
Seorang perempuan bergaun hitam itu tengah duduk di kursi santai beralaskan kain. Untung saat ini masih musim panas, udara tidak dingin di atas sini. Dia berkutat dengan teropong kecilnya, terimakasih kepada peralatan canggih Changkyun.
"Seulgi. Sudah terlihat?" Suara di ear piece nya tiba-tiba terdengar. Kedua eksekutif pengintai Seungwoo itu sedikit bosan.
"Sudah ku bilang jangan banyak bicara. Tunggu saja di sana seperti tikus tanah, sialan" Dan keduanya sama-sama memiliki mulut pedas.
"Oke, jangan berkedip di atas sana. Aku ingin menonton YouTube sebentar" Changkyun yang bertugas lebih ringan merasa lega. Dia lebih bebas.
"Oh God. Im Changkyun... kau horny di saat-saat misi"
"Aku hanya menonton sepak bola!!" Nadanya meninggi karena dituduh yang tidak-tidak oleh Seulgi. Wanita itu hanya tertawa puas di atas gedung. "Akan lebih mudah jika kita menembaknya langsung" Changkyun berkata sambil diselingi suara ribut dari YouTube nya.
"Si bos ingin membunuhnya dengan racun. Titik. Katanya"
"Kau sadar si bos menjadi sedikit lebih tertutup?" Changkyun memulai pembicaraan, mengarah ke sikap Seungwoo. "Dia tidak menjelaskan misi ini secara utuh dan terbuka. Dia biasanya akan memikirkan kemungkinan tertentu, tapi dengan sepihak hanya akan bertindak sendiri jika rencananya gagal"
"Aku anggap dia hanya sedikit stress karena tidak bisa sering kawin dengan Seungyoun"
Changkyun mendesah pasrah. Percuma saja dia mengajak ngobrol Seulgi. Dia ingin menyinggung masalah misi individu nya kepada Seulgi, namun dia urungkan. Seungwoo berkata itu rahasia, mungkin bosnya memiliki maksud tersendiri.
Changkyun hanya tidak tahu saja jika Seulgi juga mendapat misi yang sama persis sepertinya. Mereka saling menahan untuk tidak membicarakannya. Malah, wanita itu sedikit mengerutkan alisnya ketika Changkyun tiba-tiba membicarakan ketidakterbukaan Seungwoo sekarang, maka tadi dia hanya menjawab asal.
Setelah setengah jam menunggu yang dimaksud akhirnya datang. Dua orang berjas dan memiliki ear piece di telinganya terlihat memasuki hotel itu. Mereka pasti orang suruhan Cheng.
"Mereka datang, Kyun... Masih mencari informasi mungkin" Seulgi menghubungi lewat ear piece.
Seperti rencana awal Seungwoo. Memancing Cheng dengan hadir di fashion show, menggiring ke hotel, lalu menemukan sarang mereka. Kemungkinan ke 2 adalah para orang kiriman Cheng akan berada di sana untuk memantau lalu mengabarkan si bos dan menemui Seungwoo di sana.
Tentu tidak akan berhasil. Seungwoo tidak berada di hotel itu. Dia hanya memesannya lalu menyuruh anak buahnya yang lain untuk menginap. Jika kemungkinan ke 2 yang dijalankan oleh Cheng, dengan terpaksa ke dua orang itu akan dihabisi untuk memancing si pria tua itu menghadap Seungwoo sendiri.
"Mereka keluar" Seulgi memberi aba-aba lagi. "Tunggu... Mereka ke parkiran, mungkin mengecek mobil" Mereka mengecek keberadaan mobil yang Seungwoo pakai tadi. Untung saja bos mereka cukup pintar membuat jebakan.
Tidak lama kedua orang itu kembali di depan hotel, menunggu seorang valet mengantar mobil mereka lalu segera pergi dari sana. Berikutnya adalah tugas Changkyun yang mengikuti mereka dan menemukan lokasi Cheng.
"Aku tunggu lokasinya"
"Oke" Jawab Changkyun mengendarai mobilnya menjauh dari sana.
