BE MY MINE?!

BE MY MINE?!
BAB--5



 


Irene pov


 


“Btw ren, kalau gak salah besok kan kita ada lomba sains di kampus, nah jurusan bagian managemen kali ini bakalan mengurus bagian keuangan  baik itu pemasukan maupun pengeluaran. Syukur banget ketua BEM kali ini kak Reno, jadi jurusan kita kebagian!”


 


Aku mulai memakan goreng yang tersedia di depan ku. Sembari mendengar ocehan viola di depan mengenai lomba sains anak biologi dan fisika. Tahun ini sedikit meriah karena kabarnya beberapa perusahaan terkenal seperti pihak Devan Antonio juga ikut ambil bagian.


 


“Kamu kayaknya seneng banget vi, emang apa yang spesial dari ikutan ginian? Aku udah capek banget ngurus organisasi keamanan kampus, ditambah ikut ngitung uang buat acara besok, ampun deh” keluhku tidak mengerti dengan viola. Setelah kami bertaruh tadi. Dia bungkam seribu bahasa dan seolah bertekad untuk menagih janji yang ku buat barusan. Aneh bukan?


 


Dan sekarang aku melihat binaran harapan masa depan terpancar jelas dimatanya.


 


“kamu tahukan... Andrea sekretarisnya Aldian Antonio akan mewakili perusahaan Devan untuk datang ke kampus kita! Memberikan sepatah dua patah kata penyambutan untuk peserta!”


 


“terus?”


 


“ya gitu! Aku mau kenalan sama dia! Setiap kali liat di televisi, bikin jantungku cenat cenut loh! Wajah cantiknya itu loh! Kayak oppa-oppa korea!”


 


Aku menggeleng frustrasi punya teman yang mudah saja jatuh cinta sama makhluk yang ada di TV. Yah... Jika dilihat dari atas sampai bawah viola juga termasuk gadis cantik. Wajahnya yang bulat sedikit lonjong, serta hidung peseknya. Membuat kesan wajah itu imut seperti boneka. Apa lagi tubuhnya yang lebih rendah dariku 10 centimeter ke bawah. Jika dipakaikan gaun berwarna pink mungkin saja dia akan menjelma jadi boneka yang cantik.


 


Dan pria bernama Andrea itu, aku pernah melihatnya di sebuah tabloid. Dan benar kata viola, wajah cantik Andrea seperti oppa-oppa Korea. Hmm aku rasa wajahnya bisa jadi kembarannya kim Soo-hyun. Cukup cantik dan tampan di saat bersamaan.


 


“Mimpi terooos” kataku dengan nada meledek. Kuperhatikan wajah violla di depanku sudah berubah kesal, perubahan yang cukup signifikan dari senyum ke cemberut.


 


“kamu tuh! Seharusnya kamu dukung aku dikit irene! Tau temennya lagi halu, bukan di aminin, malah di ledekkin!”


 


“kamunya halu ketinggian, siang bolong gini, aku denger-denger dia itu agak belok loh!” ucapku dengan membengkokkan jari telunjukku di depan wajah viola. Kemudian tawaku langsung pecah ketika wajahnya kembali memerah.


 


“Itu Cuma gosip! Dia nggk gitu!”aku menopangkan wajahku pada tangan dan mengedipkan sebelah mataku kembali menggoda viola. Bagaimanapun viola membantahnya, rumor mengenai Andrea yang suka sesama jenis, tidak akan memudar sama sekali. Walaupun aku tak banyak mendengar dan melihat berita ginian, namun gosip mengenai sekretaris Aldian Antonio itu cukup menyebar luas di sini, karena apa? Ya karena itu lagi, pertama dia mirip sama oppa korea. Kedua dia adalah orang yang acap kali menghadiri pertemuan resmi di kampus kami, jadi tidak jarang jika gosip seperti ini akan mudah di dengar dan di ucapkan dari mulut ke mulut.


 


“Ululuh.... Vi sayang jangan ngambek gitu deh, aku Cuma nyaranin sama kamu supaya gak langsung suka gitu aja liat tampang orang. Percaya deh, aku lebih pengalaman.” Kataku, kemudian kuminum dua teguk ekspressoku yang sudah terabaikan sejak tadi.


 


“Maksudmu laki-laki tampan yang tiba-tiba nongol gitu aja di kamar kamu”


 


“Nah itu! Dia brengsek!-“


 


“tapi tampan?” aku merubah wajahku bete ketika mendengar penuturan viola yang memotong begitu saja perkataanku.


 


“Aku akui jika wajahnyanya itu tampan, tapi sifatnya sama seperti bajingan” kataku dengan santai dan acuh. Jemari yang kugunakan untuk mengambil cangkir tadi kali ini ku gunakan untuk mengetuk-ngetuk meja dengan sebal. Ingatan malam dan juga waktu beberapa hari lalu saat pria itu berkunjung ke apartemenku tanpa izin, membuat kepalaku mendidih.


 


Dia sepertinya sama brengsek dengan lelaki yang datang ke rumahku.


 


“jadi lo yang namanya irene? Wanita keganjelan yang dekat sama kris gue?”


