Another Wife

Another Wife
Chapter 38: Han Seungwoo



Sebuah tangisan bayi itu memecah kesunyian pagi yang dingin di sebuah mansion besar. Pada pertengahan musim dingin Han Seungwoo kecil lahir ke dunia yang kejam.


Si ayah kandung mengajarkan putranya bertarung dari usia yang masih sangat dini. Segala peraturan ketat keluarganya harus dipahami dan dipatuhi. Seungwoo menerima pendidikan home schooling, keluar dari dinding rumahnya hanya untuk berkeliling bersama ayahnya, menghafal nama lokasi dimana bisnis mereka berjalan.


Ibunya tidak begitu peduli padanya. Wanita cantik itu hanya mementingkan perawatan tubuhnya dan busana yang dia kenakan. Seorang ibu yang bahkan tidak layak dipanggil ibu. Lalu ayahnya sendiri hanya kembali ke rumah untuk mengajarinya ini itu atau memberinya hukuman. Seseorang yang selalu menemaninya adalah pria yang beberapa kali bersama ayahnya. Dia juga yang bertanggung jawab mengajarinya tentang bisnis bawah.


Seperti saat ini. Seungwoo sedang duduk rapi di ruang belajarnya dan mendengarkan penjelasan dari pria itu. Mencatatnya di buku catatannya.


Dia menghela nafasnya, tidak mengerti kenapa harus mengajari siklus perdagangan narkoba pada anak 7 tahun. Pria itu menurunkan kertas materi ditangannya.


Seungwoo kecil menatapnya heran. "Seungwoo tidak mengikuti pelajaran dengan baik?"


"Tidak. Bukan itu" Pria itu mengusap lembut kepala si kecil. Menatapnya teduh, bahkan bocah itu belum tahu mana benar mana salah. "Kita istirahat dulu, ya"


"Papa, Seungwoo ingin ke luar" Percakapan acak itu membuat pria itu menaikkan alisnya.


"Kapan-kapan kalau ada jadwal keliling, Seungwoo juga akan keluar bukan?"


"Tapi ingin keluar bersama Papa. Bukan untuk menghafal cabang Ayah. Ingin pergi dari sini"


Heechul mencelos. Tidak tahu harus berkata apa, ketakutan merayapi hatinya. "Pergi kemana? Bukankah ini rumah Seungwoo?" Jawaban bodoh itu hanya membuat Seungwoo kecil sedikit cemberut.


Rumah apanya? Ini adalah kandangnya. Dia dipelihara untuk menjadi berguna.


"Hanya Papa yang baik pada Seungwoo"


Pria itu hanya tersenyum lembut. Sedikit khawatir karena anak di depannya menunjukkan sifat pembangkang yang mungkin tidak disukai ayahnya. Yang paling parah jika pembicaraan mereka sampai ketahuan, Seungwoo akan dihukum agar jera dan takut untuk kabur.


"Ayah dan Ibumu juga sayang padamu. Hanya saja cara penyampaian mereka berbeda dengan Papa"


Seungwoo dengan ragu percaya. Bocah kecil yang polos itu mengangguk kecil. Lalu sebuah pertanyaan tiba-tiba terlintas di kepalanya. "Papa, kenapa ayah memiliki 2 istri?"


"Karena itu sebuah peraturan" Jawaban singkat padat dan jelas itu mudah diterima. Pria manis itu menyalakan rokoknya, menghisapnya panjang lalu menghembuskan nya. Segera ruangan itu penuh dengan asap.


"Tapi, apa papa mencintai ayah?"


"Papa mencintai Seungwoo, lebih banyak" Dicubitnya pipi gembul si bocah kecil yang kini tersenyum menggemaskan.


Pria yang sebelumnya bernama Heechul itu juga termasuk orang tua Seungwoo. Sebagai istri yang mengurusi dunia bawah Heechul juga menaruh perhatian lebih pada Seungwoo. Anak kecil itu terlihat kesepian dan sedikit tertekan. Tidak heran karena keluarga Han terkenal keras kepada anggota bahkan keluarganya sendiri. Di waktu tertentu dia selalu disisi Seungwoo ketika senggang. Menemaninya belajar dan memperlakukannya selayaknya manusia. Seungwoo kecil sangat suka kepada papanya.


