Another Wife

Another Wife
Chapter 37



Mobil yang ditunggu akhirnya datang juga. Para anggotanya keluar dengan ekspresi tidak dapat ditebak. Yang pasti Seungyoun tidak bisa melihat Sunghoon. Dia gagal dibawa kembali. Pria kecil Seungwoo mengendurkan bahunya, kehilangan antusiasme.


Yang dilakukan Seungwoo setelah turun dari mobil adalah memeluk hangat Seungyoun. Mengecup pucuk kepala itu. Membisikkan kata 'Maaf' beberapa kali.


"Tidak masalah. Dia akan baik-baik saja" Seungyoun tersenyum menanggapi.


Mereka masuk ke dalam bersama, tidak bisa dipungkiri setelah kejadian beruntun tentang Sunghoon dan diikuti Hanse lalu Wooseok suasana tidak lagi sama. Ada beban tak kasat mata yang ditanggung mereka semua, Changkyun bahkan tidak lagi berminat menggoda Hangyul. Pria itu terlihat sedih, sampai Changkyun tidak tega membullynya.


"Hyunjin, Bangchan. Kalian mau berlatih menembak nanti sore?"


"Boleh" Sahut keduanya bersemangat.


"Aku tidak diajak?" Changkyun ikut menyahut. Mengajak Changkyun? Yang benar saja.


"Kita kan beda level, Kyun. Kau seharusnya bermain bersama Seungwoo"


"Bisa mati aku" Changkyun menggerakkan tangannya di depan lehernya. Gesture 'mati' nya ketahuan Seungwoo, pria itu tersenyum sombong.


"Kalian sudah kembali?" Seulgi datang dari depan membawa kotak racunnya. Dapat mereka tebak, wanita itu membuat 'anak-anaknya' lagi dengan skala besar. Atau mungkin ada beberapa yang baru. Seulgi yang melihat tidak adanya Sunghoon menutup mulutnya, tidak bertanya lebih jauh.


"Ah, Seulgi. Aku minta racun yang kemarin kita bahas kau ubah ke bentuk gas" ucap Seungwoo. Seulgi mengangkat jempolnya.


"Kau jadi serius sekali ya, Woo. Kali ini pasti akan ku bunuh mereka semua" Seulgi tanpa sungkan duduk di sebelah Changkyun, mengangkat kakinya di atas sofa kesayangan Changkyun.


"Hei, Gi. Tidak bisa duduk agak jauh dariku? Benda itu tidak akan pecah tiba-tiba bukan?" Changkyun menunjuk kotak yang Seulgi bawa.


"Kalau aku membantingnya ke tanah juga tidak akan sampai retak, bodoh"


Changkyun yang dicibir hanya bisa mengumpat kecil. Tapi sumpah demi Tuhan dia tidak mau terkena racun Seulgi. Ada beberapa yang tidak memiliki penawar. Mereka berbincang kecil di ruang tengah, Hangyul belum juga pulang dia biasanya agak terlambat karena mengantarkan Joy pulang ke rumahnya. Lagi, pria itu juga membuat semua orang khawatir. Dia menjadi diam dan sedikit tertutup.


Di lain tempat Joy merapikan meja kerjanya, dia mengambil beberapa berkas penting yang akan dia pelajari di rumahnya saja. "Mau minum kopi, Gyul?"


"Sekarang?" Hangyul bertanya, Joy mengangguk mengiyakan. "Belum jam pulang"


"Aku membawa beberapa untuk dikerjakan di rumah, hehe"


Senyum ringan Joy membuat Hangyul kelimpungan menyembunyikan senyumnya. Akhirnya mereka sepakat membeli kopi di cafe terdekat. Joy sangat paham temannya itu sedang banyak pikiran. Seungwoo tidak pernah melibatkan Joy dalam urusan markasnya, yang dia tahu hanya sebuah garis besar dimana ada pengkhianatan, penculikan, dan pemindahan secara bersamaan.


"Keadaan sedang sulit ya?" Joy membuka topik pembicaraan. Hangyul mengangguk, tersenyum kecut.


"Teman lamaku berkhianat, Wooseok dipindahkan, Sunghoon diambil. Seharusnya itu adalah situasi ringan yang tidak terlalu penting, tapi karena mereka adalah orang-orang terdekat kami, itu menjadi genting" Hangyul meminum kopinya.


