
Seorang pria bangun dari tempat tidurnya dengan malas. Jam masih menunjukkan pukul 1 malam. Sudah seminggu hal itu terus berlanjut dan perasaan cemas terus menempel padanya. Mungkin karena dia terlalu memikirkan keadaan ibunya. Atau karena ayahnya sudah tidak pulang sejak 2 hari yang lalu.
Beberapa kali pria tua menjengkelkan itu menelfon Seungyoun. Memberi tahu bahwa ibunya telah dipindahkan ke rumah sakit lain dengan alasan pengobatan. Dia kira ayah tirinya memindahkan ibunya mungkin karena masalah biaya. Tentu. Mereka sedang jatuh sekarang.
Cho Seungyoun mengusap wajahnya kasar. Tiba-tiba dia rindu Jooheon. Teman sekelasnya dulu, biasanya di saat seperti ini dia akan keluar dengan teman sipitnya itu. Tapi karena Seungyoun dituntut untuk lebih berhati-hati. Maka ia menghilang bagai ditelan bumi.
Dia bangkit dan keluar dari kamarnya. Menuju lantai bawah untuk minum. Seungyoun kesepian. Sangat. Rumahnya kosong. Dan semua maid yang ia punya dipecat sejak lama.
Ia meneguk habis segelas air itu. Termenung sejenak sebelum melangkah lagi ke arah kamarnya di lantai atas. Tepat saat dia menginjak anak tangga ke 2, suara pagar rumahnya yang didorong keras itu terdengar. Seungyoun buru-buru ke arah pintu. Melihat dari layar intercom siapa yang mendobrak pagarnya.
Dia melihat ayah tirinya. Digiring dengan beberapa pria yang tak jelas wajahnya karena tertutup masker hitam. Mereka segera masuk setelah membuka kunci gerbang depan. Dan segera. Pintu besar di hadapannya didobrak beberapa kali. Itu adalah ayah Seungyoun yang dilempar ke arah pintu. Seungyoun berlari menuju dapur, menelfon polisi. Berjaga-jaga karena melihat situasi yang aneh dan kacau itu, pikir Seungyoun mungkin saja dia akan menjadi korban perampokan.
Sebelum suara sambung itu berhenti ayahnya berlari ke arahnya. Mengambil telfonnya paksa lalu mematikan panggilan. Apa-? Tunggu-
"Ayah, apa yang kau lakukan!" Tuan Park didorong ke samping. Menunjukkan Seungyoun yang masih mematung bingung.
"Jadi tuan, ini barang yang kau maksud?" Salah satu pria dengan tinggi yang hampir sama dengannya itu bertanya pada ayah tirinya yang menunduk takut. Dia pemimpin 3 orang lainnya.
"iya, dia anak saya. Cho Seungyoun"
"Tunggu tunggu. Brengsek! Apa maksud kalian?" Seungyoun ditangkap tanpa berkutik. Dia menatap marah ayah tirinya. Meminta penjelasan.
"Youn. Ingat, hari ini kau kabur dari rumah. Bukan salah ayah. Mengerti. Kau kabur karena tidak tahan dengan hidup susah" Tuan Park menatap anak tirinya itu, walau wajahnya menunjukkan rasa takut dan bersalah namun ia masih tetap melontarkan ucapan tidak masuk akalnya. Membela dirinya. Angkat tangan dengan masalah yang harus Seungyoun tanggung sendiri.
Seungyoun meronta. Berusaha lepas dan kakinya menendang ke semua arah. Dia berhasil. Seungyoun lari ke arah ayah tirinya. Menarik kerahnya keras, lalu meninju tepat di wajahnya. Seungyoun berulang melakukan itu. Sudah lama dia ingin melampiaskan emosinya pada manusia di depannya ini. Seungyoun baru paham. Saat ini dia tak lebih dari pada barang jaminan yang dijanjikan ayahnya untuk mendapat bantuan bisnis yang besar. Namun ketika ayahnya tidak dapat melunasi atau gagal dalam usahanya, maka dialah yang akan disita. Seungyoun paham kenapa ibunya sampai terpikat dan yakin menikah dengan pria di depannya ini. Karena dia terlihat mampu menyangga perusahaan ibunya, satu satunya peninggalan ayah kandungnya.
