Another Wife

Another Wife
Chapter 24: Keberangkatan



Tinggal 1 hari sebelum keberangkatan misi mereka. Seungyoun menanyakan tentang persiapan yang akan di bawa. Han Seungwoo hanya memberi daftarnya.


Seperti misi biasanya, kelengkapan paspor, senjata, rencana cadangan yang dibuat, dan perlengkapan komunikasi, semua mereka siapkan pada hari itu juga.


Seulgi membawa banyak racun kecilnya yang berharga, obat itu sudah lulus uji coba. Mereka ditempatkan di dalam kotak kayu dengan keamanan ekstra sehingga tidak mungkin pecah jika terjatuh. Dia melihat berjejer botol kaca kecil itu dengan senyuman mengembang. Anak-anak ciptaannya terlihat cantik dan berjejer rapi.


Sementara Seungyoun dibuat pusing karena Sunghoon ingin ikut bersamanya. Laki-laki tampan itu entah sejak kapan selalu menempel padanya. Seungyoun menolak, lagipula Yibo bukan orang yang bisa dipercaya, namun akhirnya Seungyoun menyerah, dia dengan pasrah membawa Sunghoon bersama mereka.


Sunghoon sedang duduk santai sambil mengunyah sereal nya di depan Tv. Bocah itu memiliki kebiasaan menonton Tv dan duduk di sofa kesayangan Changkyun. Seungyoun duduk di sampingnya sambil melihat catatan di tangannya. Han Seungwoo sejak kemarin sore menjadi diam padanya, pagi ini dia menyerahkan catatan dan pergi untuk mengurus perusahaan farmasinya sendiri. Kim Wooseok masih teler di tempat tidurnya. Dia mendapatkan cutinya hari ini.


"Hoon. Apa Hyung mu marah padaku?"


"Siapa? Seungwoo-Hyung?" Seungyoun mengangguk. "Sepertinya ya" Dia sibuk menyendok sesuap sereal ke mulutnya.


"Menurutmu kenapa?"


Sunghoon mengangkat bahunya, kemudian mulai bicara dengan mulut penuhnya. "Karena kau menyebalkan"


"Huh? Kenapa aku menyebalkan?"


Sunghoon menghela nafasnya kasar. Seungyoun ini benar-benar menganggu acara nonton Tvnya. Dan lagi, pria itu sangat tidak peka.


"Kalau Seungwoo-Hyung tidak suka dengan seseorang, jangan bicarakan dia di depannya. Tapi kau terus-terusan bilang Joy Joy Joy, jujur saja kupingku juga terganggu sejak kemarin"


Untuk yang satu itu dia paham. Seungwoo tidak suka pada wanita itu. Sebuah gagasan muncul di otaknya, "Apa menurutmu dia cemburu karena aku perhatian pada Joy?"


"Akhirnya kau paham juga, sialan" Itu Kim Wooseok yang menyahut, dia datang dari arah dapur sambil menggaruk pipinya. "Aku ingin bilang dari tadi sore. Tapi karena si bos di rumah aku tidak berani. Untung saja dia cinta padamu, kalau tidak kau sudah dipasung di penjara bawah" Sewot Wooseok. Sunghoon mengangguk setuju, sementara Seungyoun yang disudutkan hanya memanyunkan bibirnya kesal.


"Hyung. Kalau Seungwoo-Hyung masih marah, kata Changkyun kau disuruh mencium pipinya saja" Perkataan Sunghoon membuat kedua orang dewasa itu melotot padanya. Si sumber maksiat di sini adalah Changkyun.


"Heh bocah kecil. Jangan bicara sembarangan, Seungwoo bisa menampar bibirmu kalau dengar" ucap Wooseok.


"Bukan urusan mu Kim Wooseok" Bocah setan itu hanya sopan pada Seungyoun dan Seungwoo.


...----------------...


Pagi pagi sekali mereka bersiap berangkat. Beberapa peralatan sudah mereka siapkan dengan matang, mereka membawa masing-masing 2 pistol berkaliber peluru 99mm. Persediaan itu tertata rapi di dalam kotak hitam yang biasa digunakan Changkyun dan Seulgi untuk misi mereka.


