
Wang Yibo pernah mengenal seseorang yang sangat dia hormati. Awalnya dia diangkat karena berguna lalu semakin lama hubungan mereka semakin dekat. Sampai pada suatu hari dimana Yibo diperintahkan untuk memanggilnya dengan sebutan ayah.
Anak tanpa orang tua itu merasa senang. Dia akhirnya tahu bagaimana rasanya punya seorang ayah seperti orang lain. Hubungan ayah anak mereka selalu dipadukan dengan urusan bisnis maupun pengiriman. Sebuah topik yang berbeda dari keluarga lainnya.
Walau Yibo lahir tanpa kasih sayang, dia sebenarnya tidak benar-benar sendirian. Dia punya rekan. Punya ayah baru. Punya kehidupan sempurna yang tidak pernah dia kira sebelumnya.
Tidak, tidak ada yang benar-benar bahagia. Dia tiba-tiba di usir tanpa alasan jelas, di buang dari keluarganya. Wang Yibo menerima sejumlah uang sebagai bayarannya selama ini juga beberapa data klien sebagai modal dasarnya.
"Berdiri sendiri mulai sekarang. Tunjukkan padaku jika kau bisa hidup lebih sukses dariku" Wang Yibo muda kebingungan, mengira jika ayahnya mungkin sudah gila karena berkata demikian. Mana pria yang dulu mengharapkannya menjadi putra kesayangannya?
Beberapa tahun kemudian Yibo sukses besar. Perdagangan narkoba apanya. Yibo menyadari bisnis yang paling menguntungkan sebenarnya di bidang prostitusi. Maka dia semakin mengembangkan bisnisnya dan menjadi semakin besar. Mengalahkan ayah yang membuangnya. Dia menjadi nomor 1 di China. Bahkan di beberapa daerah pusat bisnisnya, para penegak hukum seolah-olah tutup mata. Mereka tidak ingin terlibat dengan Wang Yibo.
Saat itu adalah pagi yang tenang seperti sebelumnya, sampai sebuah kabar datang padanya. Ayahnya tertangkap. Wang Yibo segera ke rumah lamanya, mendapati tempat itu porak poranda dengan banyak mayat yang dia kenal sebelumnya. Mereka adalah rekannya dulu. Jelas ini bukan ulah para polisi, ini pembantaian yang direncana.
Mayat pria tua itu tergantung di ambang pintu kamarnya. Darah kering berada di sekujur tubuhnya. Matanya melihat kosong tanpa jiwa, pria yang dia panggil ayah sudah menjadi mayat dingin.
"Ayah..."
Yibo yang tidak pernah kehilangan orang tua akhirnya sadar betapa sakitnya hal itu. Walau dia bukan ayah kandungnya. Dan bahkan jika ayahnya telah mengusirnya sebelumnya.
Pria itu tidak bisa menahan tangisnya. Dia memeluk tubuh kaku yang menggantung di pintu dengan erat. Menyesal karena datang terlambat.
Di saku celana ayahnya terdapat sesuatu yang mengganjal. Yibo mencari dan menemukan sebuah alat perekam kecil. Setelah menurunkan ayahnya di bawah dia mulai memutar alat perekam itu.
"Wang Yibo. Maafkan ayah"
"Ayah terpaksa melakukannya... karena ayah ingin melindungimu. Banyak hal bodoh yang ayah lakukan di masa dulu, para pamanmu yang lain memilih untuk bertahan bersama ayah di sini. Lalu untukmu, kau masih aman karena identitas mu sebagai salah satu anggota kami belum terungkap. Jadi kau harus pergi dari sini sebelum ketahuan"
"Yibo. Jika kau membuka ini, berarti kami kalah melawan musuh"
"Wang Yibo. Kami mati karena menebus dosa kami, dan satu permintaan terakhir ayah. Jangan balas dendam. Untuk menghindari nya ayah beritahu siapa yang akan membunuh kami. Dia adalah..."
...----------------...
