
Dengan hitungan hari Seungyoun sudah mulai bugar seperti biasanya. Dia lebih sering latihan fisik bersama kedua eksekutif baru. Hangyul disibukkan untuk mengawal Joy. Setelah berita kemunduran saham Seungwoo, Joy menjadi pusat perhatian. Banyak yang bertanya-tanya ada apa dan apakah masalah itu akan mempengaruhi rumah tangga mereka. Joy mengacuhkannya. Wanita itu berkembang sedikit lebih baik dari perkiraan Seungwoo.
Seungwoo sendiri diam-diam mengambil alih rumah sakit yang sudah lama dia acuhkan. Awalnya rumah sakit itu dia titipkan pada salah satu bawahannya. Dia belum memberitahukan tujuannya kepada para anggota. Namun dugaan Irene, rumah sakit itu dipersiapkan untuk kemungkinan terburuk. Akan ada gencatan senjata yang direncanakannya. Seungwoo tidak lagi bersikap bodoh, langkahnya makin berani. Persetan dengan para aparat, selama dia lebih unggul maka tidak akan ada yang bisa menyentuhnya.
Sekali lagi rapat dibuka. Seungwoo mendapat informasi tambahan dari Yibo tentang Arthur. Pria China itu sangat berguna sekarang.
"Dia paling sering di markas besarnya ke 2. Selain narkoba, dia juga bergerak di bidang pengamanan seperti kita. Untuk Arthur akan ku persiapkan untuk membantai habis mereka. Sebuah rumah sakit sudah kupersiapkan, akan diubah menjadi salah satu fasilitas medis pribadi kita. Beberapa pemindahan peralatan dan orang-orang ku juga sedang dalam proses"
Dugaan Irene tepat. Yang menjadi pertanyaan, terlepas dari dendam di pasar manusia. Kenapa Han Seungwoo sepertinya enggan melepaskan mafia negara lain itu. Jika benar Arthur memiliki bisnis pengamanan, orang-orang ras barat yang menculik Sunghoon itu adalah milik Arthur.
Pembicaraan beralih pada Sunghoon. Seharusnya menyerang secara terang-terangan lebih mudah, tapi resikonya terlalu besar. Si pak Park dan pak Lee mungkin sudah menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan atau bahkan media untuk membalikkan fakta. Dugaan sementara, Sunghoon akan digunakan untuk memancing Golden Crown menjadi topik hangat lagi. Menuduhnya atas penculikan dan sebagainya. Lalu kepolisian akan secara membabi buta menjadikan mereka target yang harus segera diselesaikan karena dorongan masyarakat.
Namun Han Seungwoo masih menggunakan akal sehatnya. Dia menahan keinginannya untuk membuat kerusuhan, masih terlalu dini dan yang terpenting, dia harus mendapatkan Sunghoon kembali.
Misi kali ini diikuti oleh Seungwoo, Changkyun, Hyunjin dan Bangchan. Mereka ke sana pagi buta, mengamati kediaman si pejabat penting yang tertutup rapat. Karena lokasinya yang cukup sulit mereka hanya bisa memantau dari mobil, tidak ada bangunan yang berguna di sekitar membuat mereka menyiapkan beberapa anak buah untuk mengintai lebih dekat.
Sebuah paket yang terdapat alat perekam suara kecil di dalam dikirimkan. Menggunakan nama si Nyonya sebagai penerima. Seungwoo hanya bisa yakin kalau benda itu dapat masuk, setidaknya di dalam sana mereka bisa mendengar sesuatu.
Begitu anak buahnya yang menyamar sebagai pengantar barang mendekat, gerbang itu terbuka. Paket diterima dengan mudah. Barang itu berhasil masuk tanpa halangan. Changkyun menyalakan mic kecil di dalam paket, menyalurkan ke ear piece setiap orang di dalam mobil. Suaranya masih hening dan belum jelas. Paket belum sampai ke tangan si Nyonya besar.
"Paket anda datang, Nyonya"
"Aku tidak memesan apapun- ah ya... sepertinya aku lupa kalau barangku datang hari ini"
Semua orang di dalam mobil terkejut. Jadi apa maksudnya ini? Apa wanita itu benar-benar mudah dibodohi atau mungkin sesuatu telah terjadi di dalam sana. Suara benda dibuka itu terdengar cukup nyaring di telinga para eksekutif, lalu tiba-tiba suara menjadi hening.
"Apa mungkin ini dari temanmu, Hoon?" Si Nyonya bertanya. Membuat keempat orang itu semakin terkesiap. Tunggu dulu, jadi si Nyonya dan Sunghoon cukup dekat?
"Aku tidak yakin"
Seungwoo mengutuk dirinya sendiri. Tolong pukul saja dia. Kalau tahu begini di dalamnya akan dia tulis pesan untuk Sunghoon. Dasar Seungwoo bodoh.
