
Golden Crown. Siapapun pasti pernah tahu siapa mereka. Nama mereka begitu membekas bahkan sampai sekarang. Walau begitu Golden Crown aktif pada tahun 1980-2013, lalu setelah itu mereka menghilang mendadak seperti tidak pernah ada. Bahkan para anggotanya juga kompak musnah pada tahun 2013, publik tidak pernah tahu lagi kemunculan mereka. Dan kasus pembunuhan yang biasa mereka lakukan tidak pernah terjadi lagi.
Mereka merupakan mafia terbesar di Korea Selatan, memiliki anggota mencapai ratusan ribu orang dan menduduki segala penjuru daerah tanpa terkecuali. Bisnis gelap mereka berupa perdagangan manusia, pembunuh bayaran, pengedar dan produksi narkoba, prostitusi, dan lainnya.
Polisi tidak mampu menangani Golden Crown dikarenakan kinerja mereka memiliki sistem yang sangat baik dan terorganisir. Golden Crown seperti sebuah mitos yang nyata adanya. Mereka ada namun tidak pernah muncul secara langsung, para anggota yang berhasil tertangkap menolak untuk membuka mulut. Mereka setia sampai mati. Atau mungkin lebih takut kepada Bosnya daripada malaikat maut.
Begitu Golden Crown musnah beberapa geng 'palsu' mencoba meniru. Namun mereka gagal karena kecacatan sistem. Polisi segera mengetahui jika itu merupakan kasus kejahatan tiruan. Setelah bertahun-tahun lamanya akhirnya kelompok Golden Crown dianggap sudah nonaktif dan hancur. Namun nama mereka masih di dalam daftar buron untuk kepolisian.
Han Seungwoo sebagai pemilik tahta terkutuk Golden Crown seperti enggan mengurus bisnis gelapnya dengan benar. Dia hanya berusaha menyembunyikannya dari publik. Memaksa nama itu tidak keluar lagi dan menjalankan bisnis lainnya. Siapa sangka posisinya kini makin tinggi dan tidak terkendali meraih posisi kejayaan. Namun sekali lagi. Han Seungwoo enggan.
Dia tidak dapat membuang tahtanya saat ini. Tidak bisa membuang rekan rekannya. Membuang ratusan keluarga yang bergantung padanya. Han Seungwoo menyembunyikannya dengan apik sembari melindungi anggotanya.
................
"Bunuh semua orang di sini. Kecuali pria itu" Seungwoo memberi perintah.
Hanse menyiapkan pedang katana nya yang berukuran kecil, pedang itu memang diperuntukkan untuk bertarung di dalam ruangan. Mendukung pergerakkannya agar lebih lincah dan gesit. Sekali tebas, dia menghabisi 3 orang sekaligus. Mereka berdiri berjejer jadi tidak terlalu sulit.
Seungwoo dan Seungyoun membantu menyelesaikan beberapa orang yang tersisa. Adu tembak itu berlangsung sebentar karena reflek lawan yang kurang bagus. Sang pemimpin bersembunyi di balik sofanya.
Hanse turun ke bawah dengan mantap. Dia membersihkan orang-orang yang tersisa di bawah. Seungwoo dan Seungyoun berlindung di balik tembok. Beberapa peluru itu terus di arahkan kepada mereka.
"Tunggu saja" titah Seungwoo. Dia menghitung jumlah peluru yang ditembakkan orang itu. Tak lupa dia membalas sebagai pancingan. Sisa 3... sisa 2... lalu sisa 1...
Seungwoo keluar dari persembunyiannya. Saat ini pria itu pasti sedang mengganti isi pelurunya. Seungwoo mengarahkan pistolnya ke depan, mencari celah dan menembak tepat ke arah bahunya. Si korban jatuh ke samping karena terkejut, pendarahan di bahunya cukup parah. Peluru itu tidak sekedar menyerempet, tapi tepat sasaran menembus bahu kirinya.
Pria tua itu bangkit. Menodongkan pistol ke arah Seungwoo. Hal yang sama dilakukan Seungwoo, dia menembak ke arah kanan dan mengenai jendela yang berada di belakang pria itu.
"Kau lupa isi pistolmu?" Pria itu menyadari jika isi pistolnya belum terpasang dengan benar. Bahu kirinya yang terluka parah membuatnya kesulitan untuk menggerakkan tangannya. Seungwoo merebut pistol di tangannya.
"Hahaha... kau pasti akan menyesal karena membuatku seperti ini" Pria itu tertawa tanpa takut. Wajahnya penuh kesombongan dan senyuman mengejek.
"Youn, kemari kau" Seungwoo melambaikan tangannya, mengabaikan ocehan pria tua di depannya. "Dudukan orang ini, cari tali atau sesuatu"
Seungyoun segera bertindak, tidak banyak perlawanan berarti dari pria itu. Dia diikat di sofanya yang rusak parah karena tertembak. Seungwoo membuka jendela yang sudah rusak karena beberapa kali terkena tembak sebelumnya, jendela itu jatuh ke bawah. Ruangan itu gelap dan pengap, begitu jendela terbuka pria itu sedikit silau karena menghadap langsung ke luar. Seungwoo melambaikan tangannya di depan jendela.
