
Para anggota inti Seungwoo -Kecuali Wooseok- dan anak buahnya mengambil penerbangan ke negara Inggris 2 hari sebelum pernikahan. Sesuai perintah Seungwoo, mereka harus menyisir setiap lokasi dengan detail.
Seungyoun terkejut, mereka menikah sesuai hukum dan aturan yang berlaku, yang berarti pernikahan mereka sah. Seungwoo tidak main-main dengan janjinya. Dia mengadakan acara itu dengan konsep elegan dan sedikit gelap. Mereka mengambil tempat sebuah kastil yang tertutup dan dijaga ketat. Para pengurus pernikahan yang disewa hanya menganggap itu hal yang wajar dan lumrah, mungkin klien mereka kali ini adalah orang-orang yang memiliki privasi yang ketat. Jadi mereka tutup mulut dengan sendirinya.
Sunghoon yang terlihat paling senang. Dia menatap semua tempat dengan pandangan penasaran. Anak itu tidak pernah ke dunia luar. Seungwoo bilang akan mengajaknya ke luar lebih sering.
Mereka menyewa sebuah villa besar untuk beberapa hari. Dengan sebuah kolam renang outdoor yang memiliki tempat berkumpul.
"Ooo... pasti tuan putri kita sangat gugup sekarang"
"Jangan menggodanya lagi Gyul. Tenang saja aku sudah membawa obat penenang" Irene mendekat dengan senampan camilan di tangannya. Seungyoun akui, dia sangat gugup sekarang. Bahkan dia sulit tidur sejak kemarin, untung saja Irene memberinya obat tidur agar bisa beristirahat dengan baik.
"Tapi setelah ini kami tidak bisa melindungi mu jika bos macam-macam" Changkyun ikut menyahut sambil membersihkan pistolnya dan mengisinya.
"Jika dia memaksa, tendang saja selakangannya" Seulgi menatapnya, tersenyum penuh arti ( ͝° ͜ʖ͡°). Seungyoun mengangguk dan tertawa kecil. "Hey, Do Hanse! Kemari kau. Mau makanan tidak?"
Hanse yang sedang berlatih pedang segera mendekat setelah mendengar kata 'makanan'. Pria itu terlalu rajin dan rutin akan latihannya, padahal mereka akan hadir ke pernikahan. Bukan ke medan perang. Percakapan itu berlanjut hingga larut malam.
Sedangkan Seungwoo bersikeras untuk ikut serta dalam kegiatan pengecekan lokasi itu. Dia memantau sendiri anak buahnya sambil sesekali mendapatkan telfon dari Wooseok. Pria itu tidak bisa ikut bersamanya karena Joy tidak bisa membantu sama sekali. Akhirnya dia harus mengurus bisnisnya sendirian. Seungwoo yang dibuat kesal mengerutkan dahinya.
"Bilang saja pada mereka kalau aku sibuk dengan persiapan pernikahanku, proposal apapun tidak dapat di acc bulan ini. Aku juga butuh bulan madu" Kim Wooseok mendengus di ujung sana.
"Rasanya aku mau menyusul kalian saja"
"Kalau kau mau kubakar hidup-hidup silahkan saja kemari Kim Wooseok. Kau mau membuatku bangkrut?" Tempramen Han Seungwoo memang buruk.
"Kan aku juga ingin melihat Seungyoun"
"Jangan bermimpi" Panggilan itu langsung terputus. Wooseok pasti sedang tertawa terbahak-bahak setelahnya membuat bosnya emosi.
................
Hari itupun tiba. Han Seungwoo membuka dirinya secara terang-terangan. Dia tidak menggunakan topeng yang biasa menutupi wajahnya, begitupun Seungyoun. Para tamu undangan juga terlihat tanpa topeng, mereka adalah pedagang sama sepertinya, jadi tidak perlu menutupi wajah mereka.
Seungwoo menggenggam tangan Seungyoun dengan erat. Wajah seriusnya terlihat cerah dan bahagia, tanpa aura suram yang biasa menghiasi wajahnya. Cahaya emas dari lilin itu membuat suasana terasa romantis. Para tamu undangan juga mengikuti acara sakral itu dengan khidmat.
Saat ini mereka sedang bertukar cincin. Memasangkan ke jari satu sama lain. Seungyoun terus bergetar walau sudah meminum obat dari Irene. Cincin itu kini mulai terpasang di jari manisnya, Seungwoo menatapnya dalam, lalu tersenyum melihat ke arahnya. Seungyoun berusaha mengalihkan pandangannya. Pria di depannya ini bukan Seungwoo yang keras seperti biasanya. Dia berubah menjadi lembut dan menghanyutkan.
Begitu acara inti itu selesai, para tamu dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang tersaji. Sejauh ini semuanya berjalan normal dan lancar, puluhan orang di depan Seungyoun terlihat seperti kalangan elit yang penuh uang. Namun nyatanya mereka seseorang yang lebih berbahaya dari itu. Pandangannya beralih ke arah Irene yang berada di barisan paling depan bersama Seulgi dan Sunghoon. Wanita cantik itu terlihat paling banyak menangis selama upacara pernikahannya. Dia terharu. Seungyoun hanya tersenyum ke arah mereka. Irene seperti seorang kakak yang menyaksikan pernikahan adik tersayangnya.