"Mereka ingin menjemputmu?" Si Nyonya bertanya lagi.
"Mungkin iya. Kalau benar dari Tuan" Jawab si lebih muda.
"Aku rasa itu bukan rencana bagus"
"Apa maksudmu"
"Bukan saat yang tepat. Ingat, bagaimana jika identitas Tuanmu dibocorkan?"
Sunghoon terdiam. Seluruh anggota hanya diam, kata-kata itu terdengar manipulatif bagi Seungwoo. Kalaupun begitu, ayah Sunghoon tidak memiliki bukti apapun untuk menjebloskan Seungwoo ke penjara. Hanya Sunghoon satu-satunya bukti terkuat. Kalau dia mau buka mulut tentunya, tapi hal itu tetaplah mustahil.
"Aku akan pulang kalau memang Tuan yang menjemputku, Nyonya. Kalau kau ingin membantuku sebaiknya bisa bekerja sama" Hyunjin dan Bangchan merinding di tempat. Apa apaan Tuan Muda milik Golden Crown ini? Dia bahkan menekan pihak musuh tanpa ragu, padahal Sunghoon sedang menjadi tawanan.
"Oke. Mari berunding di dalam rumah"
"Apa kita tidak bisa keluar saja?" Sunghoon tetap memaksa.
"Hoon... Kalaupun keluar para bodyguard akan mengikuti kita. Mari selesaikan diam-diam. Belum saatnya aku ketahuan suamiku, biarkan aku membantumu lebih lama lagi"
Suasana hening lagi. Keempat orang itu tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mereka hanya diam sambil mencari cara lain.
"Saranku... gunakan beberapa orang tingkat bawah yang tidak terlalu penting untuk datang-"
"Mencoba menipu kami, Nyonya?"
"Suamiku mengantongi identitas Tuanmu dan para eksekutif kalian"
Seungwoo menimbang-nimbang... apa ini jebakan atau bukan. Kalaupun jebakan maka tidak ada cara lain selain dia turun tangan sendiri. Lagipula walau kalah jumlah. Keahlian Golden Crown bukanlah tandingan mereka.
"Dengar kan, Hyung? Sekarang, jemput aku untuk pulang" Suara Sunghoon terdengar lagi setelah hening.
Keputusan akhir yang diturunkan kali ini adalah Bangchan dan Hyunjin. Mereka berdua eksekutif baru yang mungkin belum diketahui oleh anak buah pak Park. Setelah memakai seragam yang senada dengan para bodyguard mereka berdua turun dari mobil Van besar itu. Langsung memencet bel rumah tanpa ragu. Begitu terbuka, seluruh mata memandang ke arahnya. Cukup banyak penjaga di sini, sebelum dihadang dan terjadi keributan suara si Nyonya pemilik rumah terdengar di ear piece para bodyguard.
"Ijinkan mereka masuk. Mereka adalah agenku"
Maka Hyunjin dan Bangchan bisa bebas masuk tanpa dihalangi lagi. Mereka melewati ruang tamu, menuju meja makan yang tepat berada di dapur. Kedua orang beda usia itu duduk terpaku di kursi. Hyunjin dan Bangchan sampai.
"Golden Crown. Tuan Han memerintah kami" Bangchan menjawab. Pertanyaan untuk memastikan tentunya.
"Tunggu dulu... Bagaimana kalau suamiku tahu?"
"Kim Min Kyung. Kau ingin membantuku bukan?" Abaikan sikap tidak sopan Sunghoon karena memanggil tanpa embel-embel tertentu. Remaja itu terlihat emosi karena sikap tidak pasti si Nyonya.
"Tuan ingin berbicara" Hyunjin mengeluarkan ponselnya, membuka panggilan dari Seungwoo dan mengubahnya dalam mode loud speaker.
"Hoon? Bagaimana rencana pak Park?" Katakanlah Han Seungwoo itu orang gila yang tidak bisa menjaga perasaan si Nyonya. Tapi wanita itu terlihat tidak keberatan sama sekali.
"Dia membujukku untuk bekerja sama. Aku harus mengaku kalau diculik olehmu, Hyung. Dia akan memperkenalkanku ke publik sesegera mungkin setelah bersedia bekerja sama"
Seungwoo lega. "Si Nyonya mendengar bukan? Bagaimana menurutmu, Nyonya Park?"
"Aku... Aku akan membantu Sunghoon"
Tanpa mereka sadari seorang bodyguard yang telah lama curiga pada sang Nyonya akhirnya menelfon Tuannya. Pak Park langsung pulang begitu mendengar ada paket dan orang-orang misterius yang datang ke rumah. Wajahnya mengerut tidak suka, jika Sunghoon diambil maka berakhir sudah.
