
...~Happy Reading~...
Pagi harinya, Baby sudah terbangun dan rapi. Gadis itu segera keluar dari kamar nya untuk ikut berkumpul bersama dengan yang lain nya di meja makan.
“Kok rapi? Kamu mau kemana?” tanya Baby langsung mengerutkan dahi nya saat melihat dua laki alki yang sudah rapi dengan pakaian kerja nya.
“Kita bukan pengangguran!” Bukan Ryan yang menjawab, melainkan Raka yang masih sedikit kesal dengan Baby.
“Ya udah kalau gitu, aku numpang lagi,” kata Baby seraya mendudukkan dirinya di kursi samping Ryan.
“Mau kemana?” Ryan langsung menoleh ke arah Baby.
“Balik ke rumah Boby!” jawab Baby seketika membuat Ryan langsung meletakkan sendok nya ke piring. Laki laki itu langsung mengubah duduk nya hingga menatap ke arah Baby.
“Kening kamu masih luka. Kamu gak ada takut nya untuk balik ke sana?” Ryan berdecak, sudah tidak mengerti lagi bagaimana dengan jalan pikiran Baby.
“Tapi itu rumah Boby. Dan aku masih punya hutang sama dia, aku akan menemukan jasad nya, sebelum nanti aku pulang!”
Uhukkk huukk uhukkk!
Mendengar Baby yang menyebut kata jasad, membuat Ryana yang sedang menikmati sarapan nya langsung tersedak. Dengan cepat, Raka segera mengambilkan minum untuk di berikan kepada istrinya.
“Pelan pelan, Sayang!” ujar Raka begitu lembut dan penuh kasih sayang.
“Tadi kamu bilang apa? Jasad? Kuping ku gak salah denger?” kata Ryana kini menatap intens pada Baby.
“Kamu gak salah denger, sayang. Memang dia itu penunggu rumah yang akan di beli sama saudara kembar kamu,” jawab Raka sedikit melirik sinis kepada Ryan, “Dan kamu tahu, jasad yang akan dia cari itu udah belasan tahun lamanya.”
“Whatt!” Pekik Ryana langsung menutup mulut nya dengan tangan, ia menggelengkan kepala nya menatap tak percaya.
Menghela napas nya berat, kini Baby meletakkan kedua tangan nya di atas meja, “Dia teman ku. Kalau dia bukan teman ku, aku juga gak akan mau.”
“T—teman?” Ryana menggaruk tengkuk nya, melirik ke arah sekitar, “T—teman kamu sedikit berbeda ya.”
“Bukan berbeda lagi Sayang. Memang temen dia itu beda, makanya dia gak jelas.” Saut Raka sedikit berdecak.
Bukan menjawab lagi, Ryana kini justru menatap ke arah Raka dan Ryana dengan memasang wajah imut nya, lalu menggelengkan kepala nya.
“Jangan Bob, dia teman ku juga kok,” ujar Baby tiba tiba membuat mata Raka seketika langsung membulat dengan sempurna.
Laki laki itu langsung menoleh ke arah belakang dan tak menemukan apapun di sana, “Ryan, cewek lo mulai aneh.”
“Boby, jangan gangguin bumil. Nanti aku gak mau temenan sama kamu, gangguin aja itu suami nya gapapa kok, iya kan Ryana ... “ ucap Baby lagi tersenyum ke arah Ryana.
“Heh!” pekik Raka yang seketika langsung naik ke atas kursi dan menunjuk marah pada Baby, “Lo jangan macem macem ya. Rumah gue bersih dari syaiton syaiton yang terkutuk. Jangan bawa temen temen lo kesini woy!”
Baby berusaha untuk menahan tawa nya agar tidak pecah, karena sebenarnya memang benar rumah itu tidak ada hantu nya.
Bahkan, ia hanya berpura pura berinteraksi dengan Boby hanya untuk menakuti Raka.
Jangan kan untuk interaksi, keberadaan Boby saja kini Baby tidak tahu dimana.
“Dihh, bersih dari syaiton terkutuk. Tapi pemilik nya aja kaya syaiton begitu,” cibir Baby sedikit berdecak malas.
...~To be continue.......