Another Wife

Another Wife
Chapter 31: Pengkhianatan



"Lama tidak bertemu, Otōsan" Hanse memberi salam.


Pria tua itu menatap anaknya dengan pandangan nyalang, lalu beralih menatap orang-orang di depannya yang terlihat bersiaga di tempat. Tidak ada raut terkejut dari keempat orang itu. Hanya si penembak di menara dan temannya yang lain yang memasang wajah bodohnya.


"Golden Crown. Aku mengambil pewaris ku kembali" Dia berkata dalam bahasa Jepang yang hanya dimengerti Seungwoo, Changkyun dan Hanse.


Kenapa tiba-tiba para orang tua ini begitu peduli pada putranya. Mengambil mereka kembali dengan mudahnya. Ayah Hanse dan Sunghoon benar-benar menjengkelkan.


"Kenapa kau tiba-tiba mengambil putramu yang kau buang?" Seungwoo bertanya, masih yakin jika salah satu eksekutif nya itu diambil secara paksa. Si lawan bicara hanya tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha... aku tidak pernah membuangnya. Aku hanya menaruhnya di sana sebagai umpan lalu seekor ikan besar memakan umpanku"


Do Hanse entah kenapa tampak gelisah di tempatnya. Seharusnya pria itu senang karena ayahnya menjemputnya kembali. Changkyun tidak bisa bergerak lagi, kakinya mulai bengkak karena terkilir, lalu yang lain juga sama lelahnya. Hanya Kim Wooseok yang masih terlihat sehat bugar. Tapi dia tidak memiliki cukup nyali untuk ikut campur.


"Jadi. Apa yang kau dapat selama ini, Shinobu Hanse? Coba katakan di depan mereka"


Hanse terlihat berlutut, walau terpisah lama namun sikap sopan kepada ayahnya tidak hilang. Anak itu dididik dengan baik.


"Menjabat sebagai salah satu eksekutif, memanipulasi data dan mencurinya, ano Otōsan... maaf belum bisa membunuhnya" Hanse berlutut dengan menunduk dalam, misi terakhirnya belum terlaksana. Hanse terjungkal karena tendangan ayahnya. Pria tua itu memiliki tubuh bugar yang sangat kuat. Hanse hanya menunduk, memaklumi kemarahan ayahnya. Dia gagal dalam misi.


"Tidak berguna..." ayahnya mendesis pelan.


Han Seungwoo mematung di tempatnya. Changkyun juga demikian. Do Hanse benar-benar seorang penyusup selama ini? Bahkan misi utamanya membunuh Seungwoo.


Si bos Golden Crown masih menatap Hanse meminta penjelasan. Orangnya. Rekannya. Eksekutifnya. Juga seseorang yang selalu patuh padanya kini menunduk kepada orang lain. Kilas balik kejadian 7 tahun lalu kembali terulang seperti kaset rusak. Membuat pikirannya kacau, dia tidak bisa berfikir dengan jernih.


"Woo. Kami butuh perintah" Seulgi berbisik, mencoba menyadarkan Seungwoo yang hanya diam mematung.


Tapi percuma. Dia tetap diam menatap Hanse. Akhirnya Seungyoun yang menggunakan otaknya. Dia melihat slot pelurunya, benda itu kosong. "Bagaimana peluru kalian?"


"Sisa 2" Jawab Seulgi.


Keputusan membuang peluru sepanjang hutan tadi akhirnya berdampak fatal bagi mereka. Jika mengambil langkah yang salah mereka akan kena tebas atau bahkan ditembak Hanse dengan pistolnya. Changkyun berharap Kim Wooseok cepat turun dari sana, tapi pria itu malah menghampiri Hangyul yang kehilangan banyak darah.


"Aku tidak mengerti kenapa kau sangat lama untuk menghabisi orang-orang bodoh ini, Shinobu Hanse!" Pria yang diketahui bermarga Shinobu itu kembali marah dan tidak puas atas pencapaian putranya selama bertahun-tahun.


"Maaf, Otōsan. Aku pantas mati" Hanse kembali menunduk.


"Akan ku potong jarimu sebagai hukuman begitu sampai rumah. Kau gagal. Lalu... aku yang akan menghabisi orang-orang bodoh ini" Pria tua itu mengangkat lengannya, menarik katana nya dari sarung pedang.


Mereka berempat tegang di tempat. Jika tidak salah ingat, guru Hanse dalam ilmu pedang adalah ayahnya sendiri. Pria itu sama terampilnya dengan Hanse, jika berada di posisi tanpa senjata seperti ini hanya akan menjadi akhir bagi mereka.


