
Irene kembali pulang 3 hari setelah dia pergi. Walau kadang ia ingin melarikan diri dari kenangan masa lalunya, akhirnya dia hanya bisa kembali lagi ke sana.
"Jadi kau sedih karena akan jadi perawan tua?" Wanita berumur lebih muda di sampingnya memperhatikan.
"Aku kelihatan sedih sekarang?"
"Babi pun tau kalau kau sedang sedih"
"Bukan begitu. Aku hanya sedang ingin melarikan diri" Irene masih menatap kosong ke luar. Dunia luar terlihat menyenangkan, tapi juga menakutkan.
"Han Seungwoo itu melakukan sesuatu yang aneh lagi? Kau ingin pergi setiap dia bertingkah. Kenapa tidak pergi?"
"Kau tidak mau pergi dari sana?" Irene balik bertanya, wanita di sampingnya masih fokus pada jalanan di depannya.
"Aku ditakdirkan untuk menjadi seperti ini. Walaupun aku berpindah Tuan, aku akan tetap seperti ini" Irene paham, hanya dia yang berbeda. Dia menginginkan kehidupan normalnya, sementara yang lain sedang menjalankan kehidupan normalnya. Salahnya sendiri, dia yang ingin menetap walau kadang enggan. Sisi kemanusiaannya lebih unggul dari apapun. "Ngomong-ngomong, Eonni. Tiba-tiba Seungwoo ingin kembali, bukankah dia sudah lama tidak terlibat dalam bisnis lama?"
"Entahlah, aku kurang paham. Tapi sepertinya tradisi keluarganya akan dimulai lagi sekarang"
"Tradisi keluarga Han? Menurutku itu sedikit menyeramkan untuk sebuah tradisi"
"Aku juga berpikiran sama sepertimu, Seulgi"
Mereka sampai pada mansion besar itu. Pemandangan yang pertama Irene tangkap adalah Seungyoun sedang berlatih menembak dengan Changkyun. Perasaannya kurang nyaman. Bocah itu semakin terjerat di sini, dia bahkan diangkat menjadi salah satu eksekutif Seungwoo. Dugaannya kian hari makin tepat.
Setelah perkenalan singkat Seulgi pada Seungyoun semuanya berjalan seperti biasa. Mereka mulai makan bersama lagi. 9 kursi akhirnya terisi oleh pemilik masing-masing. Keluarga baru Irene ini memang hangat, apalagi kini Seungyoun hadir menjadi salah satu dari mereka. Awalnya wanita cantik itu senang dan bersemangat, namun karena beberapa alasan dia semakin khawatir.
Sudah 3 Minggu sejak saat itu. Seungyoun sudah akrab dengan semua anggota, terutama Hangyul. Mereka terlihat cocok dalam selera humor. Irene tidak banyak bekerja akhir-akhir ini. Para jaminan sudah hilang, lalu mereka selalu di rumah tanpa misi seperti dulu. Mungkin hanya Seungyoun yang beberapa kali datang karena tangannya yang mulai sakit akibat berlatih berlebihan, jangan ketinggalan Wooseok dan Seungwoo yang sengaja datang untuk mencuri teh herbalnya.
"Apa ada yang menganggu pikiranmu, Nuna?" Seungyoun bertanya menatap Irene, wajahnya terlihat murung dan tidak banyak bicara akhir-akhir ini. "Aku memperhatikanmu sudah sangat lama" Irene tersenyum lembut. Dia menggeleng.
"Ada. Tapi aku tidak dapat berbuat banyak"
"Apa yang bisa kubantu"
"Tidak. Kau tidak bisa membantuku" balutan perban itu sudah selesai, mencegah pergerakan yang lebih banyak. "Kau harus berhenti latihan untuk beberapa hari. Aku akan bilang pada Seungwoo"
"Tidak. Tanganku tidak terlalu sakit"
"Memang tidak serius, tapi akan sakit jika kau teruskan"
"Tidak masalah, aku akan berhenti latihan 4 hari sebelum misi. Cukup memulihkan tanganku kan?" Irene hanya mendengus kesal. "Aku ingin cepat menguasainya"
"Anak bodoh. Terserah, bukan Seungwoo yang memaksamu berlatih?" Seungyoun menggeleng. "Ya, silahkan saja. Kenapa jadi terlalu semangat untuk latihan?"
"Minggu depan aku akan menjalankan misi. Kata Changkyun kalo ingin hidup harus kuat"
"Minta yang lain untuk melindungi mu. Changkyun yang terbaik dalam hal itu" Irene mengangkat jempolnya.
"Padahal aku yang paling hebat dalam hal itu" Seungwoo mulai mencuri lagi. Teh buatan Irene hampir tandas walau baru seminggu dia buat. Dia mendekat ke arah keduanya lalu duduk dengan santai.
