
Terhitung sudah 2 hari Seungyoun berada di tempat ini. Dia diberi makan sehari 3 kali, dipersilahkan mandi dan diberi baju baru oleh mereka. Tidak ada perlakuan kasar seperti bayangannya. Dia hanya benar benar harus diam di kamar kecilnya sembari menunggu untuk dikeluarkan oleh ayah tirinya. Namun Seungyoun ragu. Apa uang itu mampu dibayar oleh ayahnya atau mungkin ayahnya sudah acuh padanya. Toh tuan Park tidak akan terkena imbasnya selama dia menyerahkan Seungyoun bukan.
Kim Wooseok. Pria kecil berambut coklat itu tadi pagi datang ke kamarnya. Memberi pintunya dengan stiker warna biru. Entah apa maksudnya tapi Seungyoun sedikit was was. Ada perasaan ganjil yang entah kenapa mendatanginya. Selain dirinya hanya 4 orang yang diberi warna sama.
"Seungyoun. Kau bisa bersiap siap untuk nanti sore bersama yang lain" Wooseok kembali dihadapannya. Pria kecil ini selalu memberi informasi pada mereka. Sesuai prosedur katanya.
"Kemana?"
"Tentu saja mencarikan pekerjaan yang cocok untuk kalian" Walau Seungyoun jelas masih ingin bertanya, namun Wooseok terlihat enggan menjelaskan lebih lanjut. Dia berkeliling, menemui beberapa orang lagi dan mengatakan hal yang sama. Sedikit menyebalkan tentu saja.
...----------------...
Tepat sebelum matahari benar benar menghilang. Kelima orang tahanan itu digiring ke luar kamar mereka, mereka berjalan keluar bangunan itu. Di depan sana Sudah terdapat mobil Van putih yang terparkir rapi beserta beberapa orang penjaga. Dua mobil di depannya juga menarik perhatian Seungyoun. Mobil itu nampak mewah dengan warna hitamnya. Sedikit pertanyaan yang ada di benaknya kini adalah. Siapa? Dan kenapa mereka ikut dalam 'pencarian pekerjaan' ini?
Tidak ada pilihan lain selain menurut. keempat rekannya juga hanya diam seolah jiwa mereka sudah kabur entah kemana. 3 orang perempuan, seorang remaja laki-laki, dan Seungyoun. Salah satu perempuan di sana terlihat paling tenang tiba tiba memandang ke arah Seungyoun. Mungkin dia merasa kalau ada yang memperhatikan. Dia hanya tersenyum singkat lalu kembali menatap ke luar jendela.
"lihatlah keadaan dunia luar saat ini, sebelum matamu tertutup kembali"
Seungyoun mengacuhkannya. Mungkin semua orang di sana terlalu lama dikurung sampai menjadi sedikit gila. Seungyoun melihat ke luar jendela. Halaman depan mansion ini masih sama. Daripada mansion, tempat ini hampir mirip dengan benteng. Pagarnya menjulang tinggi walau masih kalah tinggi dengan bangunan utama. Dan Seungyoun melihat sendiri ketebalan dan pengamanan ketat di depan gerbang masuknya. Dia masih tidak tahu apapun tentang dimana dan apakah fungsi semua ini. Apa ini sarang penipu atau penjagalan manusia. Seungyoun mendengus pasrah beberapa kali. Setelah mereka mendekati gerbang keluar instruksi kembali di dengar. Penutup kepala harus dipakai. Oh, jadi ini maksud si wanita di sampingnya tadi. Dan begitulah dia dengan penglihatan gelap sampai di tempat tujuan.
Seungyoun rasa sudah berjam jam mereka melakukan perjalanan. Akhirnya mereka sampai. Sebelum turun tangannya terasa dipasangi sesuatu yang dingin, mungkin besi atau borgol agar tidak kabur. Oh tidak. Sepertinya bukan pertanda bagus. Masih dengan penutup kepala mereka digiring menuju suatu tempat dengan hati-hati. Seungyoun berusaha untuk tidak tersandung lalu tersungkur. Perasaannya makin tidak enak kala mendengar beberapa suara lain. Dan suasana di sana semakin ramai. Seperti melewati jalanan umum, tidak mungkin mereka di arak di jalan atau pasar dengan keadaan seperti ini bukan?
