Another Wife

Another Wife
Chapter 3: Pengangkatan



Irene sang dokter milik Seungwoo hanya bisa menatap rekannya itu heran. Kenapa dia? Datang sambil membawa seorang pria sekarat dengan keadaan acak acakan. Apa benar dia 'memungutnya' dari jalanan seperti biasanya?


Han Seungwoo, pria yang biasanya berwajah dingin itu kini masih duduk di samping pria yang masih tertidur dari semalam. Irene pikir mungkin dia salah makan sampai membuatnya cemas berlebihan kepada orang yang tidak dikenal.


"Sudah puas memandanginya, Woo? Tidak ingin mandi atau ganti baju sebentar? Tercium bau kematian" Seungwoo hanya melirik, sedikit terganggu dengan omongan Irene. Tapi rasa khawatirnya belum surut, walau tidak terlalu kelihatan tapi dia tidak dapat menekannya.


"Dia baik-baik saja kan?"


"Tidak akan mati untuk sekarang"


"Serius, Ren"


"Iya Tuan Han. Berhentilah bersikap seperti orang kasmaran. Pergi mandi, dasar bau" Irene mencibir sembari keluar dari ruangan. Sudah lelah dengan tingkah Seungwoo yang sudah semalaman dia bujuk untuk segera pergi dari ruangan itu. Selain menghambat pemeriksaan dia juga membuat Irene risih karena matanya tidak beralih menatap pria itu. Ada apa? Siapa dan kenapa perlakuannya pada pria itu berbeda. Irene hanya khawatir, ia tahu betul bagaimana Seungwoo sebenarnya. Seberapa kelam masa lalu pria itu lebih tepatnya.


Setelah dicibir Irene sedemikian rupa akhirnya Seungwoo pergi juga. Dia juga belum kembali ke rumah utamanya. Semalam ini dia habiskan di bangunan timur. Sunghoon juga sudah menemuinya ke sana namun Seungwoo masih enggan untuk pergi.


Setelah kembali, dia membersihkan dirinya yang amat kacau. Sarapan lalu menyerahkan jadwalnya pagi itu kepada Wooseok untuk diambil alih olehnya. Setelah itu dia undur diri untuk tidur. Seharian itu dia hanya tidur dan mengistirahatkan tubuhnya, juga meredam emosinya. Belum ada kabar lebih lanjut mengenai penyergapan semalam. Dan tentu bisnisnya belum bisa berjalan seperti biasanya lagi karena beberapa orang jelas lebih berhati-hati lagi kali ini. Semalam menjadi malam berdarah, walau penyergapan gagal namun lokasi mereka sudah diketahui. Hanya beberapa polisi yang dapat keluar dari sana hidup-hidup. Dan itu membuat gempar masyarakat. Di televisi pagi itu diisi dengan berita yang sama topiknya.


Setalah sore. Pria yang dikhawatirkan Seungwoo akhirnya baru bangun dari tidurnya. Pertama yang dia cium adalah aroma antiseptik. Tapi bangunan di sekitarnya terlalu mewah untuk sebuah rumah sakit. Begitu Seungyoun menyadari kalau dirinya masih berada di rumah 'tuannya' dia sedikit lega. Tunggu-. Semalam dia bilang ingin mati bukan? Tidak dapat dipungkiri juga, Seungyoun juga takut mati rupannya.


"Sudah bangun?" Sapaan Irene membuatnya mengalihkan pandangan. "Lukamu tidak terlalu parah, kau hanya kehabisan banyak darah saja. Istirahat total seminggu pasti akan lebih baik"


"Tolong aku..." Irene tersenyum maklum sebagai balasan. Ia mendekat ke arah Seungyoun yang masih terbaring.


"Kau meminta tolong kepada orang yang salah. Aku pekerja di sini. Jika kau ingin lepas, minta pada Seungwoo sendiri" Irene duduk. Memeriksa luka di perut dan kakinya. "Jangan banyak bergerak. Santai saja Seungyoun-ssi"


Seungyoun mengerutkan kening. Santai katanya. Wanita ini yang terlalu santai sampai sampai sangat nyaman berada di sarang iblis seperti ini. Irene bangkit, berjalan menuju ke luar ruangan itu. Sebelum benar-benar menghilang di balik pintu, dia berhenti lagi. "Kau harus lebih patuh jika ingin hidup. Kau adalah barang berharga di sini".


