Another Wife

Another Wife
Chapter 18: Pembersihan



Tepat jam 6 pagi sebuah panggilan masuk, menganggu seorang pria yang masih enggan untuk bangun dari tidurnya. Dia menyembunyikan kepalanya di bawah bantal. Panggilan itu akhirnya diterima oleh orang yang baru selesai mencuci wajahnya.


"Bicaralah"


"Mulai tadi malam banyak orang berkumpul di daerah ini, hampir ratusan. Mereka memblokir jalan tadi pagi, mungkin polisi akan datang sebentar lagi, Tuan" Laporan singkat itu membuat alisnya bertaut. Anak buahnya masih menunggu keputusan di seberang sana.


"Laporkan setiap setengah jam sekali lewat pesan suara. Jangan bergerak dan muncul. Tunggu perintahku"


"Baik, Tuan" panggilan itu terputus. Seungwoo menatap sekilas Seungyoun yang masih tidur dengan kepala di bawah bantalnya. Dia keluar. Mencari keberadaan Hanse dan Hangyul, mereka seharusnya sudah pulang tadi malam.


"Do Hanse!" Hanse yang sedang pemanasan di luar rumah segera mengalihkan pandangannya. Bosnya selalu mengganggunya ketika lari pagi. "Hangyul sudah pulang?"


"Sudah. Kenapa Hyung?"


"Bangunkan dan kumpulkan semua di ruang tengah"


"Oke!"


Keempat orang yang masih setengah sadar plus Hanse yang sudah terlihat bugar itu berkumpul di ruangan tengah mansion. Seungwoo berjalan mendekat sambil membawa tabletnya. Memastikan beberapa data yang baru terkirim dari anak buahnya.


"Bersiap-siap untuk terjun jika diperlukan. Hari ini kita akan ke cabang barat untuk bekerja. Keadaan di sana sedikit tidak stabil, dan polisi sudah turun tangan. Jangan biarkan daerah kita diambil alih dan jangan biarkan polisi menangkap mangsa kita"


"Bukankah ada pos penjagaan di sana?" Seulgi mengajukan pertanyaan.


"Geng baru itu memiliki cukup banyak anggota untuk meruntuhkan pos. Aku sudah kirim bantuan dan pengintai. Mereka ku larang untuk bergerak, tapi daerah itu benar-benar dalam teror sekarang. Para perusuh ini sedikit keterlaluan" Seungwoo memberi penjelasan.


"Hyung. Bukankah itu tiba-tiba? Tahun sebelumnya bahkan tidak ada yang berani menginjakkan kaki di daerah kita. Lagipula biasanya para geng ini cukup lama mengumpulkan anggotanya, kalaupun cepat pasti butuh sebuah promosi. Jadi kita tidak mungkin tidak tahu" Changkyun mengangguk setuju. Tumben Hangyul menggunakan otaknya dengan benar.


"Tentu saja ada penyebab dan dalangnya. Mungkin tujuan sebenarnya bukan untuk mengambil alih daerah kita. Tapi sesuatu yang lebih besar" Seungyoun berujar. Dia pikir hal ini sudah aneh dari awal. Teror itu terus dilakukan secara bertahap dan terus menerus. Kalaupun mereka ingin mengambil alih daerah seharusnya cepat lakukan saja. Seungwoo tersenyum puas, bertukar pikiran seperti ini meringankan tugasnya. Teori yang muncul itu cukup masuk akal untuk sekarang.


Dari pembicaraan singkat ini. Seungwoo mengambil kesimpulan. Ada sesuatu yang secara tidak dia sadari mengarah padanya. Tapi Han Seungwoo masih belum tahu siapa itu. Mungkin orang itu pernah kenal atau berkaitan dengannya, atau sekedar ingin mengujinya dan memastikan identitas aslinya.


"Jika para polisi tidak dapat menangani. Kita harus cepat turun sebelum mereka yang lebih besar diturunkan" Seungwoo lagi-lagi memberi perintah. Jelas yang dia maksud adalah pasukan khusus. Dia menghindari masalah dengan negara.


Setelah itu mereka bersiap-siap. Menyiapkan senjata dan informasi terkini masih terus berdatangan dari pengintai. Seungwoo rasa situasinya cukup sulit sekarang. Keadaan makin tidak terkendali. Sunghoon yang tenang dengan semangkuk sereal di depan Tv hanya menatap ke arah layar itu dengan acuh.


"Dasar bodoh. Kalau mau mati tinggal mati. Kenapa membuat banyak masalah. Menyusahkan"


Joy yang duduk di sebelahnya sambil memainkan handphone nya melirik sekilas. 'Anak ini benar-benar rusak' batinnya. Sedari tadi dia melihat semua orang di dalam mansion ini terlihat sibuk. Changkyun mengeluarkan sebuah tempat gitar berwarna hitam miliknya, melengkapi tubuhnya dengan beberapa sabuk tempat pistol, mereka melakukan hal yang sama. Joy masih teringat saat Seungwoo yang membentaknya semalam, membuatnya urung bertanya.



