Another Wife

Another Wife
Chapter 30: Latar belakang



Sunghoon atau bisa disebut Park Sunghoon merupakan anggota eksekutif yang dipilih oleh Seungwoo sendiri. Daripada dipilih mungkin lebih cocok disebut menemukannya.


Bocah itu ditemukan dalam tumpukan mayat yang sudah kaku dan mulai busuk. Dia di sana dengan tatapan kosong, menunggu kematiannya sendiri sambil memegang tubuh ibunya yang mulai hancur.


Tempat itu merupakan sebuah kapal yang cukup besar di pelabuhan. Tempat yang seharusnya digunakan untuk kendaraan darat diisi dengan tubuh-tubuh tanpa nyawa yang diperkirakan telah di sana selama 3 hari terakhir. Seungwoo kebetulan tengah dalam perjalanannya menuju tempat-tempat tertentu. Dia seharusnya menemukan musuhnya di sini. Namun yang dia temukan hanya tumpukan benda bau yang sebelumnya manusia sepertinya. Mereka adalah barang dagangan, manusia siap jual untuk budak dan lain-lain. Ada seseorang yang berusaha menutupi kejahatannya, dia membantai barang bukti dan meninggalkan nya.


Han Seungwoo menatapnya dengan terkejut. Lalu dia mendekat ke arah anak berumur kurang lebih 10 tahunan itu. Baunya hampir sama dengan mayat-mayat setengah hancur itu. Mata kecilnya tiba-tiba melihat Seungwoo tajam. Dia bersiaga di tempatnya duduk.


"Kau sudah aman sekarang" Seungwoo mengelus pelan kepala anak itu. Tidak ada reaksi berarti, malah wajahnya semakin mengeras karena ketakutan. "Jangan takut. Aku kemari karena mendengar kabar buruk. Tapi sudah terlambat, kalian tidak selamat"


Sunghoon kecil berpikir keras, kakak di depannya ini mungkin bukan orang jahat. "Selamatkan... ibuku" Dia memohon dengan suara seraknya. Tenggorokannya kering karena tidak minum beberapa hari. Anak itu dengan ajaib selamat, Seungwoo jadi penasaran. Keinginan apa yang bisa membuatnya bertahan sejauh ini.


"Dia sudah mati" Walau Sunghoon tau tapi dia tidak ingin mendengar kalimat itu. Dia mulai menangis di tempatnya.


"Ibu... Ibu..." Bagi Seungwoo seharusnya bocah itu tidak mengguncang mayat itu terlalu keras. Keadaan tubuhnya sudah buruk dan seluruh ototnya mungkin bisa lepas kapan saja.


"Jangan diguncang. Tangannya bisa lepas" Sunghoon berhenti. "Kita makamkan dia nanti. Tapi aku punya satu pertanyaan... apa kau masih ingin hidup?"


Han Seungwoo mungkin terdengar sangat sadis dengan bertanya demikian. Tapi mengingat bocah itu sudah menderita beberapa hari terakhir, mungkin saja dia hanya akan hidup dalam trauma yang sangat besar. Revolver di tangan kanannya sudah dia siapkan. Siap menembak kepala si bocah.


"Kalau aku hidup... aku bisa menemukan mereka, kan?" Seungwoo sangat paham siapa yang dimaksud Sunghoon. Maka dia mengangguk dengan yakin. "Kalau begitu. Aku akan hidup"


Bocah itu menatap tumpukan mayat di depannya, lalu menatap ibunya dengan pandangan berbeda. Ketakutannya menghilang entah kemana. Lalu dia memegang tangan yang hampir membiru itu. "Bu, aku akan menyusul setelah menghabisi mereka"


Mereka meninggalkan tempat itu setelah menyingkirkan mayat ibu Sunghoon. Beruntungnya Seungwoo mengurusnya dengan baik. Walau kala itu mereka tidak begitu dekat dan Seungwoo sedang berada di segala kesusahannya. Dia berhasil mengembalikan tubuh bugar bocah kecil yang terlihat hampir mati di dalam kapal. Namun tidak dengan mentalnya.


