Another Wife

Another Wife
Chapter 22: Pendekatan



Pertama yang mereka lihat di bangunan itu adalah Do Hanse dengan perban di seluruh tangannya. Pria itu tersenyum bodoh ke arah Seungyoun. Tangannya terluka karena pertempuran kemarin.


"Tanganmu tidak parah, kan?" Tanya Seungyoun.


"Sedikit sobek, lalu terkilir karena Seulgi" Seungyoun hanya menghembuskan nafasnya.


"Aku mendengarnya" Wanita itu muncul dari lantai atas bersama Irene.


Kening kedua perempuan itu berkerut. Mungkin mempertanyakan kenapa Joy bisa kemari. Wanita itu biasanya hanya akan berada di bangunan utama. Joy berada di belakang Seungyoun, dia sedikit takut pada Seulgi. Pertemuan mereka pada awalnya kurang baik.


"Kenapa, Youn?" Tanya Irene.


"Mengajaknya berkeliling, kupikir kalian akan cocok"


Seulgi hanya menunjuk dirinya bingung. Jelas dia tidak akan suka berbicara dengan orang manja seperti Joy. Dia lebih suka bergaul bersama Hanse atau Hangyul lalu bergulat di lapangan. Wanita itu butuh teman yang bisa dihajar.


Mereka berada di sana untuk waktu yang cukup lama. Pendekatan yang Seungyoun rancang dimaksudkan agar Joy terbiasa dengan eksekutif Seungwoo. Walau tidak berhubungan langsung dengan bisnis gelap keberadaannya tetap dalam pemantauan mereka. Joy dan para eksekutif akan sering bertemu kedepannya. Dan Seungyoun lihat, wanita cantik itu sebenarnya kesepian. Dia tidak pandai bergaul dengan orang lain.


Ketika hampir jam makan siang mereka menuju ke bangunan utama bersama. Irene dan Hanse terlihat cepat akrab dengan Joy, sedangkan Seulgi memasang wajah malasnya sambil mendengar ketiga orang di belakangnya terus berbicara.


"Bagaimana dengan, Joy?" Tanya Seungyoun berbisik.


"Aku lebih suka membahas tehnik bela diri bersama Hangyul atau jenis pistol baru bersama Changkyun"


"Tapi dia baik, kan?"


"Benar. Tapi kami tidak cocok dalam topik"


"Biasakan dirimu mulai sekarang" Yah, Seulgi hanya bisa menurut. Sebentar lagi jika Joy meneruskan pekerjaannya seperti biasa, para eksekutif bergantian mengawalnya. Sebagai pengawas.


Setelah itu Seungyoun mampu memahami karakter dasar orang-orang di sekitarnya. Itu adalah misi ke 2 yang diberikan Seungwoo. Sebagai atasan yang mengendalikan semuanya, dia harus paham betul sifat anggotanya.


Pada makan malam waktu itu tidak ada pembicaraan khusus dari Seungwoo. Tentu karena Joy di sana. Dia tidak diperbolehkan mengetahui urusan bisnis gelap Seungwoo. Jadi setelah makan malam selesai para eksekutif digiring menuju ruang kerjanya. Tempat itu memiliki ruangan lain di samping, digunakan untuk rapat penting. Seungyoun baru tahu itu. Mereka berkumpul di sana dan terdapat sebuah kaca bertuliskan nama nama berserta foto seseorang. Itu adalah identitas beberapa orang yang mereka curigai. Seperti yang Yibo laporkan sebelumnya.


"Ada misi baru. Kali ini klien kita adalah Wang Yibo" Ucap Seungwoo. Lalu Seulgi dan Changkyun memberi beberapa informasi yang mereka dapatkan hari ini.


"Gampangnya, itu seperti sebuah acara biasa yang dihadiri banyak penonton. Mereka biasanya dari kalangan selebriti, sosialitas, penikmat mode, editor majalah fashion, perancang busana dan beberapa anggota seperti kita. Diketahui setelah acara berakhir mereka bisa memilih bebas orang yang telah tampil. Acara fashion show kali ini bukan hanya tentang pameran pakaiannya, tapi juga para modelnya, mereka dipasarkan" Changkyun memberikan laporannya.


