
"Azza! Azza!" teriak seseorang berlari kearahnya membuat Azza mengerut keningnya menatap orang itu. Matanya membulat sempurna melihat sosok itu yang tak lain adalah Algha.
"Algha?"
Pria itu tersenyum lalu menariknya masuk dalam peluka pria itu. Tangisan Azza langsung pecah memeluk pria itu dengan erat. "Ba-bagaimana kamu bisa disini?"
Pria itu tergelak mencium gemas pipi Azza. "Karena kamu, aku ada disini sayang."
Azza menutup mulutnya, begitu syok menyadari keberadaan Algha disini. Senyuman pria itu perlahan pudar dan menatapnya serius. "Hidup bahagia lah, jangan pikirkan aku." ucapnya membuat Azza mendongak kearahnya.
"Apa maksud kamu?" tanyanya lirih.
Algha tersenyum sendu. "Jangan menyukaiku, kamu pantas bahagia dengan yang lain Za."
"Nggak, nggak. Enak banget kamu ngomongnya, kamu udah berusaha membuatku jatuh cinta Al, masa pengorbananmu cuma segini saja?!"
Algha hanya diam, ia mengelus kepala Azza dengan sayang. "Terkadang kita tidak tau takdir akan seperti apa kedepannya sayang, mungkin memang kita tidak berjodoh. Aku harap kamu menemukan laki-laki yang selalu menjagamu seperti aku dan kakak-kakakmu yang rese itu."
"Hais masih sempat-sempatnya kamu bilang kakakku rese, tapi aku tetap tidak terima Al. Kamu hanya milikku!"
"Hahaha, Azza jaga dirimu sendiri yaa. Jangan terpaku dengan masa lalu," ucap pria itu melepaskan tangan Azza.
"Al, Al kamu mau kemana?"
Pria itu tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis. Napas Azza terasa sesak, tangan dan kakinya seolah-olah mati rasa tidak bergerak. Pria itu semakin menjauh darinya, sialnya lagi mulutnya ini tidak bisa mengeluarkan suara memanggil nama pria itu. Ia hanya bisa menjerit-jerit dalam hatinya, berharap Algha mendengar suaranya.
Deg.
"Uhuk...uhuk,"
"Syukurlah..." lirih Sam terduduk, tangannya begitu dingin dan pucat.
Azza mengernyit bingung, apalagi semua keluarganya menatapnya dengan cemas dan takut. Haura langsung memeluknya erat.
"Sayang, syukurlah kamu nggak kenapa-kenapa!" lirih Haura, tidak terbayang jika tidak ada seorangpun yang melihat Azza tenggelam di kolam berenang, mungkin ia sangat terpukul sekali.
"Azza, wajah lo pucat. Sam periksa dia sekarang!" suruh Bita khawatir dengan kondisi Azza. Tanpa basa-basi, Alze menggedong Azza menuju kamarnya. Bita langsung mengambil beberapa pakaian Azza didalam lemari.
"Para cowok keluar dulu!" seru Anggi menoleh kearah mereka. Mereka mengangguk lalu satu persatu keluar dari kamar.
"Azza, apa kepala lo masih pusing?"
"Gu...gue nggak ngerti apa maksud lo kak, sebenarnya apa yang terjadi?" gumannya bingung, padahal tadi ia baru saja bertemu...
"Azza!" pekik Bita melihat Azza tidak sadarkan diri. Ia pun langsung memanggil suami dan adik iparnya mengangkat Azza ke atas kasur.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia bisa kayak gini?" tanya Sam memeriksa keadaan Azza.
"Aku nggak tau, tadi pas aku mau ke dapur, aku nggak sengaja liat Azza duduk sendirian dipinggir kolam renang. Pas balik, tiba-tiba Azza cebur kedalam." jelas Anggi sedikit panik.
Bita hanya diam menatap adik iparnya yang kini terbaring lemah dikasur. "Kita harus cepat ganti baju dia!"
***
Khaizan menghempaskan badannya dikasur, benar-benar hari ini adalah hari sial baginya. Pria itu menatap langit kamarnya dengan tatapan kosong.
Tok...tok
Matanya melirik kearah pintu. "Ada apa?" serunya.
"Tuan, makan malam anda sudah siap!" seru Bibi dibalik pintu kamarnya. Khaizan menghela napas sejenak.