"Perasaan saling melindungi? Aku tidak tahu apa-apa karena tidak pernah punya rekan sedekat itu. Tapi hubungan kalian sangat baik, aku tidak menyangka"


"Yah... mungkin karena merasa senasib? Lagipula kami bersama cukup lama, daripada rekan, Seungwoo menganggap kami sebagai keluarga"


Joy tersenyum samar. Hubungan mereka lebih hangat dari yang dia kira. "Kalau begitu tunggu saja sampai Hanse kembali pulang, Seungwoo tidak akan membiarkan orang-orang nya pergi bukan?"


Apa itu mungkin? Kembali ke markas sama saja cari mati. Hanse jelas akan dieksekusi. Tapi omongan Joy tidak salah juga, Seungwoo itu bertindak dengan mempertimbangkan hatinya walau tindakannya tidak dibenarkan oleh para eksekutif.


"Kau masih sering memikirkan pak Bos?" Arah pembicaraan Hangyul berubah. Joy tersenyum tipis.


"Masih selalu merindukannya"


'Lalu kapan kau akan melakukan itu padaku?' Hangyul berkata dalam hati.


...----------------...


Malam itu Han Seungwoo mengecek laporan pabrik senjatanya. Seluruh pemesanan dia tunda sampai waktu yang tidak ditentukan. Masa bodoh dengan pelanggan, saat ini waktunya dia sibuk memikirkan bagaimana cara menghabisi seluruh musuhnya. Wajah kusutnya itu membuat Seungyoun khawatir, dia sadar Seungwoo terlalu serius belakangan ini.


Seungyoun duduk di samping Seungwoo, melihat beberapa lembar laporan di depannya. Begitu menyadari semua pesanan ditunda Seungyoun mengerutkan dahi.


"Apa yang menganggu pikiranmu akhir-akhir ini?"


"Sudah jelas kan, Youn?" Pria itu tidak melihat ke arah Seungyoun sedikitpun. Pria yang biasanya selalu emosi pada Seungwoo hanya mengembuskan nafasnya.


"Hubunganmu dan Hangyul kurang baik akhir-akhir ini? Aku tadi melihatnya di ruang tengah, apa itu juga menganggu pikiranmu? Tentang Hanse?" Perihal perseteruan kecil antara Hangyul dan Seungwoo tadi akhirnya disampaikan Seungyoun juga.


Seungwoo beralih dari kertas-kertas di depannya. Menyibakkan rambut ke atas. Merasa frustasi.


"Hangyul mendesak ku untuk tidak mengeksekusi Hanse"


"Aku akan mengeksekusinya sesuai aturan Golden Crown. Banyak yang tidak setuju jika aku melepaskannya bukan?"


"Kau kepala keluarganya, semua aturan kau yang tentukan. Mau dia setuju atau tidak itu masalahnya sendiri. Woo... Ada hal penting lainnya yang harus kau pikirkan saat ini. Mengenai Hanse mari kita anggap dia kabur untuk sementara. Jangan ambil keputusan dulu, atau semuanya akan bertambah runyam" Seungyoun menggenggam tangan besar Seungwoo, menaruhnya ke dalam pangkuannya. "Aku menyadarinya. Belakangan ini kau terlihat sangat terganggu akan sesuatu. Apa karena Arthur?"


Emosi itu terlihat jelas di wajah Seungwoo. Dia mencoba tersenyum. "Ingin mendengar ceritaku?"


"Tentu"


Mereka beralih ke jendela besar sambil menatap ke luar. Gelap gulita dengan keralap-kerlip lampu yang terlihat jauh. Pepohonan begitu lebat beberapakali bergerak karena tiupan angin yang kencang. Suasana penuh misteri, romantis dan serius bercampur menjadi satu. Menambah desakan hati Seungwoo untuk berterus terang.


Seungwoo memeluk hangat Seungyoun dari belakang. Dia sedikit menurunkan tubuhnya, menghirup rambut Seungyoun yang harum. Memberinya ketenangan.


"Arthur adalah musuh lama Golden Crown. Dia kesalahan yang gagal ku lenyapkan" Seungwoo membuang nafasnya yang hangat. Menyapu leher Seungyoun.