Setelah berjalan agak lama mereka sampai di suatu tempat yang lumayan sepi. Sepertinya sudah masuk ke dalam sebuah ruangan. Seungyoun dipaksa duduk dan penutup kepalanya akhirnya dilepas. Pertama, dia lihat ruangan ini tidak terlalu besar, cukup remang dan tenang dengan beberapa orang berpakaian jas rapi di dalam sana. Seorang pria bertubuh agak gempal duduk di kursi utama di depannya. Di sampingnya ada wanita yang sempat bicara padanya di mobil Van. Dan seorang pria yang duduk di depannya mengenakan setelan jasnya lengkap dengan topeng putihnya. Mereka, para 'bembisnis' itu menutupi wajahnya dengan topeng yang memiliki corak yang berbeda.
"Jadi ini kandidatmu tuan Han?"
"Ya, mereka memiliki latar belakang di bidang bela diri. Perlu sedikit lagi penyesuaian dan didikan" Pria bertopeng putih terlihat berusaha meyakinkan. Ia tidak ingin barang dagangannya tidak laku.
Pria bertubuh gempal itu berdiri. Melihat dengan seksama antara Seungyoun dan wanita itu. "Aku hanya butuh 1" ujarnya. Dia berhenti tepat di depan wanita itu. Dengan segera borgolnya dilepaskan. Seungyoun masih mencoba mencerna situasi saat ini. Jadi ini maksudnya mencari pekerjaan itu. Dengan menjual mereka ke orang lain. Bukankah ini perdagangan manusia? Tapi apa maksudnya 'latar belakang bela diri' itu. Apa dia akan menjadi pengawal atau yang lebih parah hanya orang suruhan biasa.
Setelah transaksi tersebut telah selesai Seungyoun kembali dibantu berdiri. Tanpa penutup kepala lagi, mereka membawanya keluar dari tempat itu. Ternyata ruangan tadi hanya sebuah ruangan yang kedap suara. Buktinya begitu keluar suara bising itu terdengar, dan Seungyoun dapat melihat betapa ramainya tempat ini sekarang. Sepertinya tempat ini hanya sebuah ruang bawah tanah atau mungkin stasiun bawah tanah yang diubah menjadi 'pasar'. Mereka membawa satu hal yang sama. Manusia. Berantai rantai dan borgol mereka memiliki nama dan desain yang berbeda. Menunjukkan milik siapa mereka yang sebenarnya, dan Seungyoun juga baru menyadari jika borgolnya memiliki desain yang tidak biasa. Melihat Seungyoun yang begitu kebingungan dan terlihat ketakutan si pria bertopeng putih itu meliriknya sedikit. Dibandingkan dengan foto masa sekolah yang dia dapat dari ayah tirinya. Pria ini jelas jauh berbeda. Dia terlihat serba bingung dengan situasi, jarang fokus, dan terlihat sedikit kurus. Nampak berantakan dan tidak bahagia. Hatinya sedikit berdenyut, dia teringat dirinya dulu dan seseorang yang pernah dia selamatkan dulu.
"Sayang sekali. Kalau tuan Oh tadi mengambilmu, kau akan ada di tempat yang bagus" Seungyoun melihat ke arah pria bertopeng, dia berbicara padanya? "aku sedang bicara padamu" Sambungnya lagi. Bagaimana dia bisa tahu pikirannya.
"I-iya tuan" Sebenarnya dia juga tidak tahu harus menjawab bagaimana.
"Park Sarang akan baik-baik saja. Wanita tadi berada di tempat yang tepat. Sekarang giliran mu, buat dirimu baik untuk seseorang yang akan menjadi tuanmu nanti" Seungyoun mengangguk mengiyakan. Pertanyaannya secara tidak langsung sudah dijawab. Setidaknya dia harus percaya untuk membuat hatinya tenang walaupun kenyataannya mungkin tidak seperti itu. Rantainya ditarik agak keras untuk menjadi lebih dekat lagi dengan pria bertopeng itu. Dia kini berjalan tepat di sampingnya, bukan di belakangnya. "Kau masih milikku, jangan jauh-jauh atau kau akan hilang nanti"
"Baik, Tuan"
Sekarang mereka berada di sebuah tempat yang lumayan luas dengan panggung di tempat paling ujung. Mereka semua lagi lagi bertopeng. Tempat yang mengerikan. Seungyoun digiring menuju belakang panggung. Sepertinya dia menunggu gilirannya, untuk dilelang dan dibeli oleh para pembeli tadi.