"Jadi siapa anda tuan preman?" Seungwoo mengambil handphone pria itu. Mengecek panggilan masuk.
Pria tua itu meludah ke arah Seungwoo. Dia tidak mau menjawab pertanyaan.
"Lalu siapa yang menyuruhmu?" Pria itu masih bungkam. Seungwoo menembak lututnya. Membuatnya menjerit kesakitan. "Setiap 1 pertanyaan yang tidak terjawab aku akan melumpuhkan kaki atau tanganmu. jadi kau masih punya 2 kesempatan, tinggal kaki kiri dan tangan kanan"
Pria itu masih mengaduh kesakitan. "Kenapa mengaku sebagai Golden Crown?" Seungwoo masih tidak mendapatkan jawaban. Pistolnya mengarah ke kaki kirinya.
"Tunggu! Aku diperintah! Aku diperintah!" Pria itu berteriak panik.
"Seseorang yang menelfonmu tadi?" Pria itu mengangguk. Seungwoo mengambil handphone itu lalu menekan tombol panggil. "Bicara padanya atau kau mati" Seungwoo mengubah arah pistolnya. Benda itu menempel di kening si pria tua itu. Nada sambung itu berhenti. Menandakan jika telfon telah diangkat.
"H-Halo. Tuan" Seungwoo mengubah mode ke loud speaker.
"Sudah kubilang jangan menghubungiku jika aku tidak menelfonmu" Suara pria itu terdengar berat.
"Kurasa anak buahmu akan berkurang banyak kali ini" Seungwoo menjawab. Suara itu tidak muncul cukup lama, lalu sebuah suara tawa memecah keheningan.
"Hahahaha... Golden Crown?"
"Senang bertemu denganmu. Apa yang kau inginkan?"
"Aku hanya ingin memastikan dan menyingkirkan sainganku yang sudah lama bersembunyi seperti tikus"
Seungwoo terkekeh kecil, dia memakan umpan yang diberikan pria misterius ini. "Golden Crown sudah lama mati"
"Ya tapi kalian muncul lagi"
"Apa yang akan kau lakukan jika aku tidak datang? Kuharap kau tidak kecewa"
"Tidak ada ruginya bagiku. Setidaknya sudah mencoba" Seungwoo mengepalkan tangannya. Dia mengorbankan nyawa sebanyak ini hanya untuk memancingnya keluar. Daerah itu kini hancur berantakan, dan pria misterius itu seakan-akan tidak perduli dengan dampaknya.
"Sial. Aku sudah makan umpanmu, tapi kailmu tidak cukup kuat untuk menyeretku. Usaha yang bagus" Seungwoo tersenyum setelah mendapat pesan bertubi-tubi dari Hangyul dan Seulgi sedari tadi. Lingkungan itu sudah hampir bersih. Anak buahnya yang lain sudah ditarik mundur untuk menghindari tertangkap.
"Kita akan bertemu cepat atau lambat nantinya, sampai nanti Golden Crown" Panggilan itu terputus bersamaan dengan Hanse yang naik ke atas dengan beberapa darah di tangannya. Pria itu terlihat sedikit berantakan.
"Se, ikut yang lain membersihkan sisanya" Dia pergi tanpa kata. Seungwoo kembali ke pria tua yang sudah lemas itu. Dia kehilangan banyak darah. "Informasi sekecil apapun akan ku hargai. Jadi katakan apapun yang kau tahu"
"Aku... hanya preman biasa yang diberi misi. Aku bukan berasal di sini, tapi karena uang yang mereka tawarkan sangat banyak aku menurutinya. Mereka menyuruhku melakukan kejahatan dan mengaku sebagai Golden Crown. Aku diberi uang oleh sekelompok orang, aku tidak pernah tau atau bertemu tuanku. Dia selalu menghubungiku lewat telfon" Seungwoo menepuk pipi pria itu. Mengangguk walau sedikit kecewa. Informasi yang tidak berguna.
Pria itu harap-harap cemas. Dia berharap dilepaskan dan bisa hidup. Para polisi di luar sana mungkin bisa membantunya, dia bisa saja mengaku sebagai korban alih-alih pimpinan preman.
"Tidak bisa! Aku bisa mati kehabisan darah di sini"
Seungwoo menyeringai melihat ke belakang. "Bukan urusanku, sialan" Mereka berdua turun ke bawah dan meninggalkan pria itu terikat. "Changkyun. Bunuh dia"
"Oke Hyung" Sebuah tembakan itu mengakhiri hidup seorang pria di lantai 2 restoran ayam. Dia mati konyol di atas.
"Yang lain belum kembali?" Seungyoun bertanya. Dia sepertinya berniat kembali ke blok A untuk membantu menyerang.
"Tunggu di mobil saja" Mereka berjalan santai menuju mobil mereka yang berjarak lumayan jauh. Semua kekacauan terfokus pada blok A. Dari awal kasus ini tidak ditangani dengan serius oleh pihak berwajib. Walaupun jika bantuan datang semua orang di itu sudah mati. Polisi tidak bisa menginterogasi orang mati.