Seungyoun menangis, berteriak penuh penyesalan dan emosi. Seharusnya dia menghentikan ibunya untuk menikah lagi. Seharusnya dia tidak terlalu patuh pada ayah tirinya. Berkali kali dia meninju wajah tuan Park hingga babak belur. Tidak ada perlawanan, mungkin dia juga sudah tidak mampu melawan.
Pria pemimpin mereka itu mengisyaratkan untuk tetap diam. Melihat pertarungan ayah dan anak beda darah di depannya dengan asik. Terhibur, juga sedikit merasa jijik dengan Tuan Park. Menjual putranya demi uang.
"Kau membuat hidupku menderita brengsek" Seungyoun berucap lirih. Terlihat menyedihkan.
Tiba-tiba Tuan Park mendekat padanya. Berbisik sesuatu. "jangan bilang kau punya ibu atau mereka juga akan membunuh ibumu" Seungyoun kaget, apa itu peringatan atau ancaman. Melihat sesuatu yang janggal dan mulai bosan, pria berpakaian hitam itu mengisyaratkan untuk membawa Seungyoun.
"Sudah puas perpisahannya? Apa yang kalian bicarakan tadi?"
"Maaf tuan penumpang, tapi kami harus menutupi kepalamu" Sebelum menjawab kepalanya ditutupi kain hitam. Mencegahnya mengetahui dimana jalan yang akan dilewati selanjutnya.
...----------------...
Mobil belum berhenti. Namun penutup kepala dibuka. Pandangan pertama yang terlihat adalah pohon. Pagi sudah datang dan terlihat banyak pohon yang tebal dan lebat itu mengelilingi jalan mereka. Jalanan aspal itu jelas hanya menuju 1 tempat yang pasti. Sebuah pagar besar berlapis besi dan terlihat tebal itu ada di hadapan mereka. tampaknya itu mengelilingi suatu bangunan yang besar. mungkin 5 kali ukuran rumahnya atau lebih. Seungyoun meneguk ludahnya takut, ia mulai berdoa kepada Tuhan sekarang kalau tempat itu bukan penjagalan manusia yang sering dia baca di cerita cerita mengerikan.
Mereka mulai masuk. Kini Seungyoun benar benar melihat sebuah mansion besar dengan lapangan yang cukup luas di halaman. Ada beberapa petak kebun kecil khusus tanaman yang terlihat langka dan aneh. Oke sepertinya mereka menuju gedung paling samping, bukan di gedung utama mansion itu.
Mereka turun. Langsung menuju ke dalam. Tanpa diduga, gedung itu didominasi bilik bilik kamar ukuran sedang yang semua pintunya terbuka. terlihat kosong tanpa isi. Seungyoun masih terus digiring menuju pojok ruangan, lalu turun ke bawah mengikuti tangga. Perasaannya makin tidak karuan, apa dia akan dibunuh lalu dijadikan makanan anjing atau bagaimana?
Dan di bawah sana terdapat kamar-kamar kecil dengan pintu besi, persis seperti penjara. Ada beberapa yang terisi dan ditempati dan banyak yang masih kosong. Seungyoun yakin mereka pasti barang jaminan juga sama sepertinya. Dia dimasukkan ke dalam kamar itu, dikunci dari luar.
Pria pemimpin grup itu menunduk pada seseorang yang baru datang. Memberi laporan singkat.
"Cho Seungyoun, jaminan Park nam sil. Batas waktunya sampai 4 bulan sejak hari ini, Tuan"
"Oke bagus. Tinggal menunggu giliran bukan? Kau boleh pergi" Pria itu berjalan ke depan pintunya, mengetuknya singkat lalu tersenyum ramah. Rambut coklatnya terlihat kontras dengan kulit putihnya. "Hai Cho Seungyoun. Tenang saja, anggap saja ini rumah sendiri. Kau akan baik baik saja jika hutangmu berkurang setengah. Kau bisa dilepaskan"
"Tunggu sebentar. Berapa yang harus dilunasi ayahku?" Pria kecil di depannya itu mulai mencari cari datanya. Lalu tersenyum ramah pada Seungyoun.
"10 milyar won. Selamat datang di rumah baru" maksudnya mungkin 'Kau tidak akan bisa keluar'.
.
.
.
.
To be continue.