
Sial, perih banget!
Azza memegang sudut bibirnya yang terasa perih akibat tamparan ibunya Sean.
"Azza, lo baik-baik aja?" tanya Lulu cemas. Azza mengangguk pelan.
"Pergi dari sini!" usir ibu Sean tetap kukuh dengan keputusannya untuk menjauhkan gadis ini dari keluarganya.
Lulu tidak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa melihat Sean yang sudah berbalut kain kafan dari jauh. Setelah merasa cukup menahan sesak, ia pun membawa sahabatnya keluar dari rumah itu. Sebelum dirinya benar-benar pergi, ia menoleh kearah mantan calon mertuanya itu. "Terimakasih Ma, maaf aku hanya pembawa sial bagi keluarga kalian."
"Ya pergi sana! Nggak usah tunjukkan wajah lo disini!" teriak gadis yang ada disebelah ibunya Sean.
Azza hanya memandang tajam tanpa berniat berdebat lagi. Ia pun membawa Lulu masuk kedalam mobilnya. "Lo mau nangis disini silahkan Lu, gue nunggu diluar."
"Nggak usah, nggak ada yang perlu ditangiskan saat ini. tapi Za bibir lo luka gara gue. Maaf," cicitnya merasa bersalah.
Azza meringis sambil memegang bibirnya. "Tak apa, ini bukan salah lo Lu. Ya sudah, daripada nangis mending kita beli eskrim yaa, Lo juga nggak boleh banyak nangis, kasian anak lo didalam perut lo."
Lulu teringat dan langsung mengelus perutnya, ia menatap sendu sambil menahan tangis. "Kasian anak ini, belum lahir udah jadi yatim." lirihnya.
"Kenapa lo nggak beritahu mereka soal anak ini? Anak ini kan juga cucu mereka."
Lulu tersenyum sendu. "Ini bukan perkara yang mudah...hiks, aku yakin mereka nggak bakalan menerima anak ini..." Lulu menoleh kearah luar sambil mengigit bibirnya menahan sesak yang terus menyeruak dalam hatinya.
"Apalagi keluarga gue, gue bakalan diusir,"
"Lo tetap aja tinggal di apartemen itu, gue bakalan sering mampir kesana. Lagian apartemen tuh jarang gue pakai, lo bisa disana. Jangan sedih, gue yakin lo bisa menghadapi ini semua, tapi lo tetap harus kasih tau keluarga lo setelah anak ini lahir Sekarang lo harus fokus perkembangan janin lo Lu, jangan sampai dia kurang asupan nutrisi, oke?" jelasnya panjang lebar.
Lulu tidak bisa berkata-kata, sahabatnya terlalu baik untuknya. Ia beruntung sekali memiliki Azza yang selalu ada untuknya disaat susah maupun senang. "Makasih Za, udah mau jadi sahabat gue...Lo baik banget."
"Hihihi jangan nangis lagi, itu ingus lo keluar. Udah...udah, peluk sini!" serunya merentangkan tangan memeluk sahabatnya. Lulu terkekeh pelan sembari membalas pelukan Azza.
***
Khaizan duduk disofa sambil menatap tajam kearah jam dinding yang terus berdetak. Istrinya itu belum juga kunjung pulang membuat dirinya khawatir.
"Tunggu, kenapa gue khawatir tuh anak, biar ajalah lagian dia udah besar juga pun. Nggak perlu dice—" Ocehnya terdiam saat melihat orang yang ia tunggu tadi akhirnya pulang. Khaizan melihat wajah Azza terlihat seperti ada yang berbeda, pria itu mendekat kearahnya.
"Darimana?"
"Anjir kaget! Lo datang dari mana?" tanyanya bingung Khaizan tiba-tiba sudah berada didepannya.
"Dari genteng," jawabnya ketus membuat Azza terkekeh pelan.
"Hehehe nggak usah ngegas juga woi, gue kan nanyanya baik-baik. Lo tumben dah dirumah? Kan, masih sore." tanyanya sambil melepaskan sepatunya. Ia berjalan menuju dapur disusul suaminya.
"Ngapa emangnya kalau gue pulang cepat?" tanya Khaizan curiga.
Azza meneguk kandas mineral didalam kulkas lalu melirik kearah suaminya. "Gue nanya aja,"
Khaizan menghela napas pelan, tanpa sengaja ia melirik bibir istrinya yang tampak terluka. "Bibir lo kenapa?"
Azza refleks memegang sudut bibirnya sambil meringis. "Itu gue abis cekcok sama orang." jawabnya singkat namun suaminya itu tampak tidak puas dengan jawabannya.
"Orang? Siapa?"
"Tumben lo penasaran, lo khawatirkan gue ya?" ledeknya langsung mendapat hadiah jentikan Khaizan.
"Ogah banget, dahlah malas gue berdebat dengan lo. Gue lagi lapar,"
"Eh? Belum makam?"
Khaizan menatapnya tajam, Azza menyengir pelan. "Hehehe makan maksudnya, sorry lah. Btw mana Bibi?"
"Bibi tadi tiba-tiba minta pulang, saudaranya lagi sakit dikampung, jadi dia kesana." jawab Khaizan.
"Ooo, ya udah biar gue yang masak."
