
Joy sendirian lagi di kamarnya yang hitam dan gelap. Suasana ini tidak cocok dengannya. Wanita cantik itu menenggelamkan wajahnya di bantal. Lalu mencoba berteriak keras. Meluapkan segala bebannya.
Kesal, sedih, marah. Perasaan itu menumpuk di hatinya. Joy hanya ingin hidupnya bahagia. Dia ingin bahagia dengan orang yang dicintainya.
Park Joy mencintai Han Seungwoo dengan sungguh-sungguh. Tepatnya saat pertama mereka bertemu 2 tahun lalu. Untuk pertama kalinya, dia bertemu dengan calon suaminya yang telah dijodohkan sejak kecil. Pria itu berpostur tinggi, berkulit putih hampir pucat, lalu memiliki garis wajah yang tegas. Walau matanya terlihat dingin tapi bibirnya mampu membuat hatinya menghangat.
Seperti sebuah kisah roman picisan. Joy diselamatkan olehnya dan jatuh cinta pada pandangan pertama.
Joy adalah seorang putri tunggal seorang keluarga kaya. Dia terlihat cantik, kaya, glamor. Seperti semua standar kebahagiaan berputar di sekelilingnya. Namun tidak banyak orang tahu, dia hanya gadis manja yang kesepian.
Wanita cantik itu bermasalah di bidang akademiknya. Dia tidak pandai dalam olahraga maupun seni. Dia seperti boneka porselen yang cantik namun mudah rusak, tidak terlalu berguna, tidak berbakat, tidak pintar. Semua kekurangan itu membuat orang tuanya terus menjaganya.
Dia dilarikan ke luar negeri untuk meneruskan pendidikannya, Joy menjadi bahan olok-olokan jika berada di sekolah sebelumnya. Para sepupunya masuk karena nilai tingginya, dan dia masuk karena pengaruh orang tuanya.
Gadis kaya yang bodoh. Julukan itu melekat di otaknya.
Gadis bodoh itu begitu mendendam. Dia ingin menunjukkan, siapapun akan iri padanya suatu saat nanti. Maka Joy memperbaiki penampilannya. Setidaknya dia harus cantik atau kaya, atau istri seseorang yang berpengaruh. Joy ingin menyenangkan kedua orang tuanya lalu menuruti perjodohan itu.
Begitu dia lulus sebagai sarjana, kedua orang tuanya tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat terbang. Dan untuk pertama kalinya bagi Joy untuk mengurus langsung bisnis peninggalan orang tuanya. Lagi-lagi hal sama terjadi padanya. Dia menjadi bahan lelucon lagi.
Park Joy merasa menyesal karena tidak memperbaiki otak udangnya.
Siang itu saat terjadi masalah pada perusahaannya, dengan kurang ajarnya bawahannya memakinya karena kinerja yang buruk. Joy dianggap tidak dapat menjadi atasan yang baik, bahkan kata-kata kasar itu terucap dengan lancangnya. Nama baik orang tuanya bahkan diinjak-injak di depan wajahnya.
Gadis penakut itu menangis. Menyesal. Lalu sedih. Dia membenci dirinya sendiri karena tidak becus, di pikirannya saat itu lebih baik mati saja. Joy sudah membuat nama baik orang tuanya hancur. Mereka pasti sangat menyesal mempunyai putri sepertinya.
Pria tinggi yang kebetulan berkunjung itu berjalan ke arah mereka dengan seorang pria kecil di sampingnya. Matanya terlihat terkejut untuk sesaat, lalu tangannya membantu Joy untuk berdiri. Gadis itu masih bergetar karena menangis. Pria tinggi itu menatap sinis ke arah bawahan, bibirnya tersenyum miring.
"Bagaimana seekor anjing tidak menghormati majikan yang memberinya makan?"
"Kau! Kurang ajar sekali padaku!" Emosi orang itu makin naik, pria paruh baya itu menunjuk Joy tepat di wajahnya, membuatnya ketakutan. "Coba lihat jalang ini. Jika dia tidak bisa mengurus perusahaan kenapa menyanggupinya? Tuan Park sial itu memberikan perusahaannya kepada orang yang bodoh sepertimu. Aku harus memotong gaji karyawan karena kau"
"Permisi pak tua. Kau mengabaikan ku? Kau buta? Lihat siapa yang kau tunjuk" Seungwoo menyahut lagi.
