
Changkyun melihat ke arah rumah mewah di perumahan elit itu. Seperti dugaan, suasana sepi dengan pengamanan cukup ketat di balik pagar. Tidak ada jalan menuju dalam dan memberi informasi lengkap kepada Sunghoon. Remaja itu terlihat baik-baik saja di dalam kamarnya. Changkyun menurunkan teropongnya, lalu menelfon Seungwoo. Bosnya seharusnya sudah pulang hari ini.
'Hallo?' Seungyoun mengangkatnya.
"Seungyoun?"
'Iya. Seungwoo meninggalkan ponselnya di sini. Dia tidur siang. Ada apa?'
"Hanya ingin melapor, aku menemukan Sunghoon. Dia baik-baik saja... aku masih memikirkan cara untuk menghubunginya"
Seungyoun menimbang-nimbang sebentar. "Pulang dulu, jika Sunghoon baik-baik saja berarti Pak Park berencana menggunakannya nanti"
"Oke" Panggilan terputus. Sore itu Changkyun langsung pulang, menemui Seungwoo dan mengadakan rapat. Beberapa informasi yang dia dapatkan disampaikan secara jelas. Ada beberapa nama baru yang diduga terlibat.
"Park Min Hyuk ayah Sunghoon direncanakan akan mengikuti pemilu tahun ini. Dia adalah seseorang yang berada di partai B, seperti dugaan dia patuh kepada Lee Hongki. Lee Hongki sendiri punya koneksi khusus di kepolisian, orang-orang di partainya terkenal hebat dan selalu menjabat di bagian-bagian penting negara. Penyerangan pasar itu atas kendali Lee Hongki yang mungkin saja ingin membuat kesan baik kepada publik dan menghapuskan pihak perdagangan gelap seperti kita. Tapi nyatanya dia terbukti beberapa kali korupsi namun sekali lagi, kuasanya terlalu hebat untuk menutupinya. Yang pasti dia memiliki tujuan untuk menciptakan citra baik kepada publik, meningkatkan kesempatannya untuk berbuat lebih jauh lagi" Changkyun menggeser panel di depannya. Sebuah foto seorang pria berwajah non Asia itu terpampang jelas di layar.
"Tujuan Lee Hongki adalah menarik dia ke Korea dan menanamkan bisnisnya di sini. Arthur" Changkyun menyudahi laporannya.
"Brengsek. Dia gembong narkoba paling besar" Seulgi menyahut. "Demi uang pajak? Apa dia gila? Mau menjadikan Korea Selatan sebagai pusat perdagangan narkoba?" Pendapat Seulgi langsung diangguki oleh Changkyun dan Hangyul. Seungyoun masih menyimak dengan manis melalui panggilan video.
Seungwoo meremas tangannya. Arthur... bagaimana bisa dia terkait dengan ini?
"Alasan narkoba tidak pernah punah adalah karena mereka dilindungi beberapa pihak. Pajak yang mereka beri kepada negara juga cukup besar. Hanya orang-orang bodoh sebagai kurir kecil-kecilan yang bisa tertangkap, tapi tidak dengan pemiliknya" Seungwoo memberi penjelasan lebih lanjut. "Kurasa Sunghoon akan digunakan untuk menyerang kita. Mereka sudah tau identitas ku"
"Pertama-tama apa yang harus kita lakukan?" Seungyoun bertanya.
"Untuk masalah Hanse, kita tunda. Karena para Yakuza mundur dan menghilang. Sementara kita harus mengeluarkan Sunghoon dari sana, tapi pak Park bukan orang sembarangan. Kalau tidak bisa maka cukup beritahu Sunghoon agar tetap tenang sampai kita menjemputnya"
Semua yang di sana setuju. Seulgi diam-diam masih menantikan eksekusi Hanse. Sebagai penutupan Seungwoo memberi mereka sedikit kabar baru. "Untuk menggantikan posisi yang kosong. Aku menyiapkan beberapa orang untuk dipindahkan ke markas utama"
"Eksekutif baru?"
"Ya. Mereka akan datang besok pagi"
...----------------...
Dua orang dengan banyak barang bawaan itu menatap kagum pada bangunan sekitarnya. Ternyata di Korea ada tempat seperti ini juga. Seorang pria bertubuh tidak terlalu tinggi menghampiri keduanya. Daripada seorang eksekutif baru yang siap kedua orang itu terlihat masih sangat muda.
"Sudah membawa barang yang diperlukan?"
"Sudah!" Jawab keduanya serentak.
"Tidak perlu terlalu kaku, panggil 'Hyung' saja. Tinggalkan di sini nanti ku suruh beberapa maid yang membereskannya. Sekarang, bertemu ke 2 Tuan dulu" Hangyul membawa mereka kepada Seungwoo dan Seungyoun.
Dua orang yang dimaksud sedang saling pangku di ruang kerja Seungwoo. Pemandangan yang sulit untuk diterima. Apalagi si pria yang lebih kecil mulai memerah karena malu. Seungwoo nampak acuh.
"Jangan salah paham. Dia sedang kurang sehat dan tidak bisa duduk sendiri" sebuah pembelaan dari Seungwoo yang sama sekali tidak didengar Hangyul. Apapun alasannya, bosnya pasti senang sedang memangku istrinya.
Kedua anggota baru tidak berani berkomentar. Mereka patuh dan diam, mencoba percaya. Kertas di hadapan Seungwoo berisi data diri eksekutif barunya. Kedua anak di depannya berkisar umur 20 dan 21 tahun.