Dia sering menderita serangan panik yang parah. Muntah parah. Bahkan tidak dapat tidur dengan tenang. Seungwoo memanggil psikiater untuk Sunghoon, melakukan beberapa terapi panjang dan rumit. Tidak berhasil. Apalagi sesi konseling diharuskan bocah itu menceritakan segala keluh kesahnya, hal hal yang bersifat rahasia. Maka Seungwoo dengan terpaksa menghentikan perawatan itu.


Dia hanya bisa mengandalkan Irene, lalu dirinya sendiri sebagai pendengar yang baik. Sunghoon kesulitan untuk menceritakan semuanya, dia hanya anak kecil yang serba ragu. Hampir 3 tahun dia hidup di mansion Seungwoo tanpa bersosialisasi, kehidupannya buruk. Tidak salah jika Seungwoo menawarinya untuk mati saja.


Singkatnya setelah itu diketahui nama asli si bocah adalah Park Sunghoon. Dia merupakan anak dari ibu tunggal. Karena ayah biologisnya tidak menikahi ibunya secara sah, dia anak haram yang disembunyikan.


Dia bercerita ayahnya orang yang kaya. Tapi tidak pernah sepeser uang pun yang pernah dia terima. Ibunya sedih setiap hari, lalu temannya selalu mengejeknya karena tidak memiliki ayah.


Pada suatu hari seorang pria tiba di rumah kecil mereka. Memperkenalkan diri sebagai ayah kandungnya. Lalu meminta maaf dan membujuk Sunghoon dan ibunya untuk tinggal bersama dengan istri sah si ayah. Tuan Park mengaku salah atas perlakuannya selama ini pada anak dan wanita itu. Ibu Sunghoon dengan mudah mengiyakan. Sunghoon pikir, waktu itu ibunya mungkin sudah kehilangan akal.


Saat kepindahan. Sunghoon dan ibunya merasa salah dengan arah tujuan mereka. Dan mereka akhirnya tiba di pinggiran kota, sebuah penyalur tenaga kerja yang terlihat kumuh itu menjadi tujuan akhir mereka. Dengan tega Tuan Park menjual Sunghoon dan ibunya ke sebuah penadah. Jika Sunghoon tidak salah, uang itu digunakan ayahnya untuk menutup hutangnya, dia terlilit hutang setelah kalah dalam pemilu tahun itu. Uangnya habis untuk biaya kampanye.


2 hari setelah di dalam penampungan. Mereka siap dikirim ke luar kota untuk dilelang. Namun saat berada di kapal, orang-orang membawa senjata lalu menghabisi seluruh budak. Ibunya melindunginya, Sunghoon diminta untuk tetap diam sampai semua selesai. Maka dia di sana pura-pura mati di samping ibunya yang tertembak. Begitu dia bangun semua orang telah mati. Begitu juga ibunya.


Dalam sesi pembelajaran bertarung yang dibimbing Seungwoo, dia meningkat dengan pesat. Seluruh kelas seperti gulat dan penggunaan senjata, semuanya berjalan dengan lancar. Maka Seungwoo mengetesnya dengan mengadakan duel dengan salah satu anak buahnya. Hasilnya mencengangkan, Sunghoon bertarung dengan ganas tanpa ampun. Tidak ada kilatan ketakutan dan ragu bahkan ketika lawannya hampir mati. Dia terus saja memukul membabi buta, pertarungan percobaan itu dimenangkan Sunghoon dengan telak. Semenjak itu Seungwoo semakin gencar memberi wejangan kepada Sunghoon.


