
Changkyun bekerja keras mencari informasi selama beberapa hari, lalu menemukan sesuatu yang janggal. Penyerangan 'pasar' beberapa hari lalu ternyata ulah orang dalam. Yang berarti salah satu dari pembisnis gelap bekerja sama dengan polisi untuk mencari alasan untuk menyerang balik mereka. Mereka, ditunjukkan untuk semua anggota lainnya. Si pelaku mungkin memiliki sebuah ambisi besar lalu mendapatkan bantuan dari pihak berwajib. Berurusan dengan orang-orang berseragam itu menyusahkan. Mereka sama dengannya, menjalankan hal tidak terpuji namun bersembunyi di balik seragamnya.
Dengan informasi seadanya ia melapor pada Seungwoo. Semakin menguatkan dugaannya di awal karena si narasumber tidak terdaftar di negara manapun. Artinya, dia adalah pihak gelap, atau memiliki identitas palsu yang sudah disiapkan. Beberapa hari kemudian dia mendapatkan sebuah laporan, pergerakan mencurigakan di sebuah desa terpencil. Maka dia datang untuk memantaunya langsung. Si tikus kecil terlihat, dia bersembunyi di sana sambil menunggu waktu yang tepat untuk kabur lagi. Tanggal penyergapan ditentukan oleh Seungwoo. Bosnya selalu bergerak paling pertama untuk urusan seperti ini, wajar saja. Seungwoo dirugikan dengan kasus pasar kemarin.
Seulgi dan Hangyul membersihkan sisa sampah yang tertinggal. Membuat mereka seolah-olah mengalami kecelakaan biasa. Api berkobar membakar 2 mobil dan sebuah gudang penyimpanan alat bertani. Untungnya Changkyun sudah mempersiapkan tempat ini dengan sangat baik. Pengalihan jalan itu membuat jalan terdekat dari sini tidak dapat dilewati, orang-orang hanya akan mengira jika ada perbaikan jalan yang sedang dikerjakan, lagipula daerah itu sangat sepi penduduk. Rumah mereka berjauhan satu sama lain.
Mereka berjaga di sana selama beberapa jam. Seulgi secara berkala mengecek suhu api. Setidaknya tubuh mereka harus sampai hangus, paling bagus sampai jadi abu. Jejak peluru dan sayatan pedang Hanse tidak akan terlacak jika begitu. Setelah selesai Hangyul memberi beberapa nasehat dan membujuk kedua orang tua yang masih terduduk di sana untuk bekerja sama. Wajah mereka kusut dan berantakan. Tidak mudah, tapi berhasil. Mereka berdua dilepaskan, lalu dipandu untuk memanggil pemadam kebakaran. Setelah itu Hangyul dan Seulgi pergi menggunakan mobil yang Changkyun tinggalkan. Tempat itu menjadi saksi bisu dimana sebuah kejadian direncana berakhir seperti sebuah kecelakaan biasa.
Seorang pria itu diseret paksa keluar dari mobil pengangkut barang. Dia duduk di aspal. Wajahnya terlihat takut dan bingung. Hanse memindahkan mobil boxnya ke dalam. Seungyoun, Seungwoo dan Changkyun masih di luar pagar mansion.
"Ah dimana kesopanan ku. Aku Han Seungwoo. Karena aku masih sedikit kesal maka di sini saja interogasinya" Si Narasumber duduk dipegangi Changkyun. Dia masih bungkam. "Begini. Kalau kau ingin mengonfirmasi ini aku akan melepaskanmu. Aku mengantongi nama nama yang terlibat. Jadi kau hanya perlu menceritakan ulang padaku. Aku tahu siapa bosmu"
Pria itu menatap Seungwoo, matanya bergetar. Seperti dia mungkin tidak punya harapan hidup lagi. Walaupun dia dilepaskan dia akan tetap dibunuh di luar sana. "A-aku... aku hanya mendapatkan perintah dari bos. Dia mengatakan jika aku membocorkan lokasi maka aku dibebaskan dari keanggotaan"
"Kenapa kau ingin keluar dari keanggotaan. Kau bisa menjadi seorang eksekutif"
"Aku ingin kembali pada ibu dan ayahku, mereka sudah tua dan aku tidak bisa meninggalkan mereka. Aku ingin hidup normal"
"Sial aku hampir terharu" Changkyun mengusap matanya yang tidak berair. "Hahahah. Bercanda bodoh" Saat Changkyun bermain dengan kata-katanya, Seungyoun benar-benar terharu sampai hampir menangis. Dia pikir pria di depannya ini sama dengannya. Dia hanya dipaksa melakukan ini untuk kembali ke keluarga lamanya.
"Lalu dimana bosmu saat ini?"
