Another Wife

Another Wife
Chapter 26: Fashion Show



Cahaya jingga itu bocor ke dalam sebuah kamar kecil berwarna putih. Di dalamnya, seorang pria yang memeluk gulungan bedcover nya sebagai guling mengernyit silau karena matahari sore mengusik tidurnya.



Matanya terbuka perlahan, mencoba mencerna kenapa bagian pinggang ke bawah tubuhnya terasa remuk. Pria itu terlonjak kaget, lalu menampar pipinya sendiri. Sial, Cho Seungyoun serasa dirasuki setan tadi pagi. Pergumulannya dengan Seungwoo masih melekat kuat diingatannya. Ngomong-ngomong soal pria tinggi itu, dia tidak ada di kamar.


Sebuah kertas memo diletakkan di atas meja kecil di samping tempat tidur. Seungyoun berusaha ekstra untuk meraihnya.


'Maaf jika kau bangun tanpaku. Ambil salep di atas meja lalu obati lukamu, jangan lupa minum obatmu jika kau masih jet lag, aku ke luar sebentar.


Jangan pergi dari rumah! Atau aku akan menghukum mu!'


Seungyoun terkekeh kecil karena surat ancaman itu. Dia menuruti perintah Seungwoo, mengambil salep dan mengobati lukanya.


...----------------...


Sungai yang mengalir di dekat menara Eiffel itu tampak ramai di bagian pinggirannya. Sunghoon beberapa kali mengambil gambar lalu duduk. Dia tersenyum tipis tanpa dia sadari. Jika saja Seungwoo dan Seungyoun tidak saling marah hari ini mungkin akan lebih menyenangkan, mereka bisa jalan-jalan bersamanya.


Karena merasa lapar Sunghoon mampir di salah satu restoran kecil yang berada di tepi Sungai. Dia kebingungan memesan makanan, si pelayan tidak paham bahasa Inggris.


Pria berwajah sedikit kebarat-baratan itu datang entah dari mana. Menyerobot perbincangan Sunghoon dengan si pelayan dan terus berbicara dengan bahasa Perancis yang tidak dia ketahui.


...-Oke dari sini anggap saja mereka (Sunghoon-Si Pria) bicara dalam bahasa Inggris ya-...


"Aku bertanya tentang menu favorit" Dia menatap Sunghoon dari ekor matanya sambil tetap melihat menu. "Dia menyarankan Foie Gras, Beef Burguignon dan Escargot"


"Mana yang paling enak?" Sunghoon menjawab.


'Tinggal pilih salah satu' batin si pria.


"Kau mau pesan ketiganya agar bisa menentukan mana yang paling enak?" Si Pria asing sebenarnya hanya menggoda, tapi Sunghoon mengiyakan dengan gampangnya. Lagipula dia tidak menggunakan uangnya untuk membayar. Terimakasih kepada Han Seungwoo dan black card-nya.


"Terimakasih" ucap Sunghoon.


"Sama-sama" ucapnya. Pria itu duduk di seberang Sunghoon, dia se meja dengannya. "Aku menagih jasa translate ku"


Sunghoon menaikkan alisnya. Dia merasa dipalak sekarang, dari awal dia tidak pernah membuat kesepakatan dengan orang asing ini. Dia membantu dengan imbalan.


"Anggap saja kau sedang meneraktir tour guide mu. Gratis memandu berkeliling di sana jika kau mau" pria itu menunjuk ke arah luar, Sungai Seine. Tersenyum canggung karena wajah Sunghoon mulai sedikit seram.


Sunghoon akhirnya setuju. Lagipula dia hanya akan berbagi makanan. Dan lagi, Sunghoon akan menyetujui tawaran terakhir si pria asing untuk mengajaknya berkeliling. Dia tidak mau rugi begitu saja.


