Another Wife

Another Wife
Chapter 32



Pada hari berikutnya Seungyoun yang baru bangun dari tidurnya disambut oleh kedatangan Joy dan Seulgi di sampingnya. Semalam Irene melepas ventilator karena keadaannya sudah cukup baik, sekarang sebuah masker oksigen menutupi hidung dan mulutnya sebagai pengganti.


"Bagaimana keadaanmu, Youn?" Seulgi bertanya. Wajah wanita cantik itu sedikit muram.


"Baik" Hanya itu yang dapat Seungyoun ucapkan. Seulgi menangis di sampingnya, menyembunyikan wajahnya di samping lengan Seungyoun. Wanita yang terbiasa berujar sembarangan dengan sumpah serapahnya kini terlihat menyedihkan. Joy memeluk Seulgi dari samping, menenangkan.


"Hiks... maaf, maafkan aku, Youn. Racun yang ku buat membuatmu seperti ini-"


"Itu bukan salahmu... aku sudah baik-baik saja" Seungyoun buru-buru memotong. Seulgi menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa Seungyoun. Jika saja dia tidak menyerahkan racun itu kepada Hanse mungkin Seungyoun tidak akan terluka. Seulgi beranggapan, karena Hanse memiliki racunnya dia sudah tidak dapat dikalahkan. Pria itu terlalu berbahaya.


Seungyoun menyadarinya. Orang yang paling terpukul atas pengkhianatan Hanse adalah Seungwoo dan Seulgi. Mungkin Hangyul juga, mereka adalah orang-orang terdekatnya. Merasa kecewa dan masih tidak percaya. Kebersamaan mereka selama beberapa tahun terakhir ternyata tidak berguna.


"Bagaimana... nasib Hanse?" Seungyoun bertanya dengan suara parau yang terdengar lirih.


"Seungwoo tidak merespon apapun... Dia sekarang berfokus untuk menyelamatkan pabrik senjatanya" Seulgi mengusap pipinya kasar, air matanya masih mengalir di sana.


"Aku tidak tahu harus bagaimana... Tapi Hanse... jika dia ingin kembali-" Ucapan Seungyoun terpotong oleh Seulgi.


"Jika dia kembali Seungwoo tidak akan sanggup membunuhnya. Han Seungwoo tidak akan tega melakukannya. Kalau dia kembali. Aku yang akan meremukkan kepalanya dengan tanganku sendiri"


Joy bergidik ngeri. Dia tau teman baru di sampingnya ini hanya sedang sedih. Dia meluapkannya dengan mendendam. Membenci Hanse pasti terasa lebih baik daripada mengakui kecewa karenanya.


"Uhm... Aku ingin menyela sebentar. Kalau bisa, jangan bilang pada Seungwoo kalau aku kemari" Joy tiba-tiba berkata pada Seungyoun. "Dia akan marah besar kalau aku kembali kemari. Sebenarnya aku hanya ingin mampir sebentar"


"Kau... khawatir ya" Untuk mencairkan suasana Seungyoun mencoba menggoda Joy. Raut wajahnya berubah menjadi cemberut.


"Sudah ku bilang hanya penasaran. Untuk apa khawatir pada sainganku?" Mereka tertawa pelan kala mendengar alasan Joy. Wanita itu masih keras kepala seperti biasa. Dia cukup terkejut dengan kabar Hanse yang didengarnya dari Seulgi. Pemberontakan itu mengakibatkan Hangyul dan Seungyoun terluka cukup parah. Ngomong-ngomong soal Hangyul, dia juga ingin mengunjungi rekan barunya itu. Jadi Joy dengan terburu-buru pamit undur diri untuk ke ruangan sebelah. "Aku ingin ke Hangyul dulu" ucapnya memakai tas cantiknya lagi.


"Ternyata memang tidak khawatir padaku. Tapi terimakasih sudah mampir" Seungyoun menanggapi.


"Cepat sembuh, Youn" Joy tersenyum singkat lalu pergi dari sana.


Irene yang menunggu di depan pintu sedari tadi akhirnya masuk ke dalam ruangan Seungyoun. Melihat wajah melow milik Seulgi yang merupakan momen langka, wanita itu tertawa.