"Hari ini kau belajar pada Hangyul soal dasar-dasar bertarung. Changkyun hanya menakutimu, misi ini hanya latihan. Kami yang akan bergerak" Seungwoo berbicara pada Seungyoun, lalu pandangannya berubah ke arah Irene. "Jadi nona Tua tidak perlu khawatir"
"Aku tidak"
"Nuna khawatir padaku?"
"Tidak. Kenapa aku harus? Han Seungwoo sialan" Irene melipatkan tangannya di dada, merasa kesal. Dia malu karena niat hatinya terungkap.
"Hahaha ternyata Nuna bisa khawatir" Seungyoun tertawa pelan, nuna di depannya itu sedikit menggemaskan walau kelihatan galak.
"Sedikit" Irene hampir menyatukan jempol dan telunjuknya. "Kau kan masih amatir"
"Sudah kubilang aku akan terus berlatih. Nuna tidak perlu khawatir lagi"
"Ekhem..."
Keduanya menatap Seungwoo yang sedang berdehem, kemudian mengabaikannya lagi. Wajahnya tertutup mendung, kerutan di tengah alisnya kian terlihat.
"Menyebalkan" Seungwoo berdiri dari duduknya. "Cho Seungyoun, cepat latihan. Ikut aku ke bawah"
"Oke oke pak bos" Seungyoun berdiri mengikuti Seungwoo yang keluar dari sana dengan wajah masamnya. Samar-samar Irene masih bisa mendengar percakapan mereka di sepanjang lorong.
"Kau memanggilku apa? Pak bos? Diajari siapa hah?"
"Aku hanya bercanda Hyung"
"Tapi aku diajari Hangyul"
"Ya, Hangyul, Hanse, Changkyun. Semuanya"
Irene hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kesal Seungwoo. Emosinya kian tidak stabil sejak ada Seungyoun. Pria itu hampir terkesan terlalu posesif, dan itu terlihat menarik bagi Irene. Dia hanya bisa tersenyum, kekhawatirannya selama ini mungkin tidak berguna.
................
Hari itu akhirnya datang. Mereka bersiap membawa beberapa peralatan. Seungwoo, Hangyul, Seulgi, dan Seungyoun hanya membawa pistolnya juga beberapa cadangan peluru. Changkyun sudah pergi sedari kemarin sore untuk memantau. Sedangkan Hanse bersiap dengan katana barunya. Mereka menggunakan mobil Van hitam kali ini, Hanse pergi terpisah dengan mobil box kecil. Walau Seungyoun bertanya-tanya apa kegunaannya, dia hanya bungkam. Tidak ingin bertanya lebih jauh.
Perjalanan dimulai. Perasaannya tidak karuan, pertama kali dia keluar dari tempat ini setelah sebulan, juga tanpa penutup mata. Deretan pepohonan itu menyapa matanya selama beberapa puluh menit, jalanan semakin menurun. Seungyoun baru tahu jika 'markas' mereka berada di pegunungan yang cukup terpencil. Tidak heran perjalanan itu memakan waktu lumayan lama. Mereka menuju jalan yang jauh dari kota, semakin masuk ke pedesaan yang penuh ladang sayuran. Sebuah panggilan masuk, dari Changkyun.
"Oke aku sampai di pos" mereka berhenti di sebuah garasi tua tanpa pemilik. Memarkirkan mobilnya lalu segera keluar dari sana.
"Target ada di dalam sana, usahakan jangan membunuhnya" Sebuah rumah kecil di tengah ladang ber cat hijau tua. Di halamannya terlihat seorang pria yang sudah berumur yang sedang membersihkan ladangnya. "Jangan bunuh saksi mata"
Setelah instruksi Seungwoo mereka mulai menuju rumah kecil itu. Hangyul pertama maju, mengamankan kakek tua itu sedikit menjauh. Perlawanan si kakek sia-sia, dengan terpaksa dibekap agar tidak bersuara.
Seulgi yang pertama masuk lewat pintu belakang. "Kosong"
"Tidak mungkin kabur kan? Changkyun belum melapor" Hanse berbisik.
Mereka keluar lagi, melihat keadaan sekitar. Sebuah gudang agak besar tidak jauh di sana, mereka mulai mendekat. Terlihat 3 orang itu sedang memindahkan sesuatu di dalam. Salah satunya terlihat memiliki tubuh paling kokoh sedang menghubungi orang. Bersamaan dengan itu sebuah panggilan lagi datang dari Changkyun.
'Dari arah barat, 2 mobil datang ke arah kalian' Seulgi membelalakkan matanya.
