
...~Happy Reading~...
“Makanya kalau gak bisa masak, gak usah sok sok an mau masak. Gak perlu cari perhatian deh, aku udah biasa beli makanan di luar kalau gak ada Bibi!” omel Baby saat melihat betapa berantakan nya dapur nya ketika di jajah oleh Grace.
“Aku tuh bisa masak, Cuma tadi it—“”
“Tau ah, mending sekarang pikirin gimana cara beresin nya. Biar aku yang pesen makanan!” kata Baby memberikan perintah lalu pergi mengambil ponsel nya.
Sementara itu, Grace yang melihat kekacauan yang dia buat hanya bisa menghela napas nya pasrah. Entah bagaimana cara nya untuk membereskan benda benda tersebut. Kepala nya sudah merasa pusing hanya melihat barang barang itu berserakan.
Drrtt ... Drrttt ...
Grace segera mencuci tangan nya sebelum mengangkat panggilan telepon. Nama Wira tertera di layar ponsel nya membuat gadis itu kembali mendengus dengan mata berkaca kaca.
“Halo!” jawab Grace dengan ketus.
“Kenapa?” tanya seorang laki laki di seberang sana.
“Hiks hiks hiks, cepetan pulang!”
“Baby udah di rumah?” tanya Wira mengerutkan dahi nya, karena bingung dengan perubahan sikap Grace.
Bagaimana tidak, sebelum dirinya berangkat tadi Grace terlihat begitu ceria dan bersemangat. Tapi, baru dua jam dia tinggal, gadis itu sudah menangis terisak bahkan marah marah tidak jelas.
“Udah, makanya cepetan pulang hiks hiks.”
“Kenapa nangis sih?” tanya Wira semakin di buat bingung.
“Ya gapapa, kamu nya buruan pulang makanya!” kata Grace kembali berseru hingga membuat laki laki di seberang sana hanya bisa memijit pelipis nya.
Sementara itu, Baby yang melihat Grace mengadu ke ayah nya, hanya bisa menghela napas nya kasar sambil mencibir kesal.
Setelah memesan makanan, Baby memutuskan untuk segera masuk kamar dan mandi juga mengganti pakaian dengan yang lebih santai.
Tak lupa, ia juga sesekali mengecek ponsel nya, berharap ada sebuah pesan atau panggilan tak terjawab mungkin dari seseorang.
Tapi ternyata harapan itu hanya angan angan nya saja. Nyatanya tidak ada yang menghubungi nya apalagi mencari nya, bukankah itu menandakan bahwa memang dirinya tidak berarti apapun, untuk dia.
Dia? Siapa dia yang Baby maksud. Enggan mengakui perasaan nya, gadis itu memilih untuk segera keluar kamar dan kembali ke meja makan untuk bergabung dengan Grace.
“Papa belum mau pulang?” tanya Baby saat melihat makanan sudah tersaji rapi di meja makan.
Ya, beberapa saat lalu, ketika Baby sedang mandi. Makanan yang ia pesan sudah tiba dan sudah di bayar oleh Grace. Grace juga yang sudah menyalin ke tempat dan menyajikan nya di meja makan.
“Katanya sih sebentar lagi. Kamu kalau sudah lapar, makan aja dulu, nanti biar aku yang nemenin papa kamu,” kata Grace memberikan penawaran.
“Enggak lah, aku juga mau nungguin Papa,” jawab Baby sambil menggigit buah apel di tangan nya.
“Oh iya, berapa sih umur Tante?” tanya Baby mengerutkan dahi nya menatap sosok wanita di depan nya.
“Menurut mu berapa?” kata Grace malah balik bertanya hingga membuat Baby langsung berdecak.
“Kalau aku tahu, aku tidak akan tanya!” gumam Baby mencibir, membuat Grace langsung terkekeh.
Ini adalah kali pertama nya bisa mengobrol santai dengan Baby. Karena anak itu sejak dulu begitu sulit untuk di dekati.
Akan tetapi tekat nya begitu bulat dan tidak mudah menyerah, hingga pada akhirnya Grace yakin bahwa ia akan bisa mendapatkan hati ayah dan anak tersebut.
...~To be continue ......