"Oke"


Setelah jam menunjukkan pukul 5 tepat, Sunghoon di antar menuju tempat awal mereka bertemu. Remaja itu tidak hafal jalannya dengan baik kecuali sampai depan restoran tadi. Maka dia di antar sampai sana lalu mereka berpisah. Jalan-jalan tadi cukup menyenangkan. Seperti harapannya, si tour guide menjelaskan dengan rinci. Pria yang terlihat seperti bukan orang Perancis itu tau banyak hal.


Setelah sampai di depan rumah dia sedikit berlari kecil ke dalam. Mungkin karena senang. Dia masuk lalu menemukan Seungyoun dan Seungwoo di ruang tengah yang sedang duduk berdampingan. Tangan Seungwoo melingkar mesra di pinggang Seungyoun.


Ah untunglah Seungyoun-Hyungnya sudah mencium pipi Seungwoo-Hyung. Mereka sudah baikan, batin Sunghoon dengan polosnya.


"Sudah pulang? Cepat kemari" Seungwoo bergeser, memberi Sunghoon tempat di tengah. "Kau suka di sini?" Sunghoon mengangguk.


"Kalau begitu, kita akan di sini 3 hari kedepan" Sunghoon dan Seungyoun mengerutkan dahinya. Kenapa si Han Seungwoo ini terlihat sangat santai di tengah-tengah misinya. "Itu bagian dari misi" lanjutnya lagi.


"Sebenarnya apa yang kita lakukan di sini. Bagaimana dengan Changkyun dan Seulgi?" Tanya Seungyoun.


"Mereka tetap di sini setelah misi nanti malam selesai. Ada misi individu" Sebelum keduanya bertanya lebih lanjut Seungwoo buru-buru melanjutkan. "Jangan banyak bertanya, hasil misi berhasil atau tidaknya, aku yang menentukan"


Tentang misi individu, hanya Seungyoun, Seungwoo dan Sunghoon yang tahu. Keempat eksekutif diberi misi yang disampaikan oleh Seungwoo sendiri. Pria itu terlihat sedang merencanakan sesuatu belakangan, tapi bahkan Seungyoun maupun Sunghoon tidak diberitahu apa isi dan maksud tindakannya.


"Hyung baik-baik saja?" Sunghoon bertanya sedikit khawatir. Seungwoo mengusak lembut rambut remaja itu.


"Ya. Jangan khawatir dan terus percaya padaku"


Seungyoun tertegun, di mata Seungwoo, untuk pertama kalinya dia melihat manik mata pria itu bergetar. Dia jelas takut dan khawatir karena suatu alasan. Tapi karena misi ini bahkan dirahasiakan dari Sunghoon, Seungyoun enggan bertanya. Dia hanya percaya jika Han Seungwoo sangat mampu mengatasi masalah ini.


Hari mulai gelap, ke tiganya mulai bersiap untuk menghadiri acara perdagangan. Tepat jam 7 malam mereka mulai berangkat dari rumah sewaan itu menuju hotel pertama yang tadi pagi mereka datangi untuk reservasi. Tidak perlu waktu lama sampai sebuah mobil putih pemberian Yibo sampai di depan mereka. Han Seungwoo berganti mobil. Menyerahkan kunci mobilnya sendiri kepada seorang supirnya, lalu pergi dari sana menggunakan mobil Yibo. Menuju tempat diadakannya fashion show.


Mereka masuk ke dalam tepat 5 menit sebelum acara. Seperti perintah Yibo, mereka menyebut kata kunci tertentu lalu mendapatkan sebuah tablet sebagai fasilitas khusus bari para anggota gelap. Tempat duduk VIP atau penonton dengan undangan berbeda dengan penonton reguler. Sebenarnya tidak ada perlakuan khusus selain lokasi tempat duduknya. Mereka harus masuk sebelum acara, jika telat penonton reguler maupun VIP benar-benar tidak bisa masuk. Peraturan mutlak yang biasa dijalankan.


Jangan sampai telat - Wang Yibo.


