
Changkyun membereskan peralatannya. Begitupula Seulgi, menata ulang anak-anaknya dengan rapi. Racun di botol kecil itu tampak berkilau indah ketika diterangi cahaya, wajahnya sedikit murung ketika melihat salah satu tempat itu kosong. Changkyun yang menyadari tingkah Seulgi hanya menggeleng. Rekannya ini sedikit gila, memperlakukan racun ciptaannya seperti anaknya sendiri.
"Tinggal buat lagi, apa susahnya?"
"Tapi aku menyukai Silent Violet... ah, dia yang paling lembut dan tenang ketika membunuh" Seulgi menurunkan bibirnya. Si cantik Violetnya sudah hilang, racun indah itu merupakan kesayangan Seulgi.
"Apa kau tidak ingin membuat racun berwarna pelangi lalu menamainya jadi Rainbow Dash*?" Nada sarkas dari Changkyun jelas menyinggung Seulgi dengan sangat. Anak-anaknya serasa dilecehkan secara verbal.
^^^*Rainbow Dash: Merupakan nama salah satu tokoh di kartun My Little Pony^^^
"Maksudmu apa Im Changkyun? Kau mau ku buat menjadi setengah lumpuh dengan racunku?" Wajah garangnya terlihat jelas. Changkyun tidak mendengarkan, hanya mengemasi barangnya.
Mereka berdua selama beberapa hari ini tinggal di tempat yang berbeda dengan satu kamar. Keduanya menginap dan memiliki kasurnya masing-masing. Orang yang tidak tahu akan salah sangka mereka adalah pasangan mesum yang menginap satu kamar bahkan sebelum menikah. Lagipula keduanya sama sekali tidak perduli. Menjalankan misi dengan lancar jaya adalah prioritas utama.
Ngomong-ngomong soal semalam. Mereka berhasil tanpa banyak usaha. Jadwal makan orang paruh baya itu tidak terduga, mereka yang sudah lama mengawasi langsung terjun ke lokasi dan menyamar menjadi salah satu pelayan. Melumpuhkan beberapa penjaga di depan lalu dengan tenang masuk ke dalam, membiarkan orang itu memakan makan malamnya bertabur Silent Violet lalu mati dalam tidurnya.
Telepon Changkyun bergetar, sebuah panggilan dari Seungwoo masuk. "Halo pak bos?" Seulgi segera menguping karena penasaran.
"Hah? Apa kau serius?"
"Oke kami ke sana..." Changkyun terlihat bingung menjelaskan. Dia menatap Seulgi agak lama, lalu mengambil tasnya yang sudah siap.
"Ayo kita bertemu yang lain" Hanya kalimat itu yang diucapkan Changkyun.
Sepanjang perjalanan Changkyun dibuat bingung mau menjelaskan dari mana. Si bosnya tadi secara tiba-tiba membatalkan misi pribadinya, menyuruh Changkyun dan Seulgi segera bergabung bersama mereka.
"Seul... Tadi pak bos membatalkan misi individu ku dan menyuruh-"
"Tunggu tunggu. Kau juga punya misi individu?" Seulgi menyela dengan tidak santainya.
"Apa maksudmu dengan 'juga'? Kau juga punya?" Tanya Changkyun.
"Jangan bilang pak bos... Seungwoo bilang hanya aku yang dapat misi individu saat ini" Seulgi berucap lagi, kerutan di dahinya bertambah dalam. "Kyun... apa misi individu mu? Ayo kita sebutkan secara bersama-sama"
Keduanya menghitung sebelum serentak berucap.
"Mengawasimu"
"Mengawasimu"
"Gila! Han Seungwoo sedang mempermainkan kita selama ini!" Seulgi memegangi keningnya tidak percaya. "Sial... apa maksudnya? Membuatku bingung setengah mati"
"Jangan banyak bicara dan kita tanyakan langsung saja kepadanya" Kini Changkyun dengan tidak sabaran menginjak pedal gas untuk melajukan mobilnya semakin kencang. Mobil itu menembus jalanan Paris dengan ugal-ugalan.
Begitu sampai pada sebuah bangunan rumah sewa bersusun, kedua orang beda gender itu kompak mengangkat alisnya. Kenapa dengan bangunan ini? Jika bukan karena Sunghoon yang sedang bersantai di balkon atas, keduanya hampir tidak percaya. Bocah kecil itu hanya menatap ke bawah sambil menggerakkan kedua jarinya ke atas. Secara tidak sopan menyuruh keduanya untuk segera masuk.
