
Ada banyak yang dipikirkan Irene saat ini. Diantaranya, jika persiapan rumah sakit sudah selesai mau tidak mau dia akan bertugas di sana. Wanita cantik itu tidak mau, dia tidak ingin jauh dari Seungwoo untuk beberapa alasan. Apalagi pria itu terlihat sedikit serius belakangan. Han Seungwoo mendapatkan niatnya untuk mempertahankan Golden Crown kembali.
Bagi Irene yang tumbuh bersama Seungwoo. Dia sudah tahu begitu banyak, terlalu banyak mungkin. Masa lalu mereka begitu kelam. Banyak hal yang diam-diam disimpan sendirian.
Seulgi yang menyadari kegalauan rekannya akhirnya mendekat. Merangkulnya dari samping. Seulgi juga tidak banyak bekerja, Hangyul sudah kembali ke tugas awalnya mengawal Joy. Dia akhirnya menyibukkan diri di lab atau bersama Irene. Sesekali juga membahas persenjataan yang disiapkan bersama Changkyun.
"Ada apa eonn?" Seulgi menopang dagunya.
"Banyak yang kupikirkan"
"Aku tahu. Makanya bertanya"
"Tentang Arthur"
Seulgi menatap Irene. Kata penenang pun percuma disaat seperti ini. "Kali ini kita pasti menang lagi. Seungwoo bukan lagi bocah"
Keduanya memandang jauh ke luar jendela. Ke arah pepohonan yang berbatasan dengan pagar besi dan beton tebal. Lalu pada halaman hijau yang pernah menjadi merah karena darah. Lucunya takdir itu terus bergulir ke arah buruk, kembali ke masa dulu.
"Kuharap begitu. Agar ayah dan ibuku bisa mati dengan tenang"
...----------------...
Flash Back
Gadis kecil itu sembunyi di balik rerumputan tinggi. Bunga yang dia kumpulkan ditinggalkan begitu saja di tanah, perhatiannya tertuju ke arah seorang anak laki-laki yang berumur 9 tahun, berlatih bela diri dengan agresif. Bajunya penuh tanah dan lecet di sana sini. Bocah laki-laki itu sudah berada di sana sejak pagi buta, kini matahari sudah berada di atas kepala.
"Woah... Tuan muda hebat sekali" Pujinya kagum. Tidak lama sebuah suara akrab memanggilnya beberapa kali, itu ibunya.
"Irene!" Wanita dewasa itu tampak sedikit kesal dan khawatir. Mencari anak perempuannya.
Gadis kecil yang terkejut itu berlari menjauh, dia tidak mau disuruh belajar lagi ataupun pergi les. Irene kecil terlalu malas dan ingin bermain-main hari ini. Langkah kecilnya terhenti, gadis itu menabrak seseorang. Begitu mendongak dia ketakutan, itu Tuan besarnya. Irene menangis.
Tuan Han menggendongnya, memastikan gadis itu baik-baik saja. "Jangan berlarian di sini, bahaya. Tidak terluka kan?"
"Maafkan Saya Tuan!" Ibunya membungkuk hormat. Mengambil putri kecilnya yang masih sesegukan menangis.
"Lain kali awasi anakmu dengan baik" Nada sang Tuan besar berubah agak dingin. Ibu Irene kembali minta maaf karena kelalaiannya.
Keduanya kembali ke rumah atau mungkin bisa disebut bangunannya. "Dia menabrak Tuan Han. Untung saja tidak sampai menganggu latihan Tuan muda"
"Putri ayah, kemari" Sang ayah malah membuka tangannya. Putri kecilnya memeluk ayahnya, meneruskan tangisannya. "Ibu dan ayah bisa dalam kesulitan jika kamu bermacam-macam. Jangan menganggu Tuan muda berlatih"
"Hiks... tidak, aku tidak ingin menganggu, Ayah. Huee..." Tangisannya bertambah kencang.
"Sttt... iya iya. Putri ayah terus lari jika disuruh belajar, huh?" Irene kecil mengelap ingusnya, dia memajukan bibirnya, tidak ingin menjawab. "Tahu kenapa Tuan muda begitu serius dalam berlatih? Pagi sampai malam, padahal dia lebih kecil dari Irene"
"Tidak..."