"Kau jangan ikut campur-"
Seungwoo memukulnya sampai tersungkur. Para karyawan yang melihatnya berdiri karena terkejut. Joy juga demikian, dia bahkan tidak mengira jika pria yang tidak dia kenal itu meninju karyawannya.
"Bagaimana bisa seekor direktur sepertimu tidak hormat pada seorang CEO?" Seungwoo menginjak lehernya ke bawah, menjaga orang itu tetap berlutut.
"Aku akan melaporkanmu ke polisi"
"Mari kita ambil jalur hukum" Seungwoo melepaskan kakinya. Dia memberikan kartu namanya. Pria tua itu sedikit terkejut, namun tekadnya tidak surut.
"Brengsek seperti kalian akan membusuk di penjara"
"Akan ku pastikan kau membusuk di sana. Bahkan seluruh keluargamu. Jangan harap kalian akan dimakamkan dengan layak" Seungwoo membenarkan rambut berantakan Joy, mengangkat dagunya untuk menghadap ke depan. "Kalian tidak tau siapa dia? Kalian bahkan tidak bisa hormat padanya, aku sangat sedih calon istriku diinjak-injak dengan tidak adil. Mulai hari ini siapapun yang ingin pergi dari sini silahkan keluar. Jangan harap kembali lagi kemari"
Suara ricuh itu terdengar jelas, mereka bertanya-tanya tentang orang yang mengaku sebagai calon bos mereka. Joy menatap pria di sampingnya dengan terkejut. Jadi dia Han Seungwoo? Pria yang dijodohkan dengannya itu? Wajah bingungnya berubah menjadi agak tenang, walaupun dia tidak begitu paham apa yang akan terjadi jika seluruh karyawannya keluar dari sini secara serentak. Namun dengan tidak terduga para staff itu masih berdiri mematung dihadapannya.
Si direktur itu terkejut. Tidak ada yang keluar berarti tidak ada yang memihaknya. Mereka tidak mau ambil resiko untuk kedepannya. Dia sekarang juga dibuat bingung. Walau bodoh tapi perusahaan yang Joy miliki saat ini cukup besar, jika sampai Han Seungwoo campur tangan maka habislah dia.
"Maaf aku lancang karena mencampuri urusan bisnismu. Tapi setelah ku lihat kau marah bukan karena kerja calon istriku tidak benar. Dia hanya terlalu berhati-hati pada semua orang. Termasuk padamu. Lalu kau marah padanya. Mengakukan kerugian dan mengurangi gaji karyawan yang lain. Kau menggunakan uang itu untuk apa?" Para karyawan itu kembali terkejut. "Aku sudah memiliki buktinya. Jadi mari kita ambil jalur hukum"
Pria itu membuang harga dirinya. Dia berlutut di hadapan Seungwoo. Korupsinya terlalu banyak jadi dia meminta pengampunan.
"Oke. Kami maafkan. Sebagai gantinya kau akan dipecat dan terimalah ini sebagai uang pesangon mu. Segera bereskan mejamu" Seungwoo mengeluarkan selembar cek. Begitu dia melihat angka yang tertera di selembar kertas itu sang direktur mulai menunduk sebelum mengambilnya. Dia bergegas pergi ke meja kerjanya lalu pergi dari sana. Jumlah yang diberikan padanya hampir 3 kali pesangon yang seharusnya dia terima, jadi dia tidak bisa menolaknya.
Begitu semuanya selesai Han Seungwoo mendesak Joy untuk ke ruangannya terlebih dahulu. Wanita cantik yang terlihat berantakan itu sedikit bingung dengan situasi. Lagipula ketegangan dan stres yang dia rasakan selama ini membuat pikirannya berkabut.
