
Joy telah berdiri di sana untuk waktu yang lama. Gerbang besar di depannya masih belum terbuka juga, dia berbicara pada Seulgi dan memaksa masuk. Tapi perempuan itu menolaknya dengan ganas. Satu-satunya harapan adalah Wooseok yang cepat datang menemuinya. Sekertaris Seungwoo itu kenal dengannya. Tapi saat pria kecil itu datang dia mengatakan hal yang sama. Joy harus berada di luar jika Seungwoo belum datang. Akhirnya dia hanya bisa kembali ke dalam mobilnya sembari menunggu.
Seungwoo berkendara dengan kecepatan tinggi untuk sampai ke rumahnya. Di sana mobil Joy sudah terlihat di jalannya. Untung saja wanita itu tidak keluar dari mobil, jika tidak dia akan jadi santapan hewan peliharaan Seungwoo. Suara klakson membuat Joy berpaling ke belakang. Mobil Seungwoo di sana, dengan segera gerbang itu terbuka. Joy ikut masuk ke dalam lalu menghampiri Seungwoo yang bermuka masam.
"Oppa! Aku menunggumu sangat lama!" Dia bergelayut manja di lengan Seungwoo.
"Kau datang tanpa bilang padaku. Tau dari mana jika rumahku di sini?" Joy memanyunkan bibirnya.
"Apa calon istrimu tidak boleh tau rumah suaminya?" Seungwoo memijit pangkal hidungnya. Rupanya wanita ini mengira keramahan Seungwoo selama ini dianggap sebagai perasaan tulus padanya. Mereka masuk ke dalam rumah tanpa kata.
"Joy, aku tidak suka jika kau datang tanpa kabar. Lain kali ijin dulu padaku"
"Iya iya. Aku kan hanya ingin berkunjung"
Hangyul dan Hanse hanya memandang mereka dengan menggelengkan kepalanya. Perempuan cantik itu diabaikan begitu lama oleh Tuannya. Walau Joy tidak mengenal siapapun selain Seungwoo di rumah itu, tapi para penghuni mansion Seungwoo sangat tau siapa dia. Karena keberadaannya begitu disebut-sebut dari dulu.
"Menurutmu bagaimana, Se Hyung? Cantik ya" Hangyul bertanya pada Hanse.
"Cantik katana ku"
"Dasar. Seleramu payah Hyung" Hangyul mencibir mata temannya yang buta itu. Siapapun pasti tau jika wanita itu cantik. Proporsi tubuhnya bagus, bahkan wajahnya sangat mendukung. Tipe Hangyul sekali.
Sembari menunggu Seungyoun mereka berkeliling di rumah utama Seungwoo. Ada begitu banyak ruangan yang dilarang masuk, membuat Joy sedikit kesal. Mereka berakhir di ruang depan lagi, dan Seungwoo mulai menjelaskan secara blak-blakan kepada Joy mengenai posisinya. Tentu wanita itu sangat terkejut, ayahnya selama ini menyerahkannya kepada seorang mafia. Rasa takut itu menghampiri Joy, wajahnya sedikit tegang lalu dia mulai jarang bertanya lagi.
"Jangan khawatir. Kau hanya akan mengurus bisnis legalku. Istriku secara sah di mata publik" Seungwoo memberi pengertian. Joy menatapnya tanpa bertanya. "Menurutmu seperti apa aku ini?" Sebuah pertanyaan itu muncul begitu saja dari Seungwoo. Joy memudarkan raut khawatirnya, dia tersenyum tipis.
"Pertama bertemu denganmu. Kesan pertama adalah kau orang yang kaya" Oke, pernyataan itu sedikit lucu entah kenapa. Joy meneruskan lagi. "Kau juga orang yang lembut dan ramah. Kau hangat, kau tidak kaku seperti semua kenalanku. Sejauh ini kau orang yang baik"
Jika begitu kenapa Cho Seungyoun masih tidak bisa mempercayainya? Seungwoo tersenyum. "Aku tidak sebaik itu. Tapi aku akan baik pada orang yang setia. Kau bersedia bekerja sama denganku?"
Joy menjadi sedikit bingung. Itu lamaran atau tawaran? Mungkin keduanya sama saja untuk sekarang, jadi Joy dengan senang menjawab. "Iya"
Seungyoun tiba-tiba datang. Melihat kedua orang itu sedang duduk santai di sofa kesayangan Changkyun. Seungwoo mengisyaratkan untuk mendekat. Maka Seungyoun mendekat dan duduk sofa sebelah.
