
Setelah menghabiskan beberapa hari untuk berlibur akhirnya mereka kembali ke Korea. Begitu sampai Seungyoun melanjutkan kelas paginya. Kali ini dia dibantu oleh Changkyun. Pria itu memiliki banyak informasi yang harus dia sampaikan. Mulai dari misi dasar dan permasalahan internal mereka antar anggota. Beberapa anak cabang di daerah Barat terjadi konflik. Para preman lokal mulai merebut daerah itu lagi. Cho Seungyoun kini belajar sistem cara membereskan sampah yang menghalangi jalannya.
Sunghoon baru lulus tidak lama setelah kembali. Home schooling nya berjalan mulus tanpa hambatan. Anak itu bersikeras untuk ikut mengurus bisnis kotor bersama Seungyoun. Jadilah dia mengikuti kelas pagi sama sepertinya.
Para anggotanya sudah berpencar begitu sampai. Hangyul, Hanse dan Seulgi ditugaskan di tempat berbeda selama seminggu. Irene sibuk menyelesaikan racun yang dibuat Seulgi. Seungwoo bersiap untuk pernikahan dan mengurus pekerjaannya sebelum semakin menumpuk. Kini hanya tersisa Seungyoun, Sunghoon, dan Changkyun sebagai guru sementara. Mereka hanya terus berlatih menembak begitu kelas pagi selesai. Lalu merasa bosan di sore hari.
Lalu pernikahan ke 2 Seungwoo akhirnya dilakukan. Changkyun dan Wooseok hadir, sementara Seungyoun dan Sunghoon menonton di Tv, karena pernikahan mewah itu diliput oleh media. Berbeda dengannya, konsep yang diambil kali ini mengarah ke warna serba putih. Kedua insan itu tampak hebat bersama. Seungyoun akui, Joy terlihat sangat cantik dengan gaun pengantinnya.
Dia memandangnya tanpa berkedip, menikah dengan mewah lalu hidup bahagia. Memiliki istri yang cantik, anak yang lucu, dan dapat bersosialisasi dengan baik. Itu impian awalnya. Siapa sangka semuanya tidak berjalan mulus.
"Wajah Seungwoo-Hyung tidak terlihat bagus di kamera" Sunghoon mengomentari.
"Mungkin dia lelah. Seungwoo sibuk akhir-akhir ini"
"Kau tau Hyung? Sebenarnya wanita itu membantu atau tidak? Dia tidak bisa membantu Kim Wooseok mengurus data dan tidak paham masalah perusahaan. Menyebalkan" Seungyoun tertawa kecil. Anak ini mulai cerewet padanya, karena Seungwoo tidak pernah pulang jadi dia yang harus mengurusnya. Secara tidak sadar mereka semakin dekat kian hari.
"Setidaknya dia lahir di keluarga terhormat yang kaya raya"
"Apa gunanya kalau bodoh?" Mulut Sunghoon hampir sama tajam seperti Changkyun.
"Hei, bocah kecil. Kita juga sedang belajar pada guru Changkyun sekarang. Jangan bicara seperti itu"
"Setidaknya aku membantu" Bibirnya mengerucut. Dia tidak mau kalah rupanya, walau tidak sedarah namun remaja di depannya ini terlihat sangat mirip dengan Seungwoo.
"Tentu saja, kau kan adik kesayangannya"
Sunghoon menatap layar Tv dengan cemberut. Entah kenapa dia merasa aneh dan tidak suka. Pesta Sebasar dan semegah itu pastinya menarik perhatian. Selain karena permintaan Joy, itu juga sebagai penyeimbang status besar Han Seungwoo sebagai pembisnis sukses. 'Kalau saja orang-orang tau, siapa yang lebih disayang oleh Han Seungwoo' anak itu berkata di dalam hati.
Lalu datanglah waktu yang sangat menyiksa Seungyoun. Di malam hari dia tidak bisa tidur. Irene mencegahnya mengonsumsi obat tidur lagi. Dia lakukan apapun untuk bisa tidur. Mendengarkan musik dan menghidupkan lilin aromaterapi namun percuma.
Mansion besar itu sangat kosong saat ini. Jadi Seungyoun memutuskan untuk keluar dari kamarnya lalu menuju halaman depan. Beberapa penjaga yang berjaga dari jauh itu mengawasinya. Takut jika dia tiba-tiba melarikan diri, walau sebenarnya tidak akan mungkin.
Angin malam itu begitu dingin walau sekarang sedang musim semi. Dia memasukkan tangannya ke saku celana, menghalau dingin. Seungyoun hanya berjalan mengelilingi halaman itu, sambil sesekali melihat ke arah bangunan milik Irene. Wanita itu pasti sudah tidur sekarang.
"Han Seungwoo sialan. Kapan kau pulang" Seungyoun bermonolog. Walau tidak cukup yakin tapi dia menyadari, obrolan malam bersama Seungwoo dapat melepas bebannya. Membuatnya tidur dengan baik.
Dia menatap ke arah bintang. Lalu tertawa dan mendengus. Bintang di atas terlihat jelas. Sangat indah. Han Seungwoo dan Joy pasti menikmati malam pertama mereka dengan baik. Dia melihat salah satu bintang yang berkerlip. Andai itu ayah tirinya dia hanya bisa menertawakan nasibnya sendiri. Merasa malu karena ibunya tetap menolaknya.