Dengan jet pribadi ke lima orang itu berangkat pada jam 5 pagi menuju Paris, Perancis.


Seungyoun duduk bersama Seungwoo, walau terlihat marah pria itu mengusir Sunghoon yang sudah menempel di kursi sebelah Seungyoun. Akhirnya dia menyingkir.


Tidak ada percakapan. Seungwoo malah tidur di sampingnya, membuat Seungyoun kesepian. Jujur dia takut pada Seungwoo, dia terus diam dengan wajah dinginnya. Seungyoun melihat ke luar jendela jet nya, tanpa sadar dia menghela nafasnya berat beberapa kali. Dalam 10 jam waktu perjalanan itu, akhirnya dia memilih untuk tidur.


Mereka sampai di Paris pada jam 8 pagi waktu setempat. Perbedaan waktu yang besar itu membuat Seungyoun mendapat jet lag. Barang bawaan mereka akan diurus oleh anak buah Seungwoo, Changkyun dan Seulgi berpisah setelah mendarat. Kini tinggal Seungyoun, Seungwoo, dan Sunghoon yang berjalan terpisah. Lagi-lagi pria itu mengabaikannya.





Sunghoon yang melihat pemandangan aneh itu hanya berdecak. Seungwoo-Hyung nya terlihat cuek pada Seungyoun. Lalu si pria kecil itu hanya pasrah tanpa usaha membujuk. 'Sudah ku bilang kan. Cium pipinya. Dasar tsundere' batin Sunghoon memprotes.


Seungyoun menggandeng tangan Sunghoon lalu berjalan beriringan. Dia takut bocah itu hilang. Setelah berjalan ke jalan besar, sebuah mobil sudah terparkir rapi di sana. Kaca mobil itu turun, memperlihatkan Yibo yang berada di kursi belakang.


Yibo memberikan undangan padanya. "Karena hanya 2, teman kecilmu itu tidak masuk ke penonton VIP" Ucap Yibo menunjuk Sunghoon. Dia menyerahkan sebuah kunci mobil kepada Seungwoo, sebuah fasilitas darinya.


"Tidak masalah. Dia akan datang sebagai penonton reguler" Jawab Seungwoo.


"Baik, jangan sampai telat" 3 mobil itu berlalu dari hadapannya.



Seungwoo berjalan ke sisi lain bahu jalan dan memasuki sebuah mobil putih. Dia menawarkan kepada Sunghoon untuk menyetir, lalu memperlihatkan Maps menuju hotel terdekat. Bocah itu mau mau saja, lagipula dia mempunyai SIM internasional. Jadilah kini Seungyoun dan Seungwoo duduk di jok tengah dengan saling diam.


Tidak lama mobil bermerk Audi A3 putih yang elegan itu berhenti pada sebuah hotel bintang lima yang besar. Mereka berhenti di sana lalu keluar dari mobil. Seorang petugas valet dengan cepat menghampirinya, Seungwoo memberikan beberapa lembar uang untuk tip lalu masuk ke dalam hotel untuk reservasi.


Seungyoun berdiri di luar. Beberapa kali pria itu menatap jam tangannya. Tidak lama sebuah mobil putih yang tidak kalah mewah itu berhenti di depannya. Seorang pria turun dari sana, menunduk hormat padanya. "Terimakasih" ucap Seungyoun setelah menerima kunci mobil itu.



Seungyoun menunggu di dalam bersama Sunghoon. Setelah pria yang mengantarkan mobil itu masuk, Seungwoo keluar dari hotel. Duduk di kemudi lalu tancap gas menuju tempat lain. Dia meninggalkan hotel setelah selesai reservasi, menuju beberapa hotel lain di daerah yang sama dan melakukan reservasi lagi. Akhirnya tujuan mereka sampai pada sebuah apartemen kecil sewaan Seungwoo. Lokasi tempat itu cukup dekat menara Eiffel dengan posisi di lantai atas, bahkan mereka dengan jelas bisa melihatnya dari jendela.


Sunghoon berlari ke luar balkon. Matanya tampak kagum dengan pemandangan dari atas sana. Seungyoun mendudukkan tubuhnya di sofa, dia lelah bukan main.