...----------------...


"Kubilang kau harus fokus! Gunakan kakimu untuk bertahan!" Bentakan kembali terdengar. Bocah kecil itu menahan tangisnya mati-matian. Jika dia ketahuan menangis maka hukuman menantinya.


Kaki kecilnya bergetar, terlalu lelah atau mungkin sakit karena berkali-kali terjatuh. Matras apanya, yang menjadi penyelamatnya selama ini hanya rumput tipis di bawah kakinya. Sebuah pelatihan bela diri yang penuh resiko dan tekanan.


"Kalau minggu depan kau masih terjatuh seperti tadi. Ayah akan mengurungmu selama seminggu di ruang bawah" Ayahnya mengancam. Seungwoo hanya mengangguk kecil, dia berlatih bertahan dengan kuda-kuda. Namun karena kekuatan fisik yang jauh berbeda Han Seungwoo kecil selalu jatuh.


"Bulan ini kau harus mengerti tentang perdagangan narkoba. Jangan lupakan cabang-cabang yang Ayah beri tahu Minggu lalu. Sebagai penerus keluarga Han kau harus pintar dan kuat. Jika kau masih tidak berguna seperti ini Ayah akan membunuhmu"


Anak kecil itu akhirnya tidak bisa menahan air matanya. Dia secara tidak sengaja menangis. Segera, air mata itu dihapusnya kasar. Ketakutan jelas terlihat di wajahnya yang tampan.


"Aku... tidak menangis Ayah" Air mata sialan itu semakin deras.


Meminta pertolongan, Seungwoo melihat ke arah ibunya yang sedang bersantai dengan teh di tangannya. Wanita itu membolak-balik halaman majalah. Tidak perduli dengan suara bising dari tengah lapangan.


Tuan Han hanya menatap nyalang ke anaknya. Sebuah tamparan dilayangkan untuk membuat putranya sadar. "Tidak peduli kau mau atau tidak. Menangis atau tidak. Kau harus fokus dengan latihannya. Han Seungwoo. Jika bukan ayah yang membunuhmu, maka para anak buahmu sendiri yang akan membunuhmu. Kenapa? Karena kau pemimpin yang tidak berguna"


Wanita cantik itu mendekat setelah melihat ke arah jam tangannya. "Sudah jam 5, sebaiknya bersiap-siap untuk undangan makan malam dari Mr. Zhang"


Tuan Han berbalik menjauh tanpa kata. Han Seungwoo kecil sedikit senang ketika melihat ibunya, dengan pikiran lugunya dia beranggapan wanita itu berusaha menyelamatkannya dari ayahnya.


"Ibu..." Wanita itu terhenti, berbalik menghadapnya.


"Menjijikkan. Jangan panggil aku dengan sebutan itu" Wanita itu hampir berbalik dan pergi ketika Seungwoo kembali mencicit dengan suara kecilnya.


"Kenapa begitu membenciku?"


"Karena kau monster" Ada jeda beberapa detik sebelum ibunya menjawab lagi, "Seharusnya aku tidak menyetujui tawaran ayahmu untuk menikah denganku. Seharusnya aku tidak melahirkan mu. Kalian seharusnya mati saja" wajah ibunya mengkerut mengerikan, mencengkram dagunya dengan keras. Wajah kesal itu terlihat jelas. "Kalau saja aku bisa membunuhmu..."


Heechul yang kebetulan lewat segera menghampiri keduanya. Melepaskan tangan ibu Seungwoo dengan kasar. Seungwoo memeluknya dan menangis.


"Apa yang kau lakukan?! Kalau Tuan Han tau-" Heechul memperingati, namun si nyonya nampak kesal.


Hari itu Seungwoo menangis dipelukan Papa nya. Menunjukkan sikap normalnya selaku anak-anak yang serba takut. Mengeluh tentang sakit di sana sini. Lalu berakhir di bangunan yang sering dia kunjungi.


Kedua pasang suami istri itu memberinya perawatan pada lukanya. Gadis yang lebih tua darinya beberapa tahun juga ikut memperhatikan di ujung sana. Tidak berani mendekat. Padahal Seungwoo ingin sekali berteman dengannya. Dia putri dokter pribadi keluarganya. Irene yang sedikit nakal itu kerap memperhatikannya diam-diam.