Changkyun mengikuti perlahan dari belakang. Tujuan mobil hitam itu adalah salah satu bangunan apartemen besar yang menjulang. Kabar buruknya, dia tidak dapat ikut masuk atau sekedar mencari informasi di dalam. Maka Changkyun mencari tempat tinggi terdekat lalu melihat dengan seksama menggunakan teropong. Pekerjaannya kini lebih mirip tukang intip.
Dan tidak begitu sulit sampai dia bertemu dengan pria tua yang sedang menatap ke luar. Jendela kaca besar itu tidak terhalang apapun. Menjadikan pemiliknya sasaran empuk Changkyun. "Kena kau"
"Lantai 14. Bagian yang menghadap ke Utara. Apartemen XX"
Seulgi langsung melaporkan kepada Seungwoo. Mengiriminya pesan teks. "Terimakasih, Kyun. Kirim lokasimu sekarang"
Seulgi mendengarnya dengan jelas lewat ear piece, dia memasukkan teropongnya ke dalam tas kecilnya. Lalu berjalan ke bawah menuju kamarnya. Dia mengemas beberapa peralatan dan mengganti bajunya agar lebih nyaman. Misi akan segera dimulai, malam ini mereka tidak tidur untuk terus memantau.
Di tempat lain seorang pria juga terjaga sepanjang malam sambil melihat ke arah layar laptopnya. Benda itu masih berkedip di sana. Han Seungwoo belum bergerak bahkan ketika fajar telah datang. Pria China itu meremat tangannya sedikit khawatir, jika Cheng tidak mati hari ini takutnya dia akan segera kembali ke China. Dan pengawalan akan lebih ketat lagi, itu artinya Han Seungwoo benar-benar cari mati dengan berbuat keributan di negeri orang.
Begitu jam menunjukkan pukul 9 tepat anak buahnya datang tergopoh-gopoh ke arahnya. Membungkuk hormat sebelum melapor.
"Tuan Cheng ditemukan tewas pagi ini, Tuan"
Wang Yibo tidak percaya. Dia terkejut karena jelas dia melihat titik merah yang berkedip itu tidak meninggalkan tempat semula. Mungkin Han Seungwoo menggunakan mobil lain. Itu pikirnya.
"Apa penyebab kematiannya?" Yibo bertanya.
"Belum diumumkan secara resmi. Tapi untuk sementara diduga dia terkena serangan jantung"
"Tidak mungkin" Yibo menolak percaya. Seharusnya dia mati karena dibunuh, jika berita menyebarkan seperti itu maka rencana yang dia siapkan bisa berjalan. Namun nyatanya tidak. Matanya bergulir mencari kontak Han Seungwoo, namun pria itu memanggilnya terlebih dahulu.
'Singkatnya, mereka tahu tuan mereka dibunuh. Tapi selain mereka, Cheng mati karena serangan jantung' Suara husky khas orang baru bangun dari Seungwoo menyapa telinganya. Pria itu terdengar santai. Yibo bahkan belum berucap sepatah katapun tapi Seungwoo menjawab dengan tepat. Pria China itu sedikit bingung. Kali ini dia yang kalah karena meremehkan orang itu.
'Jangan main-main denganku Wang Yibo. Kau kira aku datang kemari karena uang? Benda bodoh itu tidak bisa membuatku cukup puas... Kau sudah kalah. Dan aku menyetujuinya karena kau hanya memiliki dua pilihan sekarang. Berada di pihakku lalu mati, atau kau mati hari ini juga'
Wang Yibo gemetar, niat hati ingin mengambil keuntungan dengan menjebak Golden Crown dengan pembunuhan. Malah dia yang harus tunduk sepenuhnya karena banyak berhutang budi pada Seungwoo. Seperti dugaan Seungwoo, Yibo tidak mungkin membantu suka rela tanpa untung. Pada dasarnya keduanya adalah pesaing di perdagangan manusia dan lagi, hubungan mereka kurang baik.
"Sial..." Yibo mengepalkan tangannya.
