Another Wife

Another Wife
Chapter 33: Hanya Khawatir



Author cuma mau mengingatkan karena cerita ini lamaaa banget updatenya, sebelum baca Chapter baru disarankan baca 2 atau 3 Chapter sebelumnya agar tidak lupa alur dan ceritanya ya


Ok Readers jangan lupa like dan komen ya. karena kedua hal itu sangat meningkatkan mood author buat nulis!


Happy reading


...----------------...


Seorang pria bertubuh tinggi berjalan cepat menuju bangunan bernuansa putih gading. Kakinya melangkah dengan mantap, melupakan rasa kantuk dan lelahnya yang hampir seminggu berjuang mati-matian menyelamatkan aset berharganya. Tas bawaannya dia tinggal di depan sana tanpa peduli. Lalu di tubuhnya masih melekat setelan jas yang terlihat kaku. Dia membuka kamar di depannya dengan dentuman di dada yang membuncah. Perasaannya meledak ketika melihat seseorang yang dia rindukan setengah mati belakangan ini.


Seungwoo memeluk Seungyoun. Melupakan Irene di sebelahnya yang sedang menyangga semangkuk bubur hangat. Pria kecil itu terkejut, pria ini masuk tanpa kata lalu memeluknya erat. Dia senang luar biasa. Air mata Seungyoun bahkan mengalir begitu saja.


"Aku merindukanmu, Woo"


Tidak ada balasan dari Seungwoo. Dia masih memeluknya erat, menghirup aroma lembut tubuh Seungyoun yang sudah lama tidak dia hirup. Dia begitu rindu. Sampai tidak bisa mengatakan apapun.


"Kukira... aku akan kehilanganmu" Sebuah kalimat dengan penuh getaran aneh sampai pada pendengaran Seungyoun. Jika dia tidak salah, Han Seungwoo sedang menangis di bahunya.


Irene tersenyum lembut. Pemandangan di depan ini membuat matanya juga basah. Sebelum ada Seungyoun, Seungwoo tidak pernah terlihat se kacau itu, se senang itu, atau mungkin se khawatir itu. Seungwoo tidak pernah terlihat menangis maupun sedih, bahkan di ambang kematian orang tuanya sendiri. Namun Seungyoun dengan ajaibnya membuat Han Seungwoo menunjukkan sisi lain dari dirinya.


"Apa kau merindukanku?" Seungyoun bertanya lagi, berusaha membuat pria besar itu berhenti menangis di bahunya. Mungkin dia akan menyesal karena Irene mengejeknya nanti.


"Aku jauh-sangat-dan lebih rindu" Seungwoo melepaskan pelukannya, mengusap matanya yang basah. Pria itu masih sesegukan dan wajah yang biasa berwarna putih pucat itu kini memerah di bagian hidung.


Seungyoun mencubit pelan hidung Seungwoo. Dia ikut menghapus air mata yang masih tersisa di wajah tampan itu. Ah... Seungyoun hampir mabuk, dia menatap Seungwoo penuh kerakusan. Tidak ingin terlewat, melupakan egonya yang besar. Lucunya Irene yang biasa berkomentar tidak banyak bicara. Dia sangat menghargai perbuatan kedua pria di depannya. Dia hanya diam sambil ikut terenyuh.


"Kau sudah baik-baik saja sekarang?" Seungwoo membuka obrolan. Meneliti seluruh tubuh Seungyoun.


"Sangat baik. Kau se khawatir itu ya?"


Seungwoo mengecup ringan seluruh wajah Seungyoun. Dahi, pipi, hidung, kelopak matanya, bibirnya, tidak ada yang terlewat. Irene hampir meledak dengan pipi merahnya. Kurang ajar sekali kedua pria di depannya ini, melakukan adegan romantis mengarah ke erotis tanpa malu di depan seorang jomblo abadi seperti Irene. Wanita itu memalingkan wajahnya. Dia mengumpat dalam hatinya.


"Aku tidak tahu harus bagaimana jika sesuatu terjadi padamu"


'Aku juga' Seungyoun berkata dalam hati, tapi wajahnya tersenyum manis. Lengkungan matanya indah seperti bulan sabit. Kembali mengelus tangan besar Seungwoo.


"Itu tidak akan terjadi"


"Aku keluar sebentar" Irene beranjak dari duduknya, menyerahkan mangkuk bubur ke arah Seungwoo dengan penuh dorongan. Matanya melotot mengancam. "Kalau kau macam-macam dengannya. Aku bersumpah akan membuatmu impoten dini"


Seungyoun hanya tertawa kecil. Selalu saja junior Seungwoo diancam macam-macam, padahal si pemilik yang salah. "Ya ya silahkan saja" Seungwoo dengan acuh membalas.