"Dia Cho Seungyoun. Calonku untuk dunia bawah. Dan ini Joy, calon istriku untuk bisnis legal" Perkenalan aneh itu berjalan baik. Joy terlihat cukup ramah kepada Seungyoun, begitu pula sebaliknya. Sebenernya, pria itu ingin protes kepada Tuannya. Bukankah dia belum meng iyakan tawarannya tadi. Tapi waktu Seungyoun masih panjang untuk tetap menggantungkan permintaan Seungwoo.
Setelah selesai makan malam Joy berpamitan pulang. Awalnya dia minta diantar Seungwoo, tapi dengan dingin ditolak. Akhirnya Changkyun yang lagi-lagi diperintah untuk mengantar pulang. Hari ini dia bekerja sebagai supir antar jemput kedua tuan putri milik Seungwoo. Dengan sedikit bujukan, akhirnya Joy menurut. Sebelum benar-benar pergi dia sempat mencuri kecupan singkat di pipi Seungwoo. Seungwoo hanya diam tanpa respon, sementara Joy buru-buru masuk ke dalam mobil. Ah, jangan lupakan jika dia diantar dengan mobil milik Seungwoo, jadi Changkyun bisa pulang tanpa jalan kaki.
................
Kasus Ayah tirinya benar-benar diurus di hari berikutnya oleh Seungwoo. Dia bekerja dengan cepat kali ini, enggan kehilangan jejak lagi. Jadi Changkyun, Seungwoo dan Seungyoun kembali keluar menuju rumah kumuh itu lagi. Changkyun seperti biasa berjaga di luar. Kali ini dia yang bertugas membersihkan bukti pembunuhan Park Nam Sil.
Setelah beberapa saat menunggu, mereka melihat sang target masuk ke rumah. Segera Seungwoo dan Seungyoun menyusul. Pria tua itu menatap mereka dengan terkejut. Dia sempat menyelipkan handphone nya ke dalam saku celana. Seungwoo segera membekapnya, mulutnya ditutup rapat dengan lakban. Park Nam Sil diikat di kursinya. Seungyoun hanya memandang adegan itu dengan perasaan campur aduk.
"Hallo Park Nam Sil-ssi. Tidak mengenaliku? Aku yang membantumu selama ini" Pria tua itu berontak, berusaha lolos. Mulutnya ditutup, hanya suara samar yang terdengar. Terlihat menyedihkan. "Aku kemari meminta uangku kembali, dan kau perlu menjelaskan sesuatu kepada putramu"
Wajahnya yang berkerut itu menatap Seungyoun dengan sengit. Dia berdiri di depan ayah tirinya. Lalu berjongkok untuk menyesuaikan tingginya. "Ayah... ayah merindukanku?" wajah mengejek itu ditampilkan Seungyoun. "Ayah. Kau harus mati menebus kesalahanmu. Jika kau tidak ada, aku dan ibu tidak akan menderita seperti ini" Seungyoun mencengkram rahang ayahnya. Lakban itu dilepaskan, digantikan tangannya yang berusaha menutupi mulutnya mencegahnya berteriak. Walaupun daerah ini sepi karena jam kerja, dia tetap harus berhati-hati.
Seungyoun meletakkan jari telunjuk di bibirnya. Mengisyaratkan untuk tetap diam. Begitu pria itu agak tenang, dia melepaskannya.
"Anak Sial! Apa yang akan kau lakukan pada ayahmu hah?! Kau seharusnya tetap diam, ayah akan mencarikan uangnya segera"
Seungyoun tertawa setelahnya. Mencari uang apanya? Bahkan ayahnya sampai pindah rumah untuk menghindari Seungwoo. Pria tua ini memang pandai berbohong. "Mencari uang? Berapa lama kau akan mencarikan uang? Jangan membual di depanku. Kau meninggalkanku! Kau menjual ku" Seungyoun mulai menangis, tidak bisa membendung emosinya lebih lama lagi.
"Lalu sekarang kau menjadi apa? Kau ingin menjadi preman seperti mereka? Agar bisa balas dendam padaku? Cho Seungyoun! Kau tidak memikirkan ibumu?" Seungyoun langsung memukulnya begitu kata 'ibu' itu terucap. Ayahnya mulai membongkar keberadaan ibunya.
"Diam kau brengsek"
Seungwoo menendang kursi itu hingga jatuh, pria itu ikut jatuh ke samping, handphone nya terjatuh dan rusak. Emosi Seungwoo mulai memuncak, dia tidak bisa jika tidak ikut campur.
"Ajusshi, kau banyak bicara. Dan aku bukan preman, sialan" Seungwoo membangunkannya lagi seperti posisi semula. "Aku mafia. Bodoh" Seungwoo menendang kursinya lagi ke arah belakang. Senyum puas itu tercetak di wajahnya. Dia tertawa kecil melihat Park Nam Sil kesakitan.
