Another Wife

Another Wife
Chapter 6: Pertemuan



Tepat jam 4 pagi sebuah mobil Van putih masuk ke arena pekarangan rumah utama. Dari sana turun 3 orang pria yang membawa beberapa koper dan kotak persegi panjang. Salah satu dari mereka yang berambut paling panjang menghirup dan membuang nafasnya. Aroma rumah. Begitu barang bawaan mereka telah dikeluarkan semua mereka masuk ke rumah. Para penghuninya masih tidur, termasuk si bos yang memiliki jam tidur paling kacau.


Mereka terhenti di ruang tamu, atau bisa disebut ruang berkumpul. Salah satu pria itu memeluk sayang sofa kesayangannya.


"Oh yeah baby, papa datang padamu"


"Mulai lagi dia. Hyung kalau kau merasa sangat kesepian seharusnya cepat mencari pacar" si yang paling muda menanggapi. Mungkin Hyungnya itu memang terlalu kesepian.


"Aku punya banyak kalau aku mau. Tapi sekarang aku harus fokus pada pekerjaan kita"


"pekerjaan pekerjaan pantatmu. Aku yang paling bekerja keras disini"


"Ya. Cocok saja karena kerja otakmu kurang keras"


"Maksudmu aku bodoh? Hahaha, coba mana otakmu lebih berotot dari lenganku tidak?!" Si rambut panjang hanya diam dikala keributan itu makin menjadi. Dia lebih memilih memilah barangnya sendiri lalu menumpuknya dengan yang lain. "Hanse Hyung. Coba katakan lebih efisien aku atau dia" Lagi lagi bayi besar itu meminta pembelaan padanya.


"Katakan pada katana ku" Hanse mengeluarkan katana nya. Memperlihatkan koleksi barunya yang dia dapat dari Jepang seminggu lalu. Im Changkyun mendengus kesal.


"Dasar tukang pamer" Dia kemudian duduk lalu mengelus Sofanya lagi.


"Sial, aku lapar" Hangyul menyudahi emosinya, lebih memilih untuk ke dapur dan segera membuat makanan.


Changkyun berbisik setelah Hangyul menjauh "Lihat kan dia bodoh". Hanse melotot padanya, mencegah kedua manusia yang jarang akur itu bertengkar lagi.


Tidak membutuhkan waktu lama sampai hidangan siap. Pagi itu mereka bertiga sarapan di meja yang mereka sayangi. Walau beberapa kali sempat ada adu mulut lalu dilerai oleh Hanse. Lalu setelah selesai makan mereka kembali ke kamar masing-masing, hanya Hanse yang sempat membawa barang bawaannya ke atas.


................


Pagi itu Seungwoo dikejutkan oleh dapurnya yang berantakan. Jangan lupakan beberapa koper dan box masih tercecer di ruang berkumpul mereka. Rumahnya seperti terkena gempa dalam semalam. Pasti para perusuh itu sudah datang. Terbukti saat dia melihat keluar Hanse sudah berlari kecil mengelilingi lapangan.


"Do Hanse!"


"Oi Pak Bos!" Setelah melambaikan tangannya ia menuju Seungwoo segera. "Aku dan yang lain datang tadi pagi, belum sempat laporan"


"Tidak masalah, kau suka jalan-jalanmu kali ini?" Jika semuanya berjalan baik, laporan akan dilakukan ketika sempat. Begitu pikir Seungwoo.


"Lumayan. Eksekusi berhasil Hyung. Para jaminan akan dipulangkan hari ini. Tinggal 4 orang tersisa mau kau apakan?" Seungwoo mengangguk puas, 6 keluarga dalam waktu kurang dari sebulan itu lumayan hebat. Seperti kesepakatannya dengan para jaminan yang dipulangkan, mereka akan tetap mendapat hak waris oleh kematian keluarganya, namun pembagian hasil itu masih tetap ada. Seungwoo meminta 40% dari warisan mereka.


"Entahlah. Menurutmu apa yang harus kulakukan?" Hanse menaikkan bahunya. Dia juga kurang yakin.


"Tanya pada Wooseok saja?"


"Tidak, dia tidak mau ikut campur dengan para jaminan"


"Tanya pada Changkyun saja?"


"Dia akan menyarankan untuk membunuh semuanya"


"Tanya pada Hangyul?"


"Jangan bercanda padaku, Se"


"Tanya pada anggota baru?"


"Siapa yang memberitahumu kali ini?"