Pintu itu tertutup, suasana menjadi hening seketika. Wajah Seungwoo terlihat lelah namun ada rasa lega di sana. Pria kecilnya sudah bangun dan kembali bugar. Bisnis utamanya berhasil selamat, entah kenapa para orang Jepang itu menghilang dan berhenti mengganggunya. Mungkin mereka masih menyiapkan sesuatu yang lain, jadi Seungwoo juga bersiap-siap untuk kemungkinan terburuk.


"Woo... Apa kau tidak lelah?" Seungyoun membuka percakapan.


"Tidak. Ayo makan bubur mu" Seungwoo menyuapi Seungyoun. Si pria kecil memakannya dengan baik. "Kenapa menatapku begitu?"


"Tidak" Seungyoun hanya tersenyum malu.


"Tumben tidak galak padaku. Sudah mulai mencintaiku, Cho Seungyoun?"


"Menurutmu bagaimana?"


"Aku anggap sebagai 'ya' "


Keduanya hanya saling menggoda. Terutama Seungwoo yang semakin gencar mengajukan pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan gamblang oleh Seungyoun. Pria itu ternyata masih menjengkelkan seperti biasa. Sampai tiba-tiba mereka berhenti bercanda. Seungyoun entah kenapa teringat Kim Wooseok, Sunghoon, maupun Hanse tidak bersama mereka lagi. Dia tersenyum kecut. Perubahan suasana hatinya yang terlalu anjlok membuat Seungwoo mengerutkan kening.


"Jangan berpikir macam-macam, istirahat yang cukup lalu semuanya akan kembali seperti semula"


"Bagaimana dengan Sunghoon? Dia akan baik-baik aja, kan?" Bocah itu... beberapa hari ini terus teringat oleh Seungyoun. Sunghoon yang biasanya terus menempel pada Seungyoun atau Seungwoo kini tidak ada.


"Dia akan aman. Kau sudah bertarung dengannya kan? Sunghoon tidak mungkin dalam bahaya"


Seungyoun menghela nafasnya lega. "Kudengar Wooseok menjadi CEO Hans Biopharmacies... kau tidak keberatan?"


"Aku yang memberinya separuh saham milikku dan dengan otomatis dia menjadi pemiliknya saat ini. Lagipula aku tidak terbiasa mengurus hal-hal baik, aku memilih bisnis kotorku untuk diselamatkan. Pria cebol itu tidak akan meninggalkan ku" Kim Wooseok-jika dia mendengar tinggi badannya dilecehkan tentu akan mengamuk saat ini. Tapi pria itu kini sedang menjadi warga baik di luar sana.


Menjadi buronan dan identitasnya yang terbongkar. Saat itu juga Han Seungwoo dalam kesulitan, dia kesulitan untuk melindungi anggotanya. Maka Seungwoo mencari tempat terbaik untuk mengamankan Wooseok dan Sunghoon.


Seungyoun sebenarnya ragu bertanya. Tapi Hangyul tadi pagi mengunjunginya dengan segala keluh kesahnya. Pria itu tidak dapat tenang karena keputusan Seungwoo tidak diberitahukan kepada eksekutif lain. "Bagaimana kau... akan menindak lanjuti Hanse?"


Seungwoo terdiam sesaat, dia menyuapkan suapan terakhir dari bubur di tangannya. "Aku akan berhenti mengejarnya"


Seperti dugaan Seulgi. Han Seungwoo tidak sanggup membunuhnya. Hubungan pertemanan mereka yang bertahun-tahun mungkin salah satu penyebabnya. Dan lagi, Seungwoo tidak pernah menganggap para eksekutif hanya sekedar alat untuk membunuh atau sekedar teman. Mereka manusia berharga yang dianggap keluarga.


"Dia ketakutan saat ingin membunuhku" Seungwoo menjawabnya santai, menatap Seungyoun.