Pria itu terdiam cukup lama. Pandangannya berubah ke segala arah, mencari jalan untuk kabur. "Ku tanya sekali lagi, Jeon Ki Young-ssi. Dimana bosmu saat ini?"
"D-dia, dia di China. Wang Yibo"
Seungwoo mencengkram lehernya. Merasa mendidih dengan orang di depannya ini. Changkyun dari belakang hanya bisa tersenyum seru sambil berbisik 'mampus kau'. Seungyoun berusaha menghentikan, tidak akan berguna jika si Narasumber mati.
"Jangan berbohong padaku brengsek. Dimana bosmu"
"A-aku bersumpah demi Tuhan. Bosku berada di China! Dia di China. Wang Yibo"
"Seungwoo! Hentikan, dia bisa mati bodoh!" Seungyoun memperingatkan. Cengkraman itu dilepaskan. Emosi Seungwoo perlahan mereda karena Seungyoun.
"Kirimkan aku alamatnya. Jika kau tidak tahu aku akan mengira kau bohong. Tinggal pilih cara kematian mu"
"Oke aku berikan. Jangan bilang jika aku yang berikan oke? Kau harus berjanji" sebelum dia menulis dia berujar lagi. "Setelah ini lepaskan aku"
"Ya ya sialan. Berisik" Changkyun menjawab. Setelahnya sebuah alamat dari negara China itu didapatkan olehnya. Setelah Seungwoo melihatnya dia mengangguk.
"Oke. Kali ini kau tidak berbohong. Sekarang pergi. Jangan masuk ke hutan, kau tahu kan koleksi binatang ku" Pria itu mengangguk. Dia benar-benar dilepaskan seperti janji sebelumnya.
"Terimakasih Tuan. Terimakasih" Pria itu berlari menjauh dari sana menyusuri jalanan aspal lurus.
Sebuah pistol itu diberikan kepada Seungyoun. "Bunuh dia"
"Hyung. Aku tidak bisa, bukankah kau tadi-"
"Aku melepasnya, bukan berarti tidak membunuhnya. Tembak sekarang" Seungyoun sudah mengangkat pistolnya. Namun tangannya masih belum sanggup menarik pelatuk. Ingatannya kembali berputar tentang 2 orang tua si pria yang sedang menunggu di rumah. "Cho Seungyoun. Tembak dia!"
"Aku mencoba, aku tidak... bisa"
'Dor'
Si pria tumbang dengan peluru menembus dada kirinya. Seungwoo mengambil tindakan sebelum Seungyoun. Lagi-lagi dia melihat seseorang mati begitu saja di depannya. Seungwoo seperti membunuh serangga.
"Iblis. Kau mengingkari janjimu"
"Kau yang salah paham. Aku tidak berjanji membiarkannya hidup. Lalu, latihanmu tidak akan berguna jika kau terus seperti ini"
"Bagaimana bisa aku membunuh seseorang!"
"Dia adalah seorang pembohong!"
"Aku tidak tahu, karena aku tidak memiliki orang tua" Wajahnya merah padam. Han Seungwoo sebenarnya menahan amarahnya mati-matian. Dia kurang suka berurusan dengan orang luar karena mereka akan seperti Seungyoun, selalu mengutamakan hal-hal tidak penting yang belum tentu berpihak pada mereka. "Masuk ke dalam. Tidak baik bertengkar seperti ini" Seungwoo menarik tangan Seungyoun pelan. Namun dia melepaskannya. "Kau itu pembangkang, Youn. Tidak ingin bernasib sama dengannya, kan? Sebelum aku lebih emosi, masuk ke dalam"
Mereka masuk dengan diam. Seungyoun langsung menuju ke arah Irene yang sudah menantinya di depan gedung miliknya. Seungwoo berkata pada Hanse melalui telepon. "Se, kirim kepala Jeon Ki Young ke alamat yang ku kirimkan"
................
Irene segera memeluk Seungyoun dengan sayang. Bocah itu kembali dengan utuh. Misi pertamanya berjalan lancar tapi isakan itu membuah Irene keheranan. Pasti karena pembantaian itu membuatnya sedikit trauma. Mereka masuk ke gedung Irene, Wooseok juga ada di sana. Mereka menenangkan Seungyoun. Dia menceritakan semuanya secara spontan. Perihal penyergapan itu sampai pada tahap interogasi tadi. Irene berusaha menjelaskan, mungkin Seungwoo mempunyai alasan tersendiri sampai membunuhnya. Walau mereka sama-sama belum tahu apa itu. Hangyul menyusul ke sana. Bajunya sedikit hitam bekas pembakaran. Dia langsung mencari Seungyoun begitu tiba. Irene menanyakan kejadian yang baru terjadi, lalu Hangyul mulai menjelaskan.
