
...~Happy Reading~...
Menempuh perjalanan cukup lama karena macet, kini akhirnya mobil yang di kendarai oleh Ryan dan di sebelah nya Baby itu sudah tiba di kediaman Bobby.
Keduanya segera turun, namun tidak dengan dua laki laki yang berada di kursi belakang. Keduanya masih terdiam karena Angga yang merasa bingung, sementara Raka yang memang lah sangat enggan untuk turun.
“Ryan, tolong bawa mereka turun deh, aku masuk dulu,” ucap Baby hendak masuk lebih dulu, tapi dengan cepat Ryan menahan tangan nya sambil menggelengkan kepala.
“Kita masuk bersama, jangan sendirian. Aku gak mau kejadian dulu terulang lagi,”
Deg!
Ada perasaan haru dalam benak Baby. Tanpa sadar ia sampai melengkungkan bibir hingga membentuk sebuah senyuman untuk menghiasi wajah nya.
“Mulai sekarang, tolong libatkan aku dalam hal apapun,” imbuh Ryan yang kini memberanikan diri untuk mengusap lembut wajah Baby, membuat gadis itu semakin merasakan detak jantung yang luar biasa dahsyat.
Baby tersenyum lalu menganggukkan kepala nya, wajah nya mungkin kini sudah merah merona seperti kepiting rebus. Namun gadis itu berusaha menyembunyikan nya dengan cara menunduk.
“Kalian ayo keluar,” Ryan membukakan pintu mobil belakang agar dua manusia di itu keluar.
Angga langsung keluar, namun Raka masih enggan. Sangat enggan untuk keluar, bahkan laki laki itu sibuk mencari alasan agar tidak jadi keluar di karenakan takut.
“Ryan, aku disini aja deh kayaknya. Kasihan mobil nya sendiri nanti kalau ilang gimana?” kata Raka yang tak masuk akal.
“Ya udah aku ikut, ayo!” ucap Raka yang langsung memotong perkataan Baby dan segera turun saat Baby menunjuk ke arah pohon besar yang berada tak jauh dari tempat parkir mobil nya.
Baby dan Ryan hanya mampu terkekeh, lalu ke empat nya masuk ke dalam rumah. Sudah beberapa bulan sejak terakhir mereka ke sana, kini tempat itu sudah semakin terlihat menyeramkan.
Paman Bobby sudah meninggal dunia beberapa minggu yang lalu. Tepat nya saat Baby pulang ke Bali, saat itu ia mendengar kabar bahwa beliau sudah meninggal. Jadilah kini sudah tidak ada lagi yang mengurus rumah itu, dan tidak akan ada yang mempermasalahkan mereka memasuki rumah itu lagi.
“Dimana?” tanya Ryan sat melihat Baby berhenti dan diam mengamati sekitar nya.
“Tunggu, kenapa kita tidak membawa alat?” kata Baby seolah bertanya yang langsung di balas gelengan kepala oleh tiga lelaki di belakang nya.
Mana mereka tahu alat apa yang di maksud oleh Baby. Mereka pun juga tidak tahu, untuk apa mereka datang ke sana, selain untuk menemani Baby.
“Susy!” gumam Baby begitu lirih namun masih mampu di dengar, hingga membuat Raka langsung merangkul erat lengan laki laki di sebelah nya, Angga.
“S—Susy?” Angga mengerutkan dahi nya, menatap ke arah sekitar dan tidak menemukan siapapun selain mereka ber empat, “Siapa Susy?”
“Setan,” bisik Raka bergidik ngeri, “Heh ngapain lo ngeliat kesini woy!” pekik Raka semakin ketakutan saat Baby berbalik dan menatap ke arah nya dan Angga.
Susy, wanita itu kini sudah berada tepat di depan wajah Angga, dan sebenarnya Angga lah yang menjadi topik utama penglihatan Baby bukan Raka. Hanya saja, laki laki satu itu memang memiliki tingkat kenarsisan yang sangat akut, jadi merasa seolah Baby menatap nya, padahal tidak.
...~To be continue .......