Do Hanse yang terlihat paling aneh dengan baju platinum dengan tekstur rantai dan dilapisi rompi anti peluru. Dia memakai sebuah sabuk sebagai tempat pedangnya di samping tubuh. Mereka adalah dua pedang, salah satunya cukup panjang lalu yang lainnya terlihat lebih pendek. Hitam dan terlihat cantik.



"Pakai rompi anti peluru mu dengan benar" Seungwoo membantu Seungyoun bersiap. "Sudah membawa cadangan peluru?" Seungyoun mengangguk mengiyakan. "Tetap berada di jangkauanku. Jangan terlalu jauh"


"Aku tidak se amatir itu sekarang" Seungwoo hanya mendengus dan tersenyum. Tidak amatir katanya? Dia memeriksa segala persiapan milik Seungyoun dan dirinya sendiri.


Sebelum benar-benar berangkat Seungwoo berkata lagi. "Ingat, hindari polisi. Jika mendesak, berikan sedikit pelajaran pada mereka. Untuk anggota geng. Bunuh tanpa terkecuali. Paham?"


"Paham" mereka menjawab serentak.


Changkyun, Hanse, Seungwoo, Seungyoun, Seulgi dan Hangyul meninggalkan markas untuk melakukan pembersihan.


................


Orang yang paling pertama turun adalah Changkyun. Dia diturunkan di sebuah bangunan yang tinggi. Rompi anti pelurunya tertutup pakaian luarnya. Changkyun memasuki apartemen dengan tas gitarnya, wajahnya terkesan lebih lembut dan tenang dengan bantuan kacamata bulatnya. Dia diijinkan masuk begitu saja setelah menunjukkan kartu tanda pengenalnya. Changkyun sebagai guru musik private masuk dengan mudah. Dia langsung ke atas menuju atap, membuka tas gitarnya dan mulai memasang teropong jarak jauhnya. Lokasinya saat ini berjarak 1 km dari lokasi konflik itu terjadi. Changkyun memasang alat komunikasinya. Dari ear piece dia memastikan posisi kawannya yang lain.


"Aku melihat kalian"


"Bagaimana situasi di depan sana?" Seungwoo bertanya.


"Polisi masih berada di depan untuk membuat barikade. Sepertinya situasi buruk, beberapa dari mereka bersiap turun untuk bentrok langsung dengan geng" Changkyun mengamati dari jauh.


"Picu dan tembak salah satu anggota geng. Pastikan mati, dan terus lindungi dari atas"


"Oke bos"


Changkyun bertugas memicu pertempuran. Peluru darinya membunuh salah satu anggota geng, menyulut emosi yang lain. Mereka pasti mengira jika temannya mati karena tembakan polisi. Jadi begitu Seungwoo sampai pada lokasi, jumlah musuhnya secara otomatis sedikit berkurang dengan sendirinya.


Di dalam mobil mereka menggunakan sebuah topeng berbentuk sama. Benda itu mirip tengkorak manusia dengan hiasan emas sebagai mahkota.



Seungwoo menghubungi orang-orangnya yang berada di daerah konflik. Mereka diberi perintah untuk mulai bergerak, membantai seluruh anggota geng tanpa terlibat polisi. Mereka menggunakan satu samaran yang serupa. Hanya berbeda pada bentuk.



Hangyul, Seulgi dan Hanse bekerja dengan cepat. Untungnya selain penyamaran topeng itu berfungsi sebagai penanda bagi mereka sendiri, mencegahnya menghabisi rekannya sendiri. Pihak musuh menggunakan masker hitam biasa, terlihat seperti preman jalanan.


Para polisi yang masih di lokasi kerusuhan itu dilema. Para pria bertopeng putih ini tidak menganggu para petugas, malah sebaliknya. Mereka menangani para perusuh sampai mati. Mereka ragu untuk menyerang.


"Apa yang kalian lakukan? Tangkap para kriminal itu" Seorang kapten menyadarkan timnya penuh emosi. Anak buahnya terlihat bingung dengan tindakan dua kriminal yang saling serang ini.


"Kapten. Tapi yang bertopeng putih tidak menyerang siapapun selain anggota geng"


"Habisi siapapun di depan sana. Ini perintah!"


Mereka mulai menyerang kedua kubu kriminal. Hukum tetap hukum. Walaupun membantu nyatanya pihak Seungwoo melakukan kejahatan yang lainnya. Membunuh orang itu termasuk main hakim sendiri. Situasi yang tadinya hampir mereda kembali memanas saat para polisi turun tangan. Membuat kedua pihak yang sedang saling serang itu sedikit was was.


"Temukan pemimpin mereka. Polisi sudah mulai bergerak. Jangan tertangkap dan membiarkan mereka hidup" Titah dari Seungwoo segera dijalankan. Mereka mulai mencari-cari di bangunan sekitar. Pasti ada salah satu penggeraknya.


Mereka membersihkan seluruh satu gang sendirian, polisi masih jauh di belakang. Saat Seungwoo mulai lengah seseorang mencoba menembakkan peluru kearahnya, Seungyoun menembak orang itu. Seungwoo mendesah lega, pria di sampingnya ini sedikit meningkat.