"Aku tidak begitu paham kenapa Wang Yibo menyewa kita untuk acara seperti itu, Woo. Tapi mengenai penjagaan dan lain-lain sangat mudah untuk dilewati. Kita bahkan bisa masuk tanpa ijin khusus kalau datang sebagai pembeli" Seulgi menambahi. Seungwoo juga belum tahu pasti, Yibo pasti punya sesuatu yang lain.


"Aku tidak ingin menyela tapi ini terdengar mencurigakan, mungkin jebakan" Hangyul angkat bicara.


"Kurasa bukan. Aku akan tetap datang, karena dia sudah membayar" Seulgi hanya tertawa tidak habis pikir. Sejak kapan Golden Crown menjadi segampang ini menerima misi, hanya karena sudah dibayar.


"Sialan. Woo, kau terdengar murahan" Ucap Seulgi.


Seungwoo tidak menanggapi. Seungyoun sedikit heran dengan isi kepala pria itu. Akhir-akhir ini dia terlihat bodoh dan mengambil keputusan yang salah.


"Kalau curiga batalkan saja, tidak ada jaminan kalau dia setia padamu" Seungyoun akhirnya angkat bicara, dia takut tertangkap lalu mati sia-sia.


"Aku menyetujui misi ini. Jadi kita bekerja sesuai ketentuan awal" Para eksekutif menghembuskan nafas mereka berat. Terlihat ragu.


"Oke, Hyung. Aku percaya padamu, kalau pria China itu macam-macam akan ku bunuh di tempat" Hangyul menurut.


"Terimakasih, Gyul. Tapi kau tidak akan ikut kali ini. Untuk misi ini hanya aku, Seungyoun, Seulgi dan Changkyun yang berangkat. Karena Hanse sedang terluka dia tidak ikut, sementara kau awasi Joy mulai besok. Dia akan kembali bekerja" Wajah murung Hangyul terlihat sedikit bersemangat ketika mendengar Joy. Dia mengangkat jempolnya pertanda setuju.


Hanse masih diam dengan wajah tidak puasnya. Dia menatap tangannya sendiri yang berbalut perban. "Seharusnya aku berhati-hati kemarin" ucapnya lirih.


"Tidak masalah, Se. Istirahat saja di rumah"


Seungyoun khawatir, keputusan ini tidak memuaskan. Bahkan Seungwoo tidak mendengarkan usulan para eksekutifnya. Akhirnya mereka bubar setelah membahas beberapa masalah lain, ada sesuatu yang aneh kali ini.


"Ya"


"Para eksekutif tidak sepenuhnya setuju, kau bisa ditinggalkan jika terus ceroboh seperti ini"


"Tidak peduli. Masih ada kau di sisiku" Seungyoun mengangkat alisnya. Kenapa pria ini tiba-tiba menggodanya.


Seungwoo tanpa peringatan memeluknya dari belakang, kepalanya dia taruh di bahu Seungyoun. "Sebentar saja, Youn. Tetap seperti ini" Seungwoo menghirup nafas dalam, tangannya semakin erat memeluk Seungyoun.


"Apa yang kau lakukan?"


"Sedang mencoba membuat kemajuan hubungan dengan istriku" Lagi. Seungwoo semakin kurang ajar kian hari.


"Jangan perlakukan aku seperti gadis" Seungyoun berusaha melepas kontak fisik itu. Tapi Seungwoo mencegahnya.


"Ku ingatkan jika kau lupa. Kau milikku, apapun yang kulakukan pada milikku itu tidak masalah" Si licik keras kepala itu mulai lagi. Sifat buruk Seungwoo yang selalu membuatnya kesal, memang benar dia istrinya tapi dalam fungsi yang berbeda.


"Kalau soal 'itu'. Kau seharusnya bersama Joy"


Han Seungwoo seketika melepaskan tangannya, membalik badan Seungyoun agar menghadap ke arahnya. Wajahnya berubah marah dengan cepat.