"Tuan Cheng" Seungwoo mendesis pelan. Seungyoun menajamkan pendengarannya karena masih belum yakin. "Lawan kita adalah Tuan Cheng"
Pria tua itu merupakan pengusaha besar di China. Tahun ini dia mencalonkan dirinya sebagai pejabat penting di negaranya. Membunuhnya sama saja cari mati. Namun masalahnya sekarang, kenapa Wang Yibo begitu terganggu dengannya.
Tidak lama kemudian fashion show berakhir. Lampu kembali diterangkan. Para penonton meninggalkan tempat mereka segera, sementara para anggota digiring menuju ruangan sebelah, tempat transaksi barang yang sudah dipilih sebelumnya. Mereka masuk ke sana.
"Pembeli 2, Tuan Nicholas!" Seseorang memanggil para tuan untuk mengambil barangnya.
Seorang pria mendekat ke arah mereka. "Sepertinya kalian anggota baru di sini?" Tuan Cheng bertanya sembari tersenyum. Dia terlihat penasaran siapa Seungwoo.
"Mereka bersamaku" Yibo menyahut.
"Tuan Wang! Ah, mereka tamu Anda?"
Yibo mengangguk. "Mereka pemula yang ingin melihat-lihat" jawabnya asal.
"Ah, seharusnya kau beli satu tadi. Barang dari Tuan Wang ini cukup bagus, hahaha" Tuan Cheng tertawa, terkesan palsu.
Seungyoun yang bingung mengumpat dalam hati, 'Sial, kenapa mereka bicara dalam bahasa China!'
"Kurasa tidak ada yang memenuhi kriteria ku" Seungwoo akhirnya menjawab.
"Permisi Tuan Cheng. Kami perlu berkeliling sebelum acaranya benar-benar selesai" Yibo membuat alasan, segera mengajak Seungwoo dan Seungyoun menjauh dari sana.
Mereka menuju kursi yang disediakan. Duduk berdampingan dengan muka masamnya. "Kami harus membunuhnya?" Seungwoo bertanya malas.
"Dia sudah tertarik padamu. Rencana yang kau buat cukup bagus" Seungyoun kembali lega karena mereka berbicara dalam bahasa yang dia tahu.
"Kenapa kau ingin dia mati? Kurasa kau bisa melakukannya tanpa bantuanku" Lagi, Seungwoo bertanya.
"Dia membunuh ayahku. Tapi aku tidak boleh balas dendam, ku serahkan tugas itu padamu"
Seungyoun tertawa dalam hati. Orang-orang bebal yang mencoba memegang janji juga mengingkarinya. Dunia bawah ini sedikit menarik, mereka yang terlibat memiliki mental miring. Seperti Seungwoo dan Yibo.
Han Seungwoo tidak menjawab jawaban bodoh Yibo. Dia mengangguk saja pertanda mengerti, juga tidak sepenuhnya percaya motif sederhana Yibo yang hanya berdasarkan dendam. Pria China itu tidak mau terus terang padanya. "Lalu untungnya untukku?"
"Dia mendukung salah satu politisi Korea. Sutikan dana, lalu kesepakatannya dia dapat membuka bisnis di Korea tanpa pajak. Dia harus memastikan orang itu menang dalam pemilu tahun ini. Jika Cheng mati, para pihak Korea yang terlanjur mengandalkannya tidak akan tinggal diam. Mereka yang bersembunyi akan muncul" Jelas Yibo. Pantas saja orang tua itu tertarik dengan Seungwoo, dia mempunyai pesona orang kaya yang dapat ditebak dengan mudah. Dan lagi, orang itu seperti sadar siapa Seungwoo sebenarnya. Pemilik perusahaan farmasi terkaya.
"Jadi nama alternatif misi ini adalah 'Cari musuh lebih banyak', begitu?" Seungyoun menyahut membuat Seungwoo mendengus lalu tersenyum, dia mencubit gemas pipi pria kecilnya.
