
Seungyoun enggan kembali ke bangunan utama. Dia masih berada di gedung Irene setelah mengobati lukanya. Sebenernya Irene tidak dapat menahannya untuk tetap di sini, Tuan besar mereka mungkin akan sedikit marah.
"Tidak ingin kembali? Seungwoo akan marah kalau kau tidak pulang saat makan malam" Kim Wooseok mendekat ke arah 2 orang yang duduk diam. Di tangannya membawa secangkir minuman.
"Hey, semua orang ingin menghabiskan teh ku ya?" Irene mendekat dan menyadari dia kecolongan lagi. Wooseok hanya mencibir menggerakkan bibirnya. 'pelit'
"Walau aku tidak menyangka tapi. Ya, selamat bergabung, Youn"
"Terimakasih sambutannya"
"Sama sama. Tidak perlu terlalu takut padanya. Seungwoo dan Sunghoon hanya bocah yang suka bermain-main. Kau bukan jaminan lagi, jadi kau bisa menolak jika diperlakukan yang tidak-tidak" Wooseok ikut bergabung, seperti biasa dia masih banyak bicara.
"Seungwoo sedang melatih karyawan magangnya. Bagaimana bawahan bisa menolak pak bos?" Irene menekankan kalimat melatih.
"Kenapa tidak, aku sering membantah, semua orang di sini juga" Pandangan Wooseok tertuju pada Irene si pembangkang. "Kalau butuh sesuatu, cari Irene lebih dulu lalu cari aku"
"Bukankah kau sibuk, Hyung?"
"Tidak terlalu mulai sekarang. Seungwoo sudah mulai rajin lagi"
"Benarkah? Ah..." Seungyoun menghela nafasnya lega. Itu artinya orang itu tidak akan di rumah untuk setidaknya beberapa jam. "Apa bisnis medisnya tidak dapat kau tangani lagi?" Seungyoun bertanya dengan polos. Dia kira Wooseok cukup mumpuni, pasti terjadi sesuatu jika Seungwoo turun tangan langsung. Wooseok melotot pada Irene yang meringis padanya.
"Medis? Kau tahu dari Irene?" Seungyoun sedikit gugup dengan kesalahpahaman nya. Wooseok meluruskan lagi. "Ya, untungnya benar. Kami tidak memproduksi kokain atau ganja. Hanya di bidang medis yang legal" Dia lega, itu informasi yang benar dan bukan hal hal terlarang untuk dibahas.
"Ayo kembali ke rumah Seungwoo. Aku tidak mau dibakar hidup-hidup"
"Apa... dia benar-benar akan melakukan itu?"
"Tidak. Tapi ya. Cepat kembali sebelum Sunghoon menjemputmu" Seungyoun langsung bangun dan mengikuti Wooseok begitu mendengar Sunghoon. Bocah psikopat itu membuatnya ngeri.
Makan malam itu tidak banyak percakapan, setelah itu Seungyoun ke ruang baca sampai larut malam dan akhirnya kembali ke kamar untuk tidur. Waktunya tidur namun Seungyoun masih terjaga, pikirannya khawatir dan kacau. Bagaimana nasib ibunya, dan apakah dia harus percaya kepada ayah tirinya. Park Nam Sil telah membodohi ibu dan dirinya selama bertahun-tahun, seperti kata Seungwoo. Bagaimanapun yang paling bersalah adalah pria tua itu, lalu ibunya.
Sebenarnya, hubungan Seungyoun dan ibunya memburuk beberapa tahun terakhir. Keluarganya sudah hancur sebelum kehancuran bisnis mereka. Perasaan dilemanya sungguh membuat Seungyoun menderita. Dia hanya terus berpikir, apakah dia akan bahagia jika keluar dari sini? Apa ibunya percaya padanya? Bagaimana ayah tirinya nanti?
