Another Wife

Another Wife
Chapter 10: Tradisi Keluarga



Han Seungwoo pernah sekali bercerita tentang sistem di dalam keluarganya. Semua orang di sana memasang telinga mereka dengan benar. Tradisi keluarga yang mungkin hanya sebuah kutukan yang harus dijalankan. Kisah itu memperburuk sejarah kelamnya.


Keluarga Han yang melakukan bisnis kotor ini harus memiliki bisnis bersih sebagai kamuflase.


Keluarga Han akan memilih seorang wanita, dengan latar belakang baik dan harus bisa diajak bekerja sama tentunya. Seorang wanita bermartabat yang akan mendampingi seorang pria bermartabat pula. Menjalankan bisnis bersih.


Lalu untuk bisnis kotor. Mereka biasanya memilih seorang pria yang cukup kuat dan terampil. Seorang pasangan pria untuk sebuah bisnis kotor penuh resiko. Kedua hal itu adalah suatu keharusan. Cinta tidak diperbolehkan dalam keluarganya. Jika tidak berguna akan segera dihilangkan. Berlaku untuk sang 'istri' pria dan wanita. Jika salah satu dari mereka bermasalah, maka mati hukumannya.


Han Seungwoo begitu memikirkan hal ini untuk waktu yang sangat lama. Bahkan sejak dia kecil. Bagaimana seorang pria bisa bersama dengan pria lainnya. Atau mungkin. Bagaimana dia bisa memiliki 2 istri tanpa ikatan cinta. Setiap hari ajaran ajaran itu mulai melekat padanya, tidak dapat lepas. Maka dia memenuhi janji masa lalunya dengan keluarga Joy, seorang gadis yang sudah dipersiapkan untuk nya.


Seungwoo begitu bingung dengan pemilihan pendamping prianya. Kata ayahnya, itu akan terjadi begitu saja. Ketika dia melihat seseorang yang tepat di tim atau seseorang yang dia percayai.


Namun saat itu. Saat pertama kalinya dia membuka sebuah bisnis sampingan. Si jaminan pertamanya terlihat begitu manis dan menggemaskan. Cho Seungyoun begitu berkesan bagi Han Seungwoo. Karena dia adalah seseorang yang pertama masuk ke dalam bisnisnya. Juga seseorang yang pertama kali menipunya. Rasa marah itu awalnya tidak main-main, lalu karena melihat kondisinya sekarang. Pria kecil yang lucu dahulu sudah hilang. Dia menjadi lebih diam dan tidak bahagia. Han Seungwoo kebingungan dengan hatinya. Antara rasa dendam atau kasihan, dia bingung memperlakukan Seungyoun.


Setelah tipuannya berjalan lancar, yang sekarang ada di pikirannya hanya. Bagaimana cara agar pria itu tetap tinggal di sisinya. Dengan segala cara dia berusaha membuat Cho Seungyoun takut dan patuh padanya. Tapi di sisi lain dia juga ingin mendapatkan kepercayaan darinya. Untuk pertama kalinya Seungwoo sampai pusing memikirkan orang lain.


................


Makan malam hari itu mereka berkumpul lagi dengan yang lain. Wajah semua orang di sana begitu cerah. Kecuali Seungwoo yang sedikit lebih diam. Begitu makan malam hampir selesai. Seungwoo berbicara pada Seungyoun, "Setelah ini temui aku di ruang kerja, Youn" dia pergi meninggalkan meja terlebih dulu.


Seungyoun duduk lagi di sana dengan suasana yang lebih ringan dari sebelumnya. Seungwoo tiba-tiba bercerita banyak tentang tradisi keluarganya.


"Jadi, intinya saja. Aku ingin kau menjadi milikku" lamaran tanpa unsur romantis itu dengan mudah mengalir. Seungyoun hampir tersedak udara.


"Tunggu dulu. Kenapa aku?"


"Kenapa? Kau tidak mau?"


"Tentu saja tidak" Seungwoo merasa ditampar. Jawaban Seungyoun singkat dan jelas. "Kenapa bukan Changkyun? Hanse? Hangyul? Mereka juga pria"


"Mereka eksekutif ku. Tidak perlu menjawabnya sekarang, aku akan memberimu waktu yang panjang" Seungyoun hanya mengumpat dalam batinnya. Siapa juga yang ingin menyetujui penawaran bodoh itu.


"Lagipula, aku akan keluar dari sini begitu tugasku selesai"


"Ya, tapi banyak yang kau ketahui sekarang"


"Aku akan bersumpah atas nama Tuhanku. Tidak akan membocorkan informasi yang ku ketahui" Seungwoo tersenyum miring.


"Si Narasumber kemarin juga berkata demikian"


"Kau selalu mengancam ku, Hyung. Brengsek. Dasar orang jahat" Seungyoun tidak kalah emosi sekarang.