"Kau takut ya" godanya. Seungyoun hanya cemberut karena ulah Seungwoo. Melihat adegan uwu di depannya membuat mata dan hati Yibo iritasi.
Mereka keluar bersama ketika acara berakhir, Sunghoon kembali mengekor Seungwoo. Seulgi dan Changkyun sudah pergi dari sana. Seungwoo, Seungyoun dan Sunghoon masuk ke dalam mobil, bersiap pergi ke hotel. "Yibo-ssi. Jangan ganggu aksiku kali ini. Ku pastikan dia mati sesuai kesepakatan, tenang saja" kaca mobil itu tertutup lalu mobil itu meninggalkan Yibo yang sedikit heran.
Apa Han Seungwoo sudah tau jika dia dipantau olehnya? Ah, tidak mungkin. Pria arogan itu tampak acuh tentang kerahasiaan tempat istirahatnya.
...----------------...
Seungwoo ke hotel yang lain. Dia menuju hotel ke 2 yang sudah dipesannya untuk hari ini. Seperti biasa, dia berganti mobil dan buru-buru masuk ke dalam mobil pribadinya.
Wang Yibo tidak akan semudah itu percaya padanya, dia pasti melengkapi mobil itu dengan pelacak, jadi Seungwoo bisa diawasi kapan saja. Jika keadaan tidak memungkinkan, Yibo akan berbalik mengkhianatinya. Pria licik itu sedikit kalah pintar dengan Seungwoo, dia dapat membaca semua rencana Yibo dari awal.
Lalu untuk alasan ke-2. Dia menghindari bertemu musuh secara langsung. Setelah tertarik padanya dan tahu Seungwoo memiliki hubungan bisnis dengan Yibo. Pak tua itu tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan mencarinya dan memenangkan hati Seungwoo untuk diajak bekerja sama.
Sunghoon terlihat sudah tertidur. Seungyoun menatap jalanan luar dengan diam. Begitu sampai rumah mereka keluar, tidak lupa membangunkan Sunghoon terlebih dulu. Bocah itu langsung menuju kamarnya lalu kembali tidur. Dia terlihat lelah.
"Mau makan malam?" Tawar Seungwoo. "Steak dan Wine"
Seungyoun tersenyum manis. Pria itu menyiapkan banyak hal rupanya. Selagi dia berganti pakaian Seungwoo sibuk memasak. Dia menyiapkan suasana dinner romantis bersama istrinya.
Pria itu muncul tidak lama. Membantu Seungwoo menata meja kecil di balkon. Walau sudah agak larut namun kota itu masih terlihat ramai, lampu di sekitar menara Eiffel tampak seperti kerlipan kecil berwarna warm white. Entah kenapa Seungyoun jadi ingat suasana pernikahannya dulu. Dia tersenyum lagi tanpa sadar.
"Sudah menunggu?" Suara Seungwoo sedikit mengagetkan lamunannya. Pria itu mencuri satu kecupan singkat di pipinya, lalu meletakkan dua piring steak di meja.
Seungwoo memotong dagingnya lalu menyerahkan piring itu pada Seungyoun. Pria kecilnya sedikit cemberut karena perlakuannya. Seungwoo menyadari akan segera diprotes 'Jangan perlakuan aku seperti gadis' . "Dinner romantis bersama pria tampan. Itu konsepnya. Jangan banyak protes"
Seungyoun mendengus. "Jadi yang tampan kau atau aku?" Pertanyaan konyol itu disusul sesuap daging ke mulutnya.
Steak medium rare itu masih kaya rasa dan sedikit juicy ketika dia kunyah. Jangan lupakan sedikit rasa asin dari garam kasar yang ditaburkan Seungwoo tadi.
"Jadi Woo. Apa kau tidak ingin pensiun dini dan membuka restoran?" Seungyoun membuka pembicaraan. Dia terus terang masih heran kenapa pria itu sangat hebat dalam segala hal.
"Kau pikir aku mau denganmu karena kau kaya?"