Seulgi tidak tahan lagi, melihat Changkyun terluka dan bosnya yang sedang jatuh secara mental. Dia maju paling depan, menyiapkan pistolnya lalu menembak orang tua brengsek yang mengancam nyawanya itu. Pelurunya dengan mudah ditangkis oleh pedang yang tidak begitu lebar, Seulgi sudah menduganya, tapi dia tetap mencoba. Lalu tembakan ke dua diluncurkan, menyerempet tepat di bahu ayah Hanse. Pria itu berdarah, namun bukan luka yang serius.


"Kuso ̄!" Pria tua itu maju lebih cepat, mengayunkan katana nya ke arah Seulgi yang sudah pasrah di tempatnya. Setidaknya yang lain tidak terluka, itu pikirnya.


"Otōsan!"


'Clang!'


Suara besi beradu begitu nyaring di telinga keempat orang yang terpojok itu. Hanse memblokir serangan ayahnya. Menghempaskan tubuh Seulgi mundur, membuatnya jatuh.


"Anak sial! Apa yang kau lakukan di hadapanku?!"


"Otōsan... ini tanggung jawabku untuk membunuh mereka. Biarkan aku, menuntaskan tugasku" Hanse menahan tekanan katana ayahnya.


Sang ayah nampak tidak puas atas keputusan Hanse. Alisnya bertaut di tengah. "Otōsan, ijinkan aku membunuhnya dengan tanganku sendiri"


"Tuntaskan dengan cepat. Hukuman menunggumu di rumah" Pria tua itu akhirnya mundur ke arah helikopter. Masuk ke dalam sana.


Do Han-Shinobu Hanse berbalik ke arah mereka. Pandangannya berkabut, menatap keempat rekannya dengan pandangan lain. Irene yang sedari tadi menahan diri di balik pintu akhirnya keluar juga. Melihat Hanse yang begitu kehilangan akal ingin membunuh keempat orang itu.


"Do Hanse brengsek! Apa kau serius?! Sadarlah bodoh!" Irene berteriak marah. Seulgi yang panik menghampiri wanita itu, menyuruhnya bersembunyi.


"Aku hanya harus membunuhmu, kan? Seungwoo-Hyung"


"Hanse, kenapa kau berkhianat padaku?" Seungwoo akhirnya bertanya.


"Kau sudah mendengarnya. Aku hanya sebagai umpan, jangan terlalu naif dan menganggap ku keluargamu" Hanse mengeluarkan katana nya.


Changkyun dan Seungyoun berfikir keras di tempatnya. Kalau saja ada batu di sekitar mereka, pasti bisa digunakan. Han Seungwoo tidak beralih dari tempatnya.


"Kau tidak terpaksa melakukan ini semua?"


"Tidak" Hanse bersiap menebas. Matanya menatap Seungwoo dengan gemetar, bosnya, rekannya, orang yang selama ini dia panggil Hyung. Jika dia mati maka selesai sudah, misinya terpenuhi.


"Kau iya. Kau ragu, Do Hanse" Seungwoo menatapnya. Namun Hanse semakin memegang pedangnya erat.


"Diam kau!"


"Masih belum terlambat untuk kembali kemari, Se"


"Sudah kubilang diam!"


Ayunan katana itu mengiris daging dengan mudahnya. Semua orang di sana berteriak, menyerukan satu nama yang memekakkan telinga.


Si pria kecil milik Seungwoo mengorbankan lengannya teriris sobek karena ulah Hanse. Darah segar mengucur deras dari sana. Si pelaku menatap Seungyoun terkejut, dia tidak menyangka pria itu akan menghadang tebasan pedangnya.


"Sial kau, Do Hanse. Mau melukai bosmu huh?" selesai mencerca Seungyoun menendang telak Hanse, sakit di lengannya tidak begitu terasa karena amarahnya.


"Brengsek! Hanse kau akan mati kali ini" Seungwoo mengejar Hanse yang melarikan diri dengan membabi buta. Hanse tertangkap dengan mudah, pergulatan itu tidak dapat dihindarkan. Untungnya Hanse menyarungkan pedangnya kembali, lagipula Han Seungwoo sudah lepas kendali ingin segera mematahkan leher Hanse tanpa berpikir resikonya.


Seungyoun melihatnya dari jarak cukup jauh. Han Seungwoo marah besar karena Hanse melukainya. Seungyoun merasakan kakinya bergetar tiba-tiba, jari-jari tangannya mulai merasa dingin entah kenapa. Perlahan dia jatuh terduduk, merasa bingung dia mencoba memanggil Seungwoo. Tapi suaranya bahkan tidak dapat keluar. Kelumpuhan itu sudah mencapai pinggangnya, lalu dia jatuh menelungkup. Irene dan Seulgi berlari ke arahnya. Semua orang di sana menyadari apa yang terjadi, kecuali Seungwoo yang sibuk dalam pertarungan.