"Alasan menjadi eksekutif di sini dikatakan jika kalian ingin lepas dari Golden Crown?" Aturan kemunduran diri kembali disinggung. Kedua anggota baru mengangguk ragu. "Ada banyak konflik internal saat ini, kalian sudah tau ceritanya. Dan karena masalah itu juga kalian mendapatkan tempat tertinggi. Alasan kalian untuk keluar seharusnya menjadi motivasi untuk bekerja dengan sungguh-sungguh. Jika kalian gagal di sini, tidak ada pilihan lain selain mati. Paham?"
"Paham!"
Setelah ketiga orang itu pergi Seungyoun menghela nafasnya lega. Saking malunya dia tadi tidak sempat memberi kalimat sambutan kepada Hyunjin dan Bangchan. Dia memukul bahu Seungwoo pelan.
"Sial... memalukan" Cho Seungyoun yang penuh gengsi telah kembali, amarahnya pada Seungwoo kemarin sudah hilang. "Aku akan segera memulihkan tubuhku"
"Kenapa? Tidak suka duduk di pahaku lebih lama, Youn?"
"Tentu saja tidak!" Seungyoun takut. Di bawahnya dapat dia rasakan dengan jelas sesuatu yang besar mengganjal. Sial, Seungwoo itu benar-benar menakutkan. Benda itu mulai bangun.
"Galaknya istriku"
Seungyoun menyandarkan kepalanya pada bahu Seungwoo. "Woo... apa baik-baik saja membiarkan Hanse?" Dia mulai kepikiran lagi.
"Percaya padaku. Oke?"
"Huum" Seungyoun memeluk leher Seungwoo. 'Perasaanku tidak enak, Woo' ucap Seungyoun dalam hati.
Sore itu para eksekutif berkumpul di lapangan tempat berlatih. Seungyoun duduk di kursi rodanya, ikut melihat pertarungan sengit antara Hyunjin dan Hangyul, lalu selanjutnya Bangchan dan Changkyun. Kedua eksekutif baru itu terlihat cukup babak belur. Setelah Seungwoo amati Hyunjin dan Bangchan adalah tipe petarung jarak jauh. Kabar baiknya mereka sama handalnya menggunakan senjata seperti Changkyun.
Irene kembali bekerja, dia merawat dengan telaten kedua orang yang terluka. Selanjutnya makan malam tiba, untuk pertama kalinya semenjak Seungyoun bangun dia ikut makan di meja kesayangan mereka. Walau tidak dalam kondisi baik semua eksekutif menyambut anggota baru dengan ramah. Ada 1 kursi kosong di ujung, milik Wooseok. Pria itu belum menghubungi Seungwoo semenjak keluar dari sini. Ada begitu banyak kenangan dan perasaan yang harus mereka tinggalkan. Jika tidak menghadapi musuh kedepannya akan lebih sulit karena hilang fokus.
Sesudah makan malam kedua tuan kembali ke kamar mereka. Para eksekutif secara kebetulan menuju ke ruang tengah. Tempat untuk berkumpul dan bersantai, perbincangan ringan yang bertujuan saling mengakrabkan itu berjalan baik. Seulgi juga dapat sedikit berbaur. Ada banyak informasi yang sudah Hyunjin dan Bangchan ketahui sebelum masuk ke dalam markas. Mereka juga bercerita tentang posisinya dulu dan bagaimana bisa sampai terpilih oleh Seungwoo. Kedua anak muda itu cukup mengagumkan.
"Kami sempat mendengar jika kita juga memiliki tuan muda di sini" Hyunjin angkat bicara.
"Sunghoon. Tapi dia sudah diambil paksa oleh pihak lain... tugas kita selanjutnya bertujuan untuk menyelamatkannya" Seulgi menjawab. Kedua anggota baru mengangguk.
"Menjadi eksekutif cukup beresiko untuk orang luar yang tidak dilatih khusus. Sebegitu ingin lepas dari Golden Crown?" Pertanyaan itu mungkin berarti lain bagi Hangyul. Pria itu sedikit curiga. Kejadian Hanse mengubahnya cukup banyak, Hangyul jadi lebih berhati-hati.
"Kami berasal dari kampung halaman yang sama. Aku dan Hyunjin mempunyai keluarga, kami rindu adik dan orang tua kami tapi terlalu takut untuk bertemu. Kami hanya ingin pulang setelah beberapa tahun mengabdi menjadi eksekutif, lalu bayaran yang kami terima juga lumayan. Jujur... hanya itu alasannya" Pria bernama Bangchan itu tersenyum canggung. Mereka berasal dari keluarga baik yang kurang mampu. Akhirnya terjerumus dalam pemerasan, siapa sangka mereka bekerja untuk penjahat besar seperti Golden Crown. Naik pangkat menjadi anggota dan akhirnya harus menjadi eksekutif untuk bisa lepas.
"Kami akan bekerja keras. Bukan hanya untuk bisa bebas, tapi sebagai rasa terimakasih kami kepada Tuan Seungwoo. Kalau kami tidak masuk ke Golden Crown mungkin keluarga kami sudah mati kelaparan dari dulu" Hyunjin menyambung lagi. Eksekutif lain lega, semoga saja kejadian kemarin tidak terulang lagi.
Seulgi menatap kedua pemuda itu. Golden Crown akan sedikit melemah kali ini. Mereka hanya memiliki Hangyul sebagai posisi penyerang langsung. Kemungkinan besar Changkyun kali ini akan turun langsung ke lapangan. "Anggap saja kami sebagai rekan kerja"
.
.
.
.
To be Continue
...Bangchan...
...Hyunjin...