"Huft, tolong bawa aja kesini Bi," serunya sambil berjalan kearah lemarinya. Ia mengambil asal kaosnya saat hendak menutup pintu, ia merasa ada yang aneh didalam lemari itu. Khaizan mengambil ponselnya dan menghidupkan senternya. Pria itu terkejut melihat ada kamera tersembunyi didalam lemarinya. "Brengsek!" umpatnya langsung mencabut kamera itu dan meremukkannya sampai tidak berbentuk lagi.
Khaizan melangkah cepat keluar dari kamarnya. Kedatangan pria itu tentu membuat pelayan-pelayan yang ada disana ketar-ketir, apalagi pria itu terlihat marah. "Kumpulkan semua pelayan kesini sekarang!" titahnya.
Tak membutuhkan waktu lima menit, semuanya sudah berkumpul ditengah. Banyak tanda tanya didalam pikirannya mereka, mengapa harus berkumpul disini? Khaizan menatap satu persatu pelayannya itu. "Cepat mengaku sebelum aku masukkan kedalam penjara kalian semua!" ancamnya tentu membuat semuanya takut.
"Maaf tuan, saya tidak tau apa maksud Anda." lirihnya.
"Kalian tau ini apa?" tanyanya sambil menunjukkan serpihan kamera yang ia remukkan tadi. Khaizan tersenyum miring. "Ada yang mau ngaku?"
Semuanya menunduk. Mereka bingung harus melakukan apa dihadapan majikannya yang satu ini. Khaizan memijit keningnya, sambil duduk di sofa. "Jika ada satu dari kalian yang memasang alat ini, aku tidak akan segan-segan membunuh kalian!"
Khaizan langsung mengirim pesan pada Galen untuk meretas kamera itu. Lalu pria itu berjalan menuju kearah pintu coklat itu. Ia tahu pemilik kamar itu yang tak lain adalah Alghaisan, adiknya. Kamar itu terkunci dan sepertinya tidak ada yang pernah masuk kedalam sini setelah Algha tiada. Mama tirinya pun tidak tertarik dengan urusan Algha. Khaizan mencari kunci cadangan untuk membuka pintu itu. Namun, tidak ada satupun kunci yang cocok. Ia pun jadi frustrasi sendiri, tanpa aba-aba ia pun langsung mendobrak pintu tersebut hingga terbuka.
Kamar itu terlihat berdebu dan banyak sarang laba-laba. Ia berjalan masuk kedalam kamar adiknya. Khaizan membuka jendela kamar itu dan duduk dipinggir kasur. "Huft, kamar lo nggak buruk juga " gumamnya melihat sekeliling kamar itu. Mata pria itu langsung tertuju pada sebuah foto yang ada dipajang diatas meja belajar Algha. Ia pun mendekati foto tersebut dan berdecak pelan. "Ck, dia lagi-lagi." ocehnya jengkel melihat foto Azza ada disana.
Khaizan penasaran dengan buku-buku yang masih terpajang rapi didalam lemari, walaupun sudah terlihat berdebu. Pria itu berjalan menuju laci meja Algha dan membukanya. Khaizan menemukan catatan kecil didalamnya, ia pun penasaran apa yang ditulis adiknya itu. "Masih zaman curhat-curhatan disini?" ledeknya.
Pria itu tertegun baru mengetahui kondisi adiknya selama ini. Ia mengira jika Papanya membuangnya ke luar negeri karena akhlaknya yang luar biasa itu, tetapi pria tua itu ternyata sengaja memisahkannya dengan Algha karena adiknya lebih menurut dibandingkan dirinya.
Khaizan memang memiliki sifat keras kepala dan tidak suka diatur oleh siapapun termasuk orang tuanya, suka membuat onar dan selalu membuat masalah saat sekolahnya dulu. Empat tahun ia dibuang Papanya ke luar negeri tidak membuat Khaizan berkecil hati, justru ia bahagia karena terlepas dari jeratan Papanya. Kini, ia tahu sesuatu tentang kecelakaan yang merenggut nyawa Algha dua tahun yang lalu. "Brengsek, ternyata kecelakaan itu disengaja!" geramnya sambil mengusap wajahnya yang kasar.
"Apa yang dibuat Algha waktu itu?"