"Han Seungwoo! Racunnya! Cho Seungyoun terkena racun!" Changkyun pada saat itu berteriak. Pria tinggi itu melupakan Hanse, meninggalkan nya untuk melarikan diri lalu menghampiri Seungyoun yang sudah diberikan CPR oleh Irene. Pria kecilnya mulai susah bernafas.


Yang Seungyoun rasakan. Seluruh tubuhnya perlahan mulai mati perlahan dan sangat menyakitkan. Bernafas pun sangat susah, dia hanya bisa melihat orang-orang di sekitarnya menjadi panik karena dirinya. Dia kedinginan, penuh ketakutan dan hanya bisa menangis tanpa suara. Paru-parunya terasa mau meledak karena tidak bisa mengembang dengan baik. Bibirnya menjadi sedikit biru, Cho Seungyoun tidak bisa menggenggam balik tangan hangat Seungwoo. Pria itu meremas tangannya cukup kuat, wajahnya merah padam hampir menangis.


'Woo... sakit' Hanya itu yang dapat Seungwoo tangkap dari gerak bibir Seungyoun. Pria kecil itu terus mengeluarkan air matanya.


"Tahan sebentar oke? Seulgi sedang mengambil penawarnya. Bernafas dengan baik, terus bernafas. Jangan tertidur" Sebuah kecupan hangat diberikan Seungwoo di kening Seungyoun. Pria itu jadi teringat peristiwa pasar manusia saat dia hampir mati dulu, namun rasanya tertembak tidak seburuk saat ini. Seungyoun hanya bisa menatap Seungwoo dengan mata semakin sayu. Seungwoo terus menggenggam tangan dingin Seungyoun. Mencoba memberinya sedikit kehangatan, berharap bisa mengurangi sakitnya. Tapi percuma, nafas pria kecilnya sepenuhnya bergantung pada gerakan CPR Irene. Dia tidak mampu mengambil nafas lagi. Seluruh tubuhnya yang berhubungan dengan otot lurik menjadi lumpuh.


'dingin'


Cho Seungyoun menutup matanya. Dia masih bisa mendengar suara teriakan Seungwoo dan Irene yang semakin terasa jauh lalu menghilang. Hanya sunyi.


...----------------...


Seorang wanita cantik itu sudah 2 kali ke kamar pria yang hampir seminggu ini terus menutup matanya. Ventilator yang dia gunakan masih terpasang di mulutnya, kondisinya tidak sepenuhnya baik. Pagi ini kesadarannya mulai kembali 2 kali, tapi matanya kembali tertutup tanpa respon lagi.


Seperti saat ini, Irene sedang membuka tirai kamar, membiarkan cahaya matahari pagi masuk dengan leluasa. Cho Seungyoun membuka matanya, sedikit lebih lebar dari tadi pagi. Irene tidak berharap banyak, mungkin pria itu akan kembali menutup matanya seperti kemarin atau tadi pagi. Namun nyatanya, Seungyoun menatapnya lama. Dia terlihat ingin bertahan dari rasa kantuknya.


"Youn?" Tidak ada jawaban berarti. Ventilator yang membantunya bernafas menghalanginya untuk bersuara. "Mari lakukan pengecekan"


Irene mulai mengecek reaksi pupil mata Seungyoun, indra itu bekerja dengan baik. Lalu anggota gerak lainnya. Seungyoun hanya bisa menggerakkan tangannya perlahan. Dia tidak bisa merasakan atau menggerakkan kakinya. Tubuh bawahnya masih lumpuh, efek racun Seulgi pada pedang yang Hanse gunakan belum sepenuhnya menghilang. "Tidak apa-apa. Jangan khawatir, kau pasti akan pulih" Irene mengecup singkat kening Seungyoun, memberinya ketenangan. Pria yang terbaring itu jelas penuh kekhawatiran, bagaimana jika efeknya permanen? Yang lebih buruk keadaannya malah akan menyusahkan yang lain. Dia menjadi tidak berguna. Bicara pun tidak bisa, pernafasannya masih dibantu ventilator, alat itu mengeluarkan suara halus yang mengerikan.


