Another Wife

Another Wife
Chapter 9: Tamu



"Aura kesenangan apa ini. Membuatku merinding" Seulgi menyenggol Irene yang berada di sampingnya.


"Apa?" alis Seulgi naik turun memandang Irene. "Dasar kepo"


"Itu. Si Seungyoun, semangat sekali hari ini. Padahal kudengar dari Hangyul dia hampir digantung di gerbang depan"


"Dia melebih-lebihkan. Mana tega Seungwoo menggantung eksekutif barunya" Irene mencibir sikap lunak bosnya.


"Bagaimana menurutmu, Eonni? Pilihan Seungwoo lumayan juga, dia meningkat dengan baik"


"Entahlah, bagaimanapun juga, dia masih menunggu kebebasannya. Tapi Seungwoo malah menipunya. Jika Seungyoun jadi eksekutif, dia tidak akan bisa lari dari sini"


Seulgi hanya bisa membenarkan ucapan Irene. Pria yang sedang bersemangat berlatih menembak itu tidak tahu tipuan Seungwoo. Anggota biasa katanya. Anggota biasa tidak diijinkan untuk ikut ke dalam misi pribadi. Karena misi kemarin mengandung banyak informasi rahasia mengenai nama nama penting. Seungyoun sedang dipersiapkan untuk menjadi seorang eksekutif, salah satu dari mereka. Tapi, walaupun tahu alasannya itu masih belum cukup masuk akal. Walaupun Seungyoun banyak merugikan Seungwoo, merekrutnya menjadi eksekutif itu tidak berhubungan langsung dengan keuntungannya.


"Hi nona nona manis" Kim Wooseok bergabung ke obrolan. Pria itu sering bergosip dengan mereka.


"Hi juga pria cantik" Balas Seulgi.


"Sialan" Wooseok membawa beberapa berkas perusahaan. Dia membawanya sambil bergabung, terlihat seru.


"Bagaimana jika Seungwoo tidak ingin menjadikan Seungyoun eksekutif?" Seulgi dan Irene hanya memandang Wooseok aneh. Apa-apaan dia. "Aku pertama tahu dari Changkyun. Awalnya tidak percaya tapi akhirnya cukup masuk akal. Apa kalian tidak pernah berpikir kenapa si pak bos tiba-tiba kembali ke dunia bawah? Karena dia sudah menemukan calon yang cocok untuk mengelola urusan itu"


"Tunggu dulu. Bukankah 'daftar' itu sudah dirancang oleh ayahnya Seungwoo? Maksudku, mungkin seperti perjodohannya dengan Joy. Itu sudah direncanakan jauh-jauh hari" Seulgi yang pertama menyahut.


"Tidak ada. Tidak pernah ada daftar untuk pengelola dunia bawah. Mereka hanya dipilih begitu saja, agar mudah dimusnahkan jika tidak diperlukan" Irene berujar, tersenyum kecut karena terlalu banyak tau hal kotor tentang keluarga Han. Sejenak suasana di sana hening. Wooseok merinding takut, bahkan Seulgi terlihat sedikit terkejut.


"Begitulah Tuan Han yang lama. Kalian tau kan Seungwoo tidak akan sama dengan ayahnya. Itulah kenapa aku percaya padanya" Irene berujar lagi, bahkan dia berusaha percaya pada kata-katanya sendiri.


"Tentu saja, tidak mungkin sama. Mereka berbeda"


................


Sebuah mobil putih itu tiba-tiba datang dari arah depan mansion. Mereka kedatangan tamu pertama dari luar. Setelah sang supir menunjukkan bukti undangan pada penjaga, gerbang pun dibuka lebar.


Pria di dalam mobil itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Markas ini tidak main-main penjagaannya, walaupun mereka di tempatkan jauh dari bangunan utama. Mungkin, si pemilik mansion tidak ingin terganggu. Bangunan besar itu terlalu bagus untuk sekedar markas, mirip rumah elit mirip orang kaya raya. Begitu pikirnya.