Seorang remaja laki-laki ke kamarnya membawa senampan makanan. Dia terlihat masih muda, dengan wajah seindah patung. Aura gelapnya terukir jelas, seperti dia memusuhi semua orang yang ditatapnya. Mungkin pelayan, mungkin tawanan, atau mungkin 'pekerja' lain di mansion ini.


"Tuan menyuruhku untuk membantumu makan"


Seungyoun dibantu duduk, walau merasa terlalu berlebihan nyatanya ia masih lemas. Perkataan dokter tadi masih terus berputar di kepalanya. Barang berharga apanya? Jadi dia tawanan VVIP atau semacamnya? Setelah merasa canggung karena saling diam Seungyoun membuka suara.


"Boleh tau siapa namamu?"


"Sunghoon" Kata-kata datarnya menembus pendengarannya.


"Kau pelayan? Atau jaminan sepertiku?" Sunghoon menatapnya tajam. Sepertinya dia tidak suka pertanyaan dari Seungyoun. "oke maaf-"


"Aku mengabdi pada Han Seungwoo" apalagi ini? Seorang budak? Sebelum Seungyoun bertambah cerewet dengan mulutnya Sunghoon buru-buru bicara lagi. "Jangan bicara padaku"


...----------------...


Setelah hampir seminggu dia di sana akhirnya Seungyoun benar-benar pulih. Dia tidak tahu jika pulih secepat ini. Bahkan lukanya hampir sembuh dan tidak sakit lagi. Belakangan ini dia tau jika salah satu bisnis yang dijalankan Seungwoo berbasis pada medis dan obat obatan tertentu. Irene bercerita banyak hal, tidak semuanya penting namun bisa mengikis kebosanan Seungyoun. Dia menjadi lebih dekat dengan Irene, wanita itu sedikit galak dan cerewet tapi untungnya dia adalah orang yang baik. Itu yang dapat Seungyoun tangkap.


"Sepertinya Seungwoo kesepian. Mungkin karena teman temannya yang lain belum kembali sampai hari ini"


"Siapa maksud nuna?"


"Ah, kau juga akan tau kalau mereka kembali nanti" Irene duduk di sebelah Seungyoun. Menikmati teh herbalnya dengan tenang. "Biar kutebak. Mungkin sebentar lagi kau akan benar-benar jadi temanku, Youn"


"Hah?" Seungyoun menyerah, Irene selalu seperti ini. Berbicara sendiri tanpa tau maksud tujuannya. Tidak ada percakapan lebih lanjut. Hingga keheningan itu dipecahkan oleh ketukan pintu lalu dibuka.


"Tuan memanggil Cho Seungyoun untuk menemuinya" seorang pelayan menyampaikan pesan lalu menunggu tanggapan. Irene mengangguk mengiyakan. Sedangkan Seungyoun hanya diliputi rasa bingung dan gelisah. Kali ini mau apa si brengsek itu.


"Sudah kubilang kan. Sana temui si Tuan besar"


Dia dipandu si pelayan menuju bangunan utama. Rumah itu benar benar besar hampir menyamai hotel. Ruang pertama berkesan seperti ruangan berkumpul daripada ruang tamu. Lalu mereka menuju ruang makan yang terasa seperti ruang perjamuan. Meja panjang dan beberapa kursi berjejer banyak. Seperti kau memiliki banyak anggota keluarga atau ingin mengadakan pesta. Seorang pria yang terlihat seumuran itu duduk di sana. Terlihat menunggu untuk makan siang bersama. Seungyoun duduk dengan jarak 2 kursi.


"Mau makan siang bersama, Cho Seungyoun-ssi?"


"Ya, Tuan"


Setelah undangan tak terduga itu akhirnya mereka makan siang dengan canggungnya. Akhirnya tujuan utama diungkapkan.


"Aku mau kau menjadi orangku" Seungyoun hampir tersedak nasi. Dia masih meragukan telinganya.


"Maaf- tunggu- apa?"


"Aku mau kau menjadi orangku. Sederhana saja, hutangmu begitu banyak. Kau tidak dapat bekerja pada orang lain. Maka kau harus bekerja padaku. Seharusnya tidak, tapi aku membuat pengecualian"


"Setelah itu aku boleh keluar dari sini?"


"Ya, tergantung seberapa banyak informasi yang kau kantongi" Seungyoun mengigit bibir bawahnya. Dia tidak dapat memilih. Mati di dalam atau mati di luar. Kedua pilihan dengan 2 akhir yang jelas.


"Baik. Aku bersedia"


.


.


.


.


To be Continue