Seungwoo hanya tertawa mendengar umpatan Seungyoun yang menggelitik telinganya. "Aku sudah bilang. Kau boleh mempertimbangkan. Hidup seperti ini tidak buruk, Youn. Mereka juga bisa menjadi keluargamu" Sebenarnya kalimat terakhir Seungwoo benar. Tapi bagaimanapun kehidupan normal dengan patuh hukum dan biasa itu impiannya.


"Aku tidak berjanji. Aku memikirkannya, waktuku sampai tugasku selesai kan?"


Seungwoo mengangguk. "Ya. Aku menunggu"


Seungyoun keluar setelah itu. Si tuannya ini memang sangat sangat pemaksa. Apapun keputusannya harus selalu terpenuhi. Tipe orang yang menyebalkan. Akibatnya malam itu Seungyoun merasa sangat terbebani. Urusan keluarganya belum selesai. Urusan misinya belum jelas bagaimana. Lalu ditambah lagi Seungwoo 'melamarnya' secara tiba-tiba. Dia melihat ke arah luar kamarnya semalaman.


Tempat ini memang tidak terlalu buruk. Apalagi masalah kehangatan antar anggota. Tidak bisa dibandingkan dengan keluarga hancurnya yang dingin.


Seseorang di sebelah kamarnya juga sama. Menatap lurus ke arah luar. Mereka berdua secara tidak terduga memiliki kebiasaan yang sama. Seungwoo bahkan lupa kapan terakhir kali tidur nyenyak. Dia tidak dapat merasakan apa yang dirasakan Seungyoun. Dia benar-benar tidak tahu rasanya keluarga. Bagaimana orang tua di luar sana. Dan sepenting itukah keberadaan mereka.


Pagi berikutnya Seungyoun yang kebetulan keluar dari kamar melihat Changkyun menggedor kamar Seungwoo. Pria itu keluar, melihat Changkyun yang tergesa-gesa ke kamarnya pasti ada sesuatu yang penting.


"Hyung. Aku menemukan Park Nam Sil..."  Changkyun berhenti sebentar. Dia tahu Seungyoun mendengarkan. "Dan istrinya masih hidup"


Seharusnya minimal Hanse atau Seulgi yang menemani mereka menjemput Pak Nam Sil. Tapi Seungwoo dengan tegas menolak. Itu urusan pribadinya. Jadi dia berangkat bersama Seungyoun menuju kota lain. Pria penipu itu telah pindah rumah, mungkin menghindari kejaran Seungwoo karena dia tidak sanggup membayar.


Begitu mereka sampai di tempat itu Seungyoun yang pertama turun melihat tempat itu dengan miris. Sebuah rumah sewaan kecil yang kumuh. Bahkan tidak ada fentilasi udara membuatnya semakin pengap. Ketika mereka masuk di dalam bangunan tidak ada orang di dalam. Seungyoun suka rela membantu untuk menggeledah tempat itu, jadi Seungwoo hanya membiarkan.


"Tidak salah tempat bukan? Tidak ada apa-apa di sini"


"Mungkin dia sedang keluar. Akan ku suruh Changkyun untuk berjaga di sini" mata Seungyoun terlihat bergetar samar.


"Kau tidak akan langsung membunuhnya bukan?"


"Tidak. Itu tugasmu untuk membunuh Park Nam Sil" Dia mengangguk paham. Sebelum Seungwoo bersiap menelfon Changkyun handphone nya bergetar. Tertera nama Seulgi di sana. "Halo Seulgi?"


"Youn. Ayo kembali ke rumah. Changkyun yang akan mengurus ini"


"Aku akan berjaga di sini sampai Changkyun datang. Bagaiman?" Seungwoo terlihat berpikir dulu. "Aku tidak akan kabur. Aku janji"


"Boleh. Aku percaya padamu, hanya khawatir. Jangan sampai terluka" Setelah itu Seungwoo benar-benar meninggalkannya sendirian di sana. Dia tidak ragu sedikitpun.


Seungyoun buru-buru ke meja di kamar ayah tirinya. Di sana sebuah bukti pembayaran rumah sakit untuk bulan lalu tertera jelas. Seungyoun menjamin jika ibunya pasti dirawat di sana. Jika tadi Seungwoo mengetahuinya, habislah dia. Ibu dan ayahnya pasti akan mati hari ini. Setelah Seungyoun hitung lagi dia masih memiliki waktu setidaknya 4 jam untuk mencari ibunya. Changkyun membutuhkan sedikit waktu untuk sampai kemari. Jadi Seungyoun segera pergi dari sana.


