Baby's Life Story

Baby's Life Story
Telfon



...~Happy Reading~...


Drrtt... drrtt...


Baru saja Baby menerima panggilan telfon dari ayah nya. Kini, giliran ponsel Ryan yang berdering dalam saku jas nya.


"Bisa tolong ambilkan ponsel ku?" ucap Ryan tiba tiba.


"Ambil sendiri,"


"Apa kau tidak lihat aku sedang menyetir?" kata Ryan sedikit melirik tajam pada Baby.


"Kan bisa nyetir pakai tangan satu, tangan sebelah lagi gunakan untuk ambil—"


"Tidak bisa. Aku tidak mau kecelakaan dan mati sebelum waktunya. Cepat lah!" desak Ryan membuat Baby semakin mendengus dengan kesal.


"Dimana?" tanya Baby mengerutkan dahinya.


"Dalam saku!" jawab Ryan yang masih terus fokus pada jalanan di depan nya, "Aku gak bisa lepasin kemudi."


Glek!


Baby menelan saliva nya sambil mengamati postur tubuh Ryan. Laki laki bertubuh kekar dengan berbalut kemeja kotak kotak dengan jas hitam nya.


"Cukup ambil jangan menyentuh yang lain!"


Deg!


Seketika itu juga, Baby tersadar dan langsung mencebik kesal lantaran malu dirinya ketahuan mengamati tubuh laki laki es di depan nya.


Menghela napas nya sedikit berat, Baby pun akhirnya membuka jas yang di kenalan Ryan sedikit agar ia bisa lebih mudah mengambil ponsel.


"Sudah ku bilang, cukup ambil saja. Jangan menjelajah kemana mana," ucap Ryan seraya menahan geli lantaran tangan Baby yang justru berkelana mengelilingi dada bidang nya yang begitu lapang.


"Nihh!" Dengan kasar, Baby memberikan ponsel itu kepada Ryan.


Baby pikir, dirinya hanya cukup mengambil ponsel itu saja. Namun ternyata ia salah.


Nyatanya, Ryan tak hanya menyuruh nya mengambil ponsel, namun juga menyuruh nya untuk meletakkan nya di telinga nya.


"Angkat telfon nya dan dekat kan di telinga ku," ujar Ryan yang membuat Baby semakin mendengus.


'Nyesel aku udah numpang sama nih cowok!' umpat Baby terus menggerutu dalam hati.


"Ryan, kamu dimana? Daddy ingin minta tolong sama kamu." jawab sang ayah dari seberang sana.


"Kenapa Dad? Ryan lagi di jalan, menuju Bandara."


"Kamu mau kemana?"


"Tidak kemana mana, Ryan mau mengantarkan teman Ryan."


"Nah kebetulan kalau begitu,"


Ryan langsung mengerutkan dahi nya dengan sedikit curiga saat sang ayah mengatakan kebetulan.


"Maksud nya?" tanya Ryan mengerutkan dahi nya.


"Daddy mau minta tolong, kamu cek kantor cabang yang ada di Bali. Raka tidak bisa pergi ke sana, karena tidak tega meninggalkan Ryana. Kamu paham kan maksud Daddy. Jadi—"


"Dad, apa gak ada yang lain? Kenapa harus Ryan?"


"Cuma kamu yang bisa ke sana. Dan kebetulan kamu juga sedang menuju Bandara kan? Nanti, berkas yang di perlukan Daddy akan kirim lewat email."


"Tapi Dad—"


"Daddy percaya sama kamu. Daddy juga yakin, kalau kamu bisa mengurus masalah di sana." jelas Daddy Adnan sebelum akhirnya laki laki paruh baya itu langsung mengakhiri panggilan telfon nya begitu saja.


Baby yang sejak tadi hanya menjadi pendengar yang baik. Kini, akhirnya bisa bernafas lega karena panggilan telfon itu sudah berakhir.


Yang mana berarti tugas nya juga usai untuk menjadi pemegang ponsel.


"Jam berapa pesawat kamu?" tanya Ryan kembali membuka suara.


"Gak tau, Aku aja belum pesen tiket. Barang ku juga masih di Hotel," jawab Baby begitu santai, seketika membuat Ryan langsung menghentikan mobil nya begitu saja di tengah jalan.


Ciitttt!


Brukkkk!


Tiiiinnnnn.....


...~To be continue... ...