'Kuhitung sampai sepuluh sebelum eksekutif ku menembakmu' Seungwoo berujar lagi di saluran telepon. '1... 2... 3... 4... 5... 6... 7... 8...9-'
"Oke. Aku setuju, kita akan bekerja sama mulai sekarang" Yibo sedikit meninggikan nadanya, tidak ada gunanya bersembunyi sekarang. Setitik cahaya merah itu sudah berada di dadanya. Sebuah ancaman yang tidak tahu datang dari mana.
Seungwoo tertawa sedikit sinis. 'Bekerja sama? Apa maksudmu? Kau sekarang menjadi budak ku. Bayar hutang budimu dengan impas Wang Yibo-ssi'
"Brengsek... Baik. Baik Tuan Han"
...----------------...
Seungwoo membuka catatan kecilnya. Mencoret nama Yibo di daftarnya. Pria itu tersenyum ringan, lalu beralih ke arah Seungyoun yang masih tidur. Dia mengecupnya singkat lalu pergi ke balkon tengah.
Dia membuka kontak bernama Joy. Tidak bisa dipercaya jika saat ini Seungwoo lah yang lebih dulu menghubungi wanita itu. Dia membuang nafasnya dulu lalu memencet tombol panggil.
'Hallo?' Suara perempuan itu langsung terdengar begitu terhubung.
"Bagaimana keadaan di sana? Baik-baik saja?"
'Baik... Belum ada pergantian shift penjagaan lagi. Hari ini masih Hangyul' Ucap Joy. Seungwoo mengangguk paham. Syukurlah Joy bisa membantu, wanita itu langsung membahas tugasnya bukan hal yang tidak penting seperti dulu.
"Laporkan padaku jika dia pergi tiba-tiba. Terimakasih"
"Oke, terimakasih" Panggilan terputus. Seungwoo beralih ke kontak Irene.
"Bagaimana?"
'Anu, Woo... Aku tidak bisa mengikuti Hanse selalu, tapi ada sesuatu yang ingin ku beritahu' Irene sedikit berbisik di akhir. Alis Seungwoo ikut mengerut dalam. 'Luka di tangannya... kurasa itu goresan pedang'
"Aku akan menghubungi Kim Wooseok segera"
...----------------...
Sebuah ruangan yang berisi 2 orang kini tengah heboh dengan pemberitaan mendadak. Salah satu politisi juga pembisnis China ditemukan meninggal di kamar apartemennya. Seorang pria duduk di kursinya lalu wajahnya memerah karena marah. Makanan mewah di depannya tidak terjamah sama sekali. Yang mereka butuhkan hanya ruangan VIP yang kedap suara. Mereka membeli privasi.
Menurut narasumbernya, Cheng sebenarnya dibunuh karena beberapa penjaga berhasil dilumpuhkan pada malam itu. Namun mereka bungkam karena bukti menunjukkan Cheng mati karena serangan jantung. Bahkan tidak ada tanda-tanda kekerasan maupun racun. Atau mungkin pihak forensik tidak dapat melacaknya. Seseorang yang sudah ahli di bidangnya pasti telah melakukan hal itu.
Pada saat itu juga salah satu pria berkacamata meminum minumannya sebelum berbicara. "Mereka mungkin Golden Crown, Pak" dia berucap.
Orang di seberangnya hanya memandang tidak tertarik. Mereka tidak bisa menemukan motif pembunuhan itu. Akan lebih masuk akal jika diantara mereka yang mati.
"Kenapa mereka tiba-tiba membunuh Cheng?" Pria bermarga Lee itu mengerutkan alisnya.
"Menurut Anda apakah mereka tahu penyerangan di pasar gelap itu adalah ulah Anda Tuan Lee?"
Si Tuan besar itu melotot padanya. Wajahnya berubah garang. "Tutup mulutmu!" Pria paruh baya itu meremat gelas di tangannya. "Sial. Dia adalah penyumbang terbesar dana kampanye ku"
Pria bermarga Park menunduk, dia mencari solusi agar dianggap berguna. Namun otaknya tidak mampu bekerja lagi.
"Kau sudah temukan anakmu?" Tuan Lee mengubah topik pembicaraan.
