
Tidak ada kemungkinan yang lebih buruk dari ini. Bertahan di tempat ini lalu secara otomatis terseret ke dalam masalah internal mereka. Seungyoun akan tahu banyak tentang informasi dalam. Sampai lunas pun dia tetap tidak bisa keluar dari sana. Terlebih lagi, tempatnya sekarang berada di rumah utama Han Seungwoo. Setiap hari dia akan bersinggungan dengan Sunghoon. Itu tidak bagus. Mereka mulai berkeliling. Mengenalkan beberapa ruangan dan kamar baru Seungyoun di lantai 2. Persis bersebelahan dengan Seungwoo. Tidak ada batasan tertentu, semua area boleh dimasuki olehnya. Sampai pada tahap ini Seungyoun berpikir lagi, sepertinya dia ditipu oleh si Han brengsek Seungwoo ini. Jelas ketentuan ini terlalu longgar untuk anggota baru seperti dirinya.
"Tidak ada ruangan terlarang?" Seungyoun bertanya dengan wajah bodohnya. Sebelum menjawab Seungwoo mendengus.
"Semua ruangan aman asal tidak menganggu privasi penghuni lainnya" Seungyoun mengangguk paham.
"Jadi apa keahlianmu? Kudengar kau cukup pandai tekwondo"
"Yah, sebenarnya tidak"
"Tidak? Lalu?" Seungwoo bertanya, merasa dibodohi dengan data diri yang dia terima dari Park Nam Sil.
"Aku tidak pandai apapun" Seungyoun terdengar sedang merendah bagi Seungwoo. Dia masih tidak percaya jika ditipu oleh si tua Bangka Park Nam Sil. Ini salahnya sendiri. Seharusnya Seungwoo dari awal tidak perlu mencari bisnis sampingan bodoh seperti ini. Hanse sudah memperingatkannya untuk berhenti dan fokus pada bisnis lama. Tentu dia memanipulasi data agar Seungyoun terlihat lebih berguna, lalu dengan mudah mengajukan pinjaman yang besar.
"Hhh dasar bodoh..." Seungwoo mengumpat pada dirinya sendiri. Memijit pangkal hidungnya. "Kau harus pandai mulai sekarang. Karena kau orangku"
Seungwoo segera duduk di sofa dekat jendela. Kamar yang Seungyoun tempati berada di sebelah kamarnya. Mencegah sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. dia memandang lurus ke luar, tempat dimana lapangan luas dengan beberapa petak kebun milik temannya. Seungyoun yang masih diam juga duduk di kasur barunya.
"Sebenarnya. Aku tertipu, Youn"
"Karena ayahku?"
"Ya. Aku sangat marah sekarang" Seungyoun merasa takut walau itu bukan kesalahannya. Ia juga butuh kata kata yang bisa membelanya.
"Aku juga ditipu ayah tiriku"
"Ya, aku tau. Itulah sebabnya aku tidak menyukai orang tua. Mereka lebih menjengkelkan daripada penjahat sepertiku. Hidupmu tidak akan hancur jika dia tidak ada, aku juga tidak akan rugi jika dia tidak ada"
Sebenarnya perkataan Seungwoo tidak semuanya salah. Kadang masuk akal. "Kau sayang pada ayah tirimu?"
"Bukan aku, tapi Ibu" Menunduk layu. Pandangannya jatuh ke bawah. Hatinya sakit, dia seperti orang buangan sekarang. Walau Seungyoun merasa dibuang sedari dulu, kata-katanya tidak pernah dianggap serius. Ibunya orang yang keras kepala, dia menganggap semua keputusannya itu benar.
"Itu bagus. Karena kita akan membunuhnya segera"
................
