Another Wife

Another Wife
Chapter 17: Egois



Seorang wanita sudah duduk di ruang tengah dengan beberapa kopernya. Seulgi yang baru pulang dari misinya hanya menatap tamu itu dengan pandangan aneh. Tidak seharusnya dia di sini.


"Kenapa kau bisa kemari?"


"Aku datang dengan Seungwoo. Aku akan tinggal di sini mulai hari ini" Joy tersenyum, sejujurnya dia ingin membangun hubungan baik dengan para eksekutif suaminya. Namun seperti yang dilihat, Seulgi sedikit tidak sopan dengan tampang galaknya.


"Dia pasti sudah gila. Dimana Seungwoo?"


"Dokter itu memanggilnya" Seulgi mengangguk. Irene pasti akan mengurusnya, jadi dia kembali ke kamarnya untuk beristirahat dan mengabaikan Joy.


Tidak berselang lama, Seungyoun dan yang lain pulang. Seperti semula hanya ada Joy di sana. Wanita itu terlihat berusaha tersenyum ramah.


"Hai" Sapanya ramah. Changkyun dan Sunghoon berusaha menahan mulutnya untuk mengatakan sesuatu, mereka menunggu reaksi Seungyoun.


"Hai juga. Kenapa datang mendadak?" Seungyoun duduk di sebelah Joy setelah melempar senyum.


"Aku yakin Seungwoo sudah mengabari kalian. Aku memutuskan untuk tinggal di sini mulai sekarang"


'Tidak tahu malu' batin Sunghoon sengit. Dia dan Changkyun segera menyingkir daripada terpancing emosi. Mereka jelas tidak suka ada orang baru masuk ke dalam markasnya. Lagipula jika wanita itu tidak cukup berguna hanya akan menghambat saja.


"Apa kau tidak tahu tempat ini berbahaya?"


"Aku menikah dengan seorang mafia yang memiliki banyak musuh. Tempat mana yang paling aman selain markasnya?" Joy cukup menjengkelkan. Dia tipe wanita manja yang keras kepala.


"Aku bahkan hampir mati 2 kali. Bagaimana denganmu nanti?"


"Aku perempuan. Seungwoo tidak akan kasar padaku. Lagipula semua orang di negara ini jelas tahu statusku. Aku istrinya. Jika aku tiba-tiba mati dia akan berada di posisi berbahaya" Di matanya terlihat kilatan emosi yang masih belum Seungyoun pahami. Mungkin wanita ini sedikit menyimpan dendam padanya. Alasan yang dia buat cukup logis, dia mampu mengancam Seungwoo dengan kata-katanya.


"Tentu saja kau harus berada di sisi suamimu. Kalau begitu pasti Seungwoo sudah menyetujuinya. Kenapa baru pindah sekarang?"


"Tentu saja dia langsung setuju. Tapi karena acara bulan madu kami, kepindahan tertunda" Joy tersenyum bangga. Seungyoun tertawa ringan. Tentu saja dari jawaban itu dia tau jika Seungwoo berusaha mencegahnya. Pria itu sepertinya tidak setuju.


"Kau pasti lelah. Ayo ku bantu ke atas" Mereka ke kamar atas, Seungyoun membantu membawa koper. Joy diantar ke kamar Seungyoun yang lama.


"Apa ini kamar Seungwoo?"


"Bukan"


"Aku ingin sekamar dengannya" Joy melipatkan tangannya di depan dada.


"Aku tidak berani membawamu tanpa seijin Seungwoo"


"Aku istrinya" Seungyoun sudah beberapa kali mendengar kalimat itu. Istrinya, istrinya, istrinya. Dia juga istri Seungwoo. Lalu kenapa? Joy pikir dia lebih berkuasa diatas siapapun karena dia istri Han Seungwoo.


"Kau bisa bicara sendiri padanya nanti" Seungyoun pergi, membanting pintunya cukup keras.


Seungwoo tidak terlihat di bangunan utama. Dia pasti di tempat lain. Daripada pusing memikirkan kedua orang yang baru datang itu Seungyoun menenggelamkan dirinya ke dalam pekerjaan. Laporan pagi itu belum sempat dia periksa karena pertemuan dengan klien. Jadilah dia berakhir di ruang kerja Seungwoo dan fokus pada tabletnya. Untuk masalah daerah barat yang belum teratasi, dia menambahkan beberapa anak buahnya untuk sekedar mengintai. Memahami situasi sebelum terjun langsung itu penting, itu kata Changkyun. Seungyoun harap dia maupun Seungwoo tidak perlu turun langsung untuk membereskan. Akan merepotkan kalau begitu.