Karena kedinginan dia kembali ke dalam pada jam 3 pagi, setelah kelelahan dia akhirnya bisa tidur.
................
Sudah seminggu setelah pernikahan ke 2 Seungwoo. Berita tentang kemegahan dan pernikahan impian miliknya masih belum surut. Bahkan Seungyoun hampir mencabut kabel TV di mansion itu. Dia muak. Dia kesal karena Han Seungwoo tidak cepat pulang seperti janjinya. Sedangkan urusan dunia bawahnya tidak dapat ditunda lagi.
Keadaan Seungyoun buruk. Dia semakin frustasi sekarang. Beberapa pertemuan penting diadakan besok tapi Seungwoo tidak pulang. Pria itu mendadak enggan kembali, dia sibuk mengurus bisnis bersihnya sekarang.
"Changkyun. Apa saja jadwalku besok?" Seungyoun duduk menunduk memijat pelipisnya di ruang kerja Seungwoo. Dia pusing.
"Besok ada pertemuan klien. Pemesanan senjata" Changkyun meringis, ikut miris melihat bos barunya. "Kalau kau tidak bisa hadir aku akan menghubungi mereka lewat-"
"Tidak. Tidak akan sopan jika begitu. Aku akan datang"
"Atur jadwal pertemuannya, usahakan pagi. Setelah itu kita ke barat kalau memungkinkan"
" Oke pak bos. Setelah ini coba temui Irene, kau terlihat kacau" Seungyoun mengangguk.
Dia benar-benar ke Irene setelahnya. Wanita itu cukup khawatir, dia merasa bersalah karena kurang perhatian. Irene juga cukup sibuk akhir-akhir ini.
"Kuberi pereda nyeri yang ringan. Untuk istirahat nanti malam minum obat tidur untuk sementara, Ok? Kalau masih susah tidur kau harus sering ku pantau" Dia meminum obat dari Irene untuk menghilangkan sakit kepalanya. Dia begitu tenang setiap kali bersama wanita ini. "Pekerjaanmu berat akhir-akhir ini? Kenapa Seungwoo belum mengabari akan kembali? Aku akan memberitahunya kalau kau sakit"
"Tidak. Aku tidak sakit nuna. Aku hanya sedikit pusing karena pekerjaan ini menumpuk" Dia menutup matanya, berbaring di ranjang salah satu ruangan Irene. "Jangan menganggu orang yang sedang berbahagia. Lagipula dia juga sibuk" Irene hanya bisa menghela nafasnya.
"Istirahatlah yang cukup"
"Aku tidak bisa tidur"
"Kalau begitu ada sesuatu yang membuatmu tenang? Mendengarkan musik?"
"Tidak berhasil..."
"Apa perlu kutemani?" Irene bergumam lirih. Dia tidak yakin dengan pilihannya, tapi jika Seungyoun terus-terusan meminum obat tidur akan ada efek kecanduan. Bisa berbahaya. Mengobati insomnia biasanya mengatur pola waktu tidur, membutuhkan waktu cukup lama dan terus dipantau. Dia yakin Seungyoun tidak bisa mengurus dirinya sendiri kali ini. "Nanti malam tidur di sini saja. Kau mau?"
"Apa tidak masalah?" Irene mengangguk yakin.
"Kalau yang lain bertanya aku yang akan menjelaskan. Kau tidak boleh sakit, Youn"
Malam itu setelah beberapa perbincangan dia berhasil tidur. Irene berusaha terjaga, mengamati Seungyoun. Dia beberapakali hampir terbangun, kualitas tidurnya buruk. Dia terus mengigau dan sempat menangis. Irene menatapnya sedih. Si brengsek Han Seungwoo pasti sudah tau lebih awal keadaan Seungyoun, tapi pria itu terus memaksanya untuk tetap tinggal.
Walau tidak terlihat, ada trauma membekas pada Seungyoun. Kejadian buruk terus menimpanya belakangan. Ayahnya mati, ibunya membuangnya, dia bahkan dipaksa menjadi istri Han Seungwoo. Irene memilih untuk bungkam, dia harus berbicara pada Seungwoo begitu dia pulang nanti.
Pagi berikutnya Seungyoun, Changkyun dan Sunghoon berangkat ke pertemuan. Mereka bertemu di sebuah restoran berkelas dan memesan ruangan VIP yang kedap suara. Pemesanan dan penawaran berjalan bagus, orang Canada itu mudah diajak berbisnis dengannya. Pertemuan 1 jam itu menghasilkan hasil memuaskan. Mereka akan langsung ke daerah barat untuk memantau situasi. Sebuah panggilan masuk, Changkyun mengangkatnya.
"Halo, bos?"
"Seungwoo?" Seungyoun bertanya. Changkyun mengangguk.
"Kami akan ke daerah barat untuk memantau. Pertemuan dengan klien sudah selesai" Begitu Seungwoo bicara alis Changkyun bertaut menjadi satu di tengah. "Bos. Kau gila ya? Dia sudah kelewatan kalau begitu. Usir saja dari sana" Nada suaranya meninggi, Sunghoon buru-buru menguping.
"Iya, kami pulang sekarang"
"Ada apa?" Seungyoun bertanya.
"Joy ikut pulang ke mansion bersama Seungwoo"
.
.
.
.
To be Continue
Bonus pict si cantik mbak Bahagia (Joy) 😂😂😂
Jangan lupa like, komen dan favorit guys!