"Jangan sebut orang lain saat kita bersama seperti ini. Dan lagi, kenapa Park Joy membuatmu begitu tertarik, huh?" Seungwoo memegang dagunya, mengarahkannya ke atas. "Sebut dia sekali lagi. Ku cium kau"


Seungyoun hanya diam, dia membuang wajahnya ke samping. Ancaman Seungwoo membuatnya enggan membantah. Dagunya dilepas, Han Seungwoo sedikit mundur dari hadapannya. Tempramen nya buruk hari ini.


"Han Seungwoo, perlakuanmu padaku selama ini berdasarkan apa?" Seungyoun terdiam sejenak, mulutnya lepas kendali untuk bertanya sesuatu yang ada di benaknya. "Apa kau benar-benar mencintaiku?"


Pertanyaan itu sudah lama melekat di otaknya. Seungyoun hanya merasa ragu akan dirinya, juga ragu akan Seungwoo. Pria kasar itu berubah lembut padanya. Pria itu tiba-tiba melamarnya, menikahinya, mengajaknya tidur bersama. Tapi sedikit ungkapan sayang pun tidak pernah dia dengar langsung. Apa yang mendasari sikapnya selama ini? Karena kasihan padanya? Karena dia masih berguna bagi Seungwoo? Karena dia bisa sebagai pelampiasan nafsu?


Pria kecil itu takut. Rasanya Han Seungwoo bukan pria yang menjadi baik tanpa alasan. Dia takut bagaimana harus bersikap. Sebagai istri yang mengurus bisnisnya atau istri yang mencintainya.


Bukannya menjawab, Seungwoo menempelkan bibirnya pada bibir Seungyoun. Pria kecil itu terkejut, namun tidak ada perlawanan. Kecupan kecupan kecil itu berlanjut, menjadi sebuah lum*atan lembut dari Seungwoo. Ciuman semakin intens, membuat Seungyoun sedikit kewalahan karena mengatur nafasnya. Seungwoo melepaskan bibirnya sejenak.


Dia menatap wajah Seungyoun yang secara tidak sadar menangis. Matanya basah dan terengah-engah. Seungwoo mengusap pipinya yang memerah dan basah.


"Aku sudah sangat jatuh cinta padamu, Youn"


Seungwoo mendorong pelan Seungyoun, membuatnya terduduk di atas kasurnya. Tanpa ijin pria itu kembali menempelkan bibirnya. Seungwoo menggigit bibir bawah Seungyoun dengan gemas, membuatnya terbuka. Lidahnya menginvasi masuk ke dalam, bermain-main dengan lidah si pria kecil yang manis, menggigitnya pelan seperti permen.


Ciuman dalam itu membuat keduanya mabuk kepayang. Seungwoo dengan kurang ajar menetap dalam posisi sama dan lama. Seungyoun memukul pelan dada Seungwoo, dia kehabisan nafas. Ketika bibirnya menjauh terciptalah benang saliva tipis di sana. Wajah Seungyoun merah padam, mata basah, nafas tidak teratur. Membuat Seungwoo benar-benar ingin memakannya sekarang. Pria kecil itu sangat menggoda saat ini. Jadilah Seungwoo kembali mengerjainya, dia beralih ke leher jenjang Seungyoun. Mengecupnya pelan sebelum memberi tanda di banyak tempat.


"Woo, akh... j-angan....disana"


"N-nanti mhh.... meninggalkan bekas" Ujar Seungyoun frustasi sambil meremas rambut Seungwoo. Pria itu tidak terlihat perduli saat ini, jika tidak berhenti mereka akan ke tahap lebih lanjut.


Sengatan listrik terasa mengaliri tubuh Seungyoun begitu pria itu menjilat telinganya, menggigit pelan benda itu. Tanpa ampun Seungwoo terus merangs*ang titik sensitif nya.


"Woo.... cukup-ahh....ber-henti"


.


.


.


.


To be Continue


🌚🌚🌚🌚🌚