"Ada pergerakan misterius di blok D. Ada penjagaan ketat, mereka berlindung di sana" Changkyun menghubungi dari jauh.


"Kau bisa menjangkaunya?"


"Tidak, Hyung. Pandanganku terhalang"


"Oke aku ke sana" Seungwoo mengangguk menatap Seungyoun. Pria itu juga mendengar percakapan barusan. Semua eksekutifnya berada di saluran yang sama sehingga saling tahu keadaan. "Hanse ikut denganku. Yang lain tetap di lokasi"


Pria berbaju besi itu berlari kencang ke arah mereka. Selain karena Hanse yang paling efektif dan cepat, pedang sialannya itu membuatnya tidak bisa asal menebas polisi. Mereka akan langsung mati begitu terkena racun di pedangnya. Hanse tidak mau masalah hari ini menjadi panjang karena banyak korban lain berjatuhan.


"Bersihkan jalan. Aku akan melindungi dari belakang" Hanse mengangguk paham tanpa suara.


Blok D berjarak 3 blok dari posisi mereka saat ini. Kerusakan cukup parah terjadi di blok A. Daerah ini bisa benar-benar hancur jika pertempuran terjadi semakin lama. Seungwoo berusaha mencegah itu. Mereka terus berlari sambil memastikan tidak ada pihak musuh tersisa, Seungwoo dan Seungyoun melindungi diri dari serangan samping dan belakang. Sisanya akan diurus para anak buahnya yang lain. Mereka berfokus untuk menemukan pemimpin yang menggerakkan preman jalanan ini, mereka harus mendapatkan informasi lebih dulu sebelum polisi.


Blok C dan Blok D. Di sana terlihat banyak bangunan berdiri kokoh. Sialnya Changkyun tidak memberi lokasinya secara tepat. Di jalan itu tidak terlihat satu orangpun.


"Changkyun di gedung sebelah mana!"


Changkyun yang sedari tadi memindah posisinya untuk mendapatkan target tersentak karena bentakan Seungwoo. Matanya bergulir gelisah dan cepat.


"Ah! Ketemu! Mereka di dalam restoran ayam" Jangan bercanda... walau begitu mereka bertiga tetap mencarinya. "Ada spanduk besar di depannya. Lantai 2. Nah, 50m di depanmu, Hyung. Sial, kacanya tertutup sesuatu, aku tidak bisa melihat ke dalam"


Mereka terdiam sesaat. Mencari posisi yang bagus untuk masuk ke dalam bangunan. Mereka menyembunyikan diri di sebelah bangunan itu. Susana di sini masih sangat damai, mungkin pihak musuh belum tahu jika mereka sudah sampai di sini.


"Kita cari jalan lain. Penjagaannya cukup ketat di balik tembok ini"


Mereka memutari gedung, mencari celah. Satu-satunya cara paling mudah saat ini lewat jalan atas, mereka menerobos masuk ke dalam apartemen kecil yang paling dekat dengan restoran itu. Di dalamnya ternyata masih terdapat seorang warga yang saat ini berlindung. Wajah panik dan ketakutannya tidak dapat ditutupi lagi. Dia berusaha mengambil handphone nya untuk menghubungi polisi. Hanse buru-buru mencegahnya, wanita muda itu menangis ketakutan.


Seungyoun meletakkan jarinya di depan mulut. Menyuruhnya diam.


"Kami hanya akan lewat. Jadi diam dan tenang" Wanita itu membekap mulutnya sendiri dan gemetar. "Berlindung lah sampai semuanya aman. Hati-hati"


Mereka meninggalkannya setelah merusak handphone nya. Seungwoo tepat, tinggi gedung ini cukup sama walau sedikit lebih tinggi dari restoran itu. Di atap, 3 orang baru muncul dari bawah. Mereka sepertinya berjaga di atas gedung. Mereka membidik dengan sasaran yang berbeda, lalu menembak di saat bersamaan. Ke tiga orang itu langsung ambruk seketika.


Hanse yang pertama meloncat ke atap restoran, lalu diikuti Seungwoo dan Seungyoun. Mereka mencoba ke arah bawah, 7 orang terlihat berdiri di dalam sana. Membiarkan seorang pria berumur di akhir 30an duduk santai dengan ponsel di telinga. Mereka berhasil turun ke bawah tanpa diketahui. Seungwoo mengisyaratkan untuk tetap diam dan berhenti. Sebuah percakapan mengalihkan perhatiannya.


"Ya Tuan. Mereka sudah datang 1 jam yang lalu" Jawaban itu datang dari si pemimpin geng. Ada percakapan yang tidak bisa dia dengar dari telepon.


"Ya Tuan. Seperti perintah anda, Saya mengumumkan diri saya sebagai Golden Crown" Han Seungwoo terlihat terkejut. Dia menajamkan pendengarannya.


"Baik. Jika situasi makin buruk saya akan lekas pergi" Sambungan telepon itu tertutup. Han Seungwoo yang masih mematung segera mendapat senggolan dari Hanse.


"Bunuh semua orang di sini. Kecuali pria itu"


.


.


.


.


To be Continue



Sese luar sangar tapi dalemnya pinky kok guys. Hahahah... si soft boi