"Waktunya makan malam" Seungwoo berujar sambil meletakkan kopernya. Walau sekarang masih pagi namun jika disamakan waktu Korea Selatan, mereka seharusnya akan makan malam.


Seungyoun tidak tahu pasti jika pria dingin itu bisa memasak, dia berkutat di dapur kecil yang terhubung langsung dengan ruang tamu yang berfungsi juga sebagai ruang berkumpul. Apartemen kecil sederhana itu terlihat nyaman sebagai rumah. Seungyoun menyukai tempat sempit ini.


Sunghoon membereskan beberapa baju yang mereka bawa. Di rumah kecil itu hanya ada 2 kamar, Seungyoun melihat-lihat dan meletakkan bajunya di lemari. Membiarkan Seungwoo sendirian memasak di dapur. Bahan-bahan sudah tersedia dengan lengkap di kulkas, persiapan Seungwoo bukan main-main. Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa pria kaya sepertinya menyewa tempat kecil seperti ini. Seungyoun kira Seungwoo mungkin sedikit kurang nyaman jika berada di tempat ini.


Pria kecil itu merebahkan tubuhnya di kasur. Ah kesederhanaan ini membuatnya nyaman. Seungyoun ingin hidup seperti ini selamanya. Menjadi kaya tidak sepenuhnya menyenangkan. Tidak lama kepala Sunghoon menyembul dari balik pintu.


"Hyung, ayo makan" Seungyoun pun keluar tanpa banyak kata.


Seungwoo sudah mempersiapkan semuanya di sana. Mereka akan makan di balkon luar. Pria itu benar-benar niat dengan makan malam -sarapan- mereka kali ini.



Suasana ini benar-benar asing bagi mereka bertiga. Sunghoon terlihat paling senang melihat pemandangan itu sambil sesekali melihat Seungyoun dan Seungwoo. Bocah itu seperti ingin menunjukkan kepada kedua orang tuanya hal bagus yang dia lihat, membuat Seungyoun tersenyum kecil karena kelakuan lucunya.


Sunghoon sangat ingin makan pasta. Maka Seungwoo membuatkannya seporsi pasta Chicken Tortellini dengan saus keju Parmesan. Benda itu berselimut saus putih tipis yang terlihat creamy.



Sementara untuk Seungyoun dan Seungwoo, di depan mereka terdapat sebuah mangkuk berisi sup. Soupe a l'oignon tersaji lengkap dengan rotinya. Aroma sedap itu menggoda hidung Seungyoun sedari tadi. Dia nampak asing dengan menu di depannya.



Makanan ini terlalu lezat untuk dia makan. Seungwoo, apa yang tidak bisa dia lakukan?


"Apa itu sebuah pujian?"


Seungyoun mengangguk. Seungwoo tidak sengaja melepas senyumnya. Wajah dingin yang dia pertahankan hilang dalam sekejap. Pria itu nampak kesal dengan dirinya sendiri.


"Acara nanti malam akan dimulai jam 8 tepat. Waktu kita masih panjang, jadi Sunghoon. Kau mau berkeliling sebentar?" Seungwoo menawarinya.


"Mau!" Sahutnya semangat.


"Habiskan dulu makan mu" Bocah itu dengan singkat menghabiskan makanannya. Dia meminum segelas jus jeruk yang Seungwoo siapkan, lalu tidak lupa memakan makanan penutup.



Crème Brulee itu memiliki aroma vanilla dan caramel yang kuat (Serius guys kalian harus coba, enak). Tipe makanan manis yang menaikkan mood.


Mereka bertiga selesai sarapan. Sunghoon langsung bangun dan merapikan mejanya. Dia tidak sabar berkeliling.


"Ayo Hyung" Ajaknya pada Seungwoo dan Seungyoun. Seungwoo mengeluarkan black card miliknya, memberikan kepada Sunghoon.


"Ada yang harus ku bicarakan dengan Seungyoun. Kau pergi sendiri saja, jangan pulang larut malam"


Sunghoon menekuk wajahnya. Dia peka dan pergi begitu saja. Jangan pulang larut malam artinya pulang sore saja. Seungwoo mengusirnya. Tapi begitu dia pergi Sunghoon hanya mengembuskan nafasnya. 'Oh mungkin kali ini Seungyoun-Hyung akan mencium pipi Seungwoo-Hyung agar mereka tidak saling marah' pikirnya.