Sarapan hari berikutnya ada 3 kursi yang terisi. Seungwoo, Seungyoun, dan Sunghoon. Mereka makan dengan membicarakan beberapa hal kecil, lebih tepatnya hanya 2 orang yang berbicara. Seungwoo terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Wajah diam dan menyeramkannya hilang setelah mendapat sebuah panggilan telepon. Sedangkan Sunghoon makan dengan tenang. Anak itu hanya mengangguk dan sesekali memandang mereka berbicara. Nampak polos dan normal.
"Jadi lapangan di depan adalah tempat berlatih?"
"Ya, Hanse senang berkeliaran di lapangan pada pagi hari" Seungyoun hampir mengira Hanse itu seekor anjing sebelumnya. Tapi tidak, dia mahir menggunakan pedang.
"Bagaimana dengan Irene?"
"Dia penyihir tua yang selalu membantah" Sunghoon mengangguk mengiyakan. Bocah itu merespon lagi, dia tidak pernah menggeleng. Seperti dia dan Seungwoo selalu satu pendapat.
"Lalu apa yang harus ku pelajari lebih dulu?" aku bertanya tentang pelatihanku. Setidaknya aku harus berguna agar tidak dibuang dan rencana kembaliku akan sia-sia.
"Aku yang akan menentukannya nanti. Untuk sekarang santai dulu. Yang lain akan kembali lusa, saat itu pelatihan akan dimulai" Seungyoun mengangguk paham. Dia dapat sedikit lega setidaknya sampai besok atau lusa. "Untuk sekarang, belajarlah dulu bersama Sunghoon" Seungyoun menelan ludahnya gugup. Dengan ragu ia mengangguk lagi.
Sore itu adalah sore yang paling tidak diinginkan Seungyoun. Kata kata Irene beberapa hari lalu selalu menghantuinya. Bocah remaja di depannya membuatnya takut walau hanya diam di sebrang lapangan. Seungwoo bilang mereka hanya berlatih kejar tangkap. Pelarian memang sangat dibutuhkan, dia harus pandai lari dan menghindar. Tehnik ini terdengar seperti pelatihan pecundang, tapi inilah yang paling penting.
"Jangan sampai tertangkap atau kau akan tamat" Seungwoo terlihat tidak main main. Dan bocah itu terlihat terlalu serius, bersiap siap mengejarnya.
Setelah itu pelatihan dimulai. Seungyoun yang awalnya berlari mengitari lapangan untuk menghindar akhirnya terjatuh begitu seseorang di belakangnya tiba tiba menubruk tubuhnya. Sakit. Sunghoon benar-benar menangkapnya dan membuatnya terjatuh, dia seperti kelinci kecil yang diterkam harimau.
"Gerakanmu sangat mudah dibaca. Membosankan" Seungyoun lelah sekarang, tubuhnya penuh tanah dan acak-acakan. Dia berlari lagi begitu permainan dimulai, mengerang frustasi. Sepertinya Seungwoo berusaha menyiksanya. Dia sengaja, bukan?
Irene yang menatap dari gedungnya hanya bergeleng-geleng sambil berdecak. Seungwoo dengan santai menonton di sampingnya. Pria itu tiba-tiba menemuinya dan meminta dibuatkan teh herbal. Tidak banyak bicara tapi tetap memandang kedua orang yang sedang melakukan kegiatan tak waras di lapangan. Besarnya perbedaan keahlian membuat salah satunya sangat menderita.
"Kau mau membuatnya masuk ke sini lagi, Woo?" Seungwoo tertawa kecil.
"Aku sedang melatihnya sekarang"
"Kau harus membuat pelatihan anjing kapan-kapan" Irene begitu terganggu melihat penganiayaan ini. Pria di sampingnya itu acuh dan tidak menjawab.
"jika dia sekarat di sini akan lebih baik daripada mati di luar" Yah, Irene sudah mengira jawaban itu. Tapi tetap saja dia tidak dapat terbiasa dengan pelatihan ini.