"Jadi kau menyembunyikan peningkatanmu karena lawanmu selama ini adalah aku? Ketika bertarung dengan orang lain kau tidak bisa dihentikan. Ku beri tahu, jangan bertarung memandang siapa dia. Jika pantas dihajar, hajar saja" Seungwoo berkata panjang lebar kepada bocah 15 tahun di depannya ini. Wajah si lawan bicara masih dingin seperti biasa. Dia menunduk sebagai permintaan maaf. "Hoon. Kalau latihan dengan ku. Perlakuan aku seperti lawanmu yang pantas dihajar"


"Tidak bisa... nanti kau terluka, Hyung"


"Memang itu tujuannya bocah kecil. Aku tidak akan mati" Seungwoo menghembuskan nafasnya. Apa apaan alasannya itu. "Ini hanya latihan, tidak masalah melukaiku. Jika tidak begitu kau akan terluka di masa depan"


Sunghoon lagi-lagi hanya menatap Seungwoo lama. Dalam hatinya dia sangat... ah pokoknya pria di depannya ini sangat keren bagi Sunghoon. Dia mengidolakannya. Tidak salah dia bersumpah akan terus mengabdi pada Han Seungwoo. Sunghoon akan patuh mulai sekarang, dia tidak akan berani mengkhianati dan terus percaya apapun keputusan Seungwoo. Hyungnya itu tidak mungkin bertindak tanpa alasan, pria itu diberkati otak pintar yang tidak terkalahkan. Setidaknya itu menurut Sunghoon selama ini. Maka dia percaya dan menurut perintah terakhir dari Seungwoo, untuk ikut dengan ayahnya dan meninggalkan Tuannya.


...----------------...


Kim Wooseok berdiri di menara kiri dengan gemetar. Dia mengangkat pistol di tangannya namun ragu untuk menembak, melihat puluhan orang berwajah sangar penuh tato di depan gerbang besi tebal mansion. Dia tidak pernah merasa se takut ini sebelumnya.


Wooseok mencoba menggunakan walkie talkie di tangannya. Menghubungi Hangyul yang di atas menara kanan. Pria itu tampak tenang dan mengamati dengan pistol otomatis nya di tangan.


"Lee Hangyul... apa yang harus kita lakukan?" Wooseok yang tidak terlatih untuk situasi ini terlihat panik.


"Santai saja, Hyung. Kalau mereka masuk, habisi. Kalau tidak, bersiap untuk kemungkinan terburuk. Yang paling jahat biasanya hadir paling akhir" Entah apa maksud Hangyul tapi Wooseok percaya saja. Di film-film yang dia tonton sebelumnya memang begitu, yang paling jahat pasti datang belakangan.


Hangyul beralih menatap Hanse yang bersiap di depan gerbang depan dengan dua pedangnya. Bocah itu entah kenapa terlihat paling tegang saat ini. "Oi Hyung. Kau sudah amankan Irene?" Hangyul berbicara melalui walkie talkie nya.


"Aku tidak tahu dia kemana"


"Apa maksudnya, ha? Kemana Irene?!" Kim Wooseok yang masih satu saluran membentak Hanse.


"Wooseok. Fokus ke depan! Irene akan baik-baik saja" Hanse balik meninggi untuk menyadarkan Wooseok. Dia penuh kepanikan sehingga sedikit kacau. Wooseok menatap ke depan lagi, orang-orang dengan katana dan pistol di depannya masih berdiri di sana. Mereka terlihat menakutkan.


"Dia baik-baik saja jika kita bisa melindungi mansion. Jadi fokus pada tugas kali ini" Hangyul menambahi, dia mengumpat dalam hati. Anak buah tambahan belum sampai kemari dan yang paling penting, Bos mereka belum sampai rumah. Jika Seungwoo datang, tidak ada pilihan lain selain bertarung di bawah sana dengan puluhan orang. Atau mencoba menabrak mereka dengan resiko menabrak pagar.


Jam 7 pagi. Sebuah mobil yang Hangyul duga milik Seungwoo terlihat dari kejauhan. Dia hanya bisa menunggu sambil berharap cemas. Yang terlihat pertama adalah mobil itu mengerem mendadak dan berhenti. Orang-orang di depan gerbang menatap serentak ke arah mobil Seungwoo. Itu bukan pemandangan bagus. Para anggota Yakuza berjalan mendekat ke sana.