Pintu putih tipis itu dibuka perlahan oleh Changkyun. Memperlihatkan keadaan pas-pasan yang mengarah ke ruang tengah secara langsung. Di samping ruang tengah terdapat balkon yang digunakan Sunghoon untuk bersantai tadi. Seungyoun sedang tiduran si sofa coklat itu dengan kakinya yang menggelantung tidak nyaman. Lalu Seungwoo datang dari arah dapur sehabis mencuci piring.
"Aku benci mengatakannya, tapi bos... Kau kurang cocok hidup minimalis seperti ini" Changkyun mengkritik.
"Kenapa? Ada aura kaya dariku?" Seungwoo menanggapi dengan positif. Tapi kata-kata Seulgi membuatnya sedikit kesal.
"Tampangmu seperti anak manja"
Seungyoun yang terusik dengan kegaduhan itu mulai bangun. Menatap Changkyun dan Seulgi bingung. Kepalanya masih sedikit pusing tapi sudah lebih baik. Seungwoo dengan penuh pengertian membawakan segelas air putih yang langsung diminumnya.
"Ada yang ingin ku bicarakan pada kalian. Penjelasan susulan"
Mereka berkumpul di tempat sempit itu. Sunghoon duduk di lantai bersama Changkyun. Seungwoo terlihat membuang nafasnya kasar.
"Misi pribadi yang kuberikan kepada kalian. Bertujuan untuk mengawasi satu sama lain..." Seungwoo menatap kedua orang itu, mereka terlihat tidak terkejut. Jadi mungkin sudah sedikit tahu. "Karena aku menemukan beberapa data yang secara berkala mulai bocor. Aku sadar beberapa hari ini. Mereka adalah gudang senjata dan pabrik senjata milikku. Seseorang ingin mengambilnya"
Changkyun yang pertama kali mengangkat tangannya dengan panik. Tapi dipotong oleh Seungwoo. "Aku memanggil kalian karena kalian sudah lulus misi. Selain kalian, ada Irene dan Joy yang kuberi misi individu"
"Tunggu... Kenapa mereka tiba-tiba terlibat?" Seulgi mengajukan pertanyaan. Seungwoo hanya mengangkat bahunya acuh.
"Karena mendesak"
"Lalu kau sudah menemukan si pencuri data?" Pertanyaan itu muncul dari Seungyoun.
"Sudah... kita singkirkan dia ketika kembali ke Korea. Tetap tunggu instruksi dariku" Seungwoo melihat jam tangannya. "Persiapkan semuanya, jet kita tiba 20 menit lagi"
Mereka dengan kecepatan tinggi menuju tempat terbuka dimana jet milik Seungwoo tiba. Rencana liburannya gagal, dan Sunghoon tidak keberatan sama sekali. Ada hal yang lebih penting sekarang daripada liburan. Mungkin saja beberapa orang di mansion besarnya sedang terancam sekarang.
Jam menunjukkan pukul 10 pagi. Itu berarti sekarang di Korea Selatan jam 6 sore. Ditambah perjalanan mereka pulang membutuhkan setidaknya 10 jam perjalanan. Mereka akan sampai di sana jam 4 pagi. Itu artinya tidak bagus, terlalu banyak waktu terbuang dan Seungwoo semakin khawatir keadaan orang-orang di mansion nya. Semoga pria itu belum menyadari jika dia dimata-matai oleh Irene selama beberapa hari ini.
Seungyoun mencoba menenangkan. Dia mengusap pelan tangan pria itu. Keadaannya belum cukup baik, semuanya juga begitu. Mereka semua sedang dalam posisi lelah sehabis misi, resiko jet lag bahkan menanti. "Semua akan baik-baik saja. Kita tidak akan terlambat, oke?"
"Kuharap begitu"
...----------------...
Sebuah pesan teks diterima oleh seorang pria paruh baya. Senyuman mengembang di wajahnya, tidurnya yang tidak nyenyak akhirnya akan teratasi kali ini. Dia segera bergegas keluar di pagi buta, mengendarai sebuah mobil hitam mewahnya.