"Ah... Kalau jadi aku, aku juga akan membunuhnya di tempat. Dia selama ini bersembunyi di sebuah desa kecil. Di sana ada 2 orang tua yang sudah agak pikun. Mereka selalu lupa kalau anaknya telah meninggal, lalu dia memanfaatkan nya, Jeon Ki Young mengaku jika dia anaknya. Kalian tahu apa yang dia timbun di gudang kedua orang tua itu? Ganja puluhan kilogram. Aku yakin Jeon Ki Young sengaja melakukan itu untuk keluar dari keanggotaan lalu membuka bisnisnya sendiri. Dia juga dapat bantuan para polisi daerah setempat. Jika Seungwoo membiarkannya lari, dia akan kembali lalu membunuh kedua orang tua itu, karena mereka satu-satunya saksi di sana. Lagipula sejak awal dia mengaku jika bosnya Wang Yibo. Dia adalah pembelot, dia sudah lepas dari Wang Yibo 3 tahun lalu. Seungwoo-Hyung memiliki banyak alasan untuk membunuhnya. Jadi Seungyoun-Hyung sedikit salah paham saat ini, mungkin Seungwoo-Hyung sedikit mengerikan untuk ukuran manusia. Tapi dia bisa membedakan mana yang jahat mana yang tidak. Tenang saja, selama dia tidak marah padamu kau akan aman"
"Sepertinya aku akan mati kali ini" Seungyoun memandang bawah, perasaannya tidak nyaman. Kata-kata lancangnya pada Seungwoo tadi sungguh keterlaluan. Tuannya marah besar, dan Seungyoun ingin mati saja karena merasa bersalah.
"Selamat menjemput kematianmu, Hyung. Seungwoo-Hyung memanggilmu" Sunghoon muncul dari balik pintu sambil melipat tangannya di dada. Keempat orang itu saling bertatapan. Tidak mungkin Seungwoo semarah itu bukan? Seungyoun dengan pasrah mengikuti Sunghoon, mereka berjalan berdampingan. "Ku peringatkan. Jangan singgung masalah orang tua di depan Seungwoo-Hyung. Kau tidak tau masalahnya, kan? Tidak semua orang jahat itu jahat. Kau bisa melukai perasaannya jika berkata sembarangan" Sunghoon sedang memarahinya sekarang? Bocah ini seperti sedang memarahi seseorang yang menjelekkan ayahnya.
Di ruang kerja itu Seungwoo terlihat sedang duduk santai mengistirahatkan tubuhnya. Seungyoun masuk dengan ragu. Dia dipersilahkan duduk di depannya. Ruangan yang didominasi kayu itu terlihat classic dan mewah. Atmosfer berat menimpa Seungyoun saat duduk di sana.
"Hangyul sudah datang kan? Dia berbicara sesuatu denganmu?" Seungwoo bertanya tanpa basa basi.
"Iya Hyung. Maaf soal ucapan ku tadi"
"Tidak masalah. Kau harus minta maaf padaku karena tidak bisa membunuhnya"
"Kenapa tidak bilang padaku?"
"Karena kau tidak percaya padaku. Aku memberi tahu Hangyul untuk memberitahumu. Baru kau percaya" Seungyoun mengatupkan mulutnya. Perasaanya benar-benar tidak enak. "Sudahlah. Ngomong-ngomong, Youn. Aku ingin memberimu sesuatu"
"Untukmu. Anggap saja hadiah misi pertama. Aku memesannya khusus"
Seungyoun sedikit terkejut. Dia sudah siap dihukum mati namun malah mendapatkan hadiah yang bagus. Pistol berjenis Revolver itu terlihat indah dengan ukiran halusnya. Pegangan putih dengan sentuhan emas itu membuatnya terkesan elegan dan mewah. Walau Seungyoun tidak paham soal pistol tapi dari segi keindahan patut diacungi jempol. "Kau suka?" Seungwoo bertanya memastikan.
"Indah. Serius? Ini untukku?" Seungwoo tersenyum senang. Tidak menyangka jika Seungyoun menyukai hadiahnya.
"Tentu saja"
................
Seseorang yang sedang mengecek barang dagangannya itu tiba-tiba mendapatkan laporan. Sebuah paket dikirim untuknya. Si pengirim hanya menampilkan nama asli penerima. Sebuah box kayu yang di pack rapi. Dia membukanya segera.
Di dalam sana, kepala mantan bawahannya terpejam tanpa tubuh. Di atasnya terdapat secarik kertas undangan yang rapi.
'To. Mr. Wang
Diundang ke makan malam tanggal 12 - 07 - xxxx
Mr. Han'
"Sebuah permintaan persahabatan huh? Si Han sialan. Setelah menolak ku dia mengundangku" Wang Yibo yang sedikit jengkel akhirnya tersenyum.
.
.
.
.
To be Continue