Begitu makan malam tiba, Han Seungwoo baru kelihatan. Pria itu berwajah kusut dan lelah. Mungkin pekerjaannya benar menumpuk dan membuatnya kewalahan. Seungyoun mengabaikan, lagipula dia juga berada di posisi yang sama. Kursi yang biasanya diduduki Seungyoun kini menjadi tempat duduk Joy, agar lebih dekat dengan Seungwoo katanya. Mereka berbincang biasa. Irene terlihat paling perhatian pada Seungyoun dan terus mengajaknya bicara. Sementara Sunghoon masih menekuk wajahnya.


"Woo-Hyung. Aku akan ikut Seungyoun-Hyung ke setiap misi mulai sekarang" Sunghoon tiba-tiba berbicara.


"Itu berbahaya. Youn jangan biarkan dia ikut. Kau harus sekolah dengan benar. Sudah mendaftar ke universitas yang ku sarankan?"


"Tidak masalah. Aku akan masuk, tapi tetap ikut" Sunghoon menjawab lagi. Seungwoo masih kurang puas. Dia hanya ingin Sunghoon menjalankan hidup normal di masa depan.


"Tidak baik jika kau mengikuti jejak ku"


"Aku sudah bersumpah mengabdi padamu, Hyung" Seungwoo hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Bocah ini walau penurut jika sudah memiliki tekad akan sulit mengatasinya. Dia mengelus pelan kepala Sunghoon.


"Ijin dulu padaku. Dan tetap hati-hati" Sunghoon mengangguk. Niatnya disetujui, dia menatap Seungyoun dan tersenyum. Mereka menyadari, anak dingin ini mulai mencair entah sejak kapan. Dia lebih hangat dari sebelumnya. "Changkyun setelah ini ke ruang kerjaku. Aku butuh beberapa laporan"


"Siap bos"


Kedua orang itu berada di ruangan Seungwoo begitu selesai makan. Changkyun melaporkan pekerjaan Seungyoun selama seminggu belakangan, beberapa pesanan yang disetujui dan masalah wilayah yang bermasalah. Pria itu mengangguk puas, semuanya berjalan lumayan baik. Untung saja tadi mereka belum sempat ke daerah barat. Walau ada Changkyun tapi tetap saja.


"Seungyoun sudah mengirim beberapa orang untuk mengintai dalang perebutan. Jadi kita akan menunggu kabar"


"Oke, jika sampai besok siang masih belum ada kabar lusa kita ke sana" Changkyun undur diri setelah mendengar kesimpulan. Mereka bekerja dengan cepat kali ini.


Seungwoo kembali ke kamarnya, sebelum itu Joy menghadang jalanya. Wanita itu bermuka masam karena suatu alasan.


"Kau mengacuhkan ku" Dia mengerucutkan bibirnya. "Aku ingin sekamar denganmu"


"Tidur saja di sini. Jangan berlebihan, ingat perjanjiannya dan ingat siapa dirimu" Seungwoo berjalan memasuki kamarnya yang berada di sebelah kamar Joy. Namun di dalam sana kosong, Seungyoun yang biasanya tidur duluan tidak ada di kasurnya.


"Mencari siapa?" Joy yang mengikuti Seungwoo masuk ke dalam kamar dan melihat pria itu kebingungan.


"Dimana Seungyoun?" Joy mengerutkan dahinya. Jadi Seungwoo tidur dengan Seungyoun selama ini? Dia mengumpat dalam hati.


"Seungyoun-Hyung tidur di tempat Irene Nuna dari kemarin" Sunghoon menjawab sambil berlalu, dia baru keluar dari kamarnya dan mendengar percakapan mereka.


Seungwoo berjalan keluar dengan tidak sabar. Menuju tempat Irene. Tempat itu adalah sebuah bangunan dengan beberapa kamar di dalamnya. Berfungsi sebagai kamar rawat yang mirip fasilitas rumah sakit. Jadi Han Seungwoo berkeliling dan mencarinya dengan cepat. Di salah satu ruangan Irene sedang membereskan ranjangnya sementara Seungyoun sudah berbaring di ranjang terpisah.


Dia membuka pintu itu. Menatap kedua orang yang cukup terkejut Seungwoo sampai di sini. Dia cukup peduli rupanya.


"Kenapa kau tidur dengan seorang pria, Ren?" Nada marah itu terdengar jelas.


"Ranjang kami terpisah 2 jengkal Tuan Han. Lalu kami tidur bersama karena Seungyoun susah tidur. Kenapa? Kau keberatan?"


"Tentu saja. Kenapa aku membiarkan istriku untuk tidur dengan orang lain?" Seungwoo menarik tangan Seungyoun cukup keras. Menyeretnya untuk segera bangun. "Ayo kembali ke kamar"


"Jangan kasar padanya, Woo!" Irene mengingatkan.


"Apa urusannya denganmu?" Walau Irene takut setengah mati karena wajah sadis Seungwoo, dia tetap diam. Menatap balik pria di depannya itu. Seungyoun yang merasa menyebabkan kekacauan berusaha melerai. Kedua orang itu akan mulai bertengkar karena dia.


