Baby's Life Story

Baby's Life Story
Marah



...~Happy Reading~...


Berulang kali, Ryan mengerutkan dahi nya ketika mendengar penjelasan dari Baby. Ia berusaha mencerna walau sebenarnya apa yang di bicarakan tidak sampai masuk ke dalam logika nya.


Bukankah orang yang sudah mati tidak akan bisa hidup lagi. Mengapa Baby bisa bercerita seolah anak pemilik rumah itu masih berada di sana dan menyuruh nyuruh manusia.


"Oh iya lupa, kita belum kenalan. Nama gue Baby, panggil aja Baby!" ucap Baby mengulurkan tangan nya ke arah Ryan.


"Lama banget sih, tangan gue bersih anjirr. Lo itu harus bersyukur karena bisa kenalan sama cewek kaya gue!" imbuh nya sedikit berdecak saat uluran tangan nya tak langsung di tanggapi oleh Ryan.


"Ryan!" jawab Ryan membuat Baby tersenyum.


"Baiklah, karena gue baik hati dan tidak sombong. Jadi, gue bakal ngajak lo buat bantuin gue."


"Aku tidak mau!" tolak Ryan menggelengkan kepala.


"Eits, tidak ada penolakan. Tidak baik menerima kebaikan dari gue, jadi mulai sekarang gue putusin kalau kita berdua adalah Partner!" ucap Baby terlihat begitu senang.


Bagaimana tidak, berbulan bulan dirinya berjuang sendiri, dan tidak berhasil menemukan apapun di rumah itu. Dan kini, ia sudah menemukan teman yang nyata untuk membantu nya.


Brakkkk!


Baby dan Ryan langsung menoleh saat mendengar suara yang cukup kencang terdengar dari arah dapur.


"Apakah ada yang lain, selain kita?" tanya Ryan langsung menatap ke arah Baby.


"Tidak! Bahkan Bobby saja juga tidak ada disini," jawab Baby juga sedikit bingung.


Selama ini di rumah itu, ia tidak pernah di ganggu lantaran Bobby selalu menemani nya. Tapi kini, sejak Bobby menghilang, entah mengapa Baby semakin sering mendapatkan sedikit gangguan.


"Jadi, tujuan kamu disini apa?" tanya Ryan berusaha mengabaikan suara tersebut.


"Menemukan jasad Bobby. Aku kenal dia udah bertahun tahun. Dan dia yang meminta ku datang untuk menemukan jasad nya."


"Kamu percaya sama dia?" tanya Ryan kurang percaya.


"Percaya, karena dia teman ku." jawab Baby yakin.


Pyarrrrrr!


Brakkk!


"Bobby? Bob, lo disini?" Baby terus berjalan menuju sumber suara.


"Tunggu!" Langkah Baby terhenti saat tiba tiba Ryan menahan tangan nya, "Ada yang gak beres disini."


"Gapapa, gue udah biasa. Kalau lo takut, mending lo—"


Brakkk!


Lagi, lagi dan lagi suara gebrakan itu kembali terdengar, hingga membuat keduanya terkejut untuk ke sekian kali nya.


Baby semakin mempercepat langkahnya hingga tiba tiba ia kembali berhenti saat melihat area dapur yang sudah sangat berantakan.


"Bob! Bobby? Jangan nakut nakutin gue, keluar Bob. Gue yakin lo iseng kan, Bobby?" Seru Baby terus memanggil sahabat nya, berharap bahwa memang benar ini adalah ulah dari Bobby.


"Sepertinya bukan dia," gumam Ryan sambil terus menggenggam tangan Baby.


Baby kembali terdiam. Ia terus mengamati setiap sudut di ruangan itu. Dimana kini tempat itu sudah sangat berantakan.


Kain kain putih yang menjadi penutup setiap barang yang ada di sana, seketika berhamburan dengan beberapa kursi yang sudah terpelanting jauh dari tempat nya.


Tak hanya itu, beberapa piring dan juga gelas tergeletak pecah di lantai.


Keadaan persis seperti orang yang sedang marah dan menghancurkan barang barang di rumah. Namun siapa? Selama Baby di sana ia hanya tahu Bobby.


Dan kini, Bobby tidak ada. Lantas siapa yang mengganggu nya di sana, batin Baby.


"Sepertinya kita harus keluar!" gumam Ryan dengan perasaan yang sudah sangat sulit untuk di jelaskan.


"Bobby, gue yakin lo disini. Plis, jangan buat gue takut, Bob gue—"


Pyaarrrrr!


"Auwwhhh!" pekik Baby meringis saat tiba tiba sebuah gelas melayang dan berhasil mengenai kening nya.


"Ini udah gak beres, kita keluar sekarang!" Dan tanpa menunggu persetujuan, Ryan segera mengangkat tubuh mungil gadis yang baru saja ia kenal itu ke dalam gendongan nya dan berlari keluar rumah.


...~To be continue... ...