
Seungyoun menghadiri kelas paginya seperti biasa. Sudah seminggu ini Seungwoo secara khusus mengajarinya beberapa hal tentang pendataan, pengecekan, pengiriman, dan penerimaan barang. Dia bahkan harus mengecek laporan rutin dari ratusan anak buahnya setiap hari. Ternyata Seungwoo sesibuk itu selama ini, untung saja bisnis bersih bukan urusannya jadi Seungyoun sedikit tenang.
Dia juga baru tahu dengan jelas apa bisnis gelap Seungwoo. Pria itu merupakan pemasok senjata legal maupun ilegal untuk beberapa negara besar. Dia juga merupakan seseorang yang memegang keamanan di berbagai daerah di negara ini. Tentu jasanya biasa digunakan para pejabat yang meminta perlindungan padanya. Mereka menghindari mati tiba-tiba karena serangan saingan politik atau bisnisnya. Sementara bisnis 'pinjaman' yang kini telah ditinggalkannya awalnya hanya sebuah bisnis sampingan karena Seungwoo menarik diri dari dunia bawah. Orang itu berhati-hati untuk beberapa tahun belakang. Seungyoun tidak tahu alasan pastinya.
"Lihat? Data yang seperti ini yang harus kau simpan, mereka informasi penting yang biasanya berguna. Dan para klienmu bisa saja berguna atau merugikan, maka kau perlu 'black list' untuk menghindari orang-orang yang beresiko merugikan. Besok aku akan memberimu daftar lengkap siapa saja yang masuk daftar hitam, hafalkan. Oke?"
"Iya" Seungyoun menggaruk kepalanya. Walau dia lumayan bisa mengikuti tetap saja hafalannya sangat banyak. Bahkan hafalan kemarin baru dia ingat sebagian. Seungyoun hanya terus mencatat ucapan Seungwoo di bukunya. Beberapa berkas itu diserahkan padanya membuatnya memijat hidungnya karena pusing.
"Jangan terburu-buru. Kau tidak harus menghafalkannya sekarang. Jika kita sudah menikah nanti, kau akan bersama Changkyun mengurus bisnis gelap. Dia bisa membantu mengingat tugasmu" Seungwoo duduk di depannya, melihat Seungyoun kasihan. Calon istrinya itu terlihat berusaha paham dengan keras, bahkan dia lebih sering tidur malam untuk mempelajari berkas yang Seungwoo berikan.
"Ngomong-ngomong Woo-Hyung. Pernikahan itu hanya sebuah acara kan? Maksudku, mungkin kita tidak perlu tidur bersama" Wajah cemas yang terlihat gemas itu membuat Seungwoo tertawa.
"Bukankah kita sudah tidur bersama seminggu belakangan?" Pertanyaan itu jelas benar. Seungwoo sengaja bertindak bodoh untuk membuat Seungyoun makin malu. Seharusnya dia tahu maksudnya.
"Ya. Kita hanya tidur. Tapi yang ku maksud tidur yang lain"
"Tidur yang seperti apa?" Seungyoun makin kesal. Dia mengacuhkan pertanyaan itu, lebih memilih merapikan berkas-berkas di depannya lalu bersiap untuk pergi dari ruang kerja Seungwoo. Merasa diacuhkan akhirnya Seungwoo berujar lagi. "Kalau aku mengajakmu tidur, kau ma-"
"Tentu saja tidak. Bukankah tugasku untuk mengurus bisnismu di dunia bawah-"
"Kalau begitu, tidak. Temani aku tidur, tidak perlu tidur yang lain"
"Kenapa harus?" Seungyoun terdengar keberatan, dia kira Seungwoo mengajaknya selama semalam. Ternyata malam berikutnya dia terus dipaksa satu kamar dengannya.
"Karena aku kesepian" Ujung bibirnya turun. Seungwoo tersenyum, pria di depannya ini sangat mudah dimanipulasi. "Ya?" Seungwoo memastikan jawabannya. Seungyoun menatapnya dari ujung mata.
"Ya" Dia mulai berjalan keluar dari ruangan Seungwoo, sebelum memutar gagang pintu dia berhenti. "Aku sudah belajar dari Changkyun dan Hangyul, jika kau macam-macam akan ku patahkan 'adik'mu" Lalu Seungyoun keluar setelah mengancam Seungwoo dengan sungguh-sungguh. Pria itu hanya bisa tertawa terbahak-bahak setelahnya. Ancaman itu terdengar manis di telinganya.