"Kita kedatangan tamu tambahan, dari arah barat"
Sebelum mereka benar-benar menyembunyikan diri, 3 orang di dalam itu tiba-tiba keluar. Sebuah tembakan spontan berhasil menumbangkan salah satu orang, dan juga memanggil para tamu untuk segera mendekat. Adu tembak itu tidak dapat dihindari, tamu tambahan itu terdiri dari 9 orang. Mereka dilengkapi senjata yang sama mumpuni. Hanse dan Irene maju, sedangkan Seungwoo dan Seungyoun mengejar ke 2 orang tersisa dari gudang. Seungwoo berhasil melumpuhkan 1 orang lainnya, dia mati di tempat. 1 orang lagi bersembunyi di dalam rumah, menguncinya rapat. Seungwoo mendobrak pintunya dengan mudah. Si target utama ada di dalam, dia berdiri dengan gemetar melihat Seungwoo datang. Pistolnya mengarah ke kepala seorang wanita tua yang sedang menangis tertahan. Tubuh rentanya bergetar takut.
"Kalau kalian mendekat dia akan mati"
Ancaman itu membuat Seungwoo mendengus geli. Dia mengangkat kedua tangannya ke atas, memasukkan pistolnya kembali ke tempatnya, begitupun Seungyoun.
"Tenang saja, aku hanya akan bertanya padamu. Lihat, aku tidak bersenjata. Ini adalah perundingan singkat"
"Lalu buang dulu pistolmu" Seungwoo mulai kesal, tapi demi keamanan semua orang dia membuang pistolnya ke belakang.
"Puas? Lepaskan dia dulu. Lalu mari kita bicara" Si pria itu terlihat ragu, dia masih enggan melepaskan Nenek itu. "Aku akan membunuhnya nanti, jadi tidak akan ada saksi mata. Lepaskan dulu. Lalu bicara padaku"
Pertama yang terkejut adalah Seungyoun. Menatap Seungwoo tak percaya, Seungwoo memandangnya tajam, menyuruhnya diam. Perlahan dia melepaskan Nenek tua itu, si Nenek tidak bergerak, tangisannya makin menjadi.
"Jangan bunuh.... Jangan bunuh anakku!" Nenek tua itu memeluk pria itu. Si target berusaha melepaskan pelukan si nenek. Senjatanya kembali ditodongkan.
"Sialan. Dasar pengganggu" si target mengumpat.
"Bawa dia pergi, Youn" Dengan sedikit paksaan Seungyoun membawanya keluar, jika tidak maka dia akan mati. Seungyoun hanya bisa yakin kalau tadi hanya tipuan Seungwoo untuk membuat si target menurut padanya. Namun semakin Seungyoun memikirkannya itu semakin aneh, terlalu mudah dibujuk. Atau mungkin Seungwoo masuk dalam perangkap. Semakin cepat Seungyoun menyusul Hangyul, dia berada di sana sedang mengikat si Kakek.
"Hangyul, cepat ke dalam. Seungwoo sepertinya dalam bahaya" Begitu Seungyoun selesai dengan kalimatnya suara tembakan itu terdengar menembus pintu rumah. Hangyul segera berlari ke sana, sebelum dia mencapai pintu Seungwoo sudah tersungkur keluar. Benar dugaannya, Seungwoo hanya dijebak, si target mengira jika dia tanpa senjatanya akan mudah dikalahkan. Rupanya dia salah. Pertarungan itu terjadi antara Seungwoo dan si target. Mereka berada di level yang sama, cukup mengejutkan jika pertarungan itu hampir seimbang. Hangyul datang dari belakang, ikut dalam pertarungan itu. Dengan cepat dapat mengunci pergerakan si target.
Kedua orang tua itu menangis. Melihat anaknya ditangkap oleh kumpulan penjahat. Begitu Hangyul mulai khawatir jika keributan itu akan mengundang orang lain, kelengahannya dimanfaatkan. Sebuah serangan balik membuat kuncian tangannya terlepas. Si target mengarahkan pistol itu ke arah Seungwoo. Sebelum dia sempat menembak sebuah peluru menyerempet bahunya. Hampir mengenai telinga Hangyul. Si target jatuh, lukanya cukup dalam. Hangyul menghadap ke atas bangunan itu, mengangkat tangannya mengacungkan kedua jari tengahnya. Si penembak jitu hanya tertawa dari jauh.
"Changkyun bodoh. Telingaku hampir hilang"
Seulgi dan Hanse terlihat dekat. Mereka kembali tanpa luka sedikitpun. Hanya Hanse yang penuh dengan darah para korbannya.
"Sudah selesai? Aku dan Hangyul akan mengurus sisanya. Kalian kembali saja dulu"
"Oke. Ku serahkan pada kalian" Mereka pergi dari sana, misi pertama selesai kurang dari 1 jam. Seungyoun melirik ke arah 2 pasangan tua itu, walau ingin menyelamatkan mereka tapi dia tidak punya cukup nyali untuk meminta pada Seungwoo. Mereka pergi dari sana, sedangkan si target utama dimasukkan ke dalam mobil Hanse. Hangyul dan Seulgi masih tinggal untuk membersihkan bukti.
.
.
.
.
To be Continue
Jangan lupa vote, like, komen dan favorit guys!