"Tidak. Tapi karena aku tampan" Seungyoun hampir saja tersedak karena ucapan Seungwoo.
"Karena kau pemaksa"
"Tapi akhirnya kau tidak terpaksa, kan?"
Tidak ada balasan dari Seungyoun. Dia hanya memandang ke lain arah, tepatnya menara Eiffel. Dia tidak bisa menahan senyumnya lagi, sialan si Han Seungwoo yang selalu menempatkan perasaannya di posisi sulit.
"Aku dituntut harus bisa dalam semua hal sedari kecil. Saat usia 18 tahun aku tidak bisa makan masakan orang lain, jadi aku harus pandai memasak" Seungwoo tiba-tiba membahas masa lalunya.
"Kenapa?"
"Takut mati setelah makan"
"Ada yang meracunimu?" Seungyoun sedikit tertarik.
"Mungkin. Ada sedikit masalah di keluargaku, aku akan mati jika tidak berhati-hati..." Seungwoo berkata dengan senyum kecutnya. Sekali lagi, usaha keromantisan nya malah berubah menjadi curhatan. Seungyoun hanya menatapnya sendu, mungkin pria itu sedikit iba.
Seungyoun menggenggam tangan Seungwoo. "Kau bisa percaya padaku"
Seungwoo tersenyum. Ah... Cho Seungyoun sungguh membuatnya terpancing. Dia sangat tidak perduli padanya lalu tiba-tiba menjadi perhatian dan lembut. 'Coba sampai mana aku bisa menahan diri untuk tidak mengigit tubuhmu'
Seungwoo membuka red wine yang dia siapkan. Menuangkan ke dalam gelas 1/4 bagian. Dia tidak ingin meneruskan makannya, lebih memilih untuk menyesap cairan berwarna merah pekat hampir hitam.
Seungyoun mengikuti Seungwoo. Diambilnya gelas yang berisi wine itu, lalu dihirupnya kecil. Seungyoun segera tahu jika ini memiliki harga yang mahal dengan kadar alkohol tinggi. Kenapa pria itu menyiapkan anggur (wine) tua untuk makan malam seperti ini.
"Kau bisa minum?"
Sebagai jawaban Seungyoun langsung menyesapnya sedikit. Seperti dugaannya. Rasanya kuat dan sedikit manis.
"Terakhir kali seminggu sebelum kau menculikku"
Seungyoun sering minum. Tapi mungkin ini minuman yang paling mahal yang pernah masuk ke dalam tenggorokannya.
"Masih ada dua botol. Mereka koleksi yang lumayan berharga" Seungwoo meminum cairan merah itu sampai tandas. Dia berniat minum banyak malam ini, sekaligus ingin melihat toleransi pria kecilnya terhadap minuman beralkohol. Botol ke 2 sudah habis dan Seungwoo belum terlalu mabuk untuk saat ini.
Seungyoun sedikit penasaran, kenapa pria itu tiba-tiba ingin mabuk dan terkesan sedikit menantangnya. "Sebenarnya apa yang memenuhi kepalamu saat ini? Terjadi masalah?"
"Ada. Sedikit, atau mungkin banyak" Jawab Seungwoo, raut wajahnya berubah serius.
"Apa?"
"Love shot dulu, baru ku beritahu" Seungwoo bertanya sembrono, sebenarnya dia hanya mengetes.
"Oke! Love shot!" Seungyoun mengiyakan dengan semangat, semburat merah di pipinya dan fokusnya yang mulai hilang menandakan jika pria itu lebih mabuk dari Seungwoo.
Mereka mengangkat gelas yang terisi setengah, saling menyilangkan tangan mereka di tengah meja. Lalu meminum wine sampai tandas. Jika dalam keadaan sadar, Cho Seungyoun tidak akan sudi menuruti Seungwoo untuk melakukan love shot.
"Ayo beri tahu saja... kenapa kau terlihat seperti orang bodoh belakangan ini?" Terimakasih kepada alkohol, Cho Seungyoun semakin terlihat menggemaskan dengan mulut cerewetnya.
