
"Boleh aku menemui ibuku, Hyung?"
"Tentu. Aku akan menyusul nanti. Panggil taxi agar cepat sampai"
Seungwoo memberinya beberapa uang tunai. Setelah itu Seungyoun bergegas keluar. Mengabaikan beberapa noda darah yang masih menempel pada baju dan tangannya. Seungwoo menghubungi Changkyun lewat ear piece nya.
"Eksekusi selesai. Dan biarkan Seungyoun pergi"
"Oke Hyung"
Seungwoo berjalan keluar menghentikan taxi. Menuju tempat yang sama yang dituju Seungyoun.
Seungyoun membuka ruangan ibunya. Kemarin dia belum sempat melihatnya karena waktunya tidak cukup. Begitu dia masuk kedua orang itu menatap ke arahnya.
"Pergi dulu dari sini" Ibunya berbicara pada Jooheon. Lalu dia segera keluar ruangan. Di sana Seungyoun tersenyum bahagia menghampiri ibu yang dia rindukan.
"Ibu...-" Sebuah tamparan keras didapatkan Seungyoun, dia memandang ibunya terkejut. Kenapa wanita ini. "Ibu... kenapa-"
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu, Youn!" Ibunya mendorong Seungyoun menjauh. "Iblis! Pembunuh!" Sebelum dia menjawab makian itu keluar dari mulut ibunya.
"Ibu. Dengarkan aku dulu"
"Tidak perlu menjelaskan lebih jauh lagi. Aku mendengarnya sendiri. Ayahmu menelfon ibu sebelum kau datang, aku dengar percakapan kalian. Apa yang kau lakukan hah? Kau apakan suamiku!" Kerah Seungyoun ditarik dan lagi, wanita itu berusaha menampar wajah putranya yang kini terlihat pucat. Dia bahkan tidak bisa membuka mulutnya lagi.
"Bu... aku membunuhnya karena dia berusaha mencelakai aku dan ibu. Jika dia tidak mati maka kita yang akan mati olehnya"
"Kau sudah gila, Youn? Kau pikir ibu akan percaya alasanmu? Iblis! Kau ke mana kan anakku?! Seungyoun yang ibu tau tidak akan seperti ini"
Ibunya menangis. Beberapa kali Seungyoun mendekat hanya dorongan yang dia dapat. Dibandingkan fisiknya, batin Seungyoun sangat terluka sekarang. Ibunya tidak mempercayainya sama sekali, bahkan enggan mendengarkan. Ibunya selalu seperti ini sejak dulu. Mereka berhadapan, Seungyoun duduk di bawah sambil sesekali melihat wajah ibunya yang terus berpaling darinya.
"Aku tidak berharap akan melahirkan seorang iblis sepertimu" Seungyoun hanya bisa mendengarkan kalimat menyakitkan itu. "Pergi dari sini. Ku anggap anakku sudah mati. Pergi sebelum aku berubah pikiran dan melaporkanmu ke polisi"
Seungyoun berdiri, tidak beranjak dari depan ibunya. Dia kehilangan tempat pulangnya. Ibunya kini membencinya tanpa mau mendengarkan. Seungyoun kecewa.
"Aku tidak akan kembali, Bu. Bahkan jika kau memohon di kaki ku. Aku tidak ingin kembali"
Dia pergi dari sana. Di luar terlihat Jooheon dengan wajahnya yang linglung. Pria itu tidak tau harus berbuat apa. Seungwoo juga sudah ada di sana. Dia mengangguk, mengisyaratkan jika Seungwoo sudah menjelaskan semuanya pada Jooheon.
"Hyung. Aku titip ibuku, jaga dia" Jooheon mencegahnya pergi.
"Temui aku jika kau ingin pulang"
"Aku tidak akan pernah kembali, aku bersumpah"
Seungyoun pergi dengan Seungwoo. Jooheon hanya bisa melihat temannya menjauh. Walaupun cara Seungyoun sangat salah, tapi dia tidak ada pilihan lain. Ayah tirinya yang menempatkannya dalam posisi itu.