Tiba-tiba dia teringat dengan ibunya. Jika dia tahu Seungyoun menikah dengan seorang pria, ibunya pasti akan mengutuknya habis-habisan. Namun Cho Seungyoun putra tiri Park Nam Sil sudah lama mati, sekarang dia adalah Cho Seungyoun yang akan bersama Han Seungwoo. Dia adalah seorang istri yang lain dari Han Seungwoo.
"Youn, kenapa?" Seungwoo bertanya karena Seungyoun terlihat diam.
"Ingin istirahat sebentar?" Seungwoo segera pergi mengajak Seungyoun di ruangan sebelah yang dipersiapkan untuk beristirahat. Seulgi, Irene dan Sunghoon menyusul. "Tunggu di sini. Aku akan segera kembali" Seungwoo segera bangkit begitu melihat yang lain datang. "Jaga Seungyoun sebentar" Dia keluar menemui para tamu. Acara itu belum selesai, masih ada cara penutup yang cukup penting.
Irene memeluk Seungyoun, pria itu jelas sedang frustasi sekarang. Walau dia menyerahkan diri, menurut dan setuju ada sedikit dari batinnya yang masih terus menolak Seungwoo. Dia terpaksa. Dan dia takut.
"Kau tampan sekali, Youn. Bagus. Kau melakukannya dengan baik" Irene berbisik padanya. Dia adalah satu-satunya orang yang paling sama situasinya.
"Kalian terlihat luar biasa. Selamat ya, Youn" Seulgi tersenyum. Dia merasa hangat melihat kedekatan Irene dan Seungyoun.
"Aku takut..." cicitnya lirih. Dia tidak bisa menyembunyikannya lagi. "Apa aku bisa menjadi wakilnya?"
"Seungwoo-Hyung bilang. Kau tidak terlalu payah" Sunghoon secara mengejutkan memberi dukungan padanya. "Kalau kau takut minta Seungwoo-Hyung melindungimu. Kau harus bisa percaya padanya"
Sebenarnya dia hanya takut kurang mumpuni. Seungyoun takut mengecewakan dan berakhir mati.
Seorang pria yang sedari tadi melihat dari jauh akhirnya mendekat. Sebuah senyuman terukir di wajah tampannya, mantannya menyiratkan keterkejutan.
"Permisi, Tuan Cho" Dia dengan berani mendekat. Seulgi langsung mengamati. "Kurasa kita akan lebih sering bertemu di masa depan. Senang bertemu denganmu" Dia tersenyum miring.
"Kuharap kita menjalin hubungan yang baik...?" Seungyoun mempersilahkan sang lawan bicara memperkenalkan diri.
"Ah, perkenalkan. Aku Tuan Wang" Seungyoun merasa sedikit familiar dengan namanya. "Kita bertemu di pelelangan dulu. Ternyata kau dimenangkan Han Seungwoo, sayang sekali" Yibo menyambung ucapannya lagi.
Tiba-tiba Seungwoo sudah berada di tengah-tengah mereka. Dia tersenyum ke arah Yibo. Pria brengsek itu mencari kesempatan untuk mendekati istrinya.
"Sayang sekali Yibo-ssi. Sekarang waktunya acara penutup, mari kita ke aula" Mereka kembali ke aula. Seungyoun merasa harus menempel pada Seungwoo kali ini. Seperti yang dia tahu, Mr. Wang ini masuk ke daftar hitam. Dia merupakan pihak yang mungkin merugikan baginya. "Perhatikan sikapmu. Kalau kau melanggar perjanjian mungkin lain kali kepalamu yang akan ada di box kayu"
Wang Yibo tertawa. "Aku tidak tahu kau se protektif itu"
"Aku hanya melindungi milikku"
Acara penutupan saat ini disaksikan oleh semua tamu. Mereka memandang antusias ke arah Seungyoun dan Seungwoo. Tatapan mereka seperti menelanjanginya. Seungwoo mengumumkan hal yang paling penting hari itu. Bahwa pemegang bisnis bawah Keluarga Han akan jatuh kepada Cho Seungyoun. Dia bukan tangan kanan, namun sebagai perwakilan dan bos ke 2 setelah Seungwoo. Jadi apapun keputusannya adalah keputusan Seungwoo juga. Jadi Cho Seungyoun sama terhormatnya seperti Han Seungwoo. Mereka bersorak gembira, bertepuk tangan sambil menyelamati telah datang ke dunia bawah.
Bagi Seungyoun itu hanya sebuah sambutan selamat datang ke neraka. Dia akan menjadi iblis seperti yang lain mulai sekarang.
.
.
.
.
To be Continue.
Cie yang jadi istrinya orang ( ꈍᴗꈍ)