Seorang pria bertubuh tinggi keluar dari pesawat jet itu. Disusul seorang wanita dan beberapa pria lainnya. Jet pribadi itupun segera pergi setelah menurunkan penumpangnya. Seorang anak remaja menarik perhatiannya. Sebuah gerakan dari orang di sampingnya membuat 20 orang berpakaian hitam menutupi seluruh tubuhnya bergerak maju. Mengepung orang-orang bermuka lemas itu. Mereka sedikit terkejut lalu siaga di tempat, namun sayangnya tidak ada satupun yang bersiap dengan senjata. Jadilah mereka terkepung dengan puluhan orang.
"Permisi tuan-tuan dan nyonya. Apa aku menganggu perjalanan kalian?" Senyum menjijikkan terpampang di wajah tuanya.
Seungwoo sedikit kaget. Itu adalah ayah kandung Park Sunghoon. Menghadang jalannya.
"Perkenalkan, aku ayah bocah itu" pria paruh baya menunjuk anak biologisnya tanpa menyebut nama, atau bahkan dia tidak ingat lagi.
Tidak bisa menahan niat membunuhnya Park Sunghoon dengan kesetanan berlari maju berusaha meraih ayah kandungnya. Dia ingin mematahkan leher pria paruh baya itu. Namun sayangnya peluru karet ditembakkan di kaki dan bahunya. Dia langsung jatuh ke bawah. Walau bukan peluru asli, tapi benda itu sangat menyakitkan ketika mengenai tubuhnya.
"Sunghoon!" Seungyoun berusaha meraih remaja yang sudah jatuh itu. Dia ditahan Seungwoo. Pria tinggi itu yang maju sendiri dan membantu bocah yang meringis kesakitan itu untuk bangun.
"Apa yang kau lakukan pada adikku?!" Seungwoo masih berusaha untuk tetap dalam perannya. Menjadi orang kaya yang tidak tahu apapun. "Apa kau ingin masuk penjara menteri Park?!"
"Apa? Hahaha... kau mencoba mempermainkan ku Golden Crown?"
Seungwoo mengumpat dalam hatinya. Walau akhirnya dia tahu siapa identitas musuhnya, tapi lawannya juga sudah tau identitas nya. Yang lebih parah sekarang adalah pria itu mengincar Sunghoon. Bocah itu terlihat tanpa nyawa. Wajahnya memucat dengan raut tegang. Dia ketakutan dan marah, bocah itu mungkin juga mengingat kejadian traumatis yang melekat di otaknya.
"Apa mau mu?"
"Aku ingin anakku kembali. Berikan dia padaku"
"Jika kami tidak mau?" Changkyun bertanya dengan wajah masamnya.
"Kalian akan mati di sini"
"Haha! Coba saja brengsek" Changkyun mulai menyerang salah seorang yang paling dekat dengannya. Menjatuhkannya di tanah dan mengunci pergerakkannya, langsung mematahkan lehernya. Setelah itu sebuah tembakan dia dapatkan. Mereka masih menggunakan peluru karet.
Seungwoo dengan cepat menyimpulkan, mereka tidak berniat membunuhnya. Tapi menangkapnya hidup-hidup. Changkyun mengaduh kesakitan di tanah, bahunya sedikit memar.
Seungwoo memutar otaknya. Jika ini terus berlanjut walau bukan mati namun mereka bisa benar-benar tertangkap. Keadaan mental Sunghoon saat ini juga kurang mendukung untuk bertarung. Maka dengan yakin Seungwoo hanya bisa mengambil satu keputusan. Pria itu mengguncang bahu remaja itu sedikit keras, menyadarkannya dari kilasan masa lalunya.
"Hoon. Dengarkan aku. Dengar. Jangan takut, kalau kau takut kau tidak akan hidup. Aku akan menjemputmu secepatnya"
Pandangan Sunghoon tidak dapat diartikan. Wajah kecilnya nampak layu dan menyedihkan. Dia takut dibuang dan terpisah dengan Tuannya. Tapi kalimat Seungwoo berikutnya membuatnya kembali percaya. "Percaya padaku. Aku tidak akan membiarkan keluargaku terlalu lama jauh dariku"
Sunghoon ditarik paksa menjauh. Dia bahkan tidak melawan dan membiarkannya begitu saja. Seungwoo masih tetap di tempatnya. Seungyoun berusaha protes jika tidak sedang dikepung. Lalu Seulgi hanya melihatnya dengan tampang bodohnya. Dia tidak menyangka jika Seungwoo menyerahkan Sunghoon semudah itu.
Pria tua paruh baya itu menyeret putranya menjauh dari sana. "Sisanya ku serahkan kepada kalian" Dia menghilang di balik kerumunan. Lalu suara mobil terdengar mulai menjauh. Menandakan jika Pak Park telah pergi.