Dengan mengejutkan pintu mobil terbuka. Para penumpangnya turun dari sana, keadaan mereka terlihat buruk dan berantakan. Hangyul dapat melihatnya dengan jelas, tapi tidak mengetahui apa yang telah terjadi. Mereka hanya berempat, Sunghoon tidak ada di sana. Secara tiba-tiba membentuk 2 kubu lalu berlari ke dalam hutan.


Di sisi lain Seungwoo bersama Seulgi berlari menuju hutan kanan jalan, Seungyoun dan Changkyun berlari ke hutan kiri jalan. Rencana dadakan yang dibuat Seungwoo sangat tidak bagus, tapi itu yang terbaik untuk membunuh musuh. Mereka berlari ke semak-semak, melompatinya dan terus berlari ke arah hutan.


'Hati-hati jika bertemu serigala' Ucapan Seungwoo masih menghantui pikiran Seungyoun. 'Mereka peliharaan ku yang sengaja kubiarkan lapar. Para mayat akan dimakan habis, jadi jangan sampai mati' Seungwoo berkata sepanjang perjalanan dengan wajah tenangnya. 'Ayahmu juga... habis dimakan mereka'


"Sial! Sial! Sial!" Seungyoun mengumpat. Changkyun hanya meneruskan pelariannya di depan sambil membawa se kotak peralatan beratnya.


Changkyun menarik Seungyoun ke semak-semak tinggi. Menyembunyikan tubuh mereka di sana sambil menyiapkan senjata. Changkyun bergerak dengan cepat, tangannya terampil menyiapkan cadangan peluru, memberikannya pada Seungyoun sebagai cadangan. Pria itu tidak lupa membongkar semua senjatanya yang tidak dipakai, jika tidak musuh akan menemukannya dan menyerang mereka dengan senjata itu.


"Dengarkan aku... Youn... Jika bertemu serigala, jangan tembak..." Changkyun kehabisan nafas. "Dan... lagi. Jangan bunuh mereka. Tembak kakinya... serigala suka buruan yang masih hidup" Seungyoun mengangguk paham.


"Ada 21 orang yang mengikuti kita" Seungyoun memberi tahu Changkyun, persediaan peluru mereka lebih dari cukup untuk melumpuhkan musuh.


"Terus buat jarak, pengguna pedang hanya bisa menyerang dari jarak dekat. Jadi ayo cepat lari" Mereka kembali berdiri lalu lari untuk membuat jarak aman.


Rencana mereka adalah sampai ke pintu belakang mansion lalu masuk, untuk mengurangi jumlah musuh mereka harus melumpuhkan mereka di hutan ini, membiarkan mereka menjadi santapan serigala. Pegunungan ini sangat cocok untuk tempat tinggal serigala, kata Seungwoo serigala yang dia sebar adalah serigala abu-abu yang rata-rata bisa setinggi 80cm. Cukup besar dan berbahaya.


"Saat ini kita masuk ke dalam teritorial mereka" Begitu kalimat Changkyun selesai suara semak yang berisik dapat di dengar. Mereka pasti sudah datang. Serigala biasanya berburu secara berkelompok.


Nampak lah seekor serigala dengan tubuh besarnya. Dia menatap mereka berdua dari mata abu-abunya. Mereka diam menunggu beberapa orang di belakang mereka, menembak ke bawah tepat di kaki. Anehnya, jumlah awal mereka adalah 21 namun kini tinggal 17, beberapa sudah dimakan lebih awal. 5 ekor serigala besar itu langsung melompat dari semak begitu mencium bau darah, mereka telah menargetkan kelompok Yakuza sebagai buruan. Seungyoun mengarahkan pistolnya dari jauh, membidik beberapa orang lainnya di bahu. Jumlah mereka terus berkurang menjadi 10 lalu 5. Mereka berdua yang sedikit lengah mendapat tembakan beruntun dari arah musuh.


Beruntung Changkyun dan Seungyoun bisa menghindar, jarak dengan pintu belakang masih cukup jauh mengingat besarnya mansion Seungwoo membutuhkan jarak jauh untuk mengelilinginya. Changkyun terperosok karena medan yang cukup terjal, Seungyoun berhasil meraihnya. Hampir saja pria itu jatuh ke bawah.