Si pria yang lebih kecil masih diam dengan manis. Menunggu kelanjutan.


"Arthur Anastasia. Keluarga Anastasia mengajak Golden Crown membodohi pemerintah untuk memproduksi narkoba lewat obat medis. Tentu karena bisnis farmasi kami sedari dulu memang cukup terpandang, kalau kami berhasil membungkam para peneliti maupun objek uji coba obat ini akan dilegalkan. Jika obat sudah diluncurkan dan banyak yang menjadi kecanduan, Korea akan lebih leluasa dimasuki kartel narkoba luar negeri. Yaitu Keluarga Anastasia. Tentu akan menguntungkan kami juga. Tapi itu sama saja pembantaian masal. Negara ini bisa hancur kalau itu terjadi" Jelas Seungwoo.


"Jadi kau menolaknya?"


"Kami menolak. Walaupun mafia, kami juga punya aturan. Terlebih Keluarga Han berpusat pada Penjualan senjata, pemerasan, dan penjualan manusia. Jika masyarakat ini bobrok, sama saja kami yang rugi"


"Lalu apa yang mereka lakukan?" Seungyoun kembali bertanya.


"Membujuk kami, lalu memaksa kami dan menyandera beberapa anggota. Bahkan orang tua Irene" Seungwoo mengeratkan rahangnya. Kejadian itu membuat dia merasa kembali marah dan bersalah.


Seungyoun tidak bertanya lagi. Dia tahu sesuatu yang buruk pasti terjadi hari itu. Seungyoun menggenggam tangan Seungwoo yang memeluknya. "Tidak perlu dijelaskan lagi. Hal-hal buruk itu sudah berlalu-"


" Aku gagal membantai habis keluarga Anastasia. Lalu lihat akibatnya sekarang, semuanya kacau"


Seungyoun merasakannya dalam nada Seungwoo yang berubah menjadi rendah itu. Pria ini sedikit putus asa dan penuh kesedihan. Bukan gaya Seungwoo sama sekali. Jadi Seungyoun hanya terkekeh singkat, dia menganggap Seungwoo hanya sedang gugup saja dengan pikiran bodohnya sendiri.


"Tidak perduli siapapun itu. Ingat kau punya orang-orang yang dapat dipercaya. Lalu apa yang kau takutkan? Mari gulingkan pemerintahan sialan ini, lalu buru Arthur bersama. Golden Crown harus kembali berbisnis" Seungyoun tersenyum. Seperti yang diharapkan dari istri pria keluarga Han yang selalu profesional dalam pekerjaan kotornya. Cho Seungyoun seperti itu saat ini. Pria lugu yang dulu sudah lama hilang. Kini dia hanya mendukung Han Seungwoo.


"Takut kehilangan kalian. Terutama kau" Seungwoo tersenyum menggoda, sebenarnya hatinya sedikit lega. Dia menjadi fokus kembali pada tujuan awalnya.


"Aku kan milikmu. Mana mungkin hilang?"


Seungwoo terkekeh, mengusap pipi halus Seungyoun. Terlihat menggemaskan untuk digigit. "Apa kau sedang menggodaku sekarang?"


"Ingin melakukannya?" Seungyoun menatap mata Seungwoo.


"Melakukan apa?"


"Itu"


"Kau menginginkannya?"


Seungyoun mengangguk kecil sambil membuang wajahnya kesamping. Terlihat malu-malu.


"Kau tahu kan itu tidak akan berakhir 1 ronde seperti terakhir kali"


Rona merah itu menjalar sampai telinga si pria yang lebih kecil. Dia melihat Seungwoo. "Aku menginginkanmu" Jawaban singkat itu diakhiri oleh ciu*man dari Seungyoun. Cho Seungyoun kali ini memulai permainan terlebih dahulu.


.


.


.


.


To be Continue


Next ada adegan haram mau ngga? Tapi author jujur agak ragu buatnya euy. Ga pandai buat 'nganu'-an (becanda).


Sebetulnya kalian suka ngga si adegan Rated-M buatan author yang kayak kemaren? Jujur ya. Kalo suka next bakal author up adegan haram. Kalo engga di skip aja deh...