
...~Happy Reading~...
“Kamu kenapa By?” tanya Ryana saat melihat Baby terlihat seperti orang menahan sakit, entah sakit apa yang jelas bukan sakit perut.
Ryana mendudukkan diri tepat di sebelah Baby. Menyandarkan kepala nya pada sandaran sofa, tak lupa ia juga menaikkan kaki untuk mencari posisi nyaman.
“Gak tahu nih, sakit banget leher aku,” jawab Baby sambil terus memijit mijit tengkuk nya.
“Oh iya, Baby. Kamu serius bisa lihat kaya kaya gitu?” tanya Ryana begitu penasaran.
“Kaya gitu gimana? Hantu maksud nya?” kata Baby yang langsung di balas anggukkan kepala oleh Ryana.
“Iya, dan sejak kapan? Apakah sejak lahir? Apa yang kamu rasain? Takut gak?”
Baby menghela napas nya dengan berat, “Dulu aku manusia normal, sama kaya kamu dan yang lain.”
“Terus?”
“Setelah kecelakaan, aku bisa lihat mereka.”
“k—kecelakaan? Kamu pernah kecelakaan?” tanya Ryana yang langsung di balas anggukan kepala oleh Baby, “Tapi aku juga pernah kecelakaan loh, tapi aku kenapa gak bisa lihat mereka juga ya?” imbuh nya lirih dan hampir tak terdengar.
“Maksud nya?” tanya Baby mengerutkan dahi menatap Ryana, “kamu mau lihat mereka?”
“Enggak!” tolak Ryana dengan begitu cepat dan sedikit panik, “Gak mau sama sekali. Terus, terus gimana itu kenapa kamu bisa lihat mereka?”
“Aku gak tahu. Yang jelas, setelah Mama dan calon adik ku meninggal, aku jadi bisa melihat mereka.”
Deg!
“Kamu sabar ya, aku turut berdua cita atas perginya mereka. Aku pun juga pernah merasa kehilangan, bahkan ketiga anak ku, juga sudah pergi sebelum aku lahirkan,” ujar Ryana sambil memeluk Baby.
“Kamu punya anak lain?” tanya Baby langsung mengangkat kepala nya dan menatap wajah Ryana.
“Hemm.” Ryana menganggukkan kepala nya, “Sebelum ini,a ku sudah pernah hamil. Bahkan kembar tiga, tapi—“ Ryana langsung menundukkan kepala nya sambil terus memeluk perut nya yang sudah terlihat besar.
Untuk sesaat Baby terdiam. Sebenarnya, saat awal dirinya masuk ke rumah Raka dan Ryana, ia sudah melihat adanya beberapa anak kecil yang sedang bermain di lantai dua.
Awal nya, Baby mengira bahwa itu adalah adik adik Raka dan Ryana. Tapi, saat ia pergi ke lantai dua, ia sama sekali tidak menemukan mereka. Dan saat Baby menanyakan kepada Ryan apakah di rumah itu ada anak kecil.
Ryan mengatakan bahwa tidak ada siapapun, kecuali Raka, Ryana dan pembantu, juga terkadang dirinya. Mungkin akan ada anak kecil. Namun itu nanti saat Ryana melahirkan.
Dan sekarang, Baby tahu siapa anak anak itu. Yang mungkin adalah anak anak dari Raka dan Ryana. Namun, satu hal yang Baby tahu bahwa mereka tidak ada niat sedikitpun untuk mengganggu penghuni rumah.
Bahkan, Baby yang termasuk orang baru pun tidak merasa di ganggu sama sekali. Atau kah mungkin mereka tahu bahwa ayah kandung nya adalah orang penakut. Makanya mereka diam dan menikmati dunia nya sendiri.
“Kamu sering ke lantai dua?” tanya Baby mengubah topik pembicaraan.
“Tidak!” Ryana menggelengkan kepala nya, “Perut aku sudah semakin besar. Aku jarang naik ke sana, karena Raka takut aku jatuh lagi. Aku—“
Lagi, lagi dan lagi Ryana menundukkan kepala nya kembali. Tangga, menurut nya adalah tempat yang paling angker menurut nya, karena di sana menjadi saksi dan tersangka utama yang membuat nya harus kehilangan para bayi nya.
“Mau ke sana gak? Sebentar, sama aku?” tawar Baby membuat Ryana langsung mengerutkan dahi nya.
Mengapa Baby mengajak nya ke lantai dua dengan tiba tiba. Ada apakah di sana? Entah mengapa, kini tiba tiba Ryana merasa merinding dan sedikit merasa takut mengingat bahwa Baby bisa melihat hal yang tak kasat mata.
...~To be continue ......