
Seungyoun masih disibukkan dengan laporannya ketika Seungwoo keluar dari kamar mandi. Pria itu sepanjang sore sampai malam kembali ke perusahaannya untuk mengurus bisnisnya. Jadi dia hanya sempat mandi saat pulang. Aroma mint dari rambut basahnya itu menguar ketika dia mendekat. Dia berdiri di belakang Seungyoun, membuat si pria yang sedang sibuk sedikit kurang nyaman.
Seungwoo mendekat, mensejajarkan kepalanya dengan leher Seungyoun. Meletakkan dagunya di sana sambil melihat ke bawah.
"Kau mau ku tendang?" Ancam Seungyoun. Seungwoo hanya terkekeh kecil tanpa berpindah posisi.
"Kau menggodaku tadi siang lalu menjadi galak lagi. Jangan permainkan aku, pria kecil" Seungyoun merasa was-was kali ini.
"Aku hanya bercanda, Hyung. Dan aku tidak kecil"
"Apanya yang tidak kecil?"
Siku Seungyoun hampir mengenai Seungwoo jika dia tidak menghindar. Pria itu mengambil sebuah kursi dan duduk di samping Seungyoun. Membantunya membereskan beberapa urusan pemesanan dan lainnya.
"Tidur dulu saja. Apa kau tidak lelah?" Seungyoun berusaha mengusirnya.
"Aku tau kau lelah. Jadi aku membantu" Seungwoo memakai kacamata bacanya. Dia menyingkirkan beberapa berkas yang bersifat tidak mendesak.
Misi pagi ini membuat mereka cukup lelah, jadi Seungwoo tidak akan membiarkan Seungyoun semakin lelah, dia bisa sakit seperti kemarin. Setelah selesai mereka ke kasur, merebahkan diri.
"Soal kejadian tadi pagi. Jangan khawatir, lagipula mereka adalah penjahat-"
"Aku tau. Kalau aku tidak membunuh mereka para warga yang tidak tahu apa-apa akan mati. Aku yakin aku benar" Seungyoun tersenyum ke arah Seungwoo. "Aku sudah belajar dari Han Seungwoo"
Seungwoo lagi-lagi tertawa kecil menatap balik Seungyoun. Pria lugu yang dia temukan beberapa bulan lalu sudah tumbuh dewasa. Mengurangi sedikit rasa khawatirnya.
"Hyung. Apa kau tidak bisa pura-pura baik pada Joy?" tanya Seungyoun.
"Selama dia tidak mengganggu aku akan memperlakukannya dengan baik"
"Turuti saja. Jangan terlalu kaku padanya"
"Aku takut istri pertamaku cemburu"
Seungyoun hanya bisa memutar matanya malas. Han Seungwoo sekali lagi percaya jika dia cemburu. Cemburu? Omong kosong macam apa itu.
"Kenapa menikah dengannya jika kau memperlakukannya dengan buruk? Selain masalah bisnis"
"Menurut aturannya, aku butuh keturunan" Seungyoun tidak memberi balasan. "Tapi aku tidak tertarik untuk itu"
"Apa kau impoten?" Pertanyaan bodoh Seungyoun meluncur begitu saja. Han Seungwoo sedikit terkejut awalnya, tapi senyum liciknya mengembang setelah itu.
"Bagaimana kalau kita memastikannya bersama?"
"Jangan macam-macam, brengsek" Seungyoun bersiaga di tempat. Seungwoo hanya tertawa terbahak-bahak karenanya. Pria kecilnya ini memang sering menggodanya.
"Ya ya Youn. Cepat tidur sebelum kutiduri"
Seungyoun membalikkan badannya merespon ucapan Seungwoo. "Ingat. Kau harus baik pada Joy" ancam Seungyoun.
"Baik Tuan Putri. Aku akan baik mulai sekarang"
Seperti biasa, Han Seungwoo tidur lebih larut karena menunggu Seungyoun tidur. Dia kembali memeluk Seungyoun dari belakang, menghirup dalam aroma rambutnya yang manis. Baru dia bisa tertidur dengan nyenyak.