Seungyoun takut akan semua kemungkinan itu. Dia sekali lagi berpikir. Apakah dia akan bahagia jika keluar dari sini? Kehidupan lamanya akan kembali tapi itu sudah tidak lengkap lagi. Seungyoun merasa harus bergabung dengan Seungwoo untuk mendapat perlindungan dan membalas dendam kepada ayah tirinya. Tapi itupun bukan pilihan yang bijak. Inilah sebabnya, dia menjadi tumpul karena hidup terlalu nyaman di masa lalu. Menjadi satu-satunya putra dari konglomerat dan hidup dalam damai membuatnya kebingungan jika dihadapkan dengan sulitnya pilihan hidup. Malam itu Cho Seungyoun terdengar menahan tangisnya, seseorang yang berada di sebelah kamarnya hanya mendengarkan tanpa suara. Dia juga tidak dapat tidur seperti biasa.
................
Keesokan harinya mansion besar itu terasa lebih tenang dan hening. Setelah Seungwoo berangkat untuk mengurus pekerjaannya Seungyoun melarikan diri menuju gedung Irene, tapi dia juga tidak ada di sana. Irene pergi ke luar untuk beberapa hari.
"Hyung? Sedang apa?" Wooseok terlihat seperti ketahuan mencuri, hampir membuang tehnya ke lantai.
"Membuat teh" Dia tersenyum bahagia, menyesap teh curiannya lalu mendesah lega. "Pagi yang indah tanpa gangguan, mereka semua pergi" Seungyoun yakin itu ditunjukkan untuk Seungwoo dan Irene.
"Ya, tapi Irene nuna juga pergi"
"Itu adalah hal yang bagus. Mau ke bawah Youn? siapa tahu kau bosan"
"Ke bawah? Ke mana?"
"Ke tempat para jaminan"
Mereka ke arah gedung bagian barat. Gedung milik Irene adalah bagian timur, sementara milik Seungwoo adalah bagian tengah. Seperti yang Seungyoun tau, mereka mulai turun ke bawah melewati tangga. Lalu di sana terdapat beberapa ruangan kamar yang terisi.
Seungyoun merasa sedikit aneh, sekarang dia bagian dari penyita, bukan jaminan. 13 orang belum dikeluarkan, mereka mungkin masih menunggu ditebus atau dijual.
Wooseok menempelkan 6 stiker merah dan 3 stiker biru di tempat yang berbeda. "Hyung. Ada pengiriman lagi?"
"Tapi, Hyung. Kau tidak menjelaskan secara rinci padaku soal aturan ini. Kenapa aku langsung dikirim waktu itu?" Jelas Seungyoun sedang protes sekarang. Mungkin saja, karena dia berada di posisi yang mengerikan untuk seorang jaminan.
"Karena aku dapat begitu banyak tekanan, sampai lupa memberitahu" Wooseok beralasan.
"Lalu sisanya?"
"Seungwoo yang akan menentukan penyelesaiannya" Mereka terdiam sebentar setelah naik ke atas dan ke meja Wooseok untuk menyelesaikan beberapa data. "Youn..."
"Iya?"
"Akan bagus jika kau dapat merubah Seungwoo, bukan sebaliknya" Sebenarnya si lawan bicara kurang paham. Mengubah bagaimana? Jelas itu hal yang mustahil. "Tidak, lupakan. Jangan sungkan untuk terbuka pada Irene atau padaku. Semua orang di sini dapat dipercaya, tapi tidak sebaik Irene dan aku. Mengerti?" Kim Wooseok Sepertinya cukup percaya diri untuk menyebut dirinya baik. Mungkin benar baik. Jadi Seungyoun hanya patuh dan mendengarkan.
"Hyung, aku tidak akan ditahan di sini selamanya kan?" Wooseok tertawa setelahnya. Pria di depannya itu benar-benar anak polos yang masih takut dengan semua hal. "Kenapa tertawa" Seungyoun sedikit kesal.
"Tidak Youn. Aku tidak tau, hanya Seungwoo yang bisa mengeluarkanmu"
"Cih". 'sialan' batin Seungyoun.
Pada sore hari Seungwoo pulang, dan tentu pelatihannya akan dimulai lagi. Saat ia berjalan menuju lapangan terlihat Wooseok keluar lagi dari sana menggunakan mobil. Seungyoun sendirian sekarang, tidak ada yang dapat menolongnya.