Seungyoun hampir mengira jika Seungwoo bercanda. Tapi yang paling tahu adalah Seungwoo sendiri, jadi dia hanya berusaha percaya. Keputusan dan alasan gila Seungwoo tidak mungkin diterima oleh eksekutif lainnya. Bahkan mungkin Hangyul. Mereka dilanda kecewa berat namun seorang pengkhianat tetaplah pengkhianat. Eksekusi harus dijalankan sesuai aturan Golden Crown. Aturan menjadi Golden Crown sebenarnya terkesan sangat manusiawi. Jika ingin lepas menjadi anggota, seseorang harus menjabat minimal sebagai agen informan atau tingkat tertinggi seperti eksekutif. Mereka dipersilahkan mundur dengan syarat, selain Golden Crown tidak diperbolehkan memiliki Tuan yang lain. Jika melanggar, akan diadakan eksekusi seluruh keluarga. Ayah, Ibu, saudara kandung, bahkan anak. Dengan kata lain, dilarang berkhianat. Dan Hanse melakukannya.


"Saat itu kita sedang berada di kondisi genting dengan penuh misi yang anehnya kau turuti... Saat itu kau membuat semua eksekutif ragu atas keputusanmu, mereka hampir hilang kepercayaan padamu. Dan kali ini jika kau menolak untuk membunuh Hanse, mereka akan sangat kecewa padamu" Seungyoun khawatir. Posisi Seungwoo serba sulit, ada beberapa alasan kurang logis dan taktik aneh yang dia jalankan. Pria itu mungkin tidak perlu menjelaskan, tujuannya hanya untuk melindungi rekan-rekannya dan Golden Crown dari kehancuran. Tidak bisa dipungkiri walau Seungwoo membenci takhta terkutuknya tapi dia juga ingin melindunginya.


"Aku tau para eksekutif ku lebih dari siapapun. Seorang pimpinan tidak perlu menjelaskan lebih jauh, dan seorang eksekutif tidak perlu alasan untuk menjalankan misi. Semua keputusan dan tanggung jawab ada di tanganku, Youn. Kau takut bukan? Jangan khawatir, walau kau pemegang bisnis gelap, pemilik Golden Crown tetaplah aku. Tidak akan kubiarkan kau ikut menanggungnya"


"Bukan, Woo. Aku khawatir kau terluka karena orang terdekat mu lagi. Bagaimana jika mereka menolak keputusanmu kali ini?"


"Hanse... luka di tangannya saat kita ke daerah Barat disebabkan oleh katananya sendiri" Seungyoun tidak tahu kenapa Seungwoo merubah arah pembicaraannya. Tapi dia cukup terkejut oleh fakta yang hanya diketahui Irene dan Seungwoo itu.


"Maksudmu dia merobek-robek tangannya sendiri? Tunggu... lalu bagaimana dengan racunnya?"


"Hanse memiliki penawarnya. Dia meminta racun dan penawar pada Seulgi. Itu juga alasan kenapa kau masih hidup saat ini. Hanse melukai tangannya agar tidak bisa ke Paris bersama kita. Kesimpulan sementara, ku anggap dia mencari waktu yang tepat untuk menunggu kita pergi dan merebut pabrik senjataku, tapi kepulangan kita di luar prediksinya-"


"Han Seungwoo. Jangan bilang kau beranggapan dia tidak berniat membunuh kita dari awal" Seungyoun memotong percakapan dengan tidak santainya. Itu terdengar seperti hipotesa bodoh yang dibuat Seungwoo. "Woo... aku sangat paham perasaanmu. Tapi bagaimana pendapat eksekutif yang lainnya? Itu yang ku khawatirkan dari awal, aku tidak perduli si bodoh Hanse benar berkhianat atau tidak. Tapi aku takut pandangan anggotamu kepadamu Han Seungwoo"


Seungyoun kehabisan nafas. Emosinya sudah memuncak hingga membuat kepalanya berdenyut pelan. Dia ingin menyadarkan Seungwoo. Seungyoun ingin melindungi suaminya.


Irene yang sedari tadi menguping di ruangannya merasa tegang. Suasana berubah menjadi sedikit kurang baik, Han Seungwoo itu orang yang sangat keras kepala. Kali ini Seungyoun menentang keputusannya mati-matian karena rasa khawatir yang berlebihan. Menurut Irene keduanya sama saja.


"Aku... tidak masalah. Jika Hanse terbukti bersalah harus kita bunuh, tapi jika tidak... itu terserah Seungwoo-Hyung untuk menyikapi" Hangyul berada di ambang pintu, dia kemudian masuk ke dalam ruangan Seungyoun. Sudah cukup lama dia menguping pembicaraan tadi, dan akhirnya memutuskan untuk segera ikut.


