
...~Happy Reading~...
“Aduhhh!” pekik Baby saat kening nya terbentur dashboard mobil, lantaran Ryan yang terlalu mendadak menghentikan mobil nya.
Sementara itu, Ryan yang sedang menahan kesal dengan Baby pun langsung menatap gadis itu dengan raut wajah datar nya setelah berhasil menepikan mobil nya agar tidak mengganggu pengguna jalan lain nya.
“Kamu kan tahu, papa aku baru telfon, baru nyuruh. Jadi aku gak ada rencana sebelum nya. Dan niat nya kan aku emang mau pulang ke Hotel, gimana sih. Kamu aja yang langsung mengiyakan dan langsung otw ke Bandara, segitu gak sabar nya mau ketemu camer!” celetuk Baby tiba tiba dengan tanpa sadar
“Berapa umur kamu?” tanya Ryan masih dengan raut ekspresi wajah datar nya.
“Hah!” Seketika itu juga, Baby langsung membalas tatapan Ryan dengan sedikit terkejut sekaligus bingung.
Untuk apa Ryan menanyakan umur nya, tidak mungkin bukan untuk hal yang sangat tidak ingin di pikirkan oleh Baby. Oh tidak mungkin dan sangat tidak mungkin, batin Baby.
“U—untuk apa nanyain umur?” kata Baby segera memalingkan wajah nya.
“Bukankah kau yang ingin di nikahin,”
“Hey! Aku tidak pernah mengatakan itu!” seru Baby langsung menatap Ryan dengan begitu tajam.
“Kau yang baru mengatakan tadi,” kata Ryan dengan begitu santai seraya menahan tawa nya.
“Enggak! Aku hanya bercanda, lagian memang benar bukan, kamu terlalu buru buru seperti orang yang hendak tidak sabar mau bertemu calon mertua!” cetus Baby panjang lebar.
“Memang nya kau sudah tahu, bagaimana rasanya mau bertemu camer?” tanya Ryan kini kembali menatap Baby dengan tatapan serius, membuat gadis itu langsung terdiam dan mematung di tempat nya.
Baby merasa debaran jantung nya semakin tak terkendali. Nafas nya seolah sesak, karena pasokan udara yang mulai menipis, entah mengapa juga dirinya kini merasa udara semakin panas. Padahal ia berada di dalam mobil yang ber-AC.
“Ke rumah calon mertua, baiklah!” kata Ryan yang tanpa aba aba langsung memilih jalan memutar untuk berpindah tujuan.
Ya, pindah tujuan,jika awal nya Ryan akan membawa Baby ke Bandara. Kini, laki laki itu justru kembali dan akan membawa Baby ke rumah orang tua nya.
“Y—Ya! Ryan kenapa lewat sini, ini bukan arah ke Hotel ku. Tadi aku juga sudah memberikan alamat ku pada mu, ini mau—“
“Ke rumah calon mertua, kata kamu,” jawab Ryan begitu santai sambil terus memperhatikan jalan di depan nya.
“Jangan gila deh Ryan, aku gak mau. Dan aku juga bukan calon istri kamu, ini kamu mau bawa aku kemana!” seru Baby masih berusaha untuk mengajak Ryan memutar, namun laki laki itu seolah tuli dan tidak memperdulikan Baby sama sekali.
Sekitar hampir dua puluh menit. Kini, mobil yang di tumpangi oleh Ryan sudah tiba di rumah orang tuanya, Adnan Bimantara. Laki laki itu segera turun lalu membukakan pintu juga untuk Baby.
“Gak mau! Aku gak mau turun!” tolak Baby yang terus berusaha mencengkram erat seat belt nya agar tidak terlepas.
Ia benar benar tidak mau turun dari mobil. Sudah cukup, dirinya di pertemukan dengan Raka dan Ryana yang selalu saudara Ryan. Ia tidak mau jika sampai di pertemukan lagi dengan saudara Ryan yang lain, apalagi orang tua nya.
“Turun!”
“Gak ya gak! Pokok nya aku gak mau, aku mau disini!” kata Baby dengan begitu tegas, gadis itu berusaha menarik pintu dan menutup nya, namun Ryan dengan sigap dan terus menahan agar pintu itu tetap terbuka.
Hingga terjadilah adu perebutan pintu mobil antara Ryan dan Baby hingga membuat seorang wanita paruh baya yang sejak tadi melihat kehadiran putra sulung nya hanya mampu mengerutkan dahinya dengan bingung.
‘Dia rebutan pintu sama siapa? Gak mungkin Ryana kan? Kalau Ryana pasti akan langsung turun,’ gumam wanita itu berusaha untuk berfikir keras menebak siapa yang di bawa pulang oleh putra nya.
...~To be continue........