"Sial... kakiku terkilir" Changkyun mengeluh.


"Jalan dulu, sisanya biar aku yang tangani..."


"Cho Seungyoun! Kalau kau terlu-"


"Im Changkyun! Jangan remehkan aku. Aku memerintahmu sebagai ketua Golden Crown! Cepat pergi dari sini" Seungyoun berteriak dengan suara lantangnya.


Changkyun akhirnya memejamkan matanya sebentar. "Baik, Tuan" Dia menundukkan tubuhnya pertanda hormat sebelum berlari tertatih meninggalkan Seungyoun. Changkyun mengumpat sepanjang jalan, jika Seungyoun mati maka dia mati. Dia hanya tidak habis pikir bagaimana Cho Seungyoun bisa sama galaknya dengan bosnya, mereka memiliki pesona pemaksa yang sama.


Tidak lama suara adu tembak di belakangnya terdengar nyaring diantara pepohonan. Posisi ini berbahaya bukan karena Yakuza itu, tapi karena hewan peliharaan Seungwoo yang kelaparan. Mereka akan semakin ganas.


Seungyoun berlindung dengan baik di belakang pohon. Orang-orang itu sulit dilumpuhkan karena terhalang. Dia mencoba menembak setinggi telinga di samping pohon, berharap suara desingan peluru itu menganggu seseorang yang bersembunyi di baliknya. Dan berhasil. 2 orang langsung dia lumpuhkan. Kabar buruknya serigala itu telah membunuh mangsanya lalu mencari mangsa lain, mendekat ke arah mereka yang sedang adu tembak. Seungyoun memanfaatkannya karena konsentrasi musuh terpecah, membiarkan dirinya terlihat oleh Seungyoun dan langsung tertembak.


Segera setelah itu Seungyoun berlari menjauh mengejar Changkyun, pria itu cukup jauh di depan. Namun beberapa ekor serigala mengikutinya, menjadikannya sebagai target buruan.


"Changkyun! Lebih cepat!" Seungyoun berteriak walau jaraknya masih jauh di belakang. Orang itu mempercepat larinya, kakinya berdenyut menyakitkan.


Untungnya di depan sana Han Seungwoo dan Seulgi terlihat terengah-engah bersama, menunggu di pintu belakang. Pria tinggi itu mengangkat pistolnya, menembak 2 binatang buas yang mengejar Changkyun dan Seungyoun.


"Semuanya baik-baik saja?" Seulgi bertanya.


"Mati semua" Changkyun mengangkat jempolnya. Jawabannya terdengar tidak nyambung sama sekali tapi itu adalah hal bagus.


Mereka masuk melalui pintu belakang, langsung mengarah ke belakang bangunan mansion utama.


Sementara itu sebuah helikopter mengarah ke halaman luas mansion Seungwoo. Di dalamnya terdapat seorang pria tua yang memegang rokoknya, menghembuskan nya ke udara. "Aku turun. Lindungi dari bawah"


Pria di bawah sana bersiaga sesuai perintahnya. Melihat Hangyul yang mengarahkan tembakan mesinnya ke arah helikopter, pria itu membidik tepat sasaran mengenai bahu Hangyul.


"BRENGSEK DO HANSE APA YANG KAU LAKUKAN?!" Hangyul berteriak marah kepada rekannya yang menembaknya. Hanse terlihat datar datar saja sambil mengamati helikopter yang berhasil mendarat di sana. Seungwoo dan yang lain sudah datang di sana. Melihat helikopter yang terlihat berhasil mendarat.


Pintu helikopter itu terbuka. Seorang pria tua keluar dari sana dengan pakaian anehnya. Terlihat seperti pakaian daerah yang sudah lebih modern. Seluruh tubuhnya terdapat banyak tato, hampir menutupi seluruh kulit aslinya. Hanse mendekat memberi hormat dalam.


"Lama tidak bertemu, Otōsan*" Hanse memberi salam.


.


.


.


.


To be Continue


^^^*Otōsan: Panggilan Ayah dalam bahasa Jepang^^^