"Menggemaskan"
Irene dan Hanse kini tengah berada di lab milik Seulgi. Wanita itu mengajaknya membicarakan racun baru yang dia ciptakan. Menciptakan racun yang tanpa penawar, tidak membunuh secara langsung, dan memiliki efek yang kuat. Jelas Seulgi menggunakannya untuk menyiksa musuh sebelum membiarkan mereka mati.
"Aku belum mengujinya. Tapi sepertinya akan bekerja dengan baik"
"Mau mengujinya pada Hangyul?" Tawaran aneh Hanse itu membuat mereka tertawa. "Aku bercanda"
"Aku akan membantu memastikan tidak akan ada penawarnya" Seulgi menganggukkan kepalanya. Irene sebagai dokter cukup membantunya banyak, lalu Hanse yang terlihat tertarik menatap botol kecil itu dengan seksama.
"Aku sudah menyiapkan satu untukmu" Seulgi berjalan menuju tempat penyimpanan di sebelahnya. Dia mengeluarkan sebuah tabung cukup besar berisi cairan hijau pekat.
"Katana baruku akan cocok, dia tidak terlalu tajam, tapi bagus jika beracun. Yang ini langsung mati?" Hanse bertanya antusias.
"Langsung lumpuh lalu mati, tidak perlu 2 kali tebas" Seulgi mengacungkan jempolnya. Hanse tersenyum ceria, seperti menerima hadiah.
"Aku minta penawarnya, siapa tahu salah tebas" Seulgi segera mengiyakan. Irene bergeleng-geleng, kedua manusia di depannya memang sangat cocok dalam segala hal.
"Ngomong-ngomong, kalian sedang bersiap untuk apa?"
"Sekarang sedang menuju pemilu, kami akan banyak misi" Irene mengangkat sebelah alisnya.
"Perlu menggunakan racun untuk melindungi para klien?"
"Kalau untuk racun. Kami hanya disuruh mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Cepat atau lambat Seungwoo akan menghabisi dalang perusuh di pasar" jelas Hanse.
"Masalahnya se serius itu sekarang?"
"Yah... ada beberapa nama yang... menyangkut masalah besar" Hanse terlihat ragu menyampaikan. "Itu masih belum jelas. Seungwoo belum selesai menyelidikinya"
................
Seperti kemarin ketika hari mulai malam Seungwoo pergi menemui Joy. Mereka mempersiapkan pernikahan mereka, memilih baju, tempat, konsep dan lainnya. Alhasil meja itu diisi 7 orang ketika makan malam. Wooseok tentu ikut bersama Seungwoo. Begitu selesai makan Hangyul, Changkyun dan Seungyoun memilih untuk menonton Tv di ruang tengah. Sunghoon juga bergabung, bocah itu mungkin merasa bosan.
"Bagaimana denganmu, Hyung?" Hangyul membuka topik. Matanya masih melihat ke televisi sambil mengganti channel nya terus menerus.
"Baik-baik saja" Seminggu ini mereka terus membicarakan Seungwoo dibelakang. Kedua guru Seungyoun itu berkali-kali mengingatkan untuk tendang ************ nya jika bosnya macam-macam. Mereka secara mengejutkan membela Seungyoun, mungkin saja pria itu masih sedikit menyesal karena mengorbankan hidupnya. Yang jelas mereka kasihan.
"Kan kamarmu kedap suara bodoh. Kalau mansion ini kebakaran. Kau hanya akan mati di dalam tanpa tahu apapun"
"Perhatikan ucapan kalian. Masih ada anak kecil di sini" Ketiganya menatap ke arah Sunghoon.
"Apa?" Tanya Sunghoon acuh.
Mereka mengabaikannya lalu melanjutkan menonton Tv. Di sana berita tentang acara pernikahan seorang CEO muda dan seorang putri dari pemilik perusahaan besar. Walau terkesan sebagai 'pernikahan bisnis' tapi siapapun pasti iri. Mereka menginginkan hidup tenang bergelimang harta seperti kedua orang itu. Han Seungwoo tersenyum ke arah kamera, begitupun Joy.
"Kurasa pak bos berbakat menjadi aktor" Hangyul memberi komentar positif.
"Atau dia memang suka tebar pesona" Changkyun memberi kritikan.
"Perempuan itu terlihat menyebalkan" Sunghoon menyipitkan matanya.
"Kenapa membencinya? Dia kan cantik" Hangyul membela Joy. Kening Sunghoon berkerut. 'Kalau cantik tidak bisa menyebalkan begitu?' batinnya sengit.