Sebuah mobil yang familiar melewati jalan menuju rumahnya. Anggota Seungwoo yang sudah tersebar segera mengabarkan hal itu. Si Tuan rumah telah pulang, rencana mereka tercium. Hal itu juga langsung diketahui Hyunjin dan Bangchan, kedua eksekutif baru menegang di tempatnya berdiri.
"Pak Park pulang" Hyunjin berkata.
"Tunggu. Tidak mungkin-"
"Jangan! Jangan pergi dulu... kalau kau pergi, kalian tidak akan bisa lolos dari sini. Di luar sana belasan orang berjaga, kalaupun bisa aku juga akan mati kalau sampai ketahuan" Nyonya Park juga ikut panik. Di sisi lain dia begitu takut pada suaminya, pria tua itu adalah tipe orang kasar yang akan menyiksa tanpa mengotori tangannya.
Changkyun yang sedari tadi mendengarkan akhirnya buka suara. "Apa kata-katanya termasuk tipu daya? Kita tidak bisa percaya begitu saja, tapi kalau membawa Sunghoon keluar akan banyak keributan yang terjadi. Rumah-rumah elit ini dilengkapi CCTV, terlalu banyak saksi mata"
Seungwoo akhirnya mendengus. Sunghoon itu tidak masalah jika ditinggal di sana. Dia petarung yang mumpuni. "Semua terserah padamu, Hoon. Tunggu lebih lama agar timingnya pas atau keluar sekarang dengan resiko menjadi bulan-bulanan polisi?"
Tidak banyak waktu dan kedua eksekutif itu harus keluar sekarang juga. Sunghoon melirik Nyonya Park yang berharap cemas. "Aku tinggal... Banyak yang harus kau lakukan, Hyung. Aku tidak ingin ada polisi yang menghalangi. Tapi janji jemput aku"
"Janji. Aku akan datang lagi"
"Hyung... aku rindu kalian" Sunghoon mengatakan kalimat terakhirnya sebelum mengakhiri panggilan. "Nyonya, bantu mereka keluar" Sunghoon dengan nada sedikit memerintah. Akhirnya si Nyonya mengantar kedua 'Agen' nya sampai luar. Walau hatinya cemas namun senyum simpul menghiasi wajahnya, melengkapi peran seolah-olah tidak terjadi apapun. Kedua eksekutif baru Golden Crown lolos dengan mudah. Seungwoo langsung balik arah dan pergi dari sana, mereka berpapasan dengan mobil si pak Park yang sedikit mengebut.
Begitu Nyonya Park sampai di dapur lagi, bekas paket sudah musnah tertelan air di toilet. Sunghoon menyiramnya, melihat kertas coklat dan putih itu perlahan hancur dan tersedot menghilang.
Pintu rumah terbuka dengan keras. Pak Park berdiri terengah-engah dengan beberapa bodyguard di sampingnya. Salah seorang yang melapor berbisik pelan. Mengabarkan kedua orang itu baru saja pergi beberapa menit yang lalu.
"Ada sesuatu yang kau sembunyikan, istriku?"
"Seperti apa contohnya? Kenapa tiba-tiba pulang?" Nyonya Park berdiri dan meninggalkan acara minum tehnya. "Apa ada masalah di kantor? Kenapa kau bolos kerja?" Wajahnya berusaha tenang dan bodoh.
Nyonya Park terdorong dan jatuh. Suaminya sepertinya sedang marah besar, merasa dipermainkan. "Ada sesuatu yang kau sembunyikan bukan?!"
"AKU TIDAK TAHU APA MAKSUDMU. Dengar, kenapa kau tiba-tiba kasar padaku?"
Pipi wanita itu dicengkeram dengan keras. "Sebaiknya kau bisa menjelaskan apa yang terjadi"
Nyonya Park menatap tajam seorang bodyguard yang dia curigai sebagai pelapor. "Informasi apa yang kau dapatkan dari anak buahmu? Dia bilang aku membantu Sunghoon? Kau gila? Kau pikir aku mau membantunya? Kita bisa sama-sama membusuk di penjara. Kalau kau tidak percaya silahkan cek CCTV. Siapa yang datang menemuiku, mereka agenku yang kuperintah untuk mengawasi reaksi publik. Suamiku, kau keterlaluan terhadap istrimu. Kalau ada bekas memar di wajahku bagaimana dengan kampanye kita besok pagi? Apa kata orang-orang nanti?"
Park Park melepaskan cengkeramannya. "Aku akan memeriksanya nanti. Awas saja jika kau berani macam-macam"
"Sebaiknya singkirkan anak buahmu yang bodoh itu. Memberikan informasi palsu kepada tuannya, kau sampai harus mengabaikan pekerjaanmu, cepat kembali sebelum kau memperburuk citra mu"
"Akan kupikirkan nanti" Pak Park berlalu pergi dari sana.
.
.
.
.
To be Continue