Irene segera menghubungi Seungwoo atas perkembangan Seungyoun. Hanya ada dia, Seungyoun dan Hangyul di ruang sebelah. Dia dalam masa pemulihan setelah tertembak. Seulgi sedang berganti menjaga Joy, Seungwoo terbang ke Mexico untuk mengurus pabrik senjatanya. Lalu Changkyun dan Wooseok mengurus saham bisnis legal Seungwoo. Pria itu menaikkan saham milik Wooseok dan menyingkirkan dirinya sendiri dari perusahaannya. Sekarang pemegang Hans Biopharmacies adalah Kim Wooseok. Dia menitipkan perusahaannya kepada pria mungil itu. Kim Wooseok secara resmi keluar dari mansion Seungwoo, dia diperintahkan untuk menjalani kehidupan normalnya di luar agar mengurangi kecurigaan juga melindungi dirinya sendiri. Wooseok awalnya menolak dengan keras, dia merasa tidak becus dan terus bersalah tidak dapat membantu apapun. Tapi akhirnya menurut karena Seungwoo mengancam akan membunuhnya jika tidak menurut.


Irene dengan banyak pikirannya akhirnya menghela nafasnya berat. Banyak yang terjadi selama seminggu ini. Seungyoun hampir menutup matanya lagi, pria itu diserang kantuk yang berlebih. Irene maklum. Pasien pasca koma atau kasus tertentu seperti Seungyoun akan sulit untuk menjaga kesadarannya setelah sadar. Biasanya butuh waktu untuk benar-benar bisa sadar.


Sebuah panggilan video datang dari ponsel Irene. Tertera jelas nama 'Si Bodoh' di layarnya.


"Hai tampan" Irene mengangkat panggilan itu. Wajah Seungwoo masih mendung seperti sebelumnya, aura orang itu sangat suram akhir-akhir ini.


"Jangan bercanda, Ren"


"Oke oke Tuan Kaku. Ada apa?" Irene sibuk menggodanya, bermaksud mengembalikan mood Seungwoo. Tapi ternyata sebaliknya.


"Mana Seungyoun?" Mata Seungwoo sibuk mencari di belakang Irene. Barangkali pria kecilnya dapat dilihat dari sana. Irene mengarahkan kameranya pada Seungyoun yang terlihat setengah tidur. Matanya hampir menutup, begitu mendengar suara Seungwoo dia kembali terjaga.


"Seungwoo mencarimu"


"Youn! Apa kau sudah mendingan? Sudah tidak sakit lagi? Kalau ada sesuatu beritahu Irene, ok? Aku akan pulang lusa" Seungwoo dengan nada bersemangat mengajak Seungyoun berkomunikasi. Jelas pria itu tidak bisa menjawab, dia hanya menatap Seungwoo lewat layar ponsel Irene. Pria tinggi itu menampilkan satu matanya karena jarak wajahnya yang terlalu dekat.


"Sial... kau sangat ramah pada istrimu. Lalu acuh padaku" Irene mengumpat pelan.


"Mau oleh-oleh apa? Atau mau wine? Beritahu Irene, nanti kubelikan" Oke Han Seungwoo pada tahap ini sudah keterlaluan dalam memanjakan Seungyoun.


"Woo... jangan aneh-aneh. Seungyoun masih bernafas lewat ventilator, kau ingin memberinya wine?"


"Berisik, Ren"


Seungyoun hanya tertawa dalam hatinya. Kenapa kedua orang ini terus bertengkar. Dan lagi, dalam tidur panjangnya bahkan Seungyoun menginginkan orang itu. Dia tidak ingin apapun selain Seungwoo.


"Kau baik-baik di sana, jangan khawatir. Aku akan mengurus semuanya, semua akan kembali seperti dulu... aku akan kembali lusa, jadi cepat sembuh dan sambut aku. Jangan rindu terlalu dalam padaku... berbahaya" Seungwoo tersenyum, wajahnya berubah sedikit lembut.


Gombalan murahan dari Seungwoo terdengar sangat tulus entah kenapa. Irene hanya mendengarkan, bibirnya membentuk senyuman tipis. Melihat Seungyoun yang terlihat lelah akhirnya Seungwoo memilih untuk mengakhiri panggilannya.


"Kalau begitu... tidurlah. Tunggu aku kembali. Aku rindu padamu, Youn" Panggilan diakhiri.


Irene membiarkan Seungyoun untuk istirahat. Dia keluar dari sana dan menutup pintunya kembali. Benar, seharusnya Seungyoun jangan rindu terlalu dalam pada Seungwoo. Dia merasa rindu, tapi kantuknya tidak dapat ditahan lagi.


'Aku juga sangat merindukanmu, Woo' lalu matanya tertutup rapat kembali tertidur.


.


.


.


.


To be Continue



Cie cie yang saling rindu. Jauh di mata dekat di hati ya Youn... hue hue hue