Dasar Sunghoon dengan pikiran polosnya. Dia tidak tahu saja apa yang selanjutnya terjadi.


 


...----------------...


"Aku memberimu kesempatan untuk bicara padaku" Seungwoo berujar sambil mencuci piringnya. Dia sadar Seungyoun bertingkah aneh sejak di dalam jet.


Tanpa dia duga, Seungwoo di peluk dari belakang. Seungyoun mencium sekilas pipi kirinya. Jantungnya hampir meloncat dari tenggorokan.


"Kenapa menciumku?" Sialan si Han Seungwoo dengan nadanya yang berusaha datar. Seungyoun mencelos karena saran dari Sunghoon ternyata tidak berhasil.


'Cup' sekali lagi. 'Cup' 'Cup' dan lagi. Pria kecil itu memiliki kulit wajah seperti tomat sekarang.


"Maafkan aku" cicitnya.


Seungwoo mengacuhkan piring kotornya. Melepas sarung tangan karet yang dia kenakan. Menatap Seungyoun yang malu bukan main. Wajah garangnya masih terpasang.


"Kenapa minta maaf?" Han Seungwoo berusaha bodoh.


"Karena membuatmu cemburu. Tapi bukannya aku tertarik dengan Jo-" perkataan itu dipotong oleh bungkaman bibir Seungwoo. Dia dicium tanpa aba-aba.


"Kalau kau tau. Jangan sebut dia di hadapanku lagi. Atau aku akan menciummu sampai kau minta ampun padaku"


Seungyoun mengangguk. Hatinya lega bukan main, Seungwoo tidak marah padanya, pria itu sedikit lucu kalau cemburu, matanya memicing tidak suka sementara bibirnya selalu turun ke bawah. Sikapnya menjadi lebih lembut padannya. Maka ide jahil tiba-tiba terlintas di otaknya.


"Kau tau kan aku tidak menyukai Jo-" Lagi, Han Seungwoo membungkamnya dengan kecupan singkat.


"Maksudku Jo-"


'Cup'


Seungyoun tertawa kecil.


"Cho Seungyoun. Ku peringatkan kau"


"Jo-"


'Cup'


"Joy"


Seungwoo tersenyum miring. Pria kecilnya sedang menggodanya sekarang.


"Baiklah, Youn. Kau yang memancingku untuk melakukannya"


Setelah itu Seungwoo menerjang ke arahnya. Tangan kanannya dia letakkan di kepala belakang Seungyoun, mencegah pria itu kewalahan dari dorongannya. Bibirnya mencium Seungyoun sedikit kasar, luma*tannya menjadi tidak beraturan dan terkesan menuntut.


Seungyoun mengalungkan tangannya pada leher Seungwoo, memperdalam ciuman itu. Lidah Seungwoo telah masuk, menginvasi mulutnya dengan lebih kasar dari sebelumnya. Pria itu mengigit bibirnya sesekali, membuatnya sedikit lecet di sana sini. Mengabsen giginya satu persatu. Menekan lidahnya, mengajak bermain tanpa henti sampai membuatnya sesak dan kelimpungan.


"Mmhh...akh" Seungyoun melepasnya paksa, Seungwoo sempat mengigit bibirnya lagi tadi. Membuatnya mengerang. Dia meminta jeda, Seungwoo menatap ke arahnya dengan senyum remeh.


"Terima hukumanmu, Youn" Setelah itu bibir manis itu dilahap lagi oleh Han Seungwoo.


Pagi itu mereka melakukannya lagi dengan lebih intens kali ini. Apakah akan sampai ke tahap lebih lanjut?


.


.


.


.


To be Continue.


Yang selanjutnya ada adegan haram guys. Karena next chapter penyebab utama Novel ini di banned/di hapus paksa...


Hayoloo apa kalian penasaran isinya apa?


Bakalan di up ulang atau di hapus atau... apa mau kalian? Request dong


Sebelumnya makasih ya udh dukung author... jangan lupa like, vote, komen dan favorit ya!


See you di next chapter