"Awas, Gi. Ingusmu hampir keluar"


"Sialan kau, Eonni"


Irene duduk di tempat milik Joy sebelumnya, sembari mengangkat gelasnya yang berisi teh herbalnya. Ada beberapa informasi tambahan yang belum sempat dia beritahukan kepada Seungyoun. Pria itu terlihat sangat mengantuk kemarin.


"Kau pasti bertanya-tanya... darimana asal Do Hanse sebenarnya. Dia juga ditemukan oleh Seungwoo, hampir sama seperti Sunghoon. Bedanya, dia adalah peserta Gladiator" Irene menyesap tehnya. "Gladiator itu sebuah acara bertarung sampai mati. Seorang pemilik akan saling bertaruh, jika petarung mereka menang maka mereka memperoleh uang yang kalah. Seperti sistem perjudian, tapi di tingkat lebih ekstrim... mereka bertemu di sana, Hanse seharusnya mati hari itu tapi Seungwoo melindunginya dari kematian. Dia membayar nyawa Hanse dengan sejumlah uang lalu membawanya pulang"


Seungyoun mendengarkan dengan baik. Seulgi juga hanya diam, Hanse tumbuh di lingkungan yang sangat buruk sejak kecil. Jauh lebih kelam dari Seulgi, Changkyun dan Hangyul. "Hhh... lalu belakangan diketahui. Pemilik sebelumnya adalah ayahnya sendiri, tapi Hanse memang sempat dibuang karena hampir kalah dalam acara itu. Lalu.. tentang marga yang sempat disebutkan ayah Hanse itu, berarti mereka berasal dari klan Shinobu"


"Jadi dia seorang Yakuza?" Seungyoun menyela. Sedikit kurang paham untuk urusan itu.


Seulgi dan Irene mengangguk bersamaan. "Lebih dari itu. Dia berada di puncak, dia adalah penerus selanjutnya" Jawab Irene.


"Yakuza dibagi menjadi 3 kubu. Walau itu seperti bisnis keluarga tapi mereka sebenarnya bersaing dan saling mendominasi. Yang paling sukses dan berpengaruh saat ini adalah Yamaguchi-gumi, lalu di bawahnya Sumiyoshi-kai, dan paling bawah Inagawa-kai. Do- maksudku Shinobu Hanse merupakan penerus Yamaguchi-gumi" Seulgi melanjutkan penjelasan Irene agar Seungyoun paham secara detail.


Dunia bawah ini sedikit rumit bagi Seungyoun yang orang luar, ada banyak istilah dan kegiatan tidak masuk akal seperti perjudian gladiator dan lainnya.


"Belum ada kabar apapun dari keberadaan Hanse?" Seungyoun bertanya.


"Dia kembali ke Jepang. Lalu tidak terlacak lagi"


"Aku tidak sabar bertemu dengannya..." Seungyoun tersenyum tipis. Kedua wanita itu kebingungan karena respon tidak terduga si pria milik Seungwoo ini. "Apa kalian tidak penasaran berapa jarinya yang akan terpotong? Sisi baiknya, kalau jarinya berkurang dia tidak akan bisa menggunakan katana. Kita bisa membunuhnya. Jadi jangan khawatir, serahkan semuanya pada Seungwoo"


Cho Seungyoun mempunyai sebuah perkembangan pemikiran yang tidak terduga. Pria itu sangat berbeda dari sebelumnya. Ada sebuah hasrat ingin melindungi yang seharusnya menjadi miliknya. Walau Seulgi lebih suka Seungyoun yang baru karena terus mendukung visi misi Seungwoo sesuai tugasnya, Irene sedikit sedih. Matanya menatap sendu ke arah Seungyoun. Pria lembut yang dia temui dulu hampir menghilang.


'Sudah ku bilang jangan biarkan dia mengubahmu, Youn'


...----------------...



Sebuah kamar bernuansa sedikit gelap itu menjadi penjara Sunghoon sejak kemarin pagi. Tidak ada kejelasan lokasinya saat ini. Dia tidak hafal jalan karena saat dibawa kemari pikirannya tidak dapat fokus maupun tenang.


Dia memutuskan tidak akan bergerak maupun pergi selama Seungwoo tidak menjemput atau memerintahnya. Sunghoon akan menjadi anak baik.