 


Aku menolehkan kepala ketika namaku di panggil seperti itu. Dan sialnya lagi ketika kulihat ternyata itu adalah kak serena- berdiri menatapku dengan tatapan garang mengintimidasi. Dan pernyataannya barusan... Apa aku salah dengar?


 


“Maaf kak? Maksudnya apa ya?” tanyaku dengan salah satu alis terangkat. Kemudian ku alihkan pandanganku pada viola yang hanya bisa mengangkakt kedua bahunya tidak tahu.


 


 


“lo tuh ya! Pura2 bego atau gimana? Lo lagi goda-goda kris bukan?” aku tersenyum getir mendengar pernyataan kak serena barusan.


 


Hello! Kak liat penampilanku! Pakai celana panjang, kaos oblong polos warna putih, lalu ikat rambut cepol ke belakang. Ada enggak sih orang dandan kek gini bisa di bilang godain laki orang?


 


Jika dibandingkan dengan pakaian kak Serena yang cantik dan berkelas-sepatu hak tinggi, rok pendek di tengah paha dan jaket kulit mahal, dan jangan lupakan tatanan rambutnya yang bergelombang khas tuan putri.


 


“Kak... Gini nih, duduk sini dulu!” kataku menginstrupsi tatapan tajamnya padaku. Ku arahkan kak Serena duduk di sebelahku.


 


“Ih kenapa lo megang-megang!” katanya protes, namun tetap ku tuntun dengan sabar agar duduk di sebelahku.


 


Dan akhirnya dengan sedikit banyaknya usaha, kak serena mau juga duduk, yah, walaupun dengan keadaan terpaksa dan wajah yang masih galak.


 


Akupun juga ikut menyamankan duduk ketika kak Serena sudah nyaman duduk di sana, bangku kantin panjang khas warteg.


 


“gini kak... Liat wajahku? Liat pakaianku? Celanaku? Sama sepatu bututku?” tanyaku beruntun, yang kulihat dia memasang wajah bingung, dengan salah satu alis terangkat.


 


“Lo mau apa sebenarnya?!”


 


“kak... Coba kakak pikir deh, aku seorang mahasiswa dari rakyat jelata gini, ke kampus pake sepatu butut sama tas bekas orang, make up ku aja kak,... Aduh, merek murah hasil grosiran di pasar, sama nawar murah. Bukannya kalah gitu sama kakak yang cantik seantero kampus, terkenal cerdas sama bertalenta. Mana mungkin kak Kris ke goda sama aku kak” jelasku panjang lebar menampilkan statusku yang jelas berbeda dengannya.


 


Sebuah senyum terbit di wajahku ketika akhirnya kak Serena mulai terlihat memikirkan perkataanku barusan. Yah... Itu patut di pikirkan karena tidak ada alasan apa pun untuknya membandingkanku dengan dirinya sendiri. Karena aku sangat tidak pantas untuk dibandingkan dengan kak Serena yang hampir sempurna di segala bidang. Mulai akademis sampai bidang ekonomis.


 


Jauh mah!


 


“lo kayaknya bener juga deh, ngapain gue coba bersaing sama cewek miskin kayak lo” ngejleb sih... Tapi ini demi kebaikanmu Irene, daripada di bully sekampus kan?


 


“Nah gitu kak, aku juga Cuma temenan sama kak kris, kami nggak ada apa-apa” kataku dengan penuh percaya diri. Kulihat jika dia kali ini mulai menatapku memicing tidak percaya, namun segara ku angkat salah satu tanganku dan membentuk lamabang peace, sebagai bentuk sumpah.


 


“Ya ampun kak, gak percayaan lagi, kalau kakak enggak percaya tanya aja langsung sama viola ini kak, dia temenku yang gak mungkin bohong, nah terus kalau kakak, enggak percaya juga tanya aja langsung sama kak krisnya, kami bener-bener nggak ada hubungan apapun!” tuturku panjang lebar.


 


“kali ini gue percaya, tapi awas jika lo bohong!” jawab kak Serena mengancamku sembari menunjuk tepat wajahku.


 


Dia akhirnya berdiri dari duduknya dan melangkah menjauh. Dan saat itulah hembusan nafas lega keluar dari mulutku. Kuakui jika itu adalah salah satu waktu genting yang pernah terjadi dalam hidupku. Kak serena adalah salah satu pemilik saham dari kampus swasta ini. Dan secara tidak langsung dia jiga mendanai uang kuliahku. Dan mencari masalah sama kak serena sama saja mencari masalah dengan uang kuliah perbulanku.


 


“kayaknya kamu aman kali ini deh ren”


 


“Untuk sekarang iya... Tapi jika kak Serena mendapat kabar nanti aku pergi di traktir sama kak Kris... Uang kuliahku gimana dong vi?” tanyaku putus asa ketika kulihat viola menatapku dengan sedih.


 


Secara keseluruhan hidupku dan viola, sebelas duabelas adanya. Namun, kehidupanku lebih pelik. Dibandingkan dengan viola yang masih memiliki ayah dan ibu yang jelas, setidaknya dia masih ada tempat pengaduan dan sandaran, dibanding diriku yang bahkan tempat curhat kehidupan pun tidak ada.


 


***