldian, wanita itu langsung tersenyum cerah seolah tidak ada beban.
Ngerinya.... Irene melihat itu semua.
Dia percaya jika pria di depannya ini hanya akan menambah parah para pengidap penyakit jantung.
“Tidak usah, kau pergi saja, nanti mamaku tambah sakit” usir Irene langsung.
“aku tidak menularkan penyakit apa pun Irene! “ Teriak Aldian berusaha menghentikan Irene pergi meninggalkannya.
Namun nyatanya.... Gadis itu tetap tidak menghiraukan dan membiarkan Aldian mengikutinya tidak jelas.
Sesekali Irene merasakan jika tangannya di tarik-tarik Aldian, tapi di tepis langsung.
Sejujurnya dia lebih kesal pada Aldian. Seharusnya di peka kenapa Irene tidak pernah membiarkan Aldian terlalu lama di dekatnya jika sedang di tempat umum.
“aku akan menggendongmu di sini jika kau tidak berhenti” ancam Aldian.
“terserah” kata Irene mempercepat jalannya. Pastinya dia mengira Aldian hanya bercanda.
Tapi beberapa detik berikutnya, tubuh Irene sudah tertangkap dari belakang, dan sialnya lagi Aldian benar-benar membawa tubuh kurus gadis itu dalam gendongannya.
“a-apa!” kejut Irene.
“ya ampun.... Anak muda zaman sekarang...”
“astaganaga.... Kalian bikin iri saya saja”
“mas! Bawa ke pelaminan aja langsung!”
-pria brengsek bajingan!- dan itu adalah suara hati Irene yang mengutuk habis Aldian.