Pria itu datang ke dalam bangunan utama sendirian. Anak buah yang dia bawa berada di luar. Perbincangan kali ini cukup pribadi. Di ruang paling depan tersedia sebuah meja dan kursi yang ditata sedemikian rupa. Khusus dipersiapkan untuk menerima tamu.


Pria bertopeng putih itu mengisyaratkannya untuk duduk di depannya. Siapa lagi kalau bukan Tuan Han si pengundang. Tamu itupun duduk.


"Suka hadiahku, Wang Yibo?" Si Tamu itu mendengus sedikit kesal. Nama aslinya terungkap. Dia membuka topengnya, begitupun Han Seungwoo.


"Lumayan. Seungwoo-ssi"



"Sungguh aneh karena kita tidak terkejut satu sama lain" Seungwoo tersenyum tipis. Mungkin Wang Yibo sama sepertinya, sudah mengantongi identitas asli Seungwoo.


Seungwoo lagi-lagi tersenyum. Dia sedikit tertawa kali ini. Kalimat itu berisi sanjungan dan mungkin ancaman karena latar belakang nya dengan cepat mengalir keluar. Namun Seungwoo begitu tenang menghadapi. Rubah di depannya ini mungkin paling terlihat seperti lawan, namun dia mungkin bisa dijadikan kawan.


"Kalau begitu kau orang yang menyenangkan untuk diajak bekerja sama"


"Ah, jadi ini intinya. Kenapa?" Wang Yibo bertanya.


"Kau tau, kalau kau tidak menerima hadiahku kemarin, mungkin namamu saat ini sudah sangat tercemar Mr. Wang" Si Mantan bawahannya begitu tidak setia pada tuannya yang lama. Bahkan dia dengan berani dan lancang mengarahkan semua masalah pada Wang Yibo. Jika Seungwoo tidak bertindak cepat, pria di depannya ini akan menjadi bulan bulanan para pedagang lain.


"Terimakasih untuk hadiahnya. Tapi namaku sudah tercemar, aku masuk dalam black list mu" Yibo sedikit jual mahal sekarang, atau dia mungkin masih marah tentang hal di pasar waktu itu.


"Memang. Tapi kau tahu sekarang situasinya berbeda bukan?"


"Oke. Aku sudah paham gambaran situasi saat ini. Aku korban dan perlu bantuan. Lalu kau butuh rekan agar semua orang tidak rugi kedepannya. Tapi Mr. Han. Musuhku sudah mati di tanganmu. Apa gunanya aku ikut campur? Kalaupun harus menemukan dalangnya, aku akan bertindak sendiri"


"Jadi apa keinginanmu? Ingin hadiah lain?"


"Kalau kau ingin aku setuju. Aku ingin pria yang kau lelang di pasar gelap waktu itu" Seungwoo sudah hampir menghancurkan gelas yang ada di tangannya. Wang Yibo ini memang ingin mati, begitu pikirnya.


"Ada beberapa batas yang harusnya tidak dilewati Yibo-ssi. Dan kau melewatinya sekarang. Kalau kau ingin aku melepaskan mu hidup-hidup dari sini. Sebaiknya berikan aku tawaran yang menarik"


Wang Yibo ini terlihat kesal sekarang. Mereka sama-sama tidak dapat menahan emosi lebih jauh lagi. Mereka tidak dapat mencapai kesepakatan yang baik jika terus seperti ini. Sebanyak apapun bantuan yang dikerahkan Yibo, dia tau dia tidak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup. Pantas saja Seungwoo begitu berani membocorkan markas besarnya, itu karena dia tahu seberapa hebat dirinya bisa menghilangkan Wang Yibo tanpa jejak.


"Tawaranku, aku tidak jadi mengambil milikmu"


"Ada lagi?"


"Hhh... Sial. Aku setuju berbagi informasi yang ku ketahui"


"Ada lagi?"


"Kau ingin mati ya?"


"Satu kesempatan terakhir. Katakan tawaranmu lagi" Seungwoo menyeringai. Ini akibatnya jika bermain-main dengannya.


"Aku.... bersedia bekerja sama denganmu Han Seungwoo brengsek"


.


.


.


.


To be Continue