Wooseok berada di luar, membiarkan mereka berdua di dalam. Han Seungwoo menyuruh seseorang untuk membawakan secangkir teh untuk Joy. Dia masih terisak karena malu dan sedih. Harga dirinya hancur di depan para staffnya sendiri. Jika Han Seungwoo tidak datang di waktu yang tepat dia mungkin akan melompat dari jendela kantor itu.
"Terimakasih" ujarnya menunduk.
"Senang bertemu denganmu, Park Joy"
"Maaf pertemuan kita berawal buruk"
"Lain kali aku tidak akan membiarkan sembarang orang menginjakmu" Seungwoo berujar, lawan bicaranya menatap ke arahnya. "Walau kau tidak mampu dan kesulitan, tunjukkan setidaknya kau tidak terlihat menderita dengan desakan mereka"
"Pasti kau sudah tau tentangku... orang bodoh sepertiku tidak akan bisa meneruskan apa yang ayah bangun seumur hidupnya"
"Aku tidak perduli kau bodoh atau tidak. Yang terpenting sekarang mengembalikan harga dirimu. Lalu menata ulang perusahaanmu, kau tidak terlalu payah. Para serangga itu yang membuatmu terlihat buruk" Seungwoo tersenyum ringan. Dia seperti harus mendukung gadis di depannya atau dia ikut terlihat payah.
"Aku sebenarnya masih membutuhkan pak direktur untuk membantuku" Joy mengusap pipinya. Air matanya kering, dia menatap Seungwoo dengan lega. Ada seseorang yang mendukungnya.
"Aku akan membantumu. Jadi jangan terlihat seperti tadi lagi. Calon istriku harus tegap dan kokoh"
Joy tersenyum malu, pria di depannya yang terkesan kaku dalam memilih kata-kata itu membuatnya tersenyum. Mungkin maksud Seungwoo untuk menghiburnya, kata-kata itu terdengar sedikit aneh tapi juga benar. Dia harus kuat dan terlihat pintar untuk menjadi calon yang pantas bagi Han Seungwoo.
"Terimakasih Han Seungwoo-ssi"
................
Dari kamarnya dia dapat melihat sebuah mobil yang memasuki halaman depan rumah utama. Keenam orang itu keluar dari sana dengan tampilan berantakan. Joy hanya yakin jika mereka baru saja membantai orang.
Orang-orang di bawah sana tersenyum biasa tanpa rasa penyesalan walau penuh darah. Tatapannya terpusat pada Seungwoo. Pria itu terlihat tersenyum lebar menatap teman-temannya. Pria hangat dan tegas yang dia tau ternyata terlihat lebih tampan jika tersenyum seperti itu. Joy tau jika pria itu mungkin tidak mencintainya. Tapi dia bersedia menunggu, lagipula dia istrinya. Joy akan menunggu Seungwoo membalas perasaannya.
Joy ke luar. Menyambut Seungwoo di ruang depan. Pria itu sedikit terkejut dan merasa aneh. Mungkin dia hanya takut jika Joy takut padanya yang penuh darah. Tapi tidak, wanita itu bahkan melangkah maju dan tersenyum senang.
"Sudah pulang, Woo?" Yang lain segera menyingkir untuk membersihkan diri. Seungyoun menghampiri Sunghoon yang berada di meja makan. Meninggalkan kedua orang itu di sana.
"Ya. Jangan mendekat, kau akan kotor nanti" Seungwoo melepas atributnya.
"Sini ku bantu" Joy membantunya melepas rompi anti pelurunya. "Kau lapar? Mau makan sesuatu? Aku sudah mengikuti kelas memasak sebulan lalu"
"Tidak. Belum waktunya makan siang, lagipula sudah ada koki untuk urusan makan" Seungwoo menjawab dengan sedikit acuh.
"Tapi aku ingin memasakkan suamiku sekali-kali" Joy mencoba memeluk tangannya, kebiasaan yang sulit dihilangkan. Seungwoo memegang tangan Joy, menghentikannya.
"Kalau kau ingin bermain masak-masakan jangan di rumahku" Walau hatinya sakit namun Joy hanya mengerucutkan bibirnya.
.
.
.
.
To be Continue