BE MY MINE?!

BE MY MINE?!
BAB--2



Irene pov


 


"KAU BRENGSEK! APA YANG KAU LAKUKAN!"


 


Aku berusaha memberontak dari penjara tubuh pria itu. Semuanya, kukerahkan semua tenagaku agar bisa lepas. Mulai dari mendorong tubuhnya menjauh sampai menendang-nendang tulang kering pria ini tak karuan.


 


Aku jijik dan tidak mau di sentuh oleh laki-laki ini. Dengan sangat susah, aku bahkan menggerakkan kepalaku cepat ke kiri dan kanan hingga bajingan ini susah untuk menjangkau wajahku. Sialnya di sini, tenagaku tidak berguna sama sekali, sekeras apa pun aku memberontak dan berusaha lepas, tenaganya malah tambah besar lagi dan lagi.


 


 


Tidak, aku harus lepas dari pria brengsek ini apapun caranya! Dan... Aku hanya memikirkan satu cara agar dia bisa melepaskan wajahku dan berhenti menjilati pipiku.


 


‘maafkan Irene ma....’ sesalku dalam hati mempersiapkan mental. Aku menghentikan tubuhku untuk memberontak, tanganku yang berada di dadanya, ku arahkan hingga menyentuh pipinya.


 


‘Irene kau pasti bisa!’ Kataku dalam hati menyemangati tubuhku yang mulai bergetar karena takut. Akhirnya, ketika kedua tanganku sudah menyentuh wajahnya, kutangkup pipinya sama ketika dia menyentuh wajahku. Aku tersenyum menang ketika dia menghentikan jilatannya pada wajahku, dan saatnya aku menunjukkan siapa yang akan menang kali ini.


 


Aku menjauhkan wajah pria itu dariku, kemudian dengan sedikit berjinjit-mendekatkan wajahku padanya, ku sematkan sebuah kecupan di bibirnya.


 


Tawaku berderai, ketika kulihat dia kaku akan perbuatanku, dan aku memanfaatkan situasi ini untuk kabur. Tapi sebelum itu aku akan memberikan pelajaran berharga pada ‘barangnya’ itu.


 


Ku arahkan lagi tendanganku padanya, namun kali ini tepat di antara 2 kakinya.


 


“SIAL! APA YANG KAU LAKUKAN!” teriaknya kesakitan sampai terduduk di lantai. Senyum licikku mengembang menikmati penderitaan pria itu, yang bahkan kali ini memegang barangnya sembari merintih dan mengumpatiku kesakitan.


 


“KAU WANITA SIALAN MAU KEMANA KAU!”


 


Aku tak menghiraukan lelaki itu lagi, ku arahkan tubuhku keluar dari apartemen ini, dan ku kunci dengan rapat pintunya. Dia kali ini tidak akan bisa kabur. Dan selagi dia di dalam aku akan melaporkan tindakkan asusila barusan pada mbak kian-satpam gedung ini.


 


***


 


Aldian pov


 


Wanita sialan itu! Aku bersumpah akan mengajarinya sopan santun dan bersikap! Ya harus! Dan untungnya aku sempat melarikan diri dari apartemen itu, pintu kayu yang mengunci diriku hanya hal kecil di banding dengan jeruji besi yang daddy gunakan untuk mengurungku.


 


Aku melirik jengkel pada arloji yang ada di tanganku, ini sudah pukul 10 pagi, dan moodku kembali turun karena gagal menjinakkan wanita itu. Bukankah wanita selalu senang jika mendapat perhatian dari lelaki tampan sepertiku? Tapi kenapa? Dia malah selalu membuatku berang karena menantangku mati-matian?


 


Aku memejamkan mataku kembali menahan sakit tepat di bawah perutku, sialnya lagi rasa sakit itu ada pada milikku. Wanita sialan itu ternyata memiliki tendangan mematikan untuk para kaum adam sepertiku. Dia cukup berbahaya dengan kakinya yang kuat itu.


 


Tapi.... Sepertinya aku menyukai satu hal. Ketika bibir kami menempel, rasanya seperti sesuatu merasuki jantungku. Aku tidak tahu apa itu, namun aku menyukai sensasinya, terasa begitu menantang dan membuat diriku menginginkannya lagi.


 


Bukan hanya itu, aku baru sadar jika dia bertambah menarik ketika tersenyum. Bibirnya yang melengkung, membuat pikiranku seolah di tarik untuk memperhatikan lebih. Bahkan ketika aku mengerti tawanya adalah tawa jahat dan meremehkan, duniaku yang selama ini di penuhi dengan kesenangan mendengar tangis dan teriakkan tikus-tikus jalanan. Menjadi tidak berarti hanya karena aku mendengar tawanya.


 


“aku benar-benar sudah gila?” tanyaku lagi pada diriku sendiri. Kulihat lurus ke depan parkiran mobil di apartemen ini, kemudian sambil berdiri kusandarkan tubuhku pada pohon rindang di belakangku.