"Belum... Saya berusaha mengangkat anak dari panti, tapi istri saya menolaknya. Saya tidak bisa membawa anak itu dari tangan mereka"
Tuan Lee hanya mendengus di sebrang meja. Kerutan matanya semakin dalam karena senyuman mengembang di wajahnya. "Ambil kembali dari sana karena kita akan menargetkan Golden Crown sebagai buron atas penyerangan kota barat dan penculikan anak"
"Tapi Tuan... bagaimana caranya?"
"Aku akan menyewa jasa dari seseorang untuk menangkap mereka hidup-hidup"
"Maksud Anda Mr. Ar-"
"Jika gagal. Kau akan mati" lanjut Tuan Lee.
Pria bermarga Park itu menelan ludahnya. Salahnya sendiri karena menelantarkan anaknya yang masih belia, lalu kini tugasnya harus mengambilnya lagi dari tangan orang lain dengan taruhan nyawa.
...----------------...
Seungyoun keluar kamarnya dengan tampilan berantakan. Tubuhnya sempoyongan dan perutnya mual luar biasa. Dia terburu-buru ke kamar mandi lalu memuntahkan isi perutnya. Pria itu bertahan belasan menit di dalam sana, bertahan untuk tidak muntah lebih banyak.
Sunghoon yang baru masuk ke dalam rumah dengan tas panjangnya terlihat panik saat mendengar Seungyoun muntah. Dia mengetuk pintu putih itu beberapa kali. Tapi tidak ada jawaban selain suara erangannya. Han Seungwoo dengan santainya duduk di sofa tengah sambil menikmati kopi paginya.
"Hyung. Seungyoun-Hyung kenapa?"
"Dia banyak makan semalam. Aku sudah memesan minuman untuk mengobati mualnya nanti" Dengan wajah tanpa dosanya dia membolak balik koran di tangannya.
Seungyoun keluar dengan wajah kucelnya. Pria itu terlihat sangat manis dan lemah seperti anak kucing. Sebuah bel membuat Sunghoon bergegas membukakan pintu. Itu adalah makanan yang dipesan Seungwoo. Remaja kecil itu membawa banyak makanan ke dalam tanpa bantuan.
"Sunghoon... dari mana kau?" Seungyoun bertanya dengan mata menyipit. Kepalanya terasa mau pecah.
"Menjalankan misi" Jawabnya sambil menyiapkan makanan di depannya.
"Kenapa kau pergi se pagi itu hm? Nanti kau sakit" Seungyoun dengan tidak tahu dirinya mengkhawatirkan orang lain. Seungwoo memberinya sebotol minuman pereda mual. Pria itu mengerutkan alisnya.
"Khawatirkan dirimu sendiri... cepat minum. Agar bisa makan" Seungyoun meminumnya sampai habis. Dia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. "Masih mabuk?"
"Aku tidak mabuk... Tunggu, semalam aku mabuk?"
Kedua pria itu hanya menggelengkan kepala merespon Seungyoun. Begitu mualnya berkurang Seungyoun ikut sarapan, tidak seenak masakan Seungwoo tapi masih bisa dimakan. Begitu selesai makan Seungwoo memberinya sebutir aspirin untuk meredakan pusingnya. Seungyoun merasa baru dicekoki begitu banyak minuman tadi malam, membuatnya tepar keesokan harinya.
Merasa tidak tega dengan sang istri, Seungwoo memeluknya. "Maaf ya... Maaf... masih sakit?" pria itu mengecup singkat pucuk kepala Seungyoun.
"Sialan kau" Balas Seungyoun sengit.
Sunghoon yang menyaksikan dengan diam ikut tersenyum tipis. Walau galak dan kelihatan tidak akur kedua orang di depannya ini sebenarnya saling menyayangi. Sunghoon menikmati makan paginya dengan sangat bersama kedua Hyungnya.
.
.
.
.
To be Continue
Ku kasih muka nista papi Han ketika dimarahin si mami. Dia cuman bilang "Hehehe... maaf ya mi. Maafin papi ngga..."
"Ngga" -Sengyon.