Sebuah ketukan pintu itu diabaikan oleh Sunghoon. Dia tetap duduk di kasur empuknya menghadap jendela kaca besar di depannya. Suara langkah itu semakin mendekat ke arahnya. Bahunya disentuh, membuatnya berjengit kaget.


"Maaf!" Seorang wanita paruh baya juga sedikit terkejut. Dia meletakkan nampan makanan di kasurnya begitu saja lalu pergi terburu-buru dari sana. Dilihat dari pakaiannya, wanita itu bukanlah pelayan. Bisa jadi dia adalah istri sah ayahnya.


Seperti jatah makan sebelumnya, Sunghoon juga tidak memakannya. Aksi mogok makannya berlangsung sejak awal. Tidak ada perlakuan khusus dari ayahnya, pria tua itu mungkin tidak perduli atas aksi Sunghoon.


Pagi berikutnya Sunghoon dapat melihat sebuah mobil hitam keluar dari gerbang depan. Tuan Park meninggalkan rumahnya untuk bekerja mengabdi pada negara dan rakyat. Namun dibalik pengabdiannya hanya tersisa seekor iblis yang mengincar kedudukan dan harta semata. Pria tua licik itu membuat Sunghoon mengepalkan tangannya erat. Apa lagi yang akan dilakukan pria itu kepada Sunghoon.


Ketukan pintu itu terdengar lagi, kali ini tidak terbuka. Lalu sebuah suara seorang wanita paruh baya memecah keheningan. "Nak... bisa kemari sebentar?" Sunghoon mendekati pintu. Dia berdiri di sana dengan pintu tetap terkunci dari luar.


Si wanita itu berdiam cukup lama. Menimbang-nimbang apa tindakannya benar atau tidak. Dia begitu takut asal usul anak yang dibawa pulang suaminya, namun hati nuraninya tergerak. Dia sedikit khawatir karena Sunghoon mogok makan. Lalu tangannya membuka kunci pintu dengan pelan, membukanya.


Wanita itu terdorong ke belakang. Tangan Sunghoon mencengkram kuat leher wanita paruh baya itu. Dia tercekik, walau berusaha meronta namun percuma. Anak remaja di depannya ini terlalu kuat.


"Apa kau bodoh? Kenapa membebaskan tawanan mu sendiri" Sunghoon berkata dengan seringai kecil di bibirnya. Tangannya melonggar untuk membiarkan wanita paruh baya itu bisa bernafas.


Dia terbatuk beberapa kali. "Aku melakukannya karena ingin membantumu"


Sunghoon tersenyum sinis. Apa lagi ini? Sebuah alasan agar dilepaskan? Para bodyguard yang ditugaskan untuk menjaga Sunghoon tidak berani bergerak karena nyonya mereka berada di posisi terancam. Sunghoon tetap pada tempatnya, ada banyak alasan untuk membantai seluruh isi rumah ini tanpa terkecuali. Tapi remaja itu masih enggan melakukannya.


"Kalau kalian mendekat. Akan ku patahkan lehernya"


"Pergi! Pergi saja dari sini... menyingkir... aku ingin berbicara empat mata dengannya" Di Nyonya malah mengusir bodyguard nya dari sana. Seharusnya wanita itu takut ancaman Sunghoon.


"Tidak bisa, Nyonya!"


"Kubilang menyingkir dari sini!" Dia sedikit berteriak. Keempat pria berbadan besar itu dengan ragu mundur. Bagaimanapun perintah sang Nyonya harus dituruti, tapi jika wanita itu terluka. Maka kepala mereka yang akan menjadi taruhannya.


Sunghoon masih mencengkram leher Nyonya Park. Wanita paruh baya itu hanya berusaha tenang di tempatnya. Meyakinkan Sunghoon.


"Mereka sudah pergi... tolong lepaskan" Sunghoon tidak menurut. Dia tetap berada di posisinya. "Nak... aku sedang membantumu saat ini"


Sunghoon masih enggan untuk percaya. "Kenapa kau melakukannya? Jangan membuat alasan yang konyol"


"Karena aku... Seorang wanita. Aku ingin menjadi ibu yang melindungimu"


"Kau tidak akan pernah menjadi ibuku!" Sunghoon mengeratkan cengkeraman tangannya. Nyonya Park itu terlihat sangat menyesal atas keputusannya karena melepaskan Sunghoon. Tapi yang paling membuatnya sedih, dia gagal meyakinkan remaja itu.