................
Pagi itu sebuah fax terkirim pada markasnya. Seungwoo menghubungi nomor yang tertera di kertas.
"Tuan Han. Ada beberapa informasi penting yang harus kau tahu" Suara Wang Yibo segera terdengar.
"Tinggal katakan padaku"
"Sebelum itu. Pastikan dulu melalui misi yang ku berikan"
Apa Yibo sedang mengujinya sekarang? Seungwoo hanya bisa menuruti permainan pria itu.
"Kau harus bayar kalau begitu"
"Tidak masalah. Aku akan bayar, tapi jangan pasang tarif mahal padaku" Yibo meminta keringanan.
"Kau sedang meminta diskon padaku? Kau mau nyawamu berkurang 15% Yibo-ssi?"
"Hahaha... well, sebenarnya aku tidak punya cukup uang. Daripada misi, ini seperti permintaan tolong" Yibo membuang nafasnya pasrah. Dia sebenarnya tidak ingin berhutang budi pada iblis seperti Seungwoo, karena setelah ini dia mugkin harus menunduk sepenuhnya. "Aku butuh jasa pengawalan mu"
"Akan ku kirimkan beberapa anak buahku ke sana. Mengenai harga bisa dibicarakan nanti sesuai situasi" Seungwoo menyetujuinya.
"Tidak. Aku tidak mau anak buahmu. Aku ingin kau, atau minimal Seungyoun yang kemari"
"Kalau kau ingin harga murah, dapatkan pelayanan biasa sialan" Seungwoo mendengus, Yibo terlalu banyak maunya.
"Akan ku bayar. Tapi kalian harus datang, anggap saja undangan dariku. Ini acara bisnisku tapi karena bukan urusan kalian aku memasukkannya sebagai misi. Aku butuh bantuanmu"
Yibo adalah pria pelit yang tidak cocok dengan pria perhitungan seperti Seungwoo. Namun karena keterpaksaan dia akhirnya menurut. Menyetujuinya dan memberikan permintaan misinya.
Pengawalan yang dimaksud Yibo adalah di pelelangan manusia tempatnya berdagang. Bisa dibilang hal ini lebih ke penjualan budak dan bisnis prostitusinya. Kalau Seungwoo menjual manusia untuk dijadikan anggota atau bawahan, Yibo menjualnya sebagai budak. Hampir mirip tapi sangat berbeda.
Di sana merupakan tempat eksklusif yang diisi beberapa orang penting. Mereka biasanya secara terang-terangan membuka identitas mereka ketika transaksi. Organisasi itu walau buruk namun seperti sudah menjadi hal yang umum di kalangan atas. Yibo hanya takut jika kejadian di pasar manusia waktu lalu terulang. Ada beberapa nama yang mereka curigai akan ikut di sana, itu merupakan misi yang sama-sama menguntungkan saat ini, jika Yibo tidak berkhianat tentunya. Maka dari itu Seungwoo meminta uang muka pada Yibo. Sebuah angka dengan nilai yang fantastis masuk setelah 1 jam menunggu.
Seungwoo menghubungi Changkyun dan Seulgi lewat chat mengenai misi selanjutnya dan tempatnya. Mereka dengan sigap mencari informasi tentang kegiatan itu sebelum keberangkatan. Waktu mereka masih 4 hari sebelum misi.
Seungwoo menyelesaikan tugas Seungyoun dalam 3 jam terakhir. Dia keluar dari ruang kerjanya pada jam 11 siang. Di dapurnya sudah ada Joy dan Seungyoun yang terlihat mencoba memasak sesuatu.
Seungwoo akhirnya duduk di sana sambil meminum segelas air putihnya. "Masak apa?" Tanyanya berbasa-basi.
"Sundubu Jjigae" Jawab Joy tersenyum. Dia berbalik dan membawa mangkuk berisi sebuah sup yang berwarna merah. Terlihat cukup pedas.
Sementara Seungyoun mendekat dengan mandu goreng di tangannya.
"Kau yang memasaknya?" Wajah Seungwoo secara kurang ajar menghadap Seungyoun. Mengabaikan Joy yang sudah duduk di sampingnya.
Seungyoun menepuk keras bahu Seungwoo.
"Maksudku, Joy" Seungwoo berbalik arah ke arah Joy dengan senyum terpaksa. Bahunya sedikit panas karena pukulan sayang itu.
Seungyoun duduk di sebrang Joy yang kini mengangguk senang. Senyum cerahnya tidak luntur dari wajahnya. "Aku hanya menemukan tahu dan sedikit kerang di kulkas"
Seungwoo hanya bisa mengumpat dalam hati kecilnya. Dia hanya suka daging. Dan bahan masakan itu pasti sudah hilang karena ulah Hangyul, Hanse dan Changkyun semalam. Mereka berpesta walau nama kelompok mereka muncul di berita tv sebagai buronan. Han Seungwoo menghembuskan nafasnya keras.
"Sayang sekali, aku hanya suka daging-" Seungyoun menginjak kaki Seungwoo di bawah meja. "-kerang. Hahaha... rasanya pasti sangat menendang sampai membuat kakiku sakit"
Joy yang tidak tahu penganiayaan itu ikut tertawa kecil karena senang. Wajahnya memerah walau Seungwoo jelas hanya memuji bahan masakannya. Wanita itu sedang mabuk cinta, Seungyoun tahu.
"Cho Seungyoun. Kau pasti sangat ingin dihukum" Bisik Seungwoo pelan.
Sebenarnya pria itu sedikit takut karena kelewat batas. Tapi siapa peduli. Ada Hangyul, Seulgi, atau Irene yang bisa melindunginya.
"Ayo, Woo. Cepat makan sebelum dingin" Ucap Joy.
Seungwoo mulai memakannya. Walau sedikit asin tapi makanan itu masih bisa dimakan. Dia menyisakan 1/4 mangkuk, lalu meminum segelas penuh air putih.
"Enak?" tanya Joy.
"Hm"
"Kalau begitu besok aku akan masak untukmu-"
"Tidak perlu. Mau sampai kapan kau akan menyiksa Kim Wooseok? Dia tidak pulang beberapa hari karena mengurus perusahaanmu. Kau harus khawatir soal itu" Dia mengusir Joy secara halus. Wanita itu harusnya tidak sesantai ini.
"Iya iya. Aku akan mulai bekerja besok" Balasnya malas.
Hangyul yang baru masuk ke rumah untuk mengambil barang di kamarnya mendapatkan pemandangan yang epik itu. Seorang suami dan dua istrinya berada di meja makan yang sama. Suasana harmonis aneh macam apa ini. Dia hanya menatap iri kepada bosnya itu.
"Hai Seungyo-"
"Hai juga kawan" Seungwoo buru-buru bangun dan merangkul Hangyul. Dia terus berbicara sambil membekap mulut anak itu menjauh. Seungwoo berusaha keluar dari situasi aneh itu, sebelum Seungyoun menginjak kakinya lebih banyak lagi.
Seungyoun yang sadar akan situasi hanya tersenyum tipis. Seungwoo kabur dari mereka dengan konyol. Dia membereskan sisa makanan dan membersihkannya. Joy masih duduk di meja dengan menopang dagunya. Merasa sedikit kesal.
"Mau ikut atau tidak?" Ajak Seungyoun.
"Kemana?"
"Bertemu Bu Dokter"
Joy mengikuti Seungyoun dari belakang tanpa banyak bicara. Walau dia masih cemburu dengan Seungyoun, namun Joy kali ini sedikit berusaha lebih bersahabat. Dia tidak banyak mengomel walau masih menekuk wajahnya.
.
.
.
.
To be Continue