"Terlihat merepotkan. Kalau semua kacau gara-gara Woo-Hyung lebih fokus padanya, aku yang akan menyingkirkannya" Seungyoun menyadari betapa tidak santainya bocah di depannya ini. Dia yang akan diduakan kenapa Sunghoon yang lebih emosi? Karena dia takut di acuhkan oleh Seungwoo?
"Tidak mungkin. Apa gunanya Kim Wooseok kalau bukan mengurus bisnis legalnya. Lagipula Seungwoo lebih cocok jadi penjahat" Omongan Changkyun terasa masuk akal, apalagi di bagian 'Seungwoo lebih cocok jadi penjahat'. Mereka hanya meneruskan acara nonton Tvnya sampai satu persatu kembali ke kamar masing-masing.
Saat Seungyoun masih berjuang untuk tidur pintu itu terbuka. Seungwoo pulang larut malam lagi. Wajah kusutnya membuat Seungyoun bertanya-tanya, apa fitting baju se melelahkan itu? Setelah mandi dan ganti baju Seungwoo merebahkan dirinya di kasur. Seungyoun bergeming dan hanya berusaha tidur. Tapi sulit.
"Youn. Belum tidur?" Seungwoo menyampingkan tubuhnya, menghadap Seungyoun. Akhirnya si lawan bicara membuka matanya, menatap ke arah Seungwoo. "Bagaimana latihanmu dan Hangyul tadi?"
"Lumayan seru" Tidak ada percakapan lagi. Seungwoo masih menatap Seungyoun dengan diam dan intens. Begitu Seungyoun ingin berbalik Seungwoo segera mencegahnya. "Kenapa menatapku"
"Tidak. Hanya suka saja. Cepat menghadap kemari" Si tukang perintah itu menarik bahu Seungyoun. Membuatnya berhadapan lagi. Sebenarnya pembicaraan malam seperti ini yang dihindari Seungyoun. Dia merasa aneh, merasa dekat dan makin akrab. Membuatnya takut.
"Fitting bajuku dan Joy sudah selesai. Bagaimana dengan kita? Kau mau konsep seperti apa?" Seungyoun hanya menggelengkan kepalanya. Dia rasa tidak perlu terlalu serius, lagipula ini bukan pernikahan yang sebenarnya. Selain di dalam mansion ini dan beberapa iblis seperti Seungwoo, tidak akan ada yang tahu jika dia lelaki yang sudah menikah.
"Entahlah. Apa perlu?" Seungyoun ragu.
"Tentu saja. Pernikahan hanya sekali, kau akan menyesal jika tidak ikut memilih konsep yang kau mau"
"Tapi kau menikah dua kali" Seungwoo mengangkat bahunya tanpa rasa bersalah.
"Yah, sebenarnya yang satu hanya karena bisnis"
"Itu aku?"
"Kalau aku bilang itu Joy, kau percaya?" Seungyoun kembali menggeleng. "Kau harus percaya kali ini. Kenapa? Kau cemburu?"
"Jangan bercanda, dasar konyol" Seungyoun menampar pelan pipi Seungwoo, lalu dia tertawa kecil. Cemburu katanya? Siapa juga yang cemburu. Seungyoun hanya penasaran. Seungwoo juga tertawa kecil. Lelahnya hilang seketika.
"Terserah kau. Tidak mungkin kan berkonsep pesta kebun untuk para mafia seperti kalian. Asal terlihat pantas dan berkelas itu bagus. Karena aku yang akan menjadi wakilmu di dunia bawah mulai besok" Seungyoun jelas menangkap pengajaran Seungwoo selama ini. Terlihat pantas dan berkesan baik. Itu yang utama.
"Akan ku siapkan sesuai keinginanmu, Tuan putri"
Seungyoun hanya bisa memanyunkan bibirnya. Dia tidak begitu suka panggilan itu, dan sialnya jika dia protes Seungwoo semakin mengerjainya. Setelah percakapan malam itu Seungyoun baru bisa tidur lalu Seungwoo menyusul setelahnya. Secara tidak sadar walau Seungyoun terlihat keberatan nyatanya di baik-baik saja, bahkan dia belum bisa tidur jika Seungwoo belum pulang. Pria itu membutuhkan seseorang di sisinya.
.
.
.
.
To be Continue
Jangan lupa like, komen, dan favorit ya guys!!
Thank you ❤️