"Irene"


Mereka berjalan kembali ke dalam rumah. Seungwoo memungut beberapa barang dan menyingkirkannya ke pinggir. Lumayan rapi daripada sebelumnya, sementara masalah dapur itu akan dibereskan oleh beberapa maid miliknya. Mereka duduk di ruang tengah, Seungwoo sedang menyusun kata sebelum berbicara pada Hanse.


"Se, kurasa aku akan benar-benar kembali ke bisnis awal"


"Ya, itu bagus" Hanse menyalakan tv di depannya. Melihat berita pagi.


"Oh, setelah tertipu kau kapok jadi lintah darat ya Hyung?" Changkyun datang menuruni tangga.


"Aku merasa privasiku tidak dihargai sekarang. Tau dari siapa lagi kau?"


"Wooseok" Seungwoo membuang nafasnya pasrah. "Jangan terlalu kecewa, memang dari awal hubungan kita ini transparan. Jangan ada rahasia" Changkyun duduk di tengah dengan santai.


"Terserah. Sejauh mana kalian tau? Dan aku bukan lintah darat, sialan"


"Tidak terlalu banyak. Hanya si anggota baru itu berasal dari jaminan dan ayahnya yang menipumu. Ngomong-ngomong, dia klien pertamamu saat membuka bisnis sampingan ini bukan?" Seungwoo hanya mengangguk. Jadi mereka tahu banyak hal selama di luar. "Yah... aku tidak tahu kalau dia itu seleramu. Biar ku tebak, apakah si anggota baru itu akan menjadi calonmu kelak?"


Seungwoo menatap Changkyun tanpa bisa diartikan. Sementara Hanse ikut menatapnya. Seungwoo rasa pria berambut panjang itu sedikit bingung atas ocehan Changkyun yang terlalu tajam menilai situasi. Situasi hening sebentar, Seungwoo masih belum menjawab.


"Jangan konyol, aku masih belum ingin memilih seseorang"


"Hahahaha... Jangan bilang kau sedang bingung karena posisinya tidak cukup baik sekarang"


"Apa maksudnya?" Hanse bertanya spontan.


"Sudahlah Se, kau tidak paham tentang perasaan semacam itu jadi simak saja"


"Maksudmu tentang cinta?" Seungwoo memutar matanya malas. Inilah akibatnya tidak pernah keluar selain bekerja. Hanse selalu mengutamakan tugasnya daripada kehidupannya.


"Selamat pagi, Youn"


"Pagi juga, Seungwoo Hyung" Setelah pengangkatannya menjadi anggota, Seungyoun diharuskan memanggil namanya. 'Dipanggil Tuan itu sebenarnya tidak menyenangkan' begitu kata Seungwoo.


"Pagi, Hangyul" Pria berbadan atletis itu menyapa dirinya sendiri. Entah muncul darimana dia. Tindakan konyolnya membuat Seungyoun terheran.


"Kenalkan dia Hangyul"


Mereka berkenalan ala kadarnya di dapur, setelah itu anggota yang lain menyusul, perkenalan pun dilanjut. Setelah para maid datang dan membuat sarapan mereka makan bersama di meja panjang. ke 6 kursi terisi, menyisakan 3 kursi yang masih kosong. Jadi Seungyoun paham, bukan meja mereka yang terlalu lebar, tapi karena penghuni rumah ini cukup banyak.


"Aku sarankan kau belajar menembak denganku, Hyung"


"Tidak tidak. Gulat lebih baik. Bela diri itu penting"


Mereka memandang Hanse yang masih belum mempromosikan keahliannya. Yang ditatap hanya mengunyah telurnya santai. "Apa? Jangan belajar denganku. Ilmu pedang itu kuno dan ketinggalan jaman"


"Tenang saja Hyung. Bocah ini memang sering merendah untuk meninggi" Changkyun memukul kepala Hanse cukup keras. Seungyoun hanya tersenyum, orang-orang di depannya ini terlihat sangat hangat dan akrab di meja makan. Atau mungkin mereka sama seperti Seungwoo. Seungwoo di dalam rumah berbeda dengan Seungwoo di lapangan kemarin sore.


"Terserah padamu, Youn. Tinggal pilih salah satu. Kau harus bisa sebelum berpindah ke yang lain"


"Aku akan mendengarkan saranmu, Hyung" Seungyoun balik bertanya pada Seungwoo. Sepertinya dia mempercayakan pada ahlinya.


"Ku sarankan kau belajar dengan Changkyun lalu Hangyul. Setelah itu belajar dengan Hanse"


"Sudah kubilang kan aku yang paling terakhir" Hanse berujar sedih.


