
Para penghuni meja makan itu menatap ke arah seorang pria dengan tampilan acak-acakan. Sekali lagi pria itu terlihat mengabaikan penampilannya, Joy yang paling terkejut. Bahkan dalam keadaan kacau pun, pria itu masih tampan dengan ajaibnya.
Kim Wooseok yang terlihat layu dengan mata panda nya melempar senyum ke arah Seungwoo. Dia baru kembali pagi ini.
"Tolong bawakan dua porsi sarapan ke kamarku" ujarnya kepada seorang maid nya.
"Kemana Seungyoun-Hyung?" Sunghoon akhirnya bertanya.
"Dia sedikit sakit"
Irene menyahut dengan tidak santainya. "Biar ku periksa-"
"Tidak perlu. Dia sudah baikan" Wajah tanpa dosanya itu membiarkan bibirnya terus membual. Membuat mereka manerka-nerka, apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa di antara mereka mulai tersenyum tipis karena paham, tidak ada yang berani berkata karena Joy masih ada di sana. "Pokoknya jangan ganggu dia sementara waktu. Hangyul, kau harus bersiap-siap untuk mengawal Joy sampai di kantornya"
"Siap pak bos!" Sahutnya semangat. Hangyul terlihat senang, dia sesekali menyuapi Hanse karena pria itu masih kesulitan makan sendiri.
Han Seungwoo kembali ke kamarnya, di depan jendela besar di kamarnya sudah duduk Seungyoun menatap ke luar. Rambutnya masih sedikit berantakan. Dia menunggu Seungwoo untuk sarapan bersama.
"Bagaimana tidurmu?"
"Nyenyak" Pria itu menjawab sekenanya. Kausnya yang sedikit turun ke samping dengan cepat dia tarik ke atas.
"Kenapa kau malu-malu padaku?" Seungwoo mengunyah makanannya seperti tidak terjadi apapun. Seungyoun tidak menjawab, gerak tubuhnya nampak canggung. Tanda merah di sekitar tulang selangka dan leher bawahnya terlihat jelas. Pria itu menandainya dengan berlebihan semalam.
"Maaf" ucap Seungyoun pelan. Dia menatap Seungwoo yang duduk di depannya. Seungwoo menatap balik lalu tersenyum, wajahnya berubah lembut. Seungyoun kewalahan mengatur mimik wajahnya akibat serangan mendadak itu.
"Kenapa minta maaf?"
"Karena aku belum siap untuk itu"
"Kau akan melakukannya jika kau mau. Aku tidak pernah memaksa dan jangan terpaksa. Aku juga tidak ingin menjadi seorang pemerk*osa. Berhenti meminta maaf, aku tidak masalah, Youn" Han Seungwoo kembali memasukkan makanan ke mulutnya. Wajahnya tenang tanpa emosi. Sekali lagi Seungyoun dibuat bingung, kenapa Seungwoo memperlakukannya seperti ini.
Kejadian semalam membuatnya diliputi rasa khawatir dan bingung. Seungwoo menjawab pertanyaannya dengan cara tidak biasa. Perlakuannya semalam itu di luar perkiraan Seungyoun.
Sebelum perlakuan Seungwoo ke tahap lebih lanjut tiba-tiba pria tampan itu menghentikan aksinya, dia menatap Seungyoun lama sebelum bertanya. 'Apa kau mengijinkanku untuk melanjutkannya?'
Dengan sisa kewarasannya Seungyoun menjawab tidak dan menolak. Seungwoo mundur perlahan dan melepasnya dengan mudah. Han Seungwoo terlihat kecewa namun tidak marah. Dia meminta maaf atas kiss mark yang ditinggalkannya dan pergi ke kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya.
"Kenapa kau memperlakukanku seperti ini?"
Oke, mari kita ambil kesimpulan jika Cho Seungyoun benar-benar orang bodoh yang bebal. Dia masih belum paham jawaban Seungwoo semalam, atau mungkin menolak paham. Pria tinggi itu lagi-lagi menatapnya tanpa marah.
"Karena aku mencintaimu"
"Kenapa mencintaiku? Alasannya?"
"Tidak perlu alasan. Asal kau Cho Seungyoun yang ku cintai sekarang. Aku akan tetap mencintaimu apapun yang terjadi" Han Seungwoo menjawab dengan tegas sembari mengunyah sarapannya. "Jangan banyak bicara. Cepat sarapan, laporan hari ini sudah menumpuk"
Seungyoun tidak bertanya. Dia mulai memakan sarapannya sambil sesekali menatap sengit ke arah Seungwoo. "Dasar Playboy sialan" umpatnya pelan.
"Makan yang benar. Jangan bicara saat mengunyah"
"Kau juga bicara saat mengunyah" Sahut Seungyoun tidak terima. Jadilah pertengkaran kecil itu mewarnai pagi mereka.
