Baby's Life Story

Baby's Life Story
Pulang



...~Happy Reading~...


Baby melambaikan tangan nya pada lantai dua rumah Raka saat gadis itu hendak pergi dengan memasuki mobil Ryan.


Senyuman terus mengembang di wajah nya saat melihat ketiga anak kecil yang berada di lantai dua itu juga membalas lambaian tangan dari Baby.


“Sebenarnya dengan siapa kamu berpamitan? Dan untuk apa semua mainan tadi?” tanya Ryan ketika melihat Baby sudah memasuki mobil nya.


“Untuk ketiga tuyul nya adik kamu,” jawab Baby dengan begitu santai sambil memasang seat belt nya.


“Adikku? Ryana? Tuyul? M—maksud nya?” Ryan langsung menoleh dan menatap Baby.


“Bukankah Ryana pernah melahirkan tiga bayi? Dan mereka ada di sana,”


“Hah?” Ryan langsung mengerjapkan mata nya berulang, menatap Baby dengan tatapan tak percaya.


Tentu saja, Ryan tidak akan mempercayai hal itu. Sangat tidak mungkin jika ketiga bayi Raka dan Ryana berada di dalam rumah itu.


“Mereka ingin melihat adik nya lahir. Dan mainan tadi, itu semua untuk mereka, kasihan mereka selalu kesepian di lantai atas sendirian. Ryana tidak pernah naik ke atas karena larangan Raka.”


“Kamu serius?” tanya Ryan yang masih kurang percaya.


“Kamu tidak percaya dengan ku?” kata Baby balik bertanya.


Baby mengubah posisi duduk nya menjadi menghadap samping, dimana agar ia bisa menatap lekat wajah Ryan yang terlihat meragukan nya. Namun, bukan kepercayaan yang ia dapatkan, melainkan justru jantung nya yang berdegup dengan begitu kencang karena bertatapan mata dengan Ryan.


Deg,... deg... deg ...


“Aku tidak pernah berbohong. Apa yang aku lihat, itulah yang aku katakan. Tapi, jika mereka yang berbohong, aku tidak tahu.” Imbuh Baby segera memalingkan wajah nya ke samping untuk mengurasi rasa degup jantung nya.


“A—apakah Ryana tahu akan hal ini?” tanya Ryan yang juga segera menatap depan agar tidak gugup.


“Mungkin, ke depan nya kamu bisa memberitahu Raka agar sesekali naik ke lantai dua. Meskipun Raka tidak bisa melihat mereka, tapi mereka bisa melihat Raka, dan itu bisa membuat mereka senang karena merasa di sayangi oleh orang tuanya,” imbuh Baby, membuat Ryan hanya bisa mengangguk paham walau sebenarnya ia merasa kurang paham dan kurang percaya.


Drrtt .... Drrtt ... Drrtt ...


Percakapan antara Ryan dan Baby terhenti saat ponsel milik Baby berdering. Gadis itu segera mengambil nya dari dalam saku jaket lalu mengangkatnya walau sebenarnya sedikit malas.


“Sebentar, jangan bersuara,” ucap Baby sedikit berbisik pada Ryan sebelum akhirnya mengangkat sambungan telfon dari papa Wira.


“Halo...”


“Dimana? Kapan pulang? Ini sudah lewat—“


“Iya Papa, Baby pulang sekarang juga!” jawab Baby dengan cepat memotong perkataan sang ayah yang berada di seberang sana.


Rasanya Baby sudah benar benar lelah menghadapi semua masalah nya di Jakarta. Ia tidak sekuat dugaan nya. Ia sudah tidak sanggup lagi membantu sahabat nya. Terlebih kini keberadaan Boby tidak ia ketahui, jadilah mungkin ini memang sudah saat nya Baby pulang ke Bali.


Misi Baby kini, bukan lagi mencari jasad Bobby. Melainkan menggagalkan pernikahan ayah sang calon ibu tiri.


“Pulang kemana?” tanya Ryan tiba tiba membuat dahi papa Wira di seberang sana berkerut.


“Baby sama siapa kamu? Kamu di sana dengan laki laki? Kamu—“


“Bukan!! Papa jangan salah paham! Nanti Baby jelasin kalau udah pulang, sekarang Baby harus kembali ke Hotel, dada Papa!”


Dengan cepat Baby memutus sambungan telfon nya, dan langsung menatap tajam pada Ryan yang terlihat begitu santai menyetir mobil. Rasanya, Baby sangat ingin marah dan berteriak pada laki laki itu.


Padahal, Baby sudah memberitahu agar Ryan diam sebentar. Namun laki laki itu justru malah bersuara hingga membuat pikiran papa nya kini sudah pasti melayang entah kemana.


...~To be continue .......