Seorang pria bertubuh agak kecil itu memasuki gerbang besi di depannya. Ah dia sangat rindu aroma hutan yang melingkari masion besar itu. Wooseok menajamkan penglihatannya begitu melihat 2 orang yang berada di lapangan. Pergi selama 4 hari dan lihatlah berapa banyak perubahan mengejutkan di sini. "Apa-apaan si Seungwoo itu?" begitu turun dari mobil dia hanya memandang heran perkelahian antara Seungyoun dan Sunghoon. Seungwoo yang melihatnya dari atas hanya tertawa karena Wooseok menampilkan wajah bodohnya.
Si kecil berambut cokelat itu memandang lurus ke arahnya, lalu segera menuju gedung tempat Irene. Irene yang sudah lelah dan tidak mau melihat pemandangan ini segera menyingkir pergi, dia bertemu Wooseok di lorong. "Jangan- jangan tanya aku. Tanya si bodoh itu" Begitu Wooseok sampai di ruangan dia tidak tahan untuk segera mengomel.
"Kau tidak tahu berapa harga si pria itu, Woo?! Kau mau membuatnya rusak sebelum dijual hah?"
"Duduk dulu, Hyung. Mabuk darat membuatmu ganas ya" Seungwoo meminum tehnya lagi. Si Wooseok ini memang melampaui batas jika sedang marah. Seungwoo sampai berpikir siapa bosnya. Kenapa para rekannya lebih galak darinya.
Terpaksa Wooseok duduk. Berusaha untuk tidak emosi terlebih dahulu.
"Dengarkan dulu dan jangan menyela" Seungwoo menghela nafas. "Pertama-tama. Aku tidak akan menjualnya. Kedua, aku mengangkatnya menjadi anggotaku untuk misi. Ketiga, aku ditipu oleh ayah tiri-" Wooseok yang tidak bisa menahan emosinya segera berdiri dari kursinya.
"HAN SEUNGWOO BODOH! BAGAIMANA BISA KAU TERTIPU-"
"Kim Wooseok ingat siapa Tuanmu. Jangan menyelaku" Wooseok segera menciut. Melihat aura Seungwoo yang tiba-tiba berubah, kalau dia melewati batas mungkin Tuannya itu tidak segan membakarnya hidup-hidup.
"Maaf" Wooseok duduk. Sedikit takut karena ternyata Seungwoo juga masih murka. Banyak masalah akhir-akhir ini.
"Aku tahu aku bodoh. Sekarang yang harus kulakukan hanya mengunakannya sebaik mungkin. Dan menuntunnya untuk mencari ayah dan ibunya, lalu mengambil semua sisa hartanya"
"Bukannya ibunya mati 3 hari sebelum penyitaan?" Wooseok tidak salah ingat. Bahkan surat kematiannya sudah ada di tangannya waktu itu.
"Aku tidak percaya apa yang dikatakan si brengsek Park Nam Sil. Aku akan menemukan ibunya apapun yang terjadi. Tidak sulit membunuh kelinci kecil seperti mereka" Seperti yang diharapkan. Seungwoo tidak akan melepaskan mereka yang berani berbuat masalah padanya. Wooseok hanya menghela nafas setelahnya. Memandang ke arah Seungyoun yang sedang tengkurap karena terlalu lelah bermain dengan Sunghoon. Pria di bawah itu bukannya sedang berlatih untuk menjadi kuat lalu pergi dari sini. Dia sedang berlatih untuk menghabisi seluruh keluarganya, dan dirinya sendiri. Betapa menyesatkan Han Seungwoo ini. Dia selalu menolong orang yang tidak berdaya namun berguna.
"Untuk beberapa alasan. Kau benar-benar iblis, Woo" pria berambut coklat itu tertawa ringan setelahnya.
"Terimakasih, Hyung. Aku sering mendengarnya" Seungwoo tersenyum hingga matanya berbentuk sabit, seperti dia mendengar sebuah pujian baru saja.
"Sama sama kawan"
.
.
.
.
To be Continue