Seungwoo dan Seungyoun duduk berdampingan. Mereka dapat barisan paling depan.



Sedangkan Sunghoon, Changkyun dan Seulgi duduk di baris belakang secara terpisah. Agar lebih mudah mengawasi.





Mereka diam-diam memperhatikan sekeliling. Mata mereka akhirnya bertemu Wang Yibo yang duduk di sebrang Seungyoun. Dia tersenyum, mungkin merasa lega mendapati kedua orang itu akhirnya datang.



Acara itu terlihat normal. Semua berjalan seperti semestinya. Namun jika dilihat lebih detail sebuah angka muncul tepat sebelum seorang model masuk. Itu adalah kode para barang dagangan.


Seungyoun menyalakan tabletnya, halaman depannya terlihat hanya satu ikon aplikasi. Dia memencetnya, langsung terhubung pada sebuah tabel angka berjumlah puluhan. 1 angka mewakili 1 model. Semakin lama cahaya biru yang tertera di tabel mulai tergantikan warna merah, tanda jika beberapa sudah laku terjual.


Sebuah fashion show biasanya diadakan beberapa sesi. Setiap sesi biasanya diisi 2 atau 1 pedagang seperti Yibo. Saat ini semua yang berjalan memeragakan baju di depannya adalah barang milik Yibo. Seperti Seungwoo bilang sebelumnya, pria itu memiliki banyak barang -manusia- untuk diperdagangkan. Seungyoun hanya bisa lega luar biasa karena tidak jadi jatuh ke tangannya.


"Kau tidak mau membeli satu?" Seungyoun bertanya ngawur pada Seungwoo. Pria itu menautkan alisnya. Istrinya ini sangat hobi diselingkuhi rupanya.


"Untuk apa?" Seungwoo bertanya dengan polos walau batinnya sudah menuduh macam-macam.


"Diselamatkan. Siapa tahu mereka jatuh ke tangan yang salah"


"Cho Seungyoun. Itu tidak akan berguna, mereka hanya dilatih menjadi budak s*eks" Seungwoo berbisik pelan di telinga Seungyoun.


Seungyoun baru ingat jika Seungwoo hanya mau orang yang berguna. "Maksudmu para prianya juga?"


"Tentu. Kenapa? Tidak ada alasan seorang pria tidak bisa ditiduri. Kita juga melakukannya tadi pagi, sudah lupa?"


Sial si Han Seungwoo. Seungyoun tersenyum canggung sekarang. Dia hanya bertanya tapi Seungwoo malah menggodanya. Jika bukan di tempat umum, Seungwoo pasti sudah mencium dan mengigit gemas pipi pria kecilnya yang kini memerah.



Yibo menatap ke depan dengan pandangan sedikit iri. Ah sial, seharusnya dia bisa mendapatkan pria manis itu. Tapi Han Seungwoo mengambilnya menjadi istrinya. Dia sedikit cemburu.


Seulgi yang pertama kali menyadari ada sepasang mata yang terus menatap Tuannya. Pria paruh baya yang sedikit gempal itu diam-diam melirik ke arah Seungwoo dan Yibo bergantian. Wang Yibo nampak sedikit gelisah karena sadar sedang diawasi. Pantas saja dia minta tolong pada Seungwoo. Pria itu sedang terancam. Melalui ponsel nya, Seulgi mengirimi Seungwoo pesan teks.


Pria itu membuka ponselnya ketika mendapat pesan. Mengangkat benda segi empat itu sedikit tinggi lalu pura-pura memotret para model. Begitu mengetahui isi pesan matanya beralih ke arah Yibo. Pria itu tersenyum miring karena Seungwoo sudah paham siapa musuhnya.


Seungwoo memasang wajah suramnya. "Sialan kau, Wang Yibo"


.


.


.


.


To be Continue


Loh loh... apa yang terjadi?



Si mami dan papi Han lagi bisik-bisik apa tuh?