Wajahnya terlihat putus asa. Dia melihat Seungyoun dan bosnya bergantian. "Kalian tidak perlu mempermasalahkan para eksekutif. Bagaimanapun perintah Seungwoo-Hyung mutlak. Dan kami tidak semudah itu untuk berkhianat, Seungyoun-Hyung. Berhenti bertengkar... kalian masih sama-sama lelah" Hangyul tidak takut dianggap lancang. Kedua orang di depannya memiliki tempramen yang buruk, terutama Seungwoo. Jika tidak dihentikan mungkin akan terjadi adu tembak.


Seungyoun menghela nafasnya. Dia baru mendapatkan kekuatan untuk duduk pagi ini jadi tubuhnya belum terlalu kuat. Bisa selamat dari racun Seulgi itu sebuah keajaiban. Tapi dampak yang dia tanggung cukup parah. Seungyoun memijit kepalanya, dia juga tidak bisa terlalu stress.


"Kau baik-baik saja?" Wajah keras Han Seungwoo berubah lunak dan tampak bodoh saat khawatir. Tapi Seungyoun masih merajuk, dia kesal setengah mati pada Seungwoo.


"Sial... Tidur sana. Kau mau mati ya?" Seungyoun menangkis tangan Seungwoo yang ingin menyentuhnya. "Wajahmu mirip panda"


Hangyul tidak tega dengan bosnya. Tapi pria itu memang menjengkelkan. Jadi dia hanya diam dan duduk di kursi. Bahunya sudah jauh lebih baik karena Hanse tidak menembaknya di area vital. Hangyul sependapat dengan Seungwoo, tapi usulan Seungyoun tidak buruk. Walau Hanse tidak ingin membunuh mereka dia tetaplah pengkhianat. Menurut Hangyul Changkyun satu-satunya orang yang dapat berfikir secara logis di saat-saat seperti ini. Pria itu belum kembali sejak 3 hari lalu, dia mengumpulkan informasi tentang keberadaan Sunghoon.


"Gyul... jaga Seungyoun sebentar. Aku akan tidur siang"


"Oke, Hyung" Seungwoo beranjak dari duduk dan pergi dari sana.


Wajah Seungyoun tidak lebih baik, dia malah menangis di tempat tidurnya. Hangyul segera mendekat dan menenangkan.


"Han Seungwoo brengsek..."


"Kenapa, Hyung?"


Seungyoun mengusap matanya kasar. Dia menangis seperti anak kecil, terlihat menyedihkan dan menggemaskan di saat yang sama. "Aku khawatir padanya... sangat khawatir"


"Seungwoo berfikiran luas dan panjang... maka dia mengambil keputusan sulit. Selama ada aku, Changkyun dan Seulgi. Tidak akan ada seorangpun yang bisa menggulingkan tahtanya" Hangyul tersenyum simpul. Istri bosnya ini kewalahan dengan perasaannya sendiri. Pertengkaran tadi disebabkan karena Seungyoun ingin melindungi Seungwoo, tapi pria itu ingin melindungi seluruh anggotanya. Resiko seorang kepala keluarga Han sekaligus pemilik Golden Crown. Hangyul hanya berusaha menenangkan sembari menghiburnya sedikit. "Kau sangat mencintainya ya, Hyung?"


"Benar... aku mencintai si brengsek itu..."


.


.


.


.


To be Continue


Curhat guys:


Karena author sebenernya bingung guys... ngga pandai bikin cerita dan ini cerita pertama author. Kadang ngga dapet ide sama sekali. Kalaupun dapet ide dan udah buat kerangka cerita... kalau belum mood nulis bakalan susah menuangkan dalam bentuk tulisan. Hasilnya jadi ngga menarik/ngebosenin...


Jadi harus gimana nih? Oh ya karena ini lagi banyak masalah yang mereka hadapin jadi penjelasannya juga agak panjang ya. Dan satu lagi, karena emang ini bukan pure novel romance yang penuh keuwuan, ceritanya bakal lebih condong ke masalah hubungan antar anggota-keluarga dan banyak actionnya. Ada kok nanti kalau saatnya uwu, tapi ya itu. Ngga bisa terus terusan uwu


Author mau nanya. Kalian mau ngga dikasih selingan cerpen one-shot or two-shot? Nanti author bikinin booknya sendiri... buat selingan aja biar ngga terlalu lama nunggu Another Wife update. Mau ngga?


Makasih sebelumnya, tolong dijawab ya!


Dapet salam dari mas Hanse yang lagi dicariin sama Golden Crown! Dia udah pake Haori nih guys!