"Sudahlah nuna. Aku akan kembali. Terimakasih sudah mengijinkanku menginap tadi malam"


Seungyoun menarik Seungwoo menjauh. Dia salah, Seungyoun pikir malam ini Seungwoo akan tidur dengan Joy. Dan dia tidak akan bisa tidur jika sendiri. Seungyoun hanya akan minta obat tidur jika Irene tidak melarangnya. Han Seungwoo ternyata mencarinya dengan penuh murka, bahkan Irene kena semprot karenanya.


"Ingat pembicaraan kita tadi pagi. Aku akan benar-benar membunuhmu kali ini" Irene mengancam Seungwoo sebelum dia keluar dari sana.


Mereka berjalan kembali ke rumah utama dengan diam. Han Seungwoo masih terlihat marah dan genggaman tangannya cukup kencang, seperti takut jika Seungyoun kabur. Mereka bertemu Joy di depan kamarnya, dia ingin berbicara lagi.


"Diam kau" Seungwoo buru-buru membentak sebelum masuk ke dalam kamarnya. Mengunci pintunya dari dalam.


"Bisa lepaskan? Tanganku terasa mau putus" Seungwoo melepasnya, dia menghela nafas.


"Maaf" Dia menyibakkan rambutnya ke belakang. Dia keterlaluan kali ini. "Masih sakit? Sakit sekali?"


"Tidak masalah, aku hanya ingin tidur sekarang" Seungyoun malas berdebat, tenaganya sudah habis karena lelah. Jadi dia naik ke ranjang lalu tidur di ujung kasur.


Seungwoo ingin memukul dirinya, dia tidak bisa menahan amarahnya sendiri dan berakibat tangan Seungyoun sedikit memerah karenanya. Merasa bersalah dan bingung, dia perlahan mendekati ranjang. Menatap punggung Seungyoun yang terlihat lebih kecil, pria itu bertambah kurus walau baru seminggu sejak terakhir bertemu. Seungyoun yang menyadari kegelisahan Seungwoo akhirnya berbalik, menghadap pria yang menatap ke arah lain. Dia sebenarnya ingin protes dan emosi, tapi begitu melihat wajah Seungwoo yang terlihat kacau di meja makan membuatnya iba. Dia seperti menjalani hal buruk dalam seminggu ini.


"Aku tidak bisa tidur sampai hampir mati kemarin. Jika Irene Nuna tidak membantu, aku akan tumbang hari ini. Pertemuan penting tadi mungkin juga gagal. Jadi jangan menyalahkannya"


"Sini lihat tanganmu" Seungwoo mengambil tangan Seungyoun, mengamati. Pergelangan tangan itu merah, untung tidak sampai parah atau bengkak.


"Tidak sakit. Jangan mengalihkan pembicaraan. Pastikan jangan menyalahkan Irene"


"Iya aku tau" Seungwoo baru mau menatap matanya. "Jangan tidur dengannya lagi. Sekarang aku di sini" Seungyoun mengangguk, nyatanya itu benar. Jika tidak ditemani dia hanya akan terjaga sepanjang malam.


"Aku tidak tidur dengannya" Seungwoo berujar lagi.


"Dengan siapa?"


"Joy" Sebuah penjelasan sekarang? "Aku tidur di kantor. Kami tidak pernah sekamar. Banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan dalam seminggu. Maaf tidak dapat pulang lebih awal" sambungnya lagi.


"Kenapa menjelaskan semuanya padaku?"


"Karena kau terlihat menderita saat aku tidak ada, apalagi Joy akan di sini. Kurasa mencegahmu cemburu di masa depan nanti"


"Tuan Han. Kepercayaan dirimu memang hebat. Tapi aku tidak cemburu" Seungyoun tertawa walau agak kesal. Meski begitu, dia sedikit lega dan sekali lagi bebannya hilang.


"Ku anggap kau cemburu" Seungwoo menyangga kepalanya dengan tangan. Dia tertawa kecil begitu Seungyoun berbalik karena kesal.


Begitu pria di depannya itu tidur. Matanya berubah sendu. Han Seungwoo melingkarkan tangannya di pinggang Seungyoun, memeluknya dari belakang. Irene benar. Dia egois dan keras kepala. Dia orang licik dan penuh tipu daya. Dia adalah iblis. Dia menghalalkan segala cara agar Seungyoun tetap disisinya.


Untuk pertama kalinya Han Seungwoo merasa ragu akan pilihannya. Dia merasa sedikit salah, namun tidak bisa melepaskan.


"Maafkan aku, Youn"


.


.


.


.


To be Continue



Sini bobok di sini - Papi Han Seungwoo


...ʘ‿ʘ...