Wanita cantik itu akhirnya kembali ke tempat kerjanya setelah hampir 2 Minggu tidak hadir. Kim Wooseok mengurus semuanya. Pria asing milik perusahaan lain itu tiba-tiba mengambil alih untuk sementara.
Dia memasang wajah cerah sembari menyapa beberapa karyawannya. Seorang wanita lain datang dari arah depan, membungkuk hormat padanya. Wendy ikut di belakang Joy sama seperti Hangyul. Pekerjaannya dengan mengejutkan tidak menumpuk, terimakasih kepada Kim Wooseok karena menggunakan jam tidurnya untuk mengurus pekerjaannya.
Wendy merupakan orang pilihan Han Seungwoo lewat wawancara singkat. Pria itu menyiapkan seseorang yang bisa mendukung kinerja Joy agar tetap stabil. Wendy juga dipilih karena kesetiaannya dan hormat pada Joy. Wanita itu adalah yang terbaik. Dia pamit undur diri setelah membicarakan beberapa hal.
Pekerjaan ini menurut Hangyul cukup membuang waktu. Padahal tidak ada yang harus dia lakukan selain mengawasi Joy. Hangyul membuka ponselnya, tidak ada chat dari teman-temannya atau Seungwoo. Maka di sanalah Hangyul duduk sok sibuk membolak-balik layar ponselnya.
"Hoam..." Joy menguap. Dia meregangkan tubuhnya, pekerjaan nya sudah setengah selesai. "Hangyul-ssi" Panggilnya. Hangyul segera mendekat karena dipanggil.
"Ada yang bisa Saya bantu?" kalimatnya terdengar aneh karena suatu alasan. Joy tertawa kecil.
"Walau di antara yang lain kau yang paling kurang dekat, jangan se formal itu padaku"
Hangyul menggaruk tengkuknya. Dia selalu memiliki misi di luar akhir-akhir ini. Walaupun di rumah, mereka hanya bertemu saat jam makan pagi atau malam. Sebenarnya pria itu menghindar, dia salah tingkah jika di dekat dengan Joy.
"Jadi kenapa memanggilku?" Hangyul bertanya lagi.
"Duduk di sini, mengerjakan semua ini membuatku merasa bosan" Joy menunjuk kursi di samping meja.
"Seungyoun bilang, aku harus berteman dengan kalian karena akan bertemu setiap hari seperti ini. Aku tidak tahu jika dia memperhatikanku selama ini, aku memang sulit untuk berteman" Wanita itu tiba-tiba curhat dengan wajah sedihnya yang terlihat lucu.
"Kenapa begitu?" Tanya Hangyul.
"Aku minder, karena bodoh dan tidak berguna" Joy menjawab dengan terang-terangan. Dia menatap Hangyul dan mengabaikan pekerjaannya. "Bukan maksudku untuk dikasihani. Tapi aku mencoba jujur"
"Ada... Seorang pria" Hangyul mecelos karena jawaban itu. Rupanya Joy sudah punya seseorang yang bisa diandalkan. "Dia terlihat jahat pada orang lain, tapi selalu membelaku. Dia bisa memberikan arahan padaku bagaimana harus bersikap. Han Seungwoo yang dulu seperti itu padaku"
Hangyul merasa kecewa. Si bosnya itu berhasil mengambil hati wanita cantik ini. Tapi yang Hangyul lihat Joy selalu diacuhkan saat di mansion.
"Kau pasti sedih karena Seungwoo-Hyung berubah. Tapi sebaiknya jangan terlalu mengusiknya, dia cukup berbahaya" Hangyul memperingati.
"Aku sudah melakukannya. Aku datang ke sana untuk mengusiknya, walau aku tahu mungkin aku bisa mati. Tapi nyatanya tidak"
Hangyul merasa tidak nyaman, wanita ini bisa benar-benar disingkirkan jika terus di sana. Hangyul menyayangkan cinta buta Joy pada Seungwoo. Dia berusaha membujuk wanita ini untuk mundur dari sana. "Dia tidak bisa ditebak. Seungwoo-Hyung akan mengambil tindakan tegas jika kau bertindak lebih jauh. Walau aku sering membunuh orang, tapi untuk kasus mu... Kau bukan seseorang yang masuk ke dalam target, Joy. Jadi aku menyayangkan jika sampai terjadi sesuatu padamu"
Joy tersenyum. Ah, hatinya jadi menghangat karena dikhawatirkan. Hangyul terlihat benar-benar cemas saat ini, takut jika wanita itu tetap pada rencananya. Mengambil Han Seungwoo nya.
"Awalnya begitu. Aku mau mengambil milikku. Tapi ternyata dari awal dia bukan milikku" Sampai pada tahap ini Hangyul benar-benar menyerah untuk mengerti wanita. Pantas saja Hanse sangat betah sendiri, memahami wanita itu sulit. Jadi dia hanya diam sambil bertanya dalam hati. 'Jadi sekarang apa maksudmu?'