"Karena Hyung payah"


"Bwahahahaha" Changkyun dan Hangyul tertawa paling keras sampai memukuli meja makan. Balasan singkat dari Sunghoon yang sedari tadi diam membuat mereka tertawa keras. Tidak biasanya bocah itu ikut dalam perbincangan mereka. Hanse sebenarnya ingin menebas kepala anak itu dengan katana baru miliknya, tapi dia bisa dibunuh Seungwoo jika itu terjadi.


"Tidak Hyung. Aku bercanda. Belajar pedang itu sulit, membosankan" Sunghoon bicara lagi sambil mengunyah makanannya.


'Tumben dia bicara' itu yang dipikirkan semua orang. Tapi Seungwoo hanya tersenyum senang. Dia mengelus kepala Sunghoon beberapa kali. "Anak pintar. Ya, jadi walau itu bagus. Kau harus mulai yang paling mudah dulu untuk belajar" Seungyoun mengangguk paham. Mereka meneruskan sarapan sembari kembali bercanda. Sarapan pagi itu adalah sarapan hangat ala keluarga yang Seungyoun rasakan lagi setelah beberapa tahun. Dia senang, nyaman, bahagaia. Namun sekali lagi. Dia takut untuk terlalu nyaman akan situasi seperti ini, Seungyoun takut bahagianya akan hilang lagi.


................


Sebenarnya Changkyun tidak pernah menerima murid selain Seungyoun. Jadi dia mengajarinya dengan kaku. Banyak peluru yang masih meleset dari target, tangan Seungyoun belum terbiasa dengan dorongan balik dari pistol juga suara kerasnya. Tidak peduli seberapa banyak dia mencoba suara itu masih tetap membuatnya terkejut. Sunghoon yang melihat dari jauh hanya bergeleng-geleng. 'Payah' bibir kecilnya kembali mengkritik 2 orang dewasa di depannya, lalu pergi setelahnya.


Seungyoun hampir 3 jam berdiri di sana. Mencoba mengikuti instruksi Changkyun yang sebenarnya tidak membantu banyak. Tangannya masih agak gemetar, walau membaik tapi tetap saja. Target yang dia kenai bukan titik vital seperti harapannya.


"Istirahat dulu, Youn" Wooseok menghampirinya, membawakannya sebotol minuman dingin.


"Hyung. Datang kapan?"


"Barusan. Kau sedang belajar menembak? Dimana Changkyun?"


"Dia pergi dipanggil Seungwoo" Wooseok mengangguk singkat. Dia paham kenapa Seungyoun tidak meningkat dengan cepat, itu karena gurunya payah.



"Mau coba punyaku?" Wooseok mengeluarkan pistolnya, Seungyoun hanya menampilkan wajah terkejutnya. Kenapa pria itu punya pistol? "Hahaha... jangan terkejut begitu. Aku harus dibekali dasar yang kuat dan terampil untuk pekerjaan ini. Nah... pistol ini P99, buatan Jerman. Kau harus menarik pelatuknya seperti ini. Sudah kuisi peluru. Jarak efisiennya sampai 50m, jadi cukup jauh. Kau harus perbaiki posisi peganganmu, lalu arahkan seperti ini ke arah target, jangan bergetar, tenangkan tanganmu siapkan tolakan. Lalu tembak"


Tembakannya berada di sisi target, tangannya menjadi lebih stabil karena Wooseok memegangnya. Seungyoun tersenyum senang, arahan Wooseok cukup berguna.


"Bersenang-senang ya?" Seungwoo mendekat, melihat Wooseok. Karyawannya yang satu ini mulai terlihat terlalu dekat dengan Seungyoun. "Kenapa kau di sini?"


"Mengajarinya, hehe" Wajah Seungwoo masih kurang mengenakkan. "Karena Changkyun kau panggil tadi. Aku hanya mampir, Woo. Kenapa?"


"Tidak. Aku hanya bertanya"


Changkyun yang berada di sisi Seungwoo berbisik pelan pada Wooseok. 'mungkin dia cemburu'. Sebuah sikutan berhasil didapatkan Changkyun setelahnya, dia meringis sakit.


"Kapan kapan aku akan menjahit bibirmu" Wooseok tertawa pelan. "Kau harus segera menguasai ini, Youn. Ada misi baru untuk kalian bulan depan"


"Aku akan berusaha"


"Apa lagi kali ini?" Wooseok bertanya.


"Menemukan tikus perusuh di pasar"


.


.


.


.


To be Continue.



Duo baby boi