Kehidupan Seungwoo berlangsung mengerikan selama bertahun-tahun kedepannya. Walau kini dia mendapatkan teman baru. Dan kedekatannya dengan Papa dan kedua orang tua Irene cukup baik. Itu tidak merubah keadaannya. Mereka tidak mampu menolongnya dari pengajaran keras Ayahnya. Terlebih ibunya yang semakin acuh padanya, wanita itu bahkan hampir tidak pernah pulang ke markas selama berhari-hari. Hubungan ayah dan ibunya memburuk, Papanya hanya berkata kalau ada sedikit masalah dengan bisnis mereka akhir-akhir ini jadi Seungwoo hanya bungkam.


Seungwoo semakin malas mengikuti aturan ayahnya, bahkan enggan mencapai target yang ayahnya berikan. Anak itu sudah cukup muak untuk terus menurut dengan keadaan lingkungan yang makin kacau setiap harinya.


Seminggu kemudian ibunya datang dengan muka masamnya. Wanita itu menghadap ayahnya seketika. Keduanya bertengkar hebat malam itu, Seungwoo yang tidak mau ikut campur hanya mengurung diri di kamarnya. Menutupi telinganya dengan bantal. Kalau saja dia bisa pergi dari sini. Kalau saja ayahnya mati. Mungkin dia bisa bebas.


Kalau saja. Kalau saja Seungwoo tahu malam itu akan menjadi peristiwa yang akan merenggut nyawa papanya. Dia tidak akan berdiam diri di kamar sembari menutup telinganya. Kalau saja Seungwoo tahu malam itu pria yang merawatnya sedari kecil akan pergi selamanya. Dia akan berbuat sesuatu.


...----------------...


Pagi itu Seungwoo kecil merasakan atmosfer janggal di dalam rumahnya. Suasananya terlalu sepi untuk pagi yang sibuk. Bahkan Heechul tidak terlihat dan membangunkannya untuk sarapan pagi. Mengikuti beberapa pengurus rumah yang nampak berjalan keluar, Seungwoo melangkahkan kakinya. Melewati ruang besar di tengah lalu tiba di ujung pintu depan. Orang-orang sibuk dengan keributan di tengah lapangan. Mereka menatap terkejut ke arah yang sama.


Seungwoo terbelalak. Bahkan mulutnya terbuka lebar tanpa suara. Nyawanya bagai dicabut dari tubuhnya. Kaki telanjangnya melangkah maju, menapaki rumput hijau yang sedikit dingin.


Di tengah sana. Orang yang dicintainya duduk terikat pada kursi kayu. Tubuh kaku yang menjadi tontonan bagi para penghuni mansion besar. Kim Heechul sudah menjadi mayat dingin yang seluruh tubuhnya membiru dan lebam. Tidak ada yang berani maju kecuali kaki kecil Seungwoo. Si Tuan Han yang berkuasa sedang memberi mereka contoh hukuman terberat, akibat dari tidak patuh dari peraturan yang dibuatnya.


"PAPA!" Suara lantang itu akhirnya terdengar. Jeritan menyedihkan dari si putra tunggal bos besar menggema di seluruh bagian mansion.


"Papaaaa!!!" Tubuhnya ditahan agar tidak lebih dekat lagi. Mencegah kacaunya pidato singkat dari sang Tuan Han.


"Kim Heechul akan menjadi contoh hukuman terberat karena terbukti menyiapkan pelarian diri dari Golden Crown. Para anggota yang tidak mematuhi aturan di dalam Golden Crown akan dikenakan hukuman sesuai aturan. Bahkan jika itu setingkat Eksekutif, dan bahkan dia-" Tuan Han menunjuk Kim Heechul. "Sebagai pemegang bisnis ilegalku sendiri"


Pria itu menatap anggotanya yang kini bergidik ngeri. "Dengan ini, bisnis ilegal akan kembali menjadi tanggung jawabku. Kalian boleh bubar"


Semua orang segera meninggalkan tempat mereka untuk menghindari hal yang akan terjadi selanjutnya. Siapapun di sana tahu dengan benar. Setelah eksekusi bahkan jasad mereka tidak berhak dimakamkan dengan layak. Di dalam aturan Golden Crown seorang pengkhianat akan dijadikan makanan serigala.