Sepanjang perjalanan pulang ketiga orang itu saling diam. Changkyun menyadari jika sesuatu yang buruk terjadi. Mereka hanya fokus pada jalanan. Seungwoo tenggelam dalam pikirannya sendiri. Kejadian tentang ibu Seungyoun tidak diduganya sama sekali. Dan itu menunjukkan betapa tidak pedulinya dia dengan penjelasan putranya. Kebanyakan orang tua akan mengira mereka mengetahui semuanya dan betul akan semua hal karena mereka adalah orang tua. Nyatanya pendapat anak juga penting. Mereka mempunyai penjelasan atas perilakunya.
Changkyun menurunkan mereka agak jauh dari gerbang mansion. Dia harus membuang mayat Park Nam Sil di hutan milik Seungwoo. Jadi mereka berdua memutuskan untuk jalan kaki. Di antara kesunyian itu Seungyoun tiba-tiba berbicara.
"Woo. Tawaranmu masih berlaku kan? Aku setuju menikah denganmu"
Pria disampingnya terlihat sedikit terkejut. Dia memilih untuk mengabaikannya. Seungyoun masih agak kacau sekarang.
"Jangan banyak bicara. Aku tidak memaksamu menjawab sekarang, tenangkan dulu pikiranmu"
"Aku serius, Hyung. Aku setuju" sebenarnya Seungwoo paham. Bocah itu setuju karena dia butuh tempat pulang. Dia melihat ke arah Seungyoun tepat di matanya, dia benar-benar serius seperti perkataannya. Walau begitu Seungwoo merasa tidak senang entah kenapa.
"Kalau kau setuju menikah denganku. Nanti malam kau tidur denganku. Setuju?" Seungwoo menggertak. Ekspresi Seungyoun tidak bisa dibaca.
Biasanya pada saat makan malam semua hal diumumkan oleh Seungwoo. Namun kali itu tidak. Suasana menjadi lebih suram dari biasanya. Yang lain tau hari ini adalah pembunuhan Park Nam Sil, ayah tiri Seungyoun. Irene terlihat yang paling khawatir. Namun dia dicegah Seungwoo untuk berbicara.
Pada tidur kali ini Seungyoun memasuki kamar Seungwoo. Pria itu gugup sekali sampai tidak tenang dalam duduknya. Seungwoo yang terlambat masuk hanya tersenyum tipis. Seungyoun menepati janjinya untuk tidur dengannya.
Seungwoo menidurkan tubuhnya di kasur. Melihat Seungyoun yang belum bergerak dia menepuk bantal di sampingnya. "Ayo tidur"
Seungyoun hampir melongo, wajahnya pasti terlihat bodoh sekarang. "Tidur? Maksudmu tidur seperti ini?"
"Kau berpikir kotor? Tidur yang seperti apa maksudmu Cho Seungyoun?" Wajah Seungyoun merah padam, dia malu sekali. "Cepat kemari. Aku sudah mengantuk"
Dengan menurut dia tidur di samping Seungwoo. Beberapa menit berlalu keduanya masih kaku seperti sarden yang berjejer. Mata mereka masih terbuka, kantuk itu belum juga datang.
"Aku tidak ingin memaksamu, kau bisa berpikir lagi untuk tawaranku" Seungwoo memiringkan tubuhnya, menghadap Seungyoun. Pria itu mengigit bibir bawahnya, masih belum menjawab. "Aku tidak yakin harus mengatakan ini, tapi kau beruntung. Ibumu masih menyayangimu. Kalau tidak dia akan memenjarakan mu. Anggap saja kata katanya tadi sore sebagai bentuk kecewanya. Waktu akan membuka pikirannya untuk berpikir lebih jauh. Suatu saat nanti kau masih bisa pulang"
Seungyoun akhirnya terisak menangis di depan Seungwoo. Tangisan yang selama ini hanya bisa di dengarnya dari kamar sebelah, kini dia menghadapinya sendiri.
"Aku tidak mungkin pulang. Ibu membenciku. Aku memang iblis" Perasaan hancur itu tidak bisa disembunyikan lagi. Seungwoo paham betul bagaimana rasanya, cacian orang tua jauh lebih menyakitkan dari apapun. Sebutan 'iblis' juga pernah dia dapatkan dari orang tuanya dulu. "Aku pembunuh" Seungwoo membiarkannya menangis, pria itu terus meracau. Seungwoo hanya mendengarkan.