"Untuk melindungi kita semua. Makannya kalau latihannya terganggu dia bisa menerima hukuman dari Tuan besar"
"Kenapa? Kenapa begitu, Ayah? Kasihan Tuan muda"
"Maka dari itu, karena Tuan Han dan Tuan muda bekerja keras melindungi kita, kita harus bisa melindunginya juga. Irene juga harus giat belajar agar bisa membantunya"
Irene kembali merajuk. Dia disuruh belajar lagi? Hal itu terlalu membosankan. "Tapi, Ayah..."
"Bagaimana jika setelah selesai belajar Ibu temani bermain? Akan ibu ajarkan bagaimana cara membuat minuman enak dari bunga-bunga indah" Mendengar ibunya menjanjikan sesuatu yang menarik Irene kembali bersemangat.
"Apakah bisa?" Kedua orang dewasa itu tersenyum lembut karena berhasil membujuk putrinya. Pada dasarnya Irene anak yang cerdas. Kemampuan belajarnya cepat, namun dia mudah bosan.
Irene menjadi semangat setiap belajar, dia mendapat resep baru dari ibunya cara membuat teh herbal. Les juga tidak pernah ketinggalan. Irene sering keluar masuk markas bersama ibunya. Baginya dunia luar itu hanya tentang sekolah dan berbelanja kebutuhan biasa, tidak ada main bersama teman atau yang lain. Irene terkurung di dalam markas sedari kecil.
Ayahnya pernah bercerita jika beliau juga sama sepertinya. Profesi dokter ternyata diturunkan dari kakeknya, seperti halnya Irene, ayahnya juga belajar keras dan mati-matian untuk mencapai target yang diinginkan. Gadis kecil itu penasaran, apa mereka sedang hidup di dalam kerajaan sekarang? Semua pekerjaan penting diturunkan tanpa merekrut orang luar.
"Karena itu takdir kita untuk mengabdi pada keluarga Han" Jawab Ayahnya waktu itu.
Seungwoo pernah bercerita kalau dia iri padanya, walau tidak sebebas orang biasa namun bisa pergi keluar markas itu sebuah keajaiban. Seungwoo menerima home schooling dengan jadwal padat berdampingan dengan latihan fisik. Irene paham betul, anak itu dididik untuk menjadi monster. Jiwa ingin melindungi tiba-tiba muncul, dia ingin menjaga Seungwoo agar setidaknya di hanya berbuat jahat kepada yang jahat. Seorang kakak tidak ingin melihat adiknya terjerumus terlalu jauh.
Bocah lugu yang sedikit lucu itu berubah total 2 tahun kemudian. Peristiwa itu membuat jiwanya sedikit terguncang, merubahnya menjadi seseorang yang lebih tertutup. Walau masih ramah kepada Irene gadis itu tahu benar. Tatapan mata Seungwoo berbeda dari sebelumnya. Dia lebih serakah, lebih agresif, dan sedikit mengerikan.
Irene dewasa masih ingat sebuah kejadian. Dimana saat jatah liburan keluarganya vila sewaan itu diterobos paksa. Lusinan orang menyandra mereka lalu menyeret keluarga Irene ke markas besar keluarga Han. Menjadikan tawanan, agar perjanjian yang mereka ajukan kepada keluarga Han sepenuhnya disetujui.
"Jangan, Tuan! Saya tidak keberatan untuk mati!" Ayahnya berteriak memohon. Daripada menjatuhkan keluarga Han ayah Irene memilih mati. Ibunya juga demikian, wanita itu terisak memeluk anaknya melindungi dari todongan pistol.
Ke tiga inti keluarga Han berdiri di depan mereka tanpa bergeming. Tidak berniat menyelamatkan dokter pribadinya yang telah mengabdi dari keturunan sebelumnya. Irene menangis, tidak ingin mati, terlebih kedua orangtuanya seharusnya pantas diselamatkan.
"Silahkan bunuh kalau kalian ingin. Jangan ganggu bisnisku di sini" Nada Tuan Han sedingin es, melambaikan tangannya lalu berbalik ingin pergi.
"Tuan!" Irene melolong. "Tolong... selamatkan kami. Bukankah kami berharga? Kami telah mengabdi padamu" Memohon dengan menyedihkan. Seungwoo benar-benar tidak bisa berkata apapun jika Ayahnya masih menolak permintaan itu.