 


“tapi sejak kapan aku pernah menjadi manusia normal?” gumamku akhirnya menyimpulkan. Semua itu benar. Jauh di antara teman-teman dan juga manusia yang mengelilingiku, mereka tidak suka melihat bagaimana tulang kering seseorang keluar tembus dari kulit kaki itu. Yah .... Hanya aku mark dan daddy yang menyukai hal ini.


 


 


“Ya, antarkan aku ke kantor sekarang” kataku tanpa mau melirik andrea yang ada di sampingku.


 


Jika ku ingat lagi... mengenai andrea, dia sama tidak normalnya dengan diriku. Jika ada yang berpikir lelaki ini normal, maka orang itu salah. Andrea-aku menemukannya di gudang pengiriman narkoba di sebuah dermaga dekat jakarta. Itu adalah dermaga ilegal dan tersembunyi yang tak pernah di ketahui sedikitpun bahkan oleh pemerintah indonesia sekalipun.


 


Dengan keadaan yang mengenaskan-telanjang dan di penuhi luka di setiap tubuhnya-itulah keadaannya waktu itu. Sayangnya mentalnya sedikit terganggu kala itu, hmmm kalau tidak salah itu akibat di perkosa oleh beberapa lelaki biadab di sana, yah... Aku juga tidak menyalahkan orang-orang itu. Karena dilihat dari sisi manapun, andrea adalah lelaki feminim yang pastinya yang melihatnya akan mengira dia gadis yang cantik.


 


“Tuan mobilnya sudah siap” aku mendengarkan penuturan dari andrea barusan, dan kuanggukkan kepala, kulangkahkan kaki mengikuti pria itu dari belakang. Menuju parkir mobilku.


 


***


 


Aku melangkahkan kaki memasuki ruangan Daddy, kulihat pria tua itu sudah duduk di kursi kebesarannya seperti biasa dengan beberapa kertas di tangannya. Tatapannya yang serius dan selalu tajam itu membuatku sedikit bangga menjadi anaknya. Dad selalu terlihat keren ketika sedang bekerja di kantor saat ini... Yah walaupun umurnya tidak semuda dulu.


 


“kau melewatkan rapat pertamamu Aldian”


 


“Aku hanya sedang ada urusan mendadak di luar” jawabku sekenanya.


 


“Dengan seorang wanita?” aku mengerutkan kening, dari mana dad tahu?


 


“Andrea memberi tahuku semuanya, dia mengatakan jika wanita itu menarik minatmu saat ini” ucap dad seolah tahu pikiranku, diletakkanny kertas yang menggantung di tangannya tadi ke atas meja kerja yang ada di depannya.


 


Rahangku mengeras mendengar itu. “jangan lakukan apa pun padanya dad-“


 


“dia sepertinya mainan sempurna untuk Andrea”


 


“dad! Dia milikku!” aku mengetatkan rahang marah, setelah meneriakkan kata itu. Aku benci jika milikku di sentuh.


 


Kulihat dad menatapku dengan tatapan membunuhnya. Namun aku tidak gentar sedikit pun, ku balas balik menatapnya dengan tatapan yang sama.


 


“Irene arabella, kau ingin menjadikan gadis itu mainanmu?” tanya dad dengan kali ini melipat tangannya di depan dadanya.


 


Aku mengepalkan tanganku ketika mendengar hal itu. Mainan? Entah kenapa baru sekarang aku membenci kata itu. Namun apa itu benar jika aku tertarik padanya untuk menjadikannya mainanku saja?


 


“minggu lalu kau membawa mayat seorang wanita, dan menggantungnya di ruang bawah tanah, aku pikir kali ini kau akan menjadikannya mainanmu lagi?”


 


“aku... Tidak tahu” jawabku akhirnya. Aku bingung dengan yang terjadi. Dalam benakku, aku hanya tertarik untuk mengajarkan gadis itu menghargai seorang Aldian Antonio, tak pernah terpikir untuk menjadikannya koleksiku untuk ku pajang di ruang bawah tanah.


 


“istriku cemas memikirkan dirimu yang tiba-tiba saja berubah pendiam. Bagiku itu semua bagus, karena kau tidak menggoda milikku lagi, tapi sebagai seorang ibu dia ingin tahu apa anaknya baik-baik saja,”


 


“Maafkan aku dad, akhir-akhir ini, wanita itu selalu mengelilingi kepalaku” jujurku lagi akhirnya. Kuperhatikan jika daddy hanya duduk sambil menatapku dengan tatapan tajamnya yang kali ini tidak ada tatapan membunuh lagi.


 


“Diskusikan dengan mom mu nanti, dia tahu jawaban yang tepat dari masalahmu”


 


“Benarkah? Apa itu ada jawabannya?” tanyaku mulai tertarik. Dad benar, mom mungkin saja tahu apa yang terjadi dengan pikiran dan jantungku!