Seungwoo menarik rambut pria tua itu, membangunkan kursinya lagi. "Ayo minta maaf pada anakmu. Coba bilang 'Seungyoun maafkan ayahmu yang brengsek ini' " Pria tua itu bungkam. "Ayo brengsek. Minta maaf padanya"
"Hei, tuan mafia. Kau ingin membuat kesepakatan denganku?" Park Nam Sil berujar menatap ke belakang. Seungwoo meladeni, dia berdiri di depannya. "Jika kau ingin uangmu kembali. Bunuh ibunya, aku tidak memiliki apapun saat ini"
"Brengsek diam kau!" Seungyoun maju menerobos ke arah Park Nam Sil itu berusaha memukulnya sampai mati.
"Dia! Dia berada di rumah sakit XX sekarang! Bunuh dia! Bunuh ibunya!"
Seungyoun ditarik mundur oleh Seungwoo begitu dia mendengar informasi itu. Jadi harta yang tersisa masih milik ibu Seungyoun, namun wanita yang sempat dipalsukan kematiannya itu masih hidup di rumah sakit.
Seungyoun yang mengetahui sikap Seungwoo ini merasa panik. Dia di dorong menjauh dengan keras. Pria tua yang berkali-kali jatuh dari kursi itu sekali lagi dibangunkan oleh Seungwoo. Park Nam Sil tertawa senang mendapat respon.
"Ayo buat kesepakatan denganku. Bunuh ibunya lalu mendapatkan uangmu kembali. Tapi lepaskan aku" Park Nam Sil tersenyum. Seungwoo tertawa mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Tapi ajusshi. Membunuhmu juga lumayan seru" Seungwoo berjalan ke belakang. Membekap mulut Park Nam Sil agar tidak mengoceh lagi. "Youn. Bunuh dia"
Seungyoun tidak ragu kali ini. Pisau yang disiapkannya menebus dada kiri pria tua itu. Tangan Seungwoo menghalangi teriakan itu. Awalnya satu tusukan itu membuatnya sekarat. Seungyoun mencabut pisaunya lalu menusuknya lagi di tempat yang sama. Dia melakukan hal itu membabi buta walau tau Park Nam Sil mulai mendingin.
"Hei tenang. Tenang, Youn. Santai saja" Seungwoo menghampiri Seungyoun. "Dia sudah mati. Berhenti, bajumu terkena darah" Seungyoun menjatuhkan pisaunya. Tenaganya habis, membuatnya meluruh ke bawah, nafasnya tersengal. Pembunuhan pertamanya terlihat berantakan dan sadis. Efek dendam yang dalam.
"Tidak apa-apa. Dia sudah mati sekarang" Seungwoo masih berusaha menenangkan Seungyoun. Namun bukannya semakin tenang pria itu makin panik. Ibunya sekarang menjadi target selanjutnya. Seungwoo pasti akan membunuh ibunya.
"Woo... Seugwoo-Hyung..." Suaranya bergetar hebat, air matanya deras mengalir. "Maaf, maafkan aku, kumohon jangan bunuh ibuku. Bunuh aku saja..." Seungyoun mencengkram lengannya erat, menunduk dan memohon dengan menyedihkan. Sebenarnya saat ini hati Seungwoo benar-benar hancur. Seungyoun masih mengiranya sebagai orang jahat. Dia bahkan belum berujar sepatah katapun untuk menjelaskan kelanjutannya. Tapi pria yang sedang shock itu terus saja memohon padanya.
"Youn. Youn, diam dulu. Diam, tenang" Seungwoo memeluknya, berusaha membuatnya tenang. Setelah itu dia melihat ke arah matanya. "Aku tidak akan membunuh ibumu. Ini kesepakatannya. Park Nam Sil sudah mati, ibumu masih hidup. Itu bagus. Ketika misimu denganku selesai, kau bisa kembali ke rumah lagi. Jadi tenanglah"
"Kau tidak akan membunuh ibuku?" Seungyoun bertanya padanya. Seperti seorang anak kecil yang meminta jawaban.
"Tidak"
"Kau benar-benar akan melepaskan ku?"
"Iya"
"Bukankah kau ingin menikahiku?" Seungwoo terlihat kebingungan sebentar.
"Sudah kubilang. Waktunya sampai misimu denganku selesai"
"Terimakasih, Hyung"
Seungwoo kebingungan, misi apanya? Dia benar-benar menipu Seungyoun untuk menjalankan misi. Tidak ada yang namanya misi untuknya. Selama ini dia dilatih menjadi pengurus bisnis gelap.
.
.
.
.
To be Continue