"Kalau kau memang takut mati. Seharusnya jangan mengabdi padaku" Lagi. Kata-kata itu menembus hati Irene dan keluarganya.
Para penyandera tertawa, ah Golden Crown benar-benar iblis. Rumor itu benar adanya.
Seungwoo bingung di tempat. Dia berniat maju, tapi tekanan ayahnya terlalu kuat. Pria itu menatap putranya yang diam di tempat.
"Han Seungwoo, kalau kau maju hukuman menantimu" Kata-kata itu jelas ancaman paling ampuh. Tapi Seungwoo tidak akan membiarkan ketiga orang itu mati begitu saja. Terlebih melihat Irene seperti itu membuatnya marah, mereka berpelukan, sudah pasrah.
'Sudahlah, Woo. Sudahlah... tidak perlu datang kemari. Keluargamu yang seperti iblis hanya akan membuatmu menderita kalau itu terjadi' Tatapan Irene penuh arti. Wanita itu menyerah, memeluk kedua orang tuanya dengan erat.
Namun bocah 18 tahun itu tidak sesuai keinginan Irene. Dia maju dengan tangan kosong, gerakan cepat dan dilandasi emosi dapat membunuh orang-orang itu dengan brutal. Seungwoo bertarung dihadapannya demi membela keluarga Irene. Menentang ayahnya, melawan ketakutannya sendiri.
Orang-orang itu mati dengan mengenaskan, kebanyakan menderita patah leher yang menyebabkan mayatnya tergeletak tidak wajar. Irene menutup matanya, menghindari pemandangan mengerikan itu. Seungwoo berteriak, melampiaskan emosinya, raungannya terdengar mengerikan. Nafasnya terengah-engah, menatap ayahnya tajam. Dia berhasil membunuh semuanya.
Pria paruh baya itu tercengang atas kebuasan putranya. Remaja itu tidak semahir ini sebelumnya, atau mungkin dia hanya menyembunyikan kekuatannya.
"Kau... menentang ku?" Tidak mau kalah murka, Tuan Han bertanya dengan nada rendah. "Han Seungwoo. Kau akan menyesali keputusanmu seumur hidupmu kali ini"
'Dor! Dor!'
Terlalu cepat, kedua tubuh itu rubuh. Kedua orang tua Irene tertembak oleh seseorang di belakang. Seseorang itu jelas masih hidup setelah dihajar oleh Seungwoo, dan Tuan Han juga tahu hal itu. Tapi dia membiarkannya. Dengan sengaja membiarkan orang itu membunuh anak buahnya sendiri.
Irene berteriak histeris. Menangisi kedua orang tuanya yang menjadi mayat. Seungwoo menghampiri si penembak dengan cepat. Memukulnya tanpa ampun, merobek tubuhnya yang hampir hancur karena ditendang berpuluh-puluh kali. Tuan Han tersenyum sinis menatap putranya yang kehilangan kendali.
"Lihat, Woo. Keputusanmu membuat mereka terbunuh. Kau salah karena menentang ku. Kau belum cukup kuat. Kau membuat keputusan yang salah"
Seungwoo terduduk, melihat ke arah Irene yang memeluk kedua mayat itu. Irene balik melihatnya. Pria itu nampak kacau, dia kehilangan jiwanya. Merasa bersalah dan tidak becus.
Irene terisak-isak. Merangkak, berusaha menggapai Seungwoo. Bukan salah Seungwoo, wanita itu memeluk Seungwoo erat. Setelah orang tuanya dia tidak ingin kehilangan bocah ini, cukup kedua orang tuanya. Irene ingin menyadarkan Seungwoo. "Jangan dengarkan. Jangan dengarkan" Kedua tangannya menutupi telinga Seungwoo.
"Bukan salahmu. Bukan salahmu. Jangan dengarkan mereka" Irene membisikkan kalimat itu, menenangkan Seungwoo.
"Tidak, Nun. Aku tidak becus. Aku tidak cukup kuat untuk melawan mereka. Aku akan berusaha lebih keras lagi"
.
.
.
.
To be Continue
Oh ya guys. Novel ini kemungkinan bakalan end di chapter 40-an, author udah dapet jalan cerita sampe ke akhir, cuman ada beberapa pemikiran lagi bakalan berakhir gimana. Hue hue hue 😄
Jangan lupa like, komen, dan vote ya.
Favorit untuk melihat updated selanjutnya...