"Kupikir kami berada di posisi yang sama. Tapi aku menyadarinya sekarang, Cho Seungyoun juga mencintai Han Seungwoo. Hanya aku yang bertepuk sebelah tangan" Joy tersenyum kecut, manik matanya bergetar menahan tangis. Lalu wajahnya dia alihkan kembali ke tumpukan berkas di depannya.
Ada begitu banyak hal yang ingin dia ungkapkan. Tapi sekali lagi, Joy tidak punya tempat berkeluh kesah. Dia sendirian di dunia ini. Para eksekutif Seungwoo juga hanya sekedar ramah padanya, Joy merasa dia tidak diterima di manapun.
Pagi tadi walau tidak diucapkan secara tegas, dia tahu apa yang baru dilakukan oleh Seungwoo. Pria itu mungkin saja baru meniduri istri pertamanya. Cho Seungyoun. Atau mungkin tidak. Hatinya kacau sedari tadi pagi, di saat perjalanan berangkat tadi pun rasanya Joy hanya ingin menangis. Dia menyalahkan Cho Seungyoun sejak pertama kenal. Dia menganggap pria itu merebut prianya.
Joy mendapatkan kewarasannya setelah memasuki kantor. Melihat karyawan yang dulu tidak hormat padanya kini menjadi segan. Melihat Wendy yang tunduk dan patuh walau tahu dia mengabdi pada bos tidak cakap sepertinya. Han Seungwoo berlaku banyak padanya hanya untuk membangun image baik, itu akan mempengaruhi citranya sendiri. Dengan kata lain, pria itu memperalatnya. Dia tidak mencintainya dari awal dan Joy tidak perlu memperjuangkan apa yang tidak dapat diperjuangkan.
"Kau akan menyerah sekarang?" Ucapan Hangyul memecah keheningan yang canggung. Joy hanya mengangguk tanpa menatapnya. "Baguslah. Berhenti menyukainya atau kau akan lebih terluka. Buka hatimu pada yang lain. Apapun yang terjadi, masih ada aku, temanmu"
Joy hanya tidak yakin kalimat Hangyul itu berarti baik atau buruk. Tapi dukungannya mungkin membawa Joy ke arah yang lebih baik. Mungkin dia bisa bahagia jika pergi dari sana, lagipula Joy tidak ingin menghambat Seungwoo untuk menjalankan bisnisnya.
"Terimakasih, Gyul. Kau orang yang menyenangkan" Joy mengusap mata basahnya. "Senang berteman denganmu"
Pintu kamar itu diketuk beberapa kali. Seungwoo yang sedang mendampingi Seungyoun untuk memeriksa laporan berdecak kesal. Dia tidak ingin diganggu hari ini, jika perlu sesuatu cukup chat saja. Semua orang di mansion sudah diberikan perintah. Seungwoo membuka pintu dengan muka masamnya. Di depan berdiri Joy dengan senyum cantiknya. Wanita itu menampilkan gigi rapinya yang putih, menyengir kuda.
"Aku mau pamit" ucapnya cepat.
"Mau ke mana?"
"Mau pulang" Seungwoo menautkan alisnya. Seungyoun menyembul dari balik bahu Seungwoo.
"Kenapa, Joy?" Tanyanya.
"Hai, Youn. Aku mau pulang"
Seungyoun menyingkirkan Han Seungwoo dari hadapannya. "Tunggu. Siapa yang mengganggumu? Akan ku hajar kalau perlu" Seungyoun bermaksud menyindir Seungwoo. Dia mengira jika sikap kasar pria itu membuat Joy tidak betah.
"Tidak, Youn. Aku akan sibuk mulai sekarang, dan jarak mansion ke kantorku ternyata sangat jauh. Jadi aku akan kembali" Joy mengusap siku tangannya. Dia berbohong, dan Seungwoo tidak begitu perduli. Akan bagus jika Joy tidak di sana, dia hanya akan menganggu bisnisnya yang lain.
"Oke. Hati-hati di jalan. Akan ku suruh Hangyul mengantarmu pulang" ucap Seungwoo.
"Dah...Terimakasih" Joy pergi dari sana membawa kopernya.
"Dia berbohong" Ujar Seungyoun.
"Aku tahu"
"Kejar dia, bodoh"
"Tidak mau" Seungwoo melipat tangannya di depan dada.
"Setidaknya antar dia sampai di rumah, Woo"
"Apa itu perintah?"
"Permintaan. Aku khawatir padanya" Seungyoun menghembuskan nafasnya. Pria di depannya ini kelewat galak pada Joy. "Kalau kau tidak mau aku yang mengantar-"
"Ya ya aku berangkat" Seungwoo bergegas pergi mengejar Joy setelah merebut kunci mobilnya. Pria itu mengantar Joy sampai rumahnya.
.
.
.
.
To be Continue
Sad gurl Joy...