"Hah? Serius? Pandai lo masak? Nggak bakalan buat dapur gue kayak lautan api kan?" cemasnya membayangkan dapurnya menjadi abu apik.
Azza berdecak. "Ck, belum mulai dah nilai aja. Liat dulu gue kerja, baru lo nilai." gerutunya memasang celemeknya. Gadis itu menyisingkan lengan kemejanya sampai siku, ia sibuk mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas.
"Tapi katanya elo sendiri yang mau masak, masa harus gue juga yang turun tangan."
"Ya udah ini biar untuk gue aja makanannya, Lo nggak usah!" ketusnya membuat Khaizan kelabakan, pria itu buru-buru mendekati istrinya.
"Woi janganlah, gue lagi lapar juga."
"Ya udah bantuin tuh, gue kasih yang paling mudah kerjanya." Khaizan tampak enggan melirik bawang yang sudah disediakan Azza.
Gadis itu melihat suaminya tidak kunjung gerak membuatnya geram. "Jadi bantu apa nggak nih?"
"Ck, iya...iya sabar," Khaizan dengan terpaksa mengupas bawangnya tanpa menyadari jika Azza tersenyum tipis melihatnya.
"Siapa yang mukul lo Za?" tanya Khaizan tanpa menoleh kearah istrinya.
"Ibunya Sean."
Dahi Khaizan mengerut, ia menoleh kearah istrinya meminta penjelasan lebih lanjut. Azza yang mengerti raut suaminya langsung menceritakan semua kejadian yang ia alami tadi. Awal mula permasalahan Lulu hamil hingga berita kematian Sean.
"Ya begitulah ceritanya." serunya panjang lebar.
"Sahabat lo bodoh, mau aja ngelakuin itu."
Azza menjentik bibir suaminya. "Hush, jangan gitu lo sama sahabat gue, benar yang dilakuin mereka berdua salah malah fatal banget. Cuma ya sudah terlanjur keadaannya begini jadi kita hanya bisa mensupport Lulu."
"Terserah lo aja, nih dah gue kupas."
"Wow rapi juga, lo pandai masak pasti." kagumnya membuat Khaizan sedikit menyombongkan diri.
"Iya dong, udah kan? Gue mau nonton bola."
"Woi tunggu!" serunya membuat Khaizan berbalik melirik kearahnya.
"Apa lagi?"
"Enak banget ya cuma ngupasin doang, tuh siapin piring, tuangin bumbu mi nya di piring."
"Lah masak mi goreng doang? Gue kira lo mau masak yang lain." gerutunya.
"Heh, lo aneh banget ya. Dimana-mana orang bakalan happy makan mi, lah lo malah komplain makannya. Udah deh, mending lo kerjain apa yang gue suruh, sssh bibir gue jadi ngilu gara-gara lo!" gerutunya meringis memegang bibirnya.
Khaizan memutar bola matanya malas, ia mencibir setiap ocehan Azza padanya. Setelah itu, tak lupa ia menyiapkan teh es untuk mereka nanti.
Azza yang sudah selesai merebus mi nya, ia pun menyaring dan meletakkan diatas piring yang sudah dibumbui Khaizan. Tak lupa ia juga meletakkan nugget yang udah ia goreng.
"Khai, dah siap!" panggilnya pada Khaizan. Sebelum Khaizan ketempat Azza, Pria itu berjalan menuju laci dan mengambil kotak obat ditangannya.
Khaizan duduk disamping Azza dan memegang dagu gadis itu agar menoleh kearahnya. Azza tertegun dengan tindakan suaminya saat ini, ia meringis saat pria itu mengobati lukanya. "Dah selesai."
Azza masih terpaku ditempat membuat Khaizan menjitaknya pelan. "Udah woi,"
"Eh? Ehem...makasih," gumamnya, Azza dapat merasakan jantungnya kini berdetak lebih cepat dari biasanya.
Perasaan apa nih?
***
Khaizan duduk didepan keluarga Sean dengan tatapan yang tentunya tidak ramah. Tidak sulit untuk menemukan rumah Sean walaupun Azza tidak memberitahu alamat rumahnya.
"Anda siapa?" tanya wanita paruh baya itu memandangnya lembut. Khaizan hanya menatap datar lalu menoleh kearah Galen.
"Minta maaf pada istri tuan Khaizan atau kami laporkan anda ke kantor polisi karena sudah menamparnya."
Raut wanita itu kebingungan. "Istri anda? Saya tidak pernah menampar orang lain, mungkin anda salah liat."
Galen langsung mengeluarkan foto Azza dan memberikannya pada wanita yang diyakini ibunya Sean. "Ini,"
Mata wanita itu membulat sempurna, seakan-akan tidak percaya jika ia benar-benar menampar istri konglomerat didepannya ini.
Khaizan tersenyum smirk, "Kenapa anda diam? Anda sudah tau kan dimana kesalahan anda. Jadi, silahkan minta maaf dengan istri saya atau anda saya lempar ke penjara!" ancamnya langsung pergi keluar rumah tersebut tanpa memperdulikan tatapan orang-orang banyak kearahnya dengan berbagai eskpresi yang tentunya sulit dijelaskan satu persatu.