Segera moncong pistol ditodongkan ke arah mereka. Digunakan untuk mengancam. Dilihat dari fisik para orang-orang bayaran ini memiliki postur tubuh tinggi dan besar. Mungkin bukan berasal dari ras Asia. Mereka dikepung di tengah, tidak bisa berkutik selain berdiri waspada. Seulgi sudah berkomat-kamit dengan segala sumpah serapahnya.
"Sayang sekali tidak ada Hangyul di sini. Tapi... mari kita habisi mereka" Seungwoo tidak mengkhawatirkan apapun lagi saat ini. "Mulai"
Mereka merebut pistol para musuh dengan sekejap mata. Seungyoun dapat mengikuti dengan baik. Walau sebuah karet namun jika terkena di area vital akan cukup berbahaya. Maka Seungwoo berfokus pada mata mereka yang tidak terhalang apapun. Membuat bola itu pecah karena jarak tembak yang terlalu dekat.
Segera suara erangan dan pertarungan segera terdengar. Seulgi melakukan hal yang sama, lalu menggunakan badan besar orang itu untuk tamengnya sendiri. Agar terhindar dari peluru. Seungyoun dengan lincah dapat menghindar, dia mengikuti teknik Seungwoo, setelah membuat mata mereka buta akan lebih mudah melawan. Changkyun secara mengejutkan juga mumpuni dalam bertarung jarak pendek, adu tembak dan pukul itu dengan cepat mereda.
Keempat orang tersisa itu menderita memar di sana sini, mereka tidak takut apapun karena luka itu hanya akan bertahan sebentar. Changkyun meringis memegangi bahunya.
"Ayo segera kembali" Pria itu tanpa basa basi segera menyiapkan kunci mobil dan berlari kecil ke arah mobil yang sudah dia siapkan sebelumnya. Namun seperti dugaannya, ban mobil itu bocor. Mungkin ulah para orang berpakaian hitam sialan itu.
Seungwoo berjongkok. Membuka masker salah satu orang yang tadi menyerangnya. Pria itu berambut pirang dengan fitur wajah baratnya. Dia membuka beberapa masker orang lainnya. Mereka juga sama, seperti dugaannya. Park brengsek itu menyewa jasa dari orang luar Korea.
Seungwoo berjalan menuju anggotanya yang lain. Melihat ban mobil mereka bocor, pria itu segera melempar sebuah kunci mobil lain. "Gunakan mobil para bedebah itu" Dengan santainya dia menggunakan mobil orang-orang malang yang kini sudah menjadi mayat itu.
Changkyun tanpa pikir panjang langsung menerimanya. Mereka segera pergi dari sana pulang ke markas. Seungwoo melihat jam tangannya yang sedikit pecah. Jam 5 pagi. Mereka membuang waktu cukup lama. Sebuah panggilan itu memecah situasi hening nan tegang itu.
Loud speaker aktif. Lalu suara Irene langsung terdengar. Wanita itu terdengar gemetaran. "Woo! Markas kita dikepung!"
Seluruh orang di dalam mobil merasakan ketegangan luar biasa di jok masing-masing. Seungwoo berusaha setenang mungkin agar dapat berpikir. "Kim Wooseok-"
"Dia di luar untuk menghadang orang-orang itu!"
Seungwoo kehilangan akal. Perjalanan yang mereka tempuh masih lama. "Panggil semua penjaga terdekat untuk ke mansion"
"Mereka semua sudah mati... hiks... Woo... jangan kemari sekarang, kau harus selamat" Itu berarti pertahanan terakhir adalah gerbang utama mansion.
Seulgi dengan tidak santainya mendekat ke arah ponsel Seungwoo. "EONNIE JANGAN BODOH. KAMI KE SANA SEKARANG! KALIAN HARUS SEMBUNYI DI TEMPAT AMAN DULU" Gadis itu berteriak tepat di depan ponsel, semoga telinga Irene baik-baik saja di sebrang.
"Nuna... apa nuna tahu siapa mereka?" Seungyoun bertanya penuh harap.
"Mereka penuh tatto dan berpakaian aneh" Suara Irene setengah berbisik.
"Mereka Yakuza. Kalian harus bersembunyi sampai kami datang" Sahut Seungwoo menambah kecepatan mobilnya.
.
.
.
.
To be Continue