Dia perlahan menarik Seungyoun dalam dekapannya, memeluknya ringan. Begitu dia agak tenang Seungwoo melepasnya. Seungyoun tertidur, mungkin terlalu lelah menangis. Besok pagi mungkin dia sedikit malu pada Seungwoo karena menangis sepanjang malam seperti bayi. Hidungnya sedikit memerah di ujung, dan rambutnya sedikit berantakan sekarang. Sebuah pemandangan yang membuat Seungwoo lapar. Dia ingin menerkam Seungyoun sekarang. Begitu Seungyoun tertidur cukup lelap, Seungwoo tetap terjaga sepanjang malam. Dia baru bisa tidur pada jam 4 pagi.
Seungyoun bangun sedikit kesiangan dan merasakan matanya bengkak, seluruh wajahnya juga terasa bengkak karena terlalu banyak menangis. Detik berikutnya dia hampir menendang Seungwoo karena terkejut. Dia baru ingat semalam mereka tidur bersama. Seungyoun segera turun untuk mencuci wajahnya, air dingin berguna mengurangi bengkak. Begitu dia kembali mata sipit Seungwoo sudah sedikit terbuka, dia tersenyum tipis menatap ke arahnya.
"Selamat pagi, Youn" Suara serak dan wajah bantalnya sungguh perpaduan yang mematikan. Seungyoun menjawab sekenanya, dia tersenyum canggung. Sedikit malu karena tindakannya semalam. Seungwoo duduk di kasurnya. "Jam berapa sekarang?"
"Jam... jam 8?"
"Waktunya sarapan. Ayo ke bawah"
"Cuci wajah dulu" Seungwoo memberi hormat pertanda siap. Mood orang itu sedang bagus hari ini, Seungyoun berani jamin 100%. Setelahnya dia keluar dari kamar mandi dengan tampilan yang lebih segar. "Anu... Hyung. Aku benar-benar sudah memutuskan sekarang. Aku tetap setuju atas tawaranmu" Seungwoo menghampirinya, mengacak rambut Seungyoun gemas.
"Maka kau harus mempelajari beberapa hal denganku dan Changkyun mulai hari ini" Seungyoun hanya mengangguk menanggapi. Sesaat mereka turun dari lantai atas, para penghuni lain yang sudah siap di meja makan memandang dua orang yang telat itu dengan pandangan aneh. Baju mereka bahkan belum rapi, rambut di tata seadanya. Jangan lupakan mata bengkak Seungyoun yang begitu kelihatan. Changkyun yang pertama menjatuhkan sendoknya ke bawah. Bibirnya gatal ingin menyebar rumor. Dan lagi, Han Seungwoo yang selalu rapi kali ini terlihat cukup acuh pada penampilannya. Dia hanya tersenyum bodoh menuruni anak tangga menuju meja makan.
"Kalian kawin?" Seulgi yang pertama bertanya heran. Hangyul buru-buru menutup telinga Sunghoon yang berada di sebelahnya.
"Maksudmu bereproduksi, Gi?" Hanse mengoreksi dengan bodohnya. Membuat Changkyun dengan semangat memukul mulutnya.
"Jadi siapa yang berada di pihak bawah?" Wooseok ikut tidak waras.
"Kau apakan Seungyoun sampai menangis, Woo?! Kau main kasar padanya?" Irene melotot padanya. Seungyoun yang sudah panik menggelengkan kepalanya.
"Tunggu tunggu. Kawan-kawan dimohon tenang. Aku tidak mungkin seburu-buru itu" Para temannya ini masih tidak percaya padanya. "Hari ini aku umumkan secara resmi. Pasanganku untuk bisnis dunia bawah adalah Cho Seungyoun" Seungwoo membusungkan dadanya dengan bangga. Dia mengangkat gelas air putihnya seperti sebuah ajakan bersulang minuman beralkohol.
"Woo. Jangan bercanda. Ini masih pagi" Seulgi memperingatkan dengan wajah datarnya. Namun Changkyun ikut berdiri, mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.
"Kali ini air putih dulu. Nanti malam baru kita minum anggur. Untuk mengakhiri masa jomblo pak bos, mari bersulang!"
.
.
.
.
To be Continue
merasa iri dengan pak bos yang sudah tidak jomblo - Im Changkyun