Another Wife

Another Wife
Extra Chapter 37











Malam itu mereka melakukannya berkali-kali, lalu berhenti saat jam menunjukkan pukul 3 pagi. Seungyoun dengan mudahnya terlelap setelah membersihkan tubuh dan ranjangnya. Sementara Seungwoo masih menatap wajah tertidur yang terlihat lembut itu. Di dalam hatinya yang terdalam ada sedikit rasa bersalah yang terus-menerus muncul. Pria manis dan lugu itu mengalami hal sulit karena dirinya.


Di otaknya yang sudah lama meninggalkan keperdulian tentang kebahagiaan tiba-tiba terselip sebuah pemikiran. Bagaimana jadinya jika dia tidak bekerja sebagai mafia seperti saat ini. Bagaimana jadinya Hangyul, Irene, Seulgi, dan Changkyun. Masa kecil mereka direnggut dan dididik untuk menjadi monster sepertinya.


Apa tidurnya akan nyenyak? Apa dia tidak perlu khawatir akan kematian rekannya karena misi? Apa Seungwoo akan sedikit tenang kalau melepaskan Golden Crown?


Cho Seungyoun jelas merubah pikirannya. Dia berani berpikir untuk hidup normal. Han Seungwoo yang dididik menjadi monster menginginkan hidup damai seperti manusia pada umumnya. Tidak masalah tidak kaya. Dia bahkan tidak perduli. Asalkan Cho Seungyoun akan selalu baik-baik saja bersamanya.


Kalau saja dia mendidik Sunghoon dengan baik. Mungkin anak itu akan sedikit punya belas kasihan kepada orang lain. Mungkin saja jika Golden Crown tidak ada. Para eksekutif nya dan Irene bisa hidup seperti orang biasa.


Semakin kacau pikirannya Seungwoo memutuskan untuk mengambil Seungyoun ke dalam pelukannya. Pria manis itu mendekat dan mendusel manja pada dada bidang Seungwoo. Mencari kehangatan.


Si pria tampan berhidung tinggi akhirnya tersenyum. Mengeratkan pelukannya. Menutup tubuh keduanya dengan selimut. Lalu ikut terlelap.


...----------------...


"Sialan kau, Kyun. Ada apa?" Seungwoo mengusap wajah bantalnya kesal. Dia melirik ke arah Seungyoun sebentar, untunglah dia tidak terganggu sama sekali. Dasar putri tidur.


Alisnya menyatu, wajahnya menjadi sedikit serius. Melihat jam di ponselnya sebentar lalu kembali berujar. "Hari ini persiapkan semuanya. Jam 10 kita berangkat ke sana. Aku akan mengatur siapa yang akan ikut"


Panggilan suara berakhir dari Changkyun. Bukannya lekas bangun Seungwoo kembali merebahkan tubuhnya, memeluk Seungyoun sebentar lalu menciumi wajahnya yang kini sedikit mengkerut karena terganggu. Selebihnya dia tidak bergerak maupun membuka matanya. Sedikit mirip orang mati, pikir Seungwoo. Karena tidak ingin menganggu tidur pria kecilnya lagi dia segera menyingkir dari sana. Lalu mandi dan bersiap-siap menyusun rencana.


Dengan pakaian rapinya Seungwoo mengambil secarik kertas di laci mejanya. Menuliskan pemikirannya semalam. Dia adalah tipe orang yang selalu berbicara tanpa pikir panjang. Kali ini Seungwoo hanya mengungkapkan lewat tulisan singkatnya di kertas.


Agak gugup. Agak bingung. Perasaannya menjadi aneh dan kurang yakin. Tapi Seungwoo yakin. Setelah pria kecilnya membaca suratnya, dia dapat menenangkannya. Cho Seungyoun adalah tipe orang yang seperti itu. Dia selalu mendukung Seungwoo.


Seungwoo menyimpannya di dalam laci.


Setelah selesai dia mengirimkan pesan kepada Changkyun. Kali ini mereka berangkat bersama Bangchan, Hyunjin, Changkyun dan Seungwoo sendiri. Tugas Hangyul menjaga Joy seperti biasa, sementara Seulgi masih harus menyelesaikan pembuatan racun gasnya.


Persiapan senjata mereka kali ini tidak main-main. Sebagian besar akan datang pagi ini lewat jalur air. Pengawalan dan pengecekan diperlukan untuk menghindari hambatan di tengah jalan. Han Seungwoo berencana menggila besar-besaran untuk terakhir kalinya.


.


.


.


.


To be Continue


Guys kalian mau follow akun Ig saya ngga? \=> its_me_lilyjeon