Di perjalanan dia terlihat begitu kebingungan. Kembali ke dunia luar setelah bertahun-tahun menetap di rumahnya dan rumah Seungwoo. Seungyoun menaiki bis setelah mencuri beberapa uang dari bawah bantal ayah tirinya.  Begitu dia sampai di rumah sakit, dia cepat-cepat menemukan ruangan ibunya. Alih-alih ayah tirinya dia menemuka Jooheon yang berjaga di sana. Pria sipit teman sekolahnya dulu duduk di samping ibunya yang terbaring.


Jooheon yang menyadari jika dia diperhatikan dia segera keluar. Begitu terkejut karena melihat Seungyoun di depannya. Wajah emosinya tidak dapat ditahan lagi, hampir saja dia meninju temannya ini.


"Kenapa kau pulang?"


"Jooheon. Ayo bicara di luar, waktuku tidak banyak" Dia menarik Jooheon keluar tanpa persetujuan. Mereka berhenti di lorong yang lumayan jauh. "Dimana ayahku?"


"Youn. Jawab aku. Kenapa kau pulang?" Pertanyaan Jooheon membuat dahinya berkerut.


"Apa maksudmu?"


"Bukankah kau pergi dari rumah? Aku menelfonmu ratusan kali tapi tidak pernah kau jawab" Seungyoun tersenyum miris. Ayahnya mulai menghasut semua orang.


"Jika aku cerita padamu, kau percaya?" Jooheon hanya mengangguk yakin. "Aku diculik"


Awalnya pria sipit itu tidak percaya. Namun setelah Seungyoun menjelaskan semuanya dia hanya bisa menghela nafasnya. Jooheon harus percaya pada sahabatnya, Seungyoun tidak akan berbohong padanya. Segera setelah itu rasa emosinya berubah menjadi khawatir.


"Ayo lapor polisi"


"Aku tidak bisa kembali sekarang. Ada sesuatu yang belum ku selesaikan" Seungyoun menunduk dalam. Walau ingin kembali, tapi menurut pada Seungwoo untuk sementara waktu adalah pilihannya. Sebenarnya dia enggan pergi, juga tidak mau terlalu lama tinggal. "Aku akan segera kembali. Jadi Hyung. Aku titipkan ibuku padamu. Ku mohon jaga dia selama aku belum kembali"


"Youn! Kau itu diculik. Kau sekarang sudah di sini. Kau sudah bebas. Menetap lah di sini. Aku bisa menyembunyikanmu. Mari kita pindah ke kota lain, Ya? Bersama ibumu juga kalau perlu" Seungyoun tetap menggeleng, pikirannya kacau. Informasi yang dia tau membuatnya tidak nyaman, dia tau terlalu banyak dan Seungwoo pasti tidak main-main dengan ancamannya. "Youn... anggap saja kau sekarang menderita Stockholm Syndrome*. Aku bisa membantumu mengatasi itu, sekarang hanya perlu lapor polisi. Jika kau tidak mau kita hanya perlu berobat oke?"


"Aku tidak! Aku sangat sangat sadar dan normal sekarang. Ada hal yang harus ku lakukan Hyung. Untuk saat ini jaga ibuku. Aku harus kembali" Begitu Seungyoun hampir pergi dari sana Jooheon menariknya kembali, ke dalam pelukannya. Dia merindukan orang di depannya ini. Dia merasa tidak berguna dan hanya bisa terus mempercayai Seungyoun.


"Hati-hati bocah bodoh. Jangan sampai terluka" Jooheon tetap memeluknya dan dibalas oleh Seungyoun.


"Aku akan baik-baik saja, Hyung. Jaga ibuku, janji?"


"Aku berjanji"


Seungyoun buru-buru kembali ke rumah ayah tirinya. Di sana belum ada Changkyun, jadi dia masih aman. 30 menit kemudian sebuah mobil hitam itu tiba di bawah sana. Changkyun keluar dengan tenang, dia hanya berjalan biasa tanpa berusaha bersembunyi.


"Ayo pulang Tuan putri. Han Seungwoo menyuruhmu kembali"


"Bagaimana dengan ayahku?" Changkyun mengibaskan tangan di depan wajahnya.


"Urus besok saja katanya. Karena masa depanmu lebih penting sekarang" Seungyoun mengikuti Changkyun ke dalam mobilnya. "Seungwoo akan mengenalkan mu pada Joy. Istri satu, dan istri dua" Changkyun menunjuknya ketika berujar 'dua'.


"Sial"


.


.


.


.


To be Continue


...╔╦══• •✠•❀•✠ • •══╦╗...


...Stockholm Syndrome* : adalah respon psikologis dimana dalam kasus-kasus tertentu para sandera penculikan menunjukkan tanda-tanda kesetiaan kepada penyanderanya tanpa memperdulikan bahaya atau risiko yang telah dialami oleh sandera itu...


...╚╩══• •✠•❀•✠ • •══╩╝...