Di mobil Seungwoo membuka topengnya yang terkena darah. Membuangnya di jok belakang Seungyoun juga melakukan hal yang sama. Seungwoo bersandar dan menutup matanya dengan diam. Ear piece di telinganya masih sunyi, belum ada laporan lebih lanjut.
"Menyenangkan bukan?" Seungwoo membuka pembicaraan. "Olahraga hari ini terdapat nilai moral sendiri. Apa menurutmu?"
"Yang jelas baik ternyata sedikit menjengkelkan?" Seungyoun membicarakan tentang polisi. Seungwoo terkekeh karena penjelasannya.
"Seseorang harus menjadi korban dan pelaku. Mereka akan menangkap kita dan menjadikan kita sebagai pelakunya"
"Kalau kau tahu ini jebakan. Kenapa tetap datang?" Seungwoo menatap ke langit-langit mobilnya. Dia sudah tau dari awal jika ini jebakan. Ada sesuatu yang aneh tentang geng baru di daerahnya.
"Aku percaya pada kalian dan aku tidak bisa membiarkan warga mati karena orang-orang sialan ini"
Seungyoun menatapnya dengan diam. Seungwoo merasa jika daerah kekuasaannya adalah tanggung jawabnya? Pria itu wali kota atau apa?
"Hyung. Kami akan mundur, beberapa sisanya tertangkap polisi dan tidak ada yang tersisa untuk kami" Hangyul menghubungi, suaranya terdengar kurang stabil karena berlari.
"Baik. Akan ku serahkan beberapa orang terakhir pada, Changkyun kau dengar? Begitu kami menjemputmu semua harus beres" Seungwoo bertanya.
"Siap, Hyung"
Tidak lama Hangyul, Seulgi dan Hanse sampai pada mobil mereka. Pakaian mereka kotor karena darah. Mereka masuk lalu melepas topeng mereka, mendesah lega.
"Sialan, Hanse hampir menebasku beberapa kali" Seulgi mengumpat, mencoba memukul rekannya. Mereka seperti anak kecil yang bertengkar dengan saling pukul ringan.
"aw tanganku sakit. Maaf maaf kan tidak sengaja" Keluh Hanse.
"Nanti kita ke dokter Irene tenang saja" sahut Hangyul.
Ada 3 orang yang tertangkap polisi. Mereka sedang digiring menuju blok A. Posisi yang terpisah itu membuat Changkyun lebih mudah untuk membunuhnya. Teropongnya dapat menangkap dengan mudah dimana posisi para target terakhirnya. Dia bersiap menembak, 1 orang mati, 2 orang mati, 3 orang mati. Anggota geng hari ini telah mereka basmi tanpa tersisa. Tidak ada saksi mata yang akan memperburuk situasi mereka. Begitu selesai Changkyun memasukkan senjatanya kembali ke tempat gitarnya. Kacamata bulat yang dia taruh di baju kembali dia pakai.
Dia berjalan ke bawah dengan tenang. Lalu keluar dari gedung tinggi itu. Tidak lama jemputannya datang. Dia masuk dan menyapa kelima orang yang terlihat acak-acakan itu. Hanya dia yang masih terlihat rapi.
"Hai kawan. Kalian terlihat jelek" Seulgi meninju perut pria itu cukup keras. Membuatnya mengaduh kesakitan karena serangan tak terduga.
"Diam kau sialan"
Seungyoun dan Seungwoo yang berada di depan hanya menggelengkan kepalanya. Kedua anak di belakang mereka tidak bisa akur sama sekali. Beberapa menit kemudian keributan itu terjadi lagi. Pertengkaran kecil karena masalah yang tidak berguna. Mereka hanya bisa tertawa saat salah satu hanya bisa kalah.
Siapa sangka keempat orang yang kekanakan di belakang baru saja menghabisi puluhan nyawa orang. Mereka bersikap santai seperti tidak terjadi apapun. Namun yang Seungyoun tau, itu pantas. Orang-orang tadi pantas mati karena banyak alasan. Dan Han Seungwoo yang kejam yang dia tahu ternyata orang yang cukup baik. Dia berjalan di jalannya sendiri dan berbuat benar tanpa ada aturan yang mengendalikan. Selama hal itu dapat menyelamatkan orang lain dan tidak membahayakan rekan rekannya.
"Kenapa menatapku? Aku tampan?" Ocehan bodoh Seungwoo yang biasa dia keluarkan pada malam hari kali ini terucap begitu saja. Keempat orang di belakang tiba-tiba diam menyaksikan. Situasi langka macam apa ini.
"Yah, lumayan" Seungyoun terang-terangan merespon positif.
Changkyun dan Seulgi terdengar paling kencang berteriak. Dalam sekejap mobil itu hampir saja oleng karena si sopirnya kurang berkonsentrasi. Han Seungwoo hampir kehilangan akalnya.
.
.
.
.
To be Continue
Seungwoo be like: Madep sono lu bikin oleng aja
Jangan lupa like, komen, dan favorit guys! Thanks❤️