Begitu nama 'Tuan Han' disebut oleh sang pemimpin acara, sorakan ramai itu mulai terdengar. Seungyoun dan pria bertopeng itu berjalan ke arah panggung. Suara riuh mulai terdengar dari para pembeli. Rupanya Tuan Han ini memang terkenal membawa orang orang dengan kualitas unggul. Entah dari penampilan atau latar belakangnya yang lumayan mumpuni. 'Barangnya' diakui memang paling memuaskan dan tidak pernah rugi jika membelinya. Angka awal pelelangan dimulai dari 200 juta, dan angka fantastis lainnya mulai datang menyusul.
"500 juta won, dari Nyonya Jung!"
"800 juta won, dari Tuan Hong!"
"3 milyar won, dari Tuan Lee!"
"7 milyar won, dari Tuan Wang! Tidak ada penawar yang lebih tinggi? Oke-"
"Aku menolak" Pria pemiliknya maju ke depan. Merebut mic dari tangan pemimpin acara. "Tuan Wang masuk ke dalam daftar hitam kami. 3 milyar won untuk Tuan Lee" pria bernama Tuan Lee itu berdiri kegirangan. Merasa mendapat barang bagus. Sedangkan pria bertopeng biru bernama Wang itu tampak tidak terima. Dia ikut berdiri.
"Tidak peduli apapun tapi aku yang memenangkan pelelangan ini, Tuan Han"
"Tapi aku pemiliknya" sebenarnya bagi Seungyoun menjadi milik siapa itu bukan hal yang bagus. Dia hanya ingin pulang, mencari ibunya lalu pergi dari negara ini.
Disela-sela perdebatan itu terdapat seorang yang mengambil kesempatan untuk memanggil rekannya. Melakukan penyergapan penuh resiko seperti ini. Di sarangnya langsung. Setelah instruksinya segerombolan pria berpakaian khusus datang lengkap dengan senjata lengkapnya. Mereka melakukan penyergapan. Namun karena respon yang cepat juga jumlah yang kalah jauh suasana menjadi riuh tak terkendali. Tuan Han mengeluarkan pistol miliknya, menjaga diri lalu mencari jalan keluar tak lupa membawa Seungyoun. Dengan cepat suasana berubah mencekam. Adu tembak dan puluhan orang berlari untuk menghindar, saling injak dan dorong. Seungyoun takut, namun ia terus ditarik Tuannya menjauh dari kerumunan, mencoba mengumpulkan anak buahnya setelah terpisah tadi dan terus waspada pada peluru yang sembarang ditembakkan. Mereka bergerak bersama menuju jalan pintas. Sebelum benar benar bisa mencapai pintu luar sebuah rintihan itu meluncur dari bibir Seungyoun. Sebelah kakinya tertembak, dan perutnya terlihat mengeluarkan darah. Tuan Han hanya mendengus emosi. Kenapa bocah ini hanya diam dan menahannya. Buru-buru dia menggendongnya di depan, berjalan cepat menuju mobil lalu pergi.
Jok mobilnya kini sudah kotor oleh darah. Seungyoun hanya merintih sakit. Lebih baik yang terkena tembakan tadi kepalanya saja maka penderitaannya akan berakhir. Setelah Tuan Han cek, luka di perutnya hanya peluru yang meleset sementara kakinya mengalami pendarahan yang cukup parah.
"Cari tahu siapa dalang penyerangan itu. Sial, akan kubunuh juga narasumbernya"
"Baik, Tuan"
"Tahan sebentar. Jangan tidur, oke?" Tuan Han itu melepas topeng putih yang dia kenakan. Seungyoun sedikit terkejut, yang dia panggil Tuan dari tadi ternyata hanya seorang pria yang hampir seumuran dengannya.
"Semoga aku mati kehabisan darah" Seungyoun berujar, semoga saja. Dia sangat kesal dengan hidupnya.
"Sial cepat sedikit bodoh!" Han Seungwoo dengan panik memukul kepala supirnya, Seungyoun hampir tertidur. Dan kata-katanya tadi membuat dadanya berdegup menyakitkan.
.
.
.
.
To be Continue