"Akan ku beri tahu jika kita minum satu botol terakhir"
"Hahaha... aku tau kalau kau pembohong. Bajingan! Kau membohongiku! Dasar brengsek sialan!" Si mabuk Seungyoun menyumpah serapahi Seungwoo dengan lantang.
"Habiskan satu botol lagi, lalu nanti dapat ciuman dariku" Seungwoo membujuk dengan akal liciknya. Dan pria kecilnya itu mengangguk kecil.
Setelah ketiga botol itu akhirnya kosong Seungwoo menatap serius ke arah Seungyoun. Pria itu masih menikmati sisa sisa wine di gelasnya. "Youn, apa kau mabuk?"
"Tidak. Aku tidak minum, bagaimana bisa mabuk" Dia mabuk berat. Terus meracau dan sesekali mengamuk pada Seungwoo.
"Soal masalahku... Aku belum siap jika harus membunuh seseorang di antara kalian" pria kecil itu tidak merespon, dia mendengarkan dengan mata beratnya. "Apa takut jika kau menjadi salah satu target ku" Dia takut jika Seungyoun akan menjadi target selanjutnya. Dengan ini dia berharap jika Seungyoun sedikit keceplosan, orang mabuk akan berkata jujur.
"Mana ciumnya?"
Seungwoo sedikit terkejut. Apa apaan ini, Cho Seungyoun?
Pria kecil itu tiba-tiba menangis. Dia menutupi matanya dengan tangan kecilnya. "Kau itu pembohong sialan. Percuma hiks... aku percaya padamu. Kenapa tidak mencium ku?"
Dengan wajah speechless-nya Seungwoo menarik pelan tangan Seungyoun. Masih ingat janjinya yang tadi rupanya. "Iya iya... ayo masuk ke dalam. Sudah malam"
"Tidak"
'Cup' satu kecupan singkat dari Seungwoo. "Sudah?" Seungyoun mengangguk. Memegang baju Seungwoo erat karena takut terjungkal, tubuhnya tidak bergerak sesuai keinginannya. Efek mabuk.
Setelah menutup pintu balkon mereka berjalan menuju kamar. Berniat untuk istirahat. Tapi Seungyoun sekali lagi menangis. Dia ingin minum lagi. Dengan ide gilanya Seungwoo tersenyum miring. "Kau suka winenya? Saat meminumnya rasanya familiar" Seungwoo menyentuh benda kenyal yang kini dimajukan si pemilik. "Bibirmu... Sama-sama manis"
"Mau" Seungyoun merengek seperti anak kecil.
"Mau apa?" Tanya Seungwoo. Seungyoun menyentuh bibir pria tinggi itu, menunjuknya tanpa rasa malu. Merasa di ujung pertahanannya Seungwoo tersenyum miring.
"Akan kuberikan. Tidak ada ampun untukmu"
.
.
.
.
To be Continue
...Hello guys. Ada sedikit pengumuman nih. Karena sampai sini ceritanya bakalan lebih kompleks, author membutuhkan waktu yang agak lama buat menulisnya. Jadi Another Wife bakalan update 2 hari sekali....
...Dari sini mungkin ada beberapa masalah yang lebih serius lagi dan beberapa tokoh bakalan muncul (otak author sebenernya pas-pasan. Tapi berusaha buat cerita ini se masuk akal mungkin karena banyak hubungan")...
...Jadi plis buat kedepannya kalian jangan nagih author buat fast atau bahkan crazy up ya. Soalnya susah cuy. Oh ya perlu kalian tahu. Novel ini rata-rata berjumlah 1300+ kata per bab, jadi ga pendek. Di bab ini aja sampe 2115 kata. Jadi walau update 2 hari sekali author berani jamin kalau yang kalian baca ga bakalan se singkat itu kok......
...Jadi paham yaaa... maaf juga ga bisa up cepet-cepet kaya yang lain ðŸ˜...