Tuan Han mendekat ke arah putranya yang terduduk seperti boneka rusak. Bocah berumur 11 tahun itu bahkan tidak tahu harus apa.


"Berdiri"


"Apa yang kau lakukan pada Papa?" Ayahnya menatap putranya malas. "Kutanya apa yang kau lakukan pada Papaku?!"


"Dia tidak mengaku sampai akhir" Kalimat itu membuat kening Seungwoo mengerut bingung. "Walau kupukul berkali-kali dia tidak mau mengaku ingin membawamu kabur dari sini"


Seungwoo bahkan lebih tercekat. Dia menatap ayahnya. "Aku yang bersalah, ayah bisa mengurungku sebulan, setahun, memukulku atau mematahkan kakiku. Ayah boleh membunuhku. Kenapa melakukannya pada Papa?!" Suaranya bergetar, Seungwoo meremas rumput di bawahnya.


"Coba lihat putra siapa yang begitu menjijikkan ini? Karena didikan Kim Heechul kau menjadi terlalu lemah. Rasa sedih? Kau kira dirimu siapa Han Seungwoo? Kau tidak perlu memiliki perasaan yang merepotkan seperti itu. Rasa memiliki? Rasa cinta maupun sayang. Di kamus keluarga Han tidak ada yang seperti itu. Kita adalah Pemimpin Golden Crown karena usaha yang sangat sulit. Lalu anak buahmu hanya sekedar pion yang kau mainkan. Mereka yang mati akan menjadi pijakan mu agar lebih tinggi. Kau belajar begitu banyak sedari kecil tentang aturan keluarga, tapi kau tidak menerapkannya dan malah semakin menurut kepada Kim Heechul?" Tuan Han memberi jeda, menatap sengit kepada Kim Heechul yang terikat di sana.


"Banyak yang cemas karena penerusku tidak serius. Jika berlanjut akan ada kudeta di dalam Golden Crown. Hukuman terberat? hahaha... Ayah bukan sedang menghukum Heechul, ayah sedang menghukum mu. Kau hanya bisa memilih sekarang. Menghapus perasaan menjijikkan itu dan terus menjadi penerusku. Atau mungkin ayah yang akan membantu menghapus orang-orang yang paling dekat denganmu dulu"


Di pikiran Seungwoo hanya ada Irene dan kedua orang tuanya sekarang. Jika ayahnya berkata demikian berarti dia sudah tau siapa saja yang dekat dengan Seungwoo. Mengabaikan Irene setelah kehilangan papanya? Dia akan menderita secara utuh.


"Bagaimana jika aku menurut pada Ayah... Tapi tinggalkan orang-orang ku. Aku berjanji akan menurut"


"Ini kesempatan terakhir yang ayah berikan. Buang mayat Kim Heechul ke hutan, biarkan serigala memakannya sebagai pakan" Tuan Han mengakhiri kalimatnya dengan memanggil beberapa anak buahnya. Akhirnya proses terakhir akan dilakukan.


Han Seungwoo kecil yang sangat bingung hanya bisa menahan emosinya. Mengerang tertahan, menangis kembali. Dia membenci keputusan ini, juga tidak bisa membiarkan ayahnya menyentuh Irene dan keluarganya.


Seungwoo melihat mayat itu ditarik menjauh ke arah gerbang belakang. Papanya yang berharga. Siapa orang gila yang rela jika jasad orang tersayangnya dicabik-cabik serigala. Tapi kali ini Seungwoo hanya menutup matanya berat. Tuan Han mendekati putranya lagi, membantunya berdiri lalu memegang pundaknya erat.


"Han Seungwoo. Be greedier. Buat dirimu pantas memegang Golden Crown"


.


.


.


.


To be Continue


Guys... Kalian suka baca ff bl siapaxsiapa? Kalo aku Taekook, Jakehoon, RyeonSeung 😭👍.


Kalo aku buat novel baru kalian lebih seneng tokohnya siapa?