"Karena Sunghoon sedang sekolah. Jadi kali ini aku yang akan melatihmu" Sekolah katanya? Seungyoun harap gurunya tidak akan mati diterkam anak idiot itu.
"Aku tidak mau" Seungyoun berujar lirih. Dia hanya ingin diajar bela diri secara normal, atau setidaknya tehnik lempar pisau lempar granat lempar apapun itu terserah.
"Apa?" Seungwoo mendekat, merasa tidak yakin. "Lihat kemari, apa yang kau katakan tadi?" Diangkatnya kepala Seungyoun menghadap wajahnya. Keraguan dan ketakutan itu terlihat dalam wajahnya.
"Aku bilang. Aku tidak mau disiksa lagi. Aku ingin berhenti. Berhenti menyiksaku" Kali ini suaranya lebih keras.
Seungwoo melepaskannya. berdiri di depan karyawan barunya, mengangkat kakinya yang kini berada di dada Seungyoun lalu mendorongnya keras dan membuatnya jatuh terlentang.
"Kau, pembangkang. Kau harus cukup berani untuk mengatakannya lagi" Kakinya tidak beranjak dari sana, menekannya ke bawah menginjak Seungyoun. Wajah serius dan sadis itu membuat niatnya luntur, mulutnya berubah kaku dan kata-kata tidak dapat keluar lagi.
Seungwoo berjongkok di sampingnya. "Itulah sebabnya kau disiksa. Saat kau dikejar, kau terlalu takut sampai-sampai tidak bisa berpikir dengan jernih. Kunci dari pelatihan ini adalah. Jangan jadi pecundang. Kau tidak akan bisa menentang ku selama kau masih pecundang, Youn. Jadi berdirilah lalu lawan aku" respon lawan bicaranya masih sangat lamban dan ragu, jadi Seungwoo terus memancingnya.
"Mau sampai kapan kau menjadi pecundang? Kau mau diam sampai Park Nam Sil pergi kabur. Atau malah mengambil semua sisa asetmu yang ditinggalkan ayahmu? Kau hanya diam? Cho Seungyoun! Jika kau berani dari dulu kau tidak akan berada di sini sebagai jaminan!"
"Diam!" Seungyoun maju lebih dulu, menyerang Seungwoo yang terus menyalahkannya. Walau itu mungkin benar, tapi dia tidak siap menerima pernyataan itu. "Semua karena Park Nam Sil! Kau tidak tahu apapun jadi diamlah!" Seungyoun masih mencoba memukul Seungwoo dengan tinjunya yang jelas bisa dihindari dengan mudah.
"pengecut bodoh. Lebih gesit lagi" Lawannya ini terlihat putus asa, Seungwoo berhasil mencapai luka paling dalam Seungyoun dengan beberapa kalimatnya. Matanya terlihat berkaca-kaca entah karena sedih atau marah. "Kubilang pukul aku bodoh!" SeruanĀ dan serangan balik dari Seungwoo mengenai Seungyoun, membuatnya terkapar di bawah. "Bagaimana caramu untuk membunuh Park Nam Sil jika kau terus seperti ini?"
Seungyoun bangkit tanpa menjawab. Dia mencengkram kerah Seungwoo dengan frustasi. "Kau, Ayahmu dan ibumu hanya akan mati sia-sia selama brengsek itu masih hidup" Seungyoun mengayunkan tinjunya yang lagi lagi dapat ditangkis Seungwoo, namun dari arah berlawanan dia juga mengarahkan tangannya ke wajah si Tuan yang masih sedikit lengah. Seungwoo terhuyung, bibirnya sedikit berdarah karena Seungyoun. Dia tersenyum senang, mata tajam itu menatapnya lurus.
"Ku bilang diam kau bajingan"
"Nah, sekarang pelatihan apa yang kau inginkan Youn?" Seungwoo menawarinya dengan wajah ramahnya. Pelajaran yang ia tanamkan saat ini adalah. 'biarkan dendamu menuntunmu'
.
.
.
.
To be Continue