"Kalau membunuhku membuatmu tenang. Cepat lakukan sebelum suamiku pulang... Lalu setelah itu, pergi sejauh mungkin dari sini" Nyonya Park melepaskan tangannya. Rencana yang dia susun dari kemarin tidak berhasil. Nyonya Park menangis.


Sunghoon melepaskan cengkeramannya. Air mata itu membuat Sunghoon teringat akan ibunya. Ibunya yang setiap hari sedih lalu diam-diam menangis seperti itu.


'Sial... Sialan kau' batin Sunghoon.


"Apa yang kau inginkan dariku?" Akhirnya Sunghoon melunak.


"Pertama... ayo kita sarapan dulu"


"Sial. Apa yang sebenarnya kau rencanakan?! Jangan permainkan aku" Remaja itu mulai mengamuk. Karena pikirannya kembali terusik oleh dendam masa lalu. Sunghoon tidak sebaik itu untuk terus patuh pada Nyonya Park.


"Apa kau bisa melawan suamiku dengan keadaanmu saat ini? Kau ingin keluar bukan? Maka kau harus tetap kuat, kau perlu makan" Nyonya Park berani berbicara setelah memastikan tidak ada siapapun selain mereka di sana. Sunghoon terlihat kebingungan, mungkin mengira Nyonya Park sengaja menipunya. "Nak... aku tau betul bagaimana suamiku. Aku tau... ada dosa yang harus kami bayar padamu. Ijinkan aku membantumu keluar dulu dari sini, lalu kalau kau mau membunuh kami atau tidak. Terserah... aku tidak peduli lagi. Aku tidak mau hidup seperti ini lagi"


Nyonya Park menghembuskan nafasnya panjang. "Kumohon untuk saat ini. Percaya padaku, oke?"


Tangan itu kembali jatuh di samping tubuh Sunghoon. Dia akan mengikuti permainan wanita ini untuk sekarang, Sunghoon masih menaruh curiga di hatinya. Namun ucapan wanita itu ada benarnya juga. Sunghoon berpura-pura patuh, daripada menimbulkan keributan yang lebih besar akhirnya dia diam.


Mereka ke bawah, tepatnya ke arah dapur. Di meja makan terdapat makanan yang terlihat masih hangat. Keempat bodyguard itu berdiri tegang di samping tangga, wajah mereka sedikit lega ketika sang Nyonya turun tangga dan terlihat baik-baik saja. Tanpa diperintah, Nyonya Park mengambil masing-masing satu sendok makanan yang tersaji. Menunjukkan pada Sunghoon kalau makanan itu aman untuk dimakan. Suasana selama sarapan juga hening, Nyonya Park tidak ingin lebih banyak mengoceh. Dia takut menganggu Sunghoon. Begitu bocah remaja itu selesai dengan sarapan paginya Nyonya Park memanggil para bodyguard itu.


"Untuk peristiwa hari ini. Jangan katakan apapun pada suamiku, walau kalian mengabdi padanya tapi aku juga atasan kalian. Katakan semua baik-baik saja dan anak yang dia bawa sudah mau makan" Nyonya Park memberi perintah. "Jika kalian melanggar... aku juga punya sedikit kekuatan untuk menyingkirkan kalian dengan orang-orang ku"


"B-baik, Nyonya!" Keempatnya menunduk hormat. Mereka kembali berjaga di tempat masing-masing.


"Tenang saja, aku juga akan merusak rekaman CCTV untuk hari ini" Nyonya Park berkata dengan wajah lembutnya.


"Sunghoon" Remaja itu berkata tanpa menatap Nyonya Park. Wanita itu sedikit kebingungan. "Namaku Sunghoon" Dia mengulanginya lagi.


"Kim Min Kyung" Wanita itu tersenyum ringan.


.


.


.


.


To be Continue


...Hue hue